Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Berita Mencengangkan


__ADS_3

Di sebuah apartemen elite di pusat kota, dengan bangunan yang terdiri dari 3 lantai. Terlihat seorang laki-laki yang saat ini sedang duduk di sebuah sofa single dengan gelas minuman yang berada di tangannya. Dua kancing kemeja laki-laki itu terbuka memperlihatkan bulu-bulu tipis yang berada di dada laki-laki itu.


Di samping laki-laki itu juga terdapat seseorang yang seperti asik menegak minuman nya.


"Lo ikut kan nanti ?" seseorang itu bertanya kepada laki-laki di depannya yang terlihat santai dengan minuman di genggamannya.


Laki-laki di depannya itu hanya menggeleng pelan, masih bingung harus ikut atau tidak dalam acara nanti malam.


"Ini kesempatan Lo buat bisa dekat dengannya sekaligus dengan orang tuanya, gw penasaran apakah orang tuanya masih ingat sama Lo"


Laki-laki di depannya itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala, mana mungkin mereka masih mengingatnya setelah sekian tahun lamanya berpisah.


"Jadi ?" seseorang itu kembali bertanya, seolah tak sabar mendengar jawaban dari laki-laki di depannya.


"Kita lihat saja nanti" laki-laki itu hanya menjawab singkat, tatapannya terpaku pada langit yang terlihat begitu gelap dengan sesekali kilatan cahaya dan angin yang berhembus cukup kencang.


"Cuaca sedang buruk" ucap laki-laki itu sambil menghela nafas, saat ini mereka memang berada di lantai paling atas apartemen, sehingga langit terlihat begitu jelas.


"Tak apa tak akan hujan juga, biasa alam memang suka becanda" ucap seseorang itu sambil menegak kembali minumannya, meski minum banyak dia tidak akan mabuk, karena memang sudah terbiasa dengan minuman itu.


"Lo ngga mau ikut gue pulang ?" tanya nya sambil menatap laki-laki di depannya.


"Aku lebih nyaman berada di sini, lagian aku hanya orang asing jangan terlalu di pedulikan" ucap laki-laki itu dengan nada acuh.


"Dasar bodoh, bokap sama nyokap udah anggap Lo kaya anak mereka sendiri, bahkan terkadang perhatian mereka lebih banyak ke Lo dari pada ke gw, meski gw ngga iri tapi lo harus bisa menghargai mereka yang menyayangi Lo"


"Aku tau" ucap nya acuh

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di rumah keluarga Dawson.


Jehan duduk di samping kedua orang tuanya, gadis itu menatap mama nya yang terlihat rapi dengan pakaiannya, ntah siapa yang akan datang sehingga wanita paru baya itu terlihat begitu antusias menyambut sang tamu.


Tak lama kemudian, terlihat pelayan datang, memberitahu kepada orang tuanya bahwa tamu sudah datang. Mama Jehan berdiri sambil tersenyum.


"Ayo Je, pa kita temui tamu kita" ucap mama Jehan sambil menarik lengan papa nya, Jehan menatap papa nya bingung, sedangkan sang papa hanya mengangkat bahu pertanda tak tau.


Terlihat sepasang suami istri yang keluar dari mobil, dan menjabat tangan orang tuanya dengan ramah, Jehan masih tak mengerti namun gadis itu menerima saat tamu mama nya mengulurkan tangan untuknya.


Tatapan Jehan teralih saat melihat seorang laki-laki muda keluar dari mobil yang berbeda, laki-laki itu menggunakan kemeja yang di gulung sebatas siku dengan celana yang terlihat begitu rapi. Jehan sedikit kaget saat melihat wajah laki-laki itu.


"Ayo masuk, kita sudah menunggu sedari tadi" mama Jehan berucap sambil mempersilahkan tamu nya masuk, Jehan masih terdiam sambil menatap wajah laki-laki itu, namun ucapan mama nya membuyarkan nya.


"Je, ayo masuk" ucap wanita paru baya itu sambil tersenyum.


Jehan akan masuk ke dalam rumah namun terhenti saat mendengar suara beberapa mobil masuk ke dalam rumahnya, gadis itu tersenyum manis menampilkan gigi nya.


"Hai Je" ucap Hanna sambil berjalan ke arah temannya, gadis itu melihat orang tua Jehan juga berdiri di tempat itu bersama 2 orang asing.


Jehan tersenyum, gadis itu menyambut teman-temannya dengan hangat, kedua orang tuanya itu tampak bingung saat melihat teman-temannya datang.


"Mereka datang Je ?" tanya mama nya


"Kita berjanji untuk berkumpul di sini ma"


"Sebaiknya kita semua masuk dulu, tak enak jika terus berdiri" papa Jehan mengajak semua orang untuk masuk ke dalam rumah, Jehan bersama ke tiga temannya ikut masuk saat mendengar ucapan papa Jehan. Mereka duduk rapi di meja makan, Jehan duduk di dekat teman-temannya.

__ADS_1


"Kamu tak memberitahu bahwa teman mu akan datang" mama nya kembali berucap sambil melihat putrinya yang malah asik bergurau dengan teman-temannya itu.


"Jehan lupa" ucap Jehan sambil meringis, kenapa suasana jadi berantakan begini, tapi tak apa, mama akan bicara dengan tamu nya sedangkan Jehan akan berbicara dengan teman-temannya.


"Assalamualaikum" Jehan dan semua yang berada di meja makan itu menoleh ke arah suara, saat ini terlihat dua orang yang berjalan ke arah mereka.


Orang tua Jehan jelas tau jika itu Gibran salah satu teman Jehan, namun untuk laki-laki yang satunya mereka tidak mengenali siapa laki-laki yang saat ini sedang berjalan bersama Gibran menuju mereka.


"Malam tante, om" Gibran menjabat tangan kedua tangan orang tua Jehan, di ikuti Kenzie


yang berada di belakangnya. Setelah susah-susah membujuk Kenzie, akhirnya laki-laki itu mau ikut dengannya ke rumah Jehan.


"Siapa laki-laki di samping mu nak ?" tanya Mama Jehan karena merasa penasaran.


"Dia adalah kakak ku Tan, namanya Kenzie" Jehan tersedak, hampir saja menyemburkan jus yang baru saja dia minum, gadis itu menoleh ke arah Gibran dengan raut wajah yang terkejut.


"Kakak, sejak kapan Lo punya kakak ?" tanya Jehan karena kaget.


Gibran hanya tersenyum, laki-laki itu mengajak Kenzie untuk duduk.


"Ya sudah pembahasan ini kita lanjutkan nanti, mari kita makan terlebih dahulu" papa Jehan segera mengajak semuanya untuk makan malam, mereka semua makan dalam suasana riang, hanya ada dua laki-laki yang diam sambil saling menatap tajam.


Setelah selesai dengan makanannya, mereka berjalan ke arah belakang rumah, di mana di sana sudah di hias dengan begitu indah. Jehan sendiri tidak sadar bahwa halaman belakang di hias secantik ini.


"Karena semuanya sudah berkumpul, bahkan ada teman-teman Jehan, mama akan memberitahukan berita penting" ucap wanita itu dengan wajah sumringah, Jehan menanti dengan was-was, gadis itu berfikir apa tujuan mama nya itu.


"Sini nak" mama Jehan menyuruh seseorang untuk mendekat, Jehan menatap orang itu, orang yang membuatnya terkejut bukan main tadi.

__ADS_1


"Kenalkan Je, dia adalah Dion anak teman mama" Jehan mengenal laki-laki itu karena pada fakta nya laki-laki itu adalah bos nya di kantor, Hanna sendiri yang melihat menutup mulutnya karena terkejut, tadi dia tak terlalu memperhatikan wajah laki-laki itu.


"Dan tujuan mama mempertemukan kalian adalah, karena mama ingin menjodohkan kalian berdua" Duar, seakan baru saja mendengar bom yang di ledakan, Jehan termenung sambil menatap shock ke arah orangtuanya. Bahkan teman-temannya yang tadi bersenda gurau terdiam mematung saat mendengar itu.


__ADS_2