Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Semuanya Telah Berakhir


__ADS_3

Saat ini Jehan duduk di ruangan Kenzie, menatap laki-laki yang terbaring di ranjang itu dengan sedih, telapak tangan Kenzie berada dalam genggamannya, gadis itu meletakkan telapak tangan Kenzie di wajahnya, sesekali mencium tangan lemas itu dengan perasaan sedih.


Entah harus menangis atau bahagia karena saat ini dia bisa melihat wajah Kenzie, meski hanya melihat, tapi yang gadis itu rasakan kali ini adalah perasaan yang kacau, dia begitu takut kehilangan Kenzie. Dia yakin tak akan sanggup akan hal itu.


Dia ingin Kenzie membuka matanya, meski hanya sebentar, dia benar-benar merindukan laki-laki itu. Bahkan sudah 5 jam berlalu dan Jehan hanya menghabiskan waktu itu untuk terus berada di dekat Kenzie, menggenggam tangan laki-laki itu. Dia tak ingin beranjak meski sebentar saja, seolah dia takut Kenzie terluka jika dia pergi.


"Entah aku harus memaksa mu untuk bangun atau membiarkan mu yang begitu damai dalam tidurmu, tapi aku terluka melihat mu terus menutup mata. Aku terlalu larut akan ketakutan ku kehilangan dirimu, padahal kamu bukan milikku, dan jelas kamu berhak untuk menentukan untuk maju atau menyerah."


"Dulu kamu mengatakan jika tak akan membiarkan aku menangis, sekarang lihatlah air mata ini tak mau berhenti mengalir, aku sengaja tak mengusapnya karena aku berharap kamu yang akan mengusap air mata ini." lanjut Jehan terisak pelan.


"Apa kamu tega membiarkan aku terus menangis, cepat sembuh dan hapus air mata ini, sayang"


"Tadi malam kamu terlihat marah aku dekat dengan laki-laki lain, sekarang aku siap jika kamu akan marah dan mengomel 7 jam aku tak akan membela diri lagi."


"Bangun sayang, jika kamu terus menutup mata siapa yang akan melindungi gadis rapuh mu ini, bukankah dulu kamu merencanakan untuk menikah dan bahagia bersama" Jehan menundukkan wajahnya, dia terus saja berbicara tanpa henti kepada laki-laki di dekatnya itu. Padahal sudah jelas Kenzie tak akan bisa membalas ucapannya. Bahkan mungkin tak mendengar apa yang dia ucapkan.


Sementara itu Hanna kini sudah berada di luar ruangan Kenzie, gadis itu baru saja pulang dari kantor, dan berniat masuk untuk melihat keadaan Kenzie dan Jehan. Namun saat tangannya berusaha untuk membuka pintu, tangannya di cekal oleh seseorang.


Gadis itu menoleh, ternyata yang menghentikan langkahnya adalah Gibran, Jehan mengerutkan keningnya, kenapa Gibran menghentikannya.


"Kenapa Bran ?" tanya Hanna kepada temannya itu, dia membatalkan niatnya yang akan membuka pintu.


"Jangan menganggu mereka, biarkan Jehan berdua dulu bersama Kenzie. Kasihan" jawab Gibran, Hanna mengangguk, kini dia tahu kenapa Gibran melarangnya. Akhirnya mereka memilih untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Untung saja tadi kamu melihatku Bran, coba kalau ngga, mungkin saat ini aku sudah masuk ke dalam ruangan itu."


"It's oke, aku emang udah nebak kalau kamu pasti bakalan temuin Jehan, tadi aku udah kasih tau kak Al buat ngga masuk dan ganggu Jehan dulu"


"Gimana keadaan Jehan sekarang apakah dia masih terus menangis" tanya Hanna kepada Gibran, dia ingin tahu bagaimana keadaan Jehan sekarang.


"Ya, dia terlalu menyayangi Kenzie, hanya dia yang terlihat paling hancur dengan keadaan Kenzie saat ini"


"Kasihan sekali Jehan, dia selalu kehilangan orang yang dia sayang, dulu dia kehilangan Juna, wajar jika Kini dia begitu takut kehilangan Kenzie. Karena Kenzie mampu membuat nya melupakan Juna cinta pertama nya. Aku berharap Kenzie bisa sembuh ini semua demi Jehan" Gibran hanya menghela nafas mendengar ucapan gadis di samping nya itu.


Suara azan ashar di masjid rumah sakit yang berkumandang membuat Jehan berdiri dari duduknya, gadis itu mulai membersihkan diri, serta mengambil wudu lalu memutuskan untuk sholat.


Jehan memutuskan untuk shalat di dalam ruangan ini, sekaligus menjaga Kenzie, bisa saja Kenzie bangun dan butuh bantuan kan nanti ?


Mata Kenzie terbuka, Jehan langsung saja menangis, dia benar-benar bahagia melihat Kenzie yang kini sadar.


Kenzie tampak bingung sambil menatap tepat lurus ke atas atap-atap langit rumah sakit, lalu beberapa detik kemudian menatap nya yang masih menangis. Laki-laki itu tersenyum sendu membuat tangis Jehan semakin kencang.


Gadis itu menciumi tangan Kenzie dengan mata berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit saat melihat wajah Kenzie yang seperti menahan sakit.


"Jangan menangis" ucap Kenzie dengan suara kecil, sesekali meringis menahan sakit.


"Aku akan memanggil dokter" Jehan ingin keluar dari ruangan itu, tapi dengan cepat Kenzie menahan tangannya.

__ADS_1


"Sayang" ujar laki-laki itu pelan.


"Iya kenapa Hem" Jehan mendekat, tangannya terangkat mengusap lembut kepala laki-laki itu. Mata nya kembali mengeluarkan buliran bening.


"Jadilah kuat untuk semua hal yang membuat mu lemah. Jadilah gadis yang bisa berdiri kokoh bahkan ketika dunia.... membuat mu hancur" Jehan menunduk, memeluk kepala Kenzie dengan rasa sakit di hatinya.


"Aku bisa, tapi temani aku untuk menjadi kuat Hem" Jehan menatap mata Kenzie sendu. Kenzie menatap nya intens, dan itu membuat Jehan takut. Dia takut tak bisa menatap mata indah itu lagi. Mata yang selalu memancarkan cinta yang begitu dalam untuknya, gadis yang tak sempurna.


"Jangan menangis" Kenzie mengusap mata Jehan, matanya kini ikut berkaca-kaca.


"Kamu yang membuatku menangis" Jehan berbicara dengan wajah kecewa, Dia memeluk Kenzie dengan posesif. Dia tak ingin Kenzie pergi meski untuk tidur sekalipun. Dia ingin egois kali ini.


"Jangan pergi" bibir Jehan bergetar, hatinya terasa amat sangat sakit. Dua orang yang saat ini berada di ruangan itu tidak sadar akan kehadiran Gibran, Hanna, Alarick serta kedua orang tua Gibran yang berdiri di ambang pintu menatap mereka dengan sedih.


Kenzie melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jehan, laki-laki itu mengecup pucuk kepala Jehan dengan sayang, Jehan memejamkan matanya menikmati kehangatan dari laki-laki nya itu.


"Jika kamu tau,... satu hal... yang tak pernah ingin aku lakukan... adalah meninggalkan mu sendiri,... meski banyak orang yang menyayangi mu... tetapi aku tau tak ada yang mencintai mu melebihi aku" ucap Kenzie terputus-putus.


"Maka dari itu, jangan pernah pergi, jangan pernah meninggalkan ku sendiri" ucap Jehan sambil terisak. Kenzie terus mengusap kepala Jehan, Jehan hanya memejamkan matanya.


"Selamat tidur Little weasel" Jehan merasa usapan tangan Kenzie melemah, gadis itu mendongak, menatap wajah Kenzie yang kini kembali menutup mata.


"Kenzie" Jehan menepuk pipi Kenzie dengan tangan bergetar.

__ADS_1


"Sayang bangun, jangan membuatku takut" Isak Jehan, namun tak juga mendapat tanggapan. Jehan luruh ke atas lantai, Gibran yang berdiri di ambang pintu langsung menghampiri Jehan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


__ADS_2