
"apa kakak sedang cemburu" Jehan menatap Juna yang hanya diam, dia menutup muka nya saat mereka lewat halaman sekolah, banyak siswa siswi yang melihat mereka, namun Juna seolah sudah tidak punya muka, laki-laki itu bahkan tidak peduli mukanya menjadi sorotan para anak manusia di seluruh sekolah itu.
"kak aku malu" Jehan ingin melepaskan diri dan lari, namun dia juga tidak ingin ada yang tau, jika perempuan yang ada dalam gendongan Juna itu dirinya. Apalagi jika ke empat sahabat nya yang tau, bisa beda lagi urusannya. Yang ada dia di jadikan bahan ledekan sebulan berturut-turut. Terdengar aneh, jika seorang Jehan dekat dengan laki-laki, apalagi sampai membiarkan tubuhnya bersentuhan dengan intim seperti sekarang. Yang ada harga dirinya yang turun.
"uwahh, siapa ini Jun, kamu udah punya cewe ya. Coba lihat dong dikit" Anak laki-laki menghampiri Juna, tidak bahkan semua siswa ikut mengerubungi Jehan dan Juna. Mereka berusaha mengintip wajah perempuan yang ada dalam dekapan Juna. Murid pintar yang tidak pernah dekat dengan perempuan itu.
sedikit aneh memang, selama ini Juna selalu bersinar terang karena segudang prestasi nya. Dari segi pergaulan pun, Juna tipikal orang yang tidak suka neko-neko. Namun sekarang Juna dengan terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan perempuan, tanpa peduli jika ketahuan guru. Keberanian yang wah menurut mereka semua yang melihat.
"ngga boleh, minggir aku mau lewat" Juna dengan cepat menyingkirkan kerumunan remaja yang ada di depannya mengunakan bahu nya. Dia berjalan cepat. Bahkan semua aktivitas di sekolah itu terhenti, mereka begitu kaget ketika melihat murid terpintar di Jurusan IT dekat perempuan.
"kakak, kakak sukses membuat aku malu tingkat tinggi. Nanti jika mereka tau bagaimana" Jehan cemberut, dia tetap menutupi wajahnya menggunakan satu tangan, para siswa sudah sedikit jauh, dan di sekitar sini pun aman dari sorotan Cctv, kalau yang tadi mungkin saja aksi Juna terekam jelas pada layar Cctv karena posisi wajah Juna yang menghadap langsung arah Cctv.
"Cup" Jehan melotot, sedangkan Juna malah terkekeh, Jehan berdecak kesal, gadis itu mengusap pipi nya kasar. Berani sekali laki-laki itu menciumnya.
"kakak jangan seenaknya dong, udah bikin aku malu sekarang bikin aku kotor dengan ciuman kakak. Aku tu masih suci kak, ngga ada yang aku biarin nyentuh tubuh aku melebihi batas normal" Juna tertawa, dia gemas sekali dengan perempuan yang berada dalam dekapannya ini.
"kamu bikin kakak pusing Jehan, udah kakak bilang jangan deket sama cowok lain" Jehan memutar bola matanya mendengar ucapan laki-laki di depannya itu.
"kapan kakak ngomong gitu, aku ngga ngerasa"
"belum pernah ?" tanya Juna, Jehan mencoba mengingat, dia pun menggelengkan kepala nya. Dia memang tidak mengingat apapun itu.
"ya sudah kakak ingetin sekarang, jangan deket cowo manapun selain kakak, mengerti" Juna menjitak dahi Jehan, membuat gadis itu mengeluh sambil menapuk pipi Juna, dia tidak suka di perlakukan seenaknya.
__ADS_1
"kakak nyebelin, turunin ngga. Pacar kontrak ngga usah belagu" Juna kembali tertawa, perutnya terasa lemas karena terus tertawa. Dia memilih duduk di ruangan sekolah yang sepi, laki-laki itu melingkarkan tangan nya di pinggang kecil Jehan,mendudukkan gadisnya di pangkuannya.
"kakak jangan deket-deket deh. Kenapa sih suka banget nempel-nempel" Jehan menekan dahi Juna yang dengan serius menatapnya. Gadis itu tidak suka berada sedekat ini dengan pria. Dia merasa terintimidasi.
"kenapa" tanya Juna
"aku ngga suka aja"
"kamu pacar kakak"
"ish kakak benar-benar deh"
"Jehan"
"hem"
"bwahahaa udah ah dek, capek kakak kalau ada di deket kamu terus" Juna tertawa membuat Jehan terlonjak kaget, dia berdiri dengan raut wajah syok takut jika Juna kerasukan setan sekolah itu, bagaimana pun Juna tertawa secara tiba-tiba membuat Jehan ketakutan.
"plak"
"aw, kok di tampar sih dek" Juna memegang pipi nya yang terasa sedikit panas, dia melirik Jehan yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan, Juna gemas ingin membawa gadis itu pulang. Tidak boleh otak nya benar-benar konslet saat ini.
"hi jangan pegang-pegang" Jehan mengibaskan tangannya, gadis itu mendorong Juna hingga laki-laki itu kembali terduduk.
__ADS_1
"kamu pasti si mbah genit penunggu sekolah ini ya, hey kamu jangan merasuki kakak senior aku ya. Pantas saja dari tadi kakak senior aku aneh terus. Ternyata kamu merasukinya ya dasar mbah-mbah genit" Juna membuka mulutnya, dia berdiri ingin menanyakan apa maksud ucapan Jehan.
"ah" Jehan lari kencang meninggalkan Juna sendirian di ruangan sepi itu, sekelilingnya banyak pohon besar, suasana nya sedikit gelap karena cuaca yang mendung. Juna menepuk jidat nya jangan bilang jika gadisnya itu menganggap bahwa dia kerasukan.
"huh, aku ninggalin kak Juna dia aman kan ya" Jehan mengibas-ibaskan tangannya ke wajah karena lelah berlari.
"tapi kalau dia kenapa-napa gimana" gadis itu masih berfikir untuk kembali menjemput Juna yang tertinggal.
"udah biarin aja, lagian dia udah ngambil ciuman kamu" Jehan mendapat bisikan jahat dalam hati, membuat dia mengurungkan niat nya untuk menghampiri Juna.
"tapi kan dia udah selalu ada saat kamu sedih" sisi baik Jehan muncul. Jehan berdecak dia menggelengkan kepala agar tetap sadar. Jehan terlojak kaget saat merasakan tepukan di bahu, gadis itu mendongak dan gubrak
"aw sakit" gadis itu meraba punggung nya yang terasa sakit karena jatuh dari kursi yang dia duduki, dia menatap siluet yang sekarang tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut nya siapa lagi jika bukan Arjuna.
"bwahahhaa perut aku astaga, oh bisa kendor ini karena lemes" Jehan mencak-mencak pengen menjitak kepala Juna, gadis itu melirik sinis ke arah Juna yang terus tertawa. Gadis itu memakai helm, persiapan untuk pulang. Tinggalkan saja kakak kelas menyebalkan seperti Juna pikirnya.
"Jehan" Jehan melirik sinis, gadis itu sedang ingin menjambak rambut Juna saking kesalnya, dia memijat kening nya yang terasa pusing, dia bukan pelawak tapi seolah dia malah sedang menghibur Juna agar terus tertawa.
"pulang bareng kakak yuk, sekalian temenin kakak beli hp" Juna berhenti tertawa, laki-laki itu menatap Jehan serius.
"kakak mau beli hp ?"
"iya, biar bisa hubungin kamu setiap saat. Alhamdulillah tabungan kakak cukup untuk membeli hp" Jehan mengetukkan jarinya di dagu, dia mengangguk dan menyerahkan kunci kepada Juna.
__ADS_1
"pegangan yang erat ya"
"modus" Juna kembali tertawa, dia menjalankan motor dengan kecepatan normal, mencari toko hp yang bagus.