
"bikin kakak gelisah, tapi ngga ngerasa bersalah bener-bener ya kamu" Jehan tertawa dia mencoba menangkis tangan Juna yang sangat gesit membuatnya lemas.
"udah kak cukup" Juna menghentikan gelitikan ya, laki-laki remaja itu kembali memeluk Jehan, dia benar-benar merindukan gadis itu.
"kakak, ayo masuk. Aku udah telat, jangan sampai aku dapat skor karena ketahuan baru berangkat sekolah" Jehan mengintip dalam pelukan Juna. Gadis itu selalu was-was takut jika ketahuan oleh siswa lain jika sedang berpelukan dengan Juna. Yang ada nanti mereka di tuduh sedang berbuat mesum.
"salah sendiri baru berangkat, pasti tadi kamu ngga niat kan mau berangkat ke sekolah" tebak Juna
"emang, kalau ngga di bangunin mama mungkin aku masih tidur saat ini" Jehan melangkahkan kaki ke halaman sekolah.
"astaga kamu itu perempuan loh dek" Juna menggelengkan kepala, mendengar ucapan Jehan
"kenapa gitu, aku cuma mau kasih tau aja keburukan aku ke kakak, aku ini anaknya malesan" ucap Jehan sambil menatap Juna dalam
"trus ?" tanya Juna sambil mengangkat alisnya.
"harusnya kakak ilfil gimana sih" gadis itu terlihat kesal, karena Juna terlihat biasa saja.
"kakak itu tulus dek, mana ada ilfil" Juna mengacak rambut Jehan karena gemas.
Mereka melangkahkan kaki ke halaman sekolah, banyak yang berbisik-bisik ketika melihat mereka bersama. Namun Jehan memilih abai. Jehan menggenggam tangan Juna ketika laki-laki itu terlihat tidak percaya diri.
__ADS_1
"kok bisa si mereka bareng"
"wah kayanya bakal ada cerita ni, seorang primadona sekolah bersama Upik abu"
"gw aja yang lebih dari dia aja minder deketin itu cewe. Kok dia masih punya muka sih"
"ah dia itu tidak ngaca, jika di bandingkan dia itu bukan apa-apa"
"aduh itu cewe ngga malu apa ya Deket sama Upik abu kaya dia, ngga ada keren nya sama sekali"
"wajarlah cowok kaya gitu, biasanya cuma manfaatin cewe. Aduh jangan sampai dia ngapa-ngapain itu cewek. kasian cewe nya terlalu cantik"
Dan masih banyak sekali ucapan menohok dari beberapa siswa, Jehan menggenggam tangan Juna semakin erat, menyakinkan laki-laki di sampingnya untuk mengabaikan semua ucapan tidak enak yang di berikan semua siswa.
"di kasih apa si lo sama ni cowok, gw bisa kasih lebih" Juna mengepalkan tangannya, tapi dia masih berusaha buat menahan diri. Dia seperti pernah melihat laki-laki itu, dan dia baru sadar jika laki-laki itu adalah laki-laki yang pernah berbicara dengan Gibran di parkiran ketika Jehan kecelakaan.
"cowo seperti dia ngga punya masa depan Jehan, dulu aja lo nolak gw, sekarang dengan rasa percaya diri menggenggam tangan laki-laki. Sekarang gw tanya tubuh lo bagian mana aja yang udah dia sentuh" laki-laki itu ingin merangkum wajah Jehan namun Juna menepisnya.
"jangan sentuh cewe gw" ucap Juna dengan mata yang menatap tajam laki-laki di depannya.
"trus cuma lo gitu yang bisa sentuh dia, sadar diri bahkan gw lebih pantas buat Jehan daripada lo" ucap laki-laki itu dengan sinis.
__ADS_1
"Jehan lebih baik sama gw, apa yang Lo mau gw bisa kasih" Laki-laki itu menggenggam tangan Jehan, Jehan menghentakkan tangan nya menampik tangan laki-laki itu dengan kasar.
"udah selesai ngomong nya" tanya Jehan
"sekarang giliran gw yang ngomong" Jehan menatap semua siswa dan siswi yang berkumpul melihat mereka.
"Gw sama Juna emang punya hubungan, dia laki-laki yang kalian anggap upik abu itu lebih berharga daripada kalian semua. Kak Juna adalah laki-laki hebat yang pernah aku kenal. Laki-laki yang mampu berjuang untuk dirinya sendiri tanpa memanfaatkan orang tua. Harus ya kalian sadar diri kalian bisa apa jika di bandingkan dengan kak Juna. Ngga usah sombong jika bisanya cuma meminta dan pamer harta milik orang tua" Jehan mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"kalian menghina kak Juna manfaatin aku, padahal kalian tidak tau kisah kami. Oh atau sebenarnya kalian yang seperti itu. Aku tegasin ya aku tidak merasa malu, justru aku merasa beruntung mendapatkan teman yang baik seperti Juna. Laki-laki yang akan sulit aku dapatin dimanapun. Mengingat laki-laki sekarang yang mempunyai ego tinggi, menekan kemampuan orang tua nya tanpa melihat bagaimana susah nya mereka. Kasian aku melihat orang tua kalian susah susah menyekolahkan anak nya, eh anaknya malah punya sifat sampah. Menilai semua nya hanya dari tampang dan harta cih." Jehan menarik tangan Juna untuk pergi, sebelum pergi dia berdiri di samping laki-laki yang baru saja berusaha merendahkan mereka.
"gw ngga tertarik sama Lo, lain kali itu mulut di jaga ngga usah ngurusin urusan orang lain." Jehan pergi sambil menggenggam tangan Juna mengabaikan tatapan semua siswa di sekolah itu.
"maaf ya gara-gara Kakak kamu jadi mendapat hinaan" Juna menggenggam tangan gadis nya sambil menunduk, saat ini mereka ada di lantai atas, semua siswa memang berada di lantai bawah karena class meeting sudah di mulai.
"ngomong nya gitu lagi, aku ngga mau kakak merendah terus" Jehan membiarkan tangannya berada dalam genggaman Juna.
"kakak emang ngga sadar diri dek, kakak dengan berani nya memaksa kamu buat jadi pacar Kakak, ini udah tiga bulan setelah perjanjian itu. Waktu kita bersama hanya tinggal satu bulan. Setelah semuanya berakhir kakak janji akan pergi sejauh mungkin dari kamu" Jehan mendesah, dia menatap dalam Juna yang menatap matanya.
"berjuang, bukan malah merasa tidak pantas. Aku mau kakak berjuang buat hubungan kita." Jehan menatap Juna, sebenarnya dia sedikit bingung dengan hubungan nya dan Juna harus seperti apa.
Juna menatap nya dalam, mendekat kan tubuhnya. Laki-laki itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadisnya. Menyelipkan kecupan hangat di kening gadis itu.
__ADS_1
"kakak akan berjuang untuk hubungan kita" Juna menggenggam tangan Jehan erat sambil menatap dalam bola mata gadis itu.