
Setelah berpamitan dan meminta izin kepada kedua orang tua Jehan, kini Kenzie membawa Jehan ke suatu tempat. Jehan memperhatikan sekeliling, mereka saat ini berdiri di depan bangunan yang terlihat seperti rumah. Terlihat sepi karena sekeliling rumah itu adalah pepohonan. Ada rumah warga namun berjarak sekitar 200 meter dari tempat ini. Bisa di bilang rumah ini adalah rumah terpencil.
Gadis itu ingin bertanya kepada Kenzie, namun tangan nya yang di tarik oleh Kenzie membuat Jehan ikut berjalan, hatinya ragu ketika Kenzie akan membuka pintu rumah itu. Hatinya merasa takut. Jehan berhenti dan berusaha menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Kenzie.
"Sebenarnya kenapa kita kesini ?" tanya Jehan masih di posisi nya, sebagian gadis jelas takut jika di ajak ke tempat yang sepi seperti ini.
"Nanti kamu akan tahu, percaya padaku dan mari ikuti aku" Jehan menatap mata Kenzie intens, seolah sedang mencari sesuatu di balik mata itu. Berungkali Jehan berfikir untuk pergi dan tak mengikuti Kenzie namun kaki nya seolah terpaku di tempat dan tak kuat untuk sekedar beranjak pergi.
"Kamu tak mempunyai niat buruk padaku kan Ken ?" tanya Jehan menyelidik.
"Buat apa ? kamu terlalu berlebihan sayang" ucap laki-laki itu sambil tertawa, namun jawaban itu tak mengurangi ketakutan Jehan, bahkan gadis itu semakin takut saat mendengar tawa Kenzie yang terdengar menyeramkan di telinganya.
"Kak, kamu lama banget si" pintu terbuka, keluar seorang laki-laki yang berumur sekitar 20 tahun an dengan jaket dan celana jeans yang membalut tubuhnya. Jehan dapat melihat rumah itu begitu terang, dengan banyak sekali anak kecil di dalam nya.
Jehan di buat semakin bingung dengan keadaan ini, rumah apa ini sebenarnya ? kenapa banyak sekali anak kecil di rumah itu yang sedang bermain dan bercanda ria.
"Kakak cantik mari masuk ke rumah kami" seorang anak yang masih kecil datang menghampiri Jehan dan Kenzie. Anak itu mendongak untuk melihat wajah Jehan tangan nya yang mungil terulur kepada Jehan.
Sekali lagi Jehan menoleh kepada Kenzie, laki-laki itu hanya tersenyum kepadanya, dengan menghela nafas pelan, Jehan menggenggam tangan anak itu, memang sangat kecil sampai-sampai tangan anak itu tak sampai pada tangannya.
Akhirnya Jehan memilih untuk bersimpuh di hadapan anak itu, anak itu menatap matanya dengan mata polosnya yang membulat. Jehan tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
"Mau kakak gendong ?" tanya Jehan
"Teman-teman ku akan iri kak jika melihat kakak cantik menggendongku, mereka juga akan minta kakak cantik untuk mengendong mereka satu persatu" ucap anak itu sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang bermain.
"Baiklah nama adek siapa ?" tanya Jehan sambil menggenggam tangan kecil anak itu.
__ADS_1
"Namaku Lexi kak" ucap anak itu, bahasa nya cukup bagus dalam berbicara. Mungkin jika di lihat usia nya sekitar 5 tahun.
"Ayo kakak cantik kita masuk" ucap anak itu sambil menarik tangan Jehan, akhirnya Jehan mengikuti anak itu masuk ke dalam rumah, di dalam rumah itu terlihat beberapa laki-laki dan perempuan yang usianya mungkin sepantaran dengan Jehan, mereka sedang duduk di meja besar.
Kedatangan nya dan Kenzie membuat semuanya menoleh ke arah mereka. Kenzie mendekat ke arah Jehan, menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
"Kak, apakah gadis yang ada di sampingmu ini kekasihmu ?" tanya laki-laki yang tadi membuka pintu, kini laki-laki itu sudah duduk di salah satu kursi.
"Iya dia kekasih ku, namanya adalah Jehan" ucap Kenzie sambil menatap semua teman-temannya itu satu persatu.
"Dan Jehan mereka semua adalah teman-temanku" ucap Kenzie lagi sambil menatap ke arah Jehan.
"Wah apakah kakak cantik ini, akan menjadi kakak baru kami kak" ucap anak yang bernama Lexi tadi dengan polosnya.
"Iya, dia akan menjadi kakak baru buat kalian" ucap Kenzie sambil mengendong Lexi dan mencium pipi gembul anak itu.
Semua orang terlihat menerima Jehan dengan baik, Jehan tersenyum lebar kepada semua orang, sampai tatapan gadis itu tertuju pada satu titik, dimana terlihat seorang wanita yang dia kenal, karena wanita itu sering sekali terlihat bersama Kenzie.
Ya masih wanita yang sama.
***
Sementara mama Jehan kini berada di sebuah taman, wanita itu menunggu teman nya yang tak lain adalah Lea mama Dion. Dia akan mengatakan jika Jehan membatalkan pertunangan.
Sudah 10 menit dia menunggu, dengan duduk di sebuah kursi yang di sediakan di taman itu, menunggu teman nya yang tak kunjung datang.
Sampai wanita yang terlihat masih muda itu terlihat berjalan ke arah nya dan duduk di samping nya.
__ADS_1
"Ada apa jeng ngajak ketemu ?" tanya wanita itu sambil menatap nya.
"Padahal kita bisa bertemu di cafe, makan bersama atau berbelanja bersama di mall" ucap wanita itu.
"Hem, sebenarnya aku mengajak mu bertemu karena ingin memberitahu sesuatu" ucap mama Jehan pelan.
"Soal apa ?" Lea bertanya sambil mengernyitkan dahi, merasa heran sekaligus penasaran dengan apa yang akan temannya itu katakan.
"Jehan membatalkan perjodohan nya dengan Dion"
"Apa ? kenapa, apa alasannya" tanya mama Dion secara beruntun.
"Jehan sepertinya sudah punya kekasih" mama Jehan berkata dengan perasaan bersalah, sedangkan temannya itu terdiam karena masih berusaha mencerna ucapan mama Selina.
"Selina bagaimana bisa kamu baru mengatakan nya sekarang, di saat putra ku sudah terlihat menyukai putri mu ?" mama Jehan yang bernama Selina itu hanya terdiam karena merasa bersalah, namun mau bagaimana lagi perasaan putri nya tidak bisa di paksakan jika gadis itu memang tak menyukai Dion, ya satu-satunya jalan adalah memutuskan perjodohan ini.
"Maafkan aku Lea, aku sendiri tidak menyangka jika Jehan sudah mempunyai kekasih, dia baru memberitahu tadi pagi"
"Tetap saja seharusnya dia tidak seperti itu, apalagi setelah gadis itu menjadi tunangan putraku, meski mereka belum bertunangan secara resmi, namun seharusnya dia bisa menjaga hati" seolah tak terima, mama Dion tetap saja kekeh menyalahkan Jehan.
"Sekali lagi aku minta maaf, mumpung hubungan mereka belum terlalu jauh. Semoga putra mu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari putri ku" ucap mama Jehan sambil berdiri, urusan nya sudah selesai. Dia sudah memberitahu temannya itu atas pemutusan perjodohan kedua anak mereka.
Mama Selina tiba di rumah, wanita itu berjalan ke dalam karena matahari cukup terik di atas sana. Duduk sejenak di ruang tamu, saat melihat bibi lewat mama Selina bertanya kepada pembantunya itu.
"Jehan belum pulang bi ?" tanya mama Selina kepada bibi yang baru saja lewat.
"Belum nyonya" ucap pembantu itu, mama Selina mengangguk dan mempersilahkan bibi untuk pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Hem, Kenzie aku benar-benar masih penasaran dengan anak itu"