
"kok masih di sini, belum di jemput ?" tanya Fauza sambil menatap rambut Jehan yang basah karena air hujan.
"papa ngga bisa jemput, aku mau pulang naik taksi aja sepertinya" Jehan menaruh telapak tangannya di depan dahi, menutupi wajahnya agar tidak di basahi air langit yang sekarang mulai mereda.
"ada taksi nya ?" tanya Fauza sambil menoleh kiri kanan
"belum ada yang lewat dari tadi, aku pesan juga pada penuh" jawab Jehan, kaki nya mulai kebas karena terlalu lama berdiri, ingin langsung pergi namun Fauza masih mengajak nya bicara.
"pulang bareng aku aja kalau gitu" Jehan berfikir sejenak, menatap Fauza dan langit yang kembali gelap. Rintik hujan kembali turun walau tidak sederas tadi.
"jangan terlalu banyak berfikir, ini sudah hampir petang. Kita bisa kedinginan karena air hujan dan angin kencang" akhirnya Jehan setuju setelah mendengar ucapan laki-laki itu, gadis itu berpegangan pada pundak Fauza.
"pegangan aja ya, aku kaya nya mau ngebut aja, biar kita ngga makin basah terkena hujan" Jehan mengangguk, motor pun melaju dengan kecepatan tinggi, tubuh Jehan tiba-tiba menggigil, dia ketakutan saat motor melaju dengan kecepatan tinggi seperti saat ini.
gadis itu menubruk tubuh Fauza dan menyembunyikan wajah nya di punggung Fauza. Takut ya kata itu yang bisa menggambarkan suasana hati Jehan saat ini. Dia merasa ingin berhenti saja dan lebih memilih naik taksi, namun Fauza sepertinya sedang fokus mengendarai motor itu. Jadi nya Jehan hanya bisa diam dengan rasa takut luar biasa yang mengelilingi tubuhnya. Jehan memejamkan mata, berharap agar motor segera berhenti.
Jehan membuka mata saat merasakan motor berhenti, gadis itu menatap sekeliling nya, daerah ini sudah dekat dengan rumah nya, Fauza menatap nya sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"kamu habis nangis ?" tanya Fauza, Jehan terdiam, lalu menggeleng sebagai jawaban, dia memang tidak menangis, hanya takut saja tadi karena Fauza membawa motor dengan kecepatan tinggi.
"kok mata kamu merah, tubuh kamu juga bergetar dari tadi. Aku pikir kamu kedinginan maka nya aku berhenti, tapi waktu lihat mata kamu yang merah aku berfikir bahwa kamu habis nangis." Jehan hanya menggeleng, tidak ingin menjawab semua pertanyaan itu, dia ingin segera sampai di rumahnya dan merebahkan tubuhnya. Jujur gadis itu merasa seperti trauma naik motor, Walau dia berfikir tidak pernah naik motor sebelumnya.
"rumah kamu masih jauh dari sini" Fauza kembali bertanya setelah melihat Jehan yang terdiam sedari tadi, mungkin gadis di belakangnya ini belum pernah naik motor sehingga merasa takut saat dia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
"sebentar lagi sampai kok, jalanin aja nanti aku arahkan" Fauza mengangguk dan kembali menyalakan motor nya, mengendarai dengan kecepatan sedang, takut jika rumah Jehan terlewat, laki-laki itu mengehentikan motor nya ketika Jehan menunjukkan rumah nya.
"makasih ya udah antar aku, mau mampir dulu ?" tanya Jehan, Fauza menggeleng karena tubuhnya juga terasa lelah, ingin segera sampai di rumahnya saja, Jehan mengangguk, menunggu Fauza yang menyalakan motornya.
"aku pulang, langsung mandi, makan dan segera tidur agar tidak sakit. Lain kali bawa jaket biar ngga kedinginan. Kan akhir akhir ini hujan sering turun." Jehan kaget, dia berusaha melepas jaket yang membalut tubuh mungil nya namun Fauza lebih dulu pergi meninggalkannya sendiri.
keesokan hari nya, Jehan berada di kelas nya sambil asik menghitung, jawaban kimia yang penuh dengan rumus, sesekali gadis itu mengambil minuman di tas untuk dia minum. Gibran menghampiri nya dan mengajak nya ke kantin. Namun Jehan tidak menyahut, terlalu fokus dengan beberapa buku di depannya, akhir-akhir ini mood Jehan untuk belajar sangat tinggi.
teringat kakak nya yang akan membeli kannya handphone ketika dia mampu untuk menjadi juara kelas membuat nya bersemangat, setidaknya sekarang dia punya target untuk maju, meski kepala nya terasa sakit dan pusing karena salah menjawab soal, namun dia akan terus berusaha mengembangkan kemampuannya di bidang ini.
"Je, ayo ke kantin. Jangan belajar terus, kamu ngga pernah keluar kelas setiap istirahat" Jehan tidak menggubris, membiarkan Gibran terus mengoceh seperti burung, gadis itu kembali membolak-balikkan buku, meniti kembali jawaban nya, lalu dia kembali mengerjakan soal berikutnya, sebenarnya tidak ada tugas, gadis itu hanya mengasah kemampuannya yang sangat payah, kakak nya sudah seperti guru killer selalu mendorong nya untuk belajar dan belajar.
__ADS_1
sementara di tempat lain, Juna sedang duduk di taman bersama kedua temannya, Franco dan Rani, mereka ada tugas kelompok membuat beberapa makalah jaringan, Juna tampak fokus membolak-balikkan buku, terkadang dia juga mengetik di laptop milik Franco dengan gerakan cepat.
"coba pinjam buku nya Juna" Juna memberikan buku di paha nya kepada Rani tanpa menoleh, karena sedang fokus mengetik beberapa kata di laptop, sedangkan Franco ikut mencari beberapa materi di handphone miliknya, mereka sama-sama bekerja untuk menyelesaikan semua tugas agar besok tidak perlu repot dengan tugas yang sekarang.
"akhirnya selesai juga" Rani mendesah lega, gadis itu mengusap dahi nya karena merasa lelah, Juna mengedit file yang dia ketik sebaik mungkin, agar pekerjaan mereka mendapatkan nilai lebih. Itupun jika pekerjaan mereka dapat lolos dari penilaian guru jurusan.
Franco menutup handphone nya dan membantu Rani mengumpulkan buku-buku di depannya, kelas sedang kosong, karena guru jurusan tidak dapat mengajar karena ada kepentingan, sehingga itu Juna dan kedua temannya manfaatkan untuk menyelesaikan tugas.
"ini laptop kamu Fran, tadi aku edit si file nya tapi nanti kamu edit ulang aja, siapa tau nanti ada yang masih kurang" Franco menangapi ucapan Juna dengan anggukan, laki-laki itu kembali memasukkan laptop ke dalam tas nya.
"kita ke kantin yuk, aku jadi lapar karena terlalu banyak berfikir" ucap Rani sambil tergelak, Juna dan Franco mengangguk, mereka berdiri dan berjalan bersama ke arah kantin.
mereka melangkah ke kantin bertiga, dari jauh kantin terlihat sepi, Juna berbicara dengan Franco sambil sesekali tertawa, sampai kantin laki-laki itu menghentikan langkah, dia mematung. Ingin berbalik ke kelas namun Rani menahan lengannya.
"mau kemana si Jun, ayo kita makan, ngga lapar apa dari tadi mikir" Rani menyeret lengan Juna yang terlihat akan berbalik pergi gadis itu mendudukkan laki-laki itu dengan paksa. Terpaksa Juna duduk, mata nya tak lepas menatap gadis di depannya yang sekarang sedang makan bersama laki-laki yang tak Juna kenal siapa.
dapat Juna lihat gadis itu tersenyum, gadis itu bahkan terlihat bahagia ketika laki-laki di samping nya membersihkan bibir gadis itu dari makanan, mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang saling menyayangi.
__ADS_1
"kamu cantik kalau lagi senyum" ucap laki-laki itu sambil mengusap puncak kepala gadis yang berada di depan Juna. Gadis itu melebarkan senyum nya dan kembali melanjutkan makan nya, Juna mengepalkan tangan dengan hati yang terluka.