
Jehan membuka mata nya, dia duduk dan mencoba mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya, kamar gadis itu begitu gelap karena hari sudah malam. Jehan berdiri mengambil kaos dan celana katun di lemari lalu menuju kamar mandi untuk mandi.
Jehan melepaskan semua pakaian yang membalut tubuhnya, gadis itu berdiri di bawah shower dan menguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Air itu cukup mampu membuat nyawanya kembali bersatu.
Jehan memejamkan mata, namun tiba-tiba ada sekelebat bayangan datang menghampiri pikirannya yang membuat kepala gadis itu terasa sakit. Tentang seseorang yang mengejarnya di taman, mengikat rambutnya, memeluk dan mencium kepala nya. Jehan terduduk di lantai dengan tangan yang berada di kepalanya.
keadaan seperti ini membuatnya amat tersiksa, bagaimana tidak, kepala nya terasa amat sakit Setiap melihat bayangan yang tiba-tiba bermunculan di kepala nya. Sungguh itu menyiksa nya secara perlahan.
setelah menyelesaikan mandinya, gadis itu pun mengambil handuk, lalu memakai pakaiannya. Dia memakai lotion sebentar dan juga menyisir rambutnya. Lalu turun ke bawah.
jam menunjukkan pukul 20.39, Jehan melihat mama nya yang berada di ruang tamu sambil menonton tv, lalu gadis itu menghampiri mama nya, duduk di samping sang mama yang menatap nya kaget.
"udah bangun sayang ?" Jehan mengangguk
"kamu makan dulu gih, tadi mama panggil kamu susah banget ngga di jawab juga, mana pintu nya di kunci" mama nya mengomel, Jehan hanya diam, entah sejak kapan dia memiliki kebiasaan untuk mengunci pintu dan mematikan lampu saat tidur. Sehingga kamar nya sudah seperti kandang hantu.
"tadi Je tidur ma" Jehan menjawab singkat, dia mengambil cemilan di meja, lalu membuka nya.
"jangan di kunci ya lain kali, mama takut lo. Mana kamar kamu gelap banget" Jehan menoleh menatap mama nya yang terlihat khawatir, Jehan hanya mengangguk.
"makan dulu sana, kamu belum makan kan dari tadi siang"
"mama udah makan ?" tanya Jehan
"belum, ngga enak juga makan sendirian" sahut mama nya
__ADS_1
"papa sama kakak belum pulang ?" tanya Jehan
"belum, katanya si pulang jam 9 harus nya bentar lagi kan ya" Jehan mengangguk, gadis itu terdiam, pandangan nya mulai fokus menatap layar televisi di depannya.
"Jehan" Jehan menatap mama nya
"kepala kamu masih sering pusing ?" Jehan hanya mengangguk
"sering banget, Jehan sampai capek. Kapan si ini berakhir ma" ucap Jehan, mama nya menatap nya dengan raut wajah sendu. Jehan menghela nafas. Siksaan ini begitu berat untuk dapat dia lalui.
"sabar ya sayang, obat nya di minum terus. Semoga dengan berjalannya waktu kepala kamu sudah tidak pusing lagi." lagi-lagi Jehan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jehan"
"Heum" jawab Jehan tanpa menoleh
"tidak ingat ma" jawab Jehan jujur
"sama sekali ngga ingat ?" Jehan mencubit ruang pada dahi nya, dia menatap mama nya dengan penuh rasa bingung. Wajah gadis itu memelas karena dia memang tidak dapat mengingat apapun itu.
"ya sudah tidak apa, tidak perlu di pikirkan" mama nya itu mengusap bahu nya lembut, Jehan hanya diam dengan pikiran yang terbang kemana-mana.
"assalamualaikum" obrolan mereka terhenti, saat papa dan kakak Jehan mengucap salam, Jehan dan mama nya membalas salam itu. Mama nya berdiri menghampiri papa Jehan sambil mengecup telapak tangan suaminya itu. Sedangkan kakak Jehan berjalan ke arah adiknya dan mengecup puncak kepala gadis itu.
"bagaimana hari mu sayang" tanya sang kakak sambil mengusap sayang kepala adiknya.
__ADS_1
"cukup baik" jawab Jehan malas
"papa sama kakak udah makan" tanya mama nya sambil membawa tas dan Jaz suaminya.
"belum ma, tadi buru-buru langsung pulang" jawab papa Jehan
"kita makan bersama yuk, kebetulan tadi mama sama Jehan belum makan" ucap sang mama.
"loh kok bisa sampai belum makan ?" tanya papa Jehan sambil mengernyitkan dahi.
"itu loh pa, anak gadis papa baru aja bangun, dari pulang sekolah udah ngga keluar kamar" jawab mama Jehan sambil terkekeh, Jehan hanya diam, walau kakak nya menatap nya dengan mata memicing.
"segitu capek nya dek, sampai kamu baru bangun ?" tanya kakak nya, Jehan hanya mengangguk
"kepala ku yang sering pusing membuat tubuhku jadi lemah" jawab Jehan datar, kakak Jehan memeluk tubuh adiknya, merasa iba dengan keadaan sang adik yang selalu tersiksa.
"sabar ya sayang, nanti kita ke dokter. Biar sakit kamu segera sembuh" Jehan menghela nafas, sudah sering dia pergi ke dokter, yang dia dapatkan hanya obat. Namun tak sekalipun rasa sakit bisa hilang di kepalanya. Pasti akan muncul dalam waktu tertentu.
"ya udah kita makan dulu yuk, makanan nya keburu dingin nanti" mama Jehan melangkah ke arah dapur, diikuti oleh papa Jehan. Jehan termenung sambil terus menyuap snack kedalam mulut nya, hingga kakaknya itu menepuk bahunya.
"makan nasi dulu, nanti baru makan snack" Jehan hanya mengangguk, mengikuti kakak nya yang berjalan ke arah meja makan. Mama dan papa Jehan sudah duduk rapi di meja makan menunggu mereka.
mereka makan dalam hening, Jehan menyelesaikan makannya dengan cepat. Setelah selesai gadis itu membantu mama nya mencuci piring, sedangkan kakak dan papa nya sudah naik ke atas untuk membersihkan diri.
"naik aja Je, mama juga mau langsung ke kamar. Besok kamu masih harus sekolah kan" Jehan hanya mengangguk, dan naik ke kamarnya, mama Jehan menatap sendu anaknya. Anaknya itu sekarang terlihat seperti patung hidup, jarang berbicara jika tidak ditanya. Jujur wanita paru baya itu merindukan Jehan yang dulu, Jehan yang ceria dan banyak bicara. Sekarang ini seperti ada yang mati dalam diri Jehan, membuat wanita paru baya itu sedih.
__ADS_1
Jehan berjalan lesu ke kamarnya, menyalakan lampu lalu mengambil earphone. Gadis itu memilih mendengarkan musik, dia belum mengantuk karena baru saja bangun tadi.