
Hanna menghela nafas, mencoba untuk menghirup udara sebanyak mungkin, sekaligus mencoba menghilangkan rasa gugupnya yang luar biasa.
"Maaf kak menganggu, aku hanya ingin mengambil air karena haus" ucap Hanna berusaha tenang, gadis itu memilin celana piyama nya dengan hati yang resah.
"Oh, baiklah ini minumlah" Alarick menuang air ke dalam gelas dan memberikan kepada Hanna yang hanya diam melihat gelas itu.
"Terimalah, rasa haus mu tak akan hilang jika kamu hanya melihatnya" Hanna tersenyum linglung, gadis itu menerima air dari Alarick dan menyesapnya perlahan. Setelah puas minum, Hanna meletakkan gelas itu ke meja dengan pelan.
"Kakak lagi makan ?" pertanyaan bodoh seperti apa itu, sudah jelas laki-laki itu sedang makan namun dirinya masih bertanya, entah kenapa Hanna selalu bertindak bodoh ketika gugup.
"Heum, tapi sepertinya aku mau ke kamar saja"
"Kenapa tidak di habiskan kak, kurasa kakak hanya mengambil nya sedikit"
"Biarkan saja, makanannya dingin jadi terasa sangat hambar" ucap laki-laki itu, sebenarnya dia merasa lapar namun dia memilih untuk tidur saja, biasanya dia akan membangunkan bibi tapi tak enak juga jika harus membangunkan bibi malam-malam.
"Bagaimana jika aku buatkan makanan baru ?" Hanna bertanya dengan cepat, Alarick menatap matanya membuat Hanna menunduk karena tak sanggup melihat mata itu.
"Ini sudah malam dek, tak apa kamu tidur saja"
"Ngga kak, aku juga lumayan lapar jadi tak apa" ucap Hanna dengan kekeh, gadis itu bahkan berjalan mendekat ke arah Alarick dan memegang pergelangan Alarick agar laki-laki itu mengizinkannya untuk memasak.
"Baiklah" Hanna tersenyum mendengar ucapan itu, gadis itu segera berjalan ke arah dapur, memilih untuk memasak nasi goreng untuk mereka berdua.
Dengan antusias gadis itu menyiapkan semua bahan dan tangan nya dengan lincah memotong semua bahan yang di perlukan. Beberapa menit kemudian nasi telah siap, Hanna mengambil mangkuk untuk wadah nasi itu.
"Harum banget jadi ngga sabar nyoba rasanya" gadis itu terkejut, hampir saja menjatuhkan mangkuk kaca berisi nasi karena rasa kaget nya, untung saja Alarick sigap merangkul nya, kini posisi mereka begitu dekat, bahkan mereka sama-sama bisa mencium aroma tubuh keduanya, tangan Alarick masih bertengger di pinggang Hanna membuat gadis itu rasanya ingin pingsan.
"Fokus dek" ucap Alarick
"I....iya kak" ucap Hanna menunduk, Alarick mengambil alih nasi goreng di tangan Hanna membawa nya ke meja.
__ADS_1
Alarick mengambil nasi goreng itu dan mencicipinya sedikit, laki-laki itu melirik Hanna yang masih terdiam di depan kompor.
"Kemari lah, bukannya kamu lapar ?" gadis itu berjalan sambil menunduk ke arah meja makan, duduk di samping Alarick tanpa menatap wajah itu.
"Ambilah" laki-laki itu menggeser nasi goreng lebih dekat dengan Hanna namun gadis itu malah menggeleng.
"Kakak saja, aku tak jadi lapar"ucap gadis itu.
"Bukannya kamu mengatakan jika lapar tadi ?"
"Sekarang sudah tidak"
"Cicipi lah nasi buatan mu Hanna" gadis itu kembali menggeleng.
"Jika tak enak tak perlu di makan, buang saja kak" ucap gadis itu, Hanna merasa malu karena kejadian tadi, kenapa sulit sekali mengendalikan diri di depan laki-laki itu.
Alarick menghela nafas, laki-laki itu menggeser kursi nya mendekat ke arah Hanna, menyodorkan satu sendok nasi goreng di depan mulut gadis itu.
"Buka mulutmu"
"Tapi em" terpaksa Hanna mengunyah nasi itu, gadis itu terdiam sampai nasi di mulutnya habis. Alarick tersenyum kembali menyodorkan sendok ke depan mulutnya.
"kak" Hanna merasa malu sekaligus gugup, kenapa Alarick memperlakukan nya seperti ini, dia sudah beranjak dewasa, apakah laki-laki itu tak berfikir bahwa sikapnya yang seperti ini bisa membuat perempuan seusianya jatuh cinta.
"Aku akan menyuapi mu anak kecil, buka mulutmu"
"Aku sudah dewasa kak"
"Baiklah tapi bagiku kamu tetap anak kecil" gadis itu menghela nafas, kembali membuka mulut menerima suapan dari Alarick. Gadis itu melotot saat Alarick menyuapkan nasi ke mulutnya menggunakan sendok yang sama, bekasnya!!
"Kak itu kan kotor" ucap Hanna
__ADS_1
"Hem ?"
"Sendok itu bekas milikku kak" ucap Hanna dengan wajah memerah, untung saja cahaya nya temaram sehingga menyamarkan wajah gadis itu.
"Tak apa santai aja" laki-laki itu kembali menyuapi nya menggunakan sendok yang sama, yang terjadi selanjutnya adalah dia dan Alarick makan bersama dalam satu piring dengan Alarick yang menyuapi menggunakan sendok yang sama. Sweet bukan.
"Tidurlah aku yang akan membereskan makanan ini, makasih untuk nasi gorengnya" ucap Alarick, laki-laki itu menata piring yang dia gunakan makan tadi.
Saat laki-laki itu berjalan ke arah tempat cuci piring, dengan cepat Hanna merebut dan mencuci piring itu, Alarick terdiam sambil menatap gadis itu lekat.
"Ini pekerjaan perempuan kak" ucap Hanna, setelah selesai gadis itu meletakkan piring di tempatnya, sekaligus gelas kaca ke tempatnya, gadis itu sedikit berjinjit untuk menaruhnya ke atas, namun terasa sulit bahkan beberapa kali ingin jatuh.
Lagi-lagi jantung gadis itu ingin meledak saat matanya bersitatap dengan Alarick, laki-laki itu mengambil gelas dari tangannya dan meletakkan di tempatnya. Namun posisi mereka tak berubah, tatapan itu berlangsung lama membuat keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Makanya jangan keras kepala, dasar bocil" ucap Al sambil mengacak rambut Hanna gemas, gadis itu hanya diam terus menatap mata Alarick.
Saat laki-laki itu ingin beranjak, dengan cepat Hanna menarik laki-laki itu, entah setan apa yang merasuki gadis itu namun tanpa ragu gadis itu mendaratkan bibirnya di bibir Alarick, dengan gerakan amatir Hanna berusaha menggerakkan bibirnya, laki-laki itu terdiam tampak kaget dengan tingkahnya. Namun Hanna sudah tak peduli dengan apapun itu.
"Emm" dengan erat Hanna merangkul leher Alarick, berusaha untuk memperdalam tautan bibir mereka, laki-laki itu masih terdiam tak membalas ciuman nya sama sekali.
Setelah puas gadis itu melepas tautan bibir mereka, gadis itu berjalan bersiap untuk pergi namun tangan di cekal oleh Alarick.
"Maksudnya tadi apa ?" nada suara laki-laki itu berubah dingin, mungkin marah karena dia dengan lancang dan berani mencium bibir itu.
"Kamu melewati batasan mu nona" Dada Hanna terasa sesak mendengarnya, laki-laki itu tak lagi memanggilnya dengan sebutan manis.
"Maaf" hanya kata itu yang mampu Hanna ucapkan, dengan cepat gadis itu melepaskan tangan Alarick, berlari kembali ke kamar Jehan.
Sampai kamar gadis itu hanya merenung, sesekali mata nya mengeluarkan cairan bening. Malu, sedih, kecewa semua menjadi satu, Hanna merasa menjadi perempuan paling bodoh saat ini.
Matanya sama sekali tak bisa terpejam, gadis itu bingung harus apa, merasa malu dan tak punya muka untuk berhadapan kembali dengan Alarick.
__ADS_1