Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Pusing


__ADS_3

Jehan turun setelah mengganti pakaian nya, menuruni tangga yang ada, lalu berjalan ke dapur, mama nya tidak ada di ruang tamu ntah kemana mama nya itu sekarang.


Gadis itu duduk di kursi sambil meletakkan handphone ke atas meja, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, para pembantu pasti saat ini sedang membersihkan area kolam dan halaman belakang, suasana rumah pun tampak sepi.


"Jangan melamun" Jehan tersentak saat merasakan tepukan di bahunya, gadis itu mendongak, saat ini papa nya mengambil duduk di samping nya.


"Papa ngga ke kantor ?" tanya Jehan heran


"Ngga, papa emang sengaja ngga ke kantor, kerjain pekerjaan dari rumah aja. Tadi papa habis aja keluar dari ruang kerja." Jehan menganggukkan kepala nya. Gadis itu tersenyum masam sejenak.


Dia juga mengundurkan diri dari kantor, meski belum mengambil barang-barang nya tapi hal itu bisa di selesaikan besok.


Mungkin ini keputusan terbaik untuknya, mungkin sudah saat nya dia berjuang kembali dari awal, sendiri tanpa bantuan orang lain lagi.


"Dion telfon papa, katanya kamu mengundurkan diri dari kantor ?"


"Hem" jawab Jehan sambil menganggukkan kepala nya.


"Kenapa ?" Jehan menoleh, menatap papa nya yang terlihat penasaran. Gadis itu terdiam sejenak untuk mencari jawaban terbaik.


"Ngga papa, udah jadi keinginan Je buat resign dari kantor itu" jawab Jehan apa adanya.

__ADS_1


"Hem, ya ngga papa sih, papa dukung aja apa yang jadi keputusan kamu" laki-laki itu merangkul tubuh putrinya, sekaligus memberikan semangat untuk putrinya yang saat ini mendapatkan ujian yang berat.


"Makasih pa" sahut Jehan pelan, nyaris seperti berbisik.


"Makan lah, kata mama kamu belum makan sedari pagi" Jehan mengangguk, gadis itu mengambil makanan di meja lalu mulai menyuapkan ke dalam mulut, Jehan makan dengan pelan seolah sedang tak nafsu dengan makanan di hadapannya.


***


Malam tiba dengan cepat, seolah menelan pagi yang terasa begitu singkat. Kini terlihat seorang gadis yang sedang duduk di kursi belajar, tangannya mulai membuka buku diary kecil yang ada di genggamannya.


Suasana kamar begitu sunyi, bahkan terlihat begitu gelap, hanya lampu kecil dengan sinar putih yang tak terlalu terang yang bersinar di atas nakas samping ranjang, juga lampu belajar yang hanya mampu menerangi meja di hadapan Jehan di mana saat ini dia duduk.


Gadis itu mulai membuka halaman pertama buku itu, dia penasaran akan apapun yang ada pada buku itu, sehingga dia memilih untuk membaca nya mulai saat ini.


Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya, terasa membosankan dan memuakkan, terkadang aku merasa bosan, meski itu hanya sesaat. Aku cukup merasa bersyukur bisa sekolah di sekolah yang menjadi sekolah favorit di kota, meski mendapat begitu banyak hinaan karena kisah hidupku, tapi aku tak pernah berfikir untuk menyerah karena aku punya tujuan yang kuat sehingga bisa berdiri di tempat ini.


Jika di fikirkan, kisah ku memang sangat menyedihkan, aku tak punya orang tua, ntah di mana mereka berada, sejak lahir aku hidup di panti asuhan, dan aku memutuskan untuk keluar dari tempat itu ketika usia ku genap 14 tahun.


Namun ada satu hal yang terasa spesial hari ini, aku bertemu dengan gadis yang membuat hati ku bergetar, jika boleh jujur aku menyukai nya, gadis manis yang selalu membuat ulah. Menjadi primadona sekolah yang di kenal banyak mahasiswa, mungkin saja menjadi incaran para lelaki di sekolah ini.


Sepertinya gadis itu sedang mendapat masalah, karena dia sedang ribut dengan ketua OSIS. Ntah lah, kurasa tidak aneh melihatnya mendapat masalah karena dia memang sudah sering mendapatkan masalah karena ulahnya.

__ADS_1


Saat melihat gadis itu berlari ke arahku membuatku mematung, rasanya seperti mimpi, karena selama ini aku hanya bisa memperhatikannya dalam diam dari jauh, aku tak pernah berani menghampiri nya. Haha aku memang se pengecut itu.


Namun saat gadis itu berteriak kecil sambil membersihkan rok nya yang kotor membuatku tersadar, dengan sedikit gugup aku berinisiatif untuk membersihkan rok gadis itu yang kotor, namun gadis itu malah menepis tangan ku, ya aku sadar, mana mau gadis itu di sentuh oleh laki-laki seperti ku, dia begitu sempurna hanya untuk berbicara dengan ku.


______________________________________________


Jehan terdiam setelah membaca lembar itu, gadis itu terdiam sejenak, kenapa buku Kenzie menceritakan tentang nya, dia tau karena dia juga pernah bertabrakan dengan seseorang sehingga dia menyimpulkan jika gadis yang berada di cerita laki-laki itu adalah dirinya. Dan apa tadi, laki-laki itu pernah bertabrakan dengannya, Dia tidak pernah sadar akan hal itu, bahkan semasa sekolah pun dia tak pernah mengenal laki-laki bernama Kenzie.


"Tunggu, kenapa isi buku ini membingungkan" Jehan merasa bingung, akhirnya gadis itu membuka halaman kedua.


~Lembar kedua


Dion kembali membuat ulah, selepas istirahat tiba dia kembali marah-marah hanya karena aku tak mengerjakan desain tugas nya. padahal sudah jelas itu bukan tugasku, tapi dia selalu saja memaksa ku untuk mengerjakan tugas nya itu.


Namun di saat aku sedang berdebat dengan Dion, ada seorang gadis yang menyahuti perkataan kami, aku cukup terkejut saat tau jika gadis itu adalah Jehan, ya gadis yang aku cintai.


Ternyata dia adalah gadis yang hebat, sama sekali tak takut dengan Dion, bahkan dia seakan menantang laki-laki itu, mungkin saja karena dia kesal dengan laki-laki itu.


Awalnya dia menghina ku karena aku terlihat tidak mempunyai teman, itulah pertama kalinya kami berbicara berdua, hingga tiba di mana aku secara spontan mengajak nya berteman, entah kenapa aku bisa seberani itu, tapi itu adalah ucapan spontanitas ku saat dia terus berbicara dan menghina ku.


Namun aku tak menyangka saat gadis itu menerima ku menjadi temannya, bahagia ? tentu saja, aku bahkan tak menyangka bisa menjadi temannya, seolah itu seperti mimpi.

__ADS_1


______________________________________________


Itu adalah kata-kata terakhir yang berada di lembar kedua di buku diary itu, Jehan menutup buku itu, menghela nafas sebentar, kepala nya terasa sakit, dia sama sekali tak pernah mengingat Kenzie, seingatnya malah laki-laki yang dulu dia temui adalah Juna, cinta pertamanya.


__ADS_2