Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Tak Dapat Mengenali


__ADS_3

Drtttt, handphone yang berdering memaksa gadis itu untuk beranjak dari tidur lelapnya. Jehan menggerutu dengan kesal, gadis itu meraba ranjang di mana suara handphone nya terdengar berdering dengan keras.


Gadis itu mematikan telfon saat melihat nomor asing menelfon nya, tak lama kemudian handphone kembali berdering dengan nomor yang sama.


"Ah sialan, ngga tau apa ya orang capek" gadis itu memutar handphone nya, berfikir untuk mengangkat atau tidak telfon dari nomor asing itu.


"Halo" akhirnya gadis itu memilih untuk mengangkat karena berfikir mungkin itu dari orang penting.


"Kenapa lama sekali mengangkatnya" ucap seseorang di sebrang sana, Jehan memutar bola matanya saat mendengar suara itu.


"Lo lagi Lo lagi, muak gw denger suara Lo" ucap Jehan sambil memejamkan matanya, rasa kantuk masih terasa membuat mata gadis itu susah terbuka.


"Jangan begitu, bisa jadi suara ini yang akan kamu dengar setiap pagi"


"Ngga Sudi" ucap Jehan pedas, gadis itu memastikan telfon nya dengan cepat, biarkan saja jika laki-laki itu tak dapat menghubunginya.


"Huh, capek banget" Jehan menggulingkan tubuhnya di ranjang lembut itu, gadis itu kembali memejamkan matanya yang memang terasa begitu berat untuk terbuka.


Padahal jika bekerja, mungkin gadis itu di sibukkan oleh pekerjaan yang padat tak terkira, jangankan untuk tidur, beli makan ke kantin saja dia sangat jarang, karena padatnya jadwal.


Mungkin saja besok gadis itu akan lembur karena pekerjaannya bertambah dua kali lipat, tak apalah Jehan sudah terbiasa pulang telat karena lembur.


tok tok tok, suara pintu yang di ketuk memaksa Jehan untuk beranjak, gadis itu berjalan ke arah pintu, tampak mama nya yang saat ini berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan penampilannya.


"Bangun, seharian kamu di kamar ngapain aja"


"Istirahat ma, cape pengen tidur aja"


"Jangan tidur terus, ingat orang yang jarang bergerak gampang terkena penyakit"


"masa ?"


"Iya, sering-sering olahraga mumpung masih muda, latih fisik biar jadi perempuan yang kuat dan ngga gampang sakit" Jehan mengangguk, makin kesini dia memang makin malas untuk bergerak, olahraga aja dua Minggu sekali itupun cuma 30 menit.


"Bukannya dulu kamu suka olahraga, kenapa sekarang seperti lemas tak ada tenaga."

__ADS_1


"Ngga, Je cuma males aja, bentar lagi Je juga mau turun, sekarang mau mandi dulu" ucap gadis itu.


"Udah malam baru mau mandi, dasar anak gadis. Cepat turun kita makan malam bersama" Jehan hanya nyengir menampilkan gigi nya. Gadis itu menutup pintu dan segera membersihkan diri.


Setelah rapi, gadis itu turun dengan piyama panjang nya, di bawah sudah ada keluarga nya lengkap dengan kakak nya, Jehan adalah orang terakhir yang duduk di meja makan.


"Makanlah, tadi siang kamu belum makan" mama nya itu memberikan piring yang sudah terisi oleh nasi, menggeser piring itu ke arahnya.


Tak banyak bicara, Jehan segera mengambil lauk, gadis itu makan dengan pelan, akhir-akhir ini memang dia tidak berselera untuk makan, ntah apa alasannya.


Selepas makan, Jehan kembali ke kamarnya, full hari ini dia akan mengurung diri di kamar, gadis itu mengambil macbook miliknya, kembali fokus pada layar itu.


Baru saja bos nya memberikan pesan dan menyuruhnya untuk mencicil pekerjaan besok, Jehan cukup beruntung, karena setidaknya dia tidak akan pulang tengah malam besok.


3 jam gadis itu lalui dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar macbook, jari nya juga begitu lincah menyentuh keyboard.


***


Pagi kembali menyapa, Jehan berjalan dengan terburu-buru ke ruangan nya, gadis itu melihat antrian di dalam lift melihat itu Jehan memilih untuk naik tangga, semoga saja dia tidak akan mendapat amukan dari bos nya.


Teman-temannya bilang, bos nya yang sekarang itu tegas, namun juga menyeramkan, hal itu yang membuat Jehan sedikit takut.


"Iya ni, telat tadi gara-gara tadi malam bergadang"


"Yaelah, ya udah masuk sana, bos ada di ruangan Lo"


"Ha serius ?" tanya Jehan panik


"Iya, udah sana. Katanya dia mau lihat pekerjaan Lo"


"Kan belum selesai"


"Ya makannya buruan masuk, jangan buat dia nunggu" Jehan tak menggubris, gadis itu berjalan pelan ke arah pintu ruangannya, membukanya perlahan.


Jehan melihat seorang laki-laki yang sedang duduk sambil melihat komputernya, gadis itu menelan ludah.

__ADS_1


"Maaf pak saya telat" ucap Jehan setelah berada di samping meja nya, gadis itu menunduk karena memang dia salah di sini.


"Duduklah dan kerjakan pekerjaanmu"


"Apa ?" tanya Jehan, gadis itu kaget saat laki-laki itu menatap nya tajam, wajah itu terasa tak asing, namun Jehan tak mengetahui siapa laki-laki itu.


"Kembalilah bekerja, atau kamu saya pecat"


"Eh iya pak, tapi bisakah bapak pergi, karena ini tempat saya"


"Kamu mengusir saya ?" tanya laki-laki itu sambil menatap Jehan tajam, Jehan kembali menelan ludah, gadis itu menggeleng.


"Kerjakan pekerjaanmu, jika hari ini tak selesai aku akan menambahkan dua kali lipat"


"Apa ?"


Laki-laki itu pergi begitu saja, Jehan menggerutu kesal, gadis itu duduk di tempatnya dengan wajah muram.


"Sial, apa coba maksudnya"


Jehan memilih mengerjakan pekerjaannya saat waktu istirahat tiba, gadis itu merasa belum terlalu lapar, jadi dia menggunakan waktu itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Oi, aku tungguin ngga keluar. Ngga istirahat ?" tanya gadis yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, tampak gadis itu menenteng sesuatu di tangan kirinya.


"Aku ngga lapar, jadi aku fikir lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku"


"Makan dulu, jangan sampai kamu sakit gara-gara telat makan. Aku membawa makanan cukup banyak, mari kita makan bersama" ucap gadis itu yang saat ini sudah duduk di sofa.


"Tumben kamu bawa makan ?" tanya Jehan, pasalnya teman nya itu jarang membawa makanan ke sekolah dulu, sewaktu mereka bekerja pun Hanna tak pernah membawa bekal, gadis itu lebih memilih untuk beli saja di kantin kantor.


"Ngga papa, mumpung tadi di rumah lagi banyak makanan" ucap gadis itu sambil menata makanan, Jehan menghampiri nya dan duduk di samping gadis itu.


"Banyak banget makanan nya"


"Makanya kita makan bersama, aku tak akan habis jika makan sendiri" karena tak mau membuang waktu, akhirnya Jehan pun makan bersama Hanna, bersamaan dengan pintu ruangannya yang kembali terbuka.

__ADS_1


"Eh pak, maaf kami makan di sini" ucap Hanna sambil tersenyum paksa, gadis itu merasa tak enak karena menjadikan ruangan kantor sebagai tempat makan seperti ini.


"Tak apa lanjutkan, ini memang waktunya istirahat bukan, saya hanya ingin melihat pekerjaan Jehan" laki-laki itu duduk di tempat kerja Jehan, mulai fokus dengan layar komputer di depannya.


__ADS_2