
Suasana kediaman Darmawan terdengar geger. Pasalnya, semua penghuni rumah sedang kalang kabut mencari Ghavi yang entah dimana keberadaannya sekarang.
Semalam sebelum tidur gadis itu mengeluh pada Risa jika dadanya sedikit sakit. Awalnya Risa menyarankan untuk pergi berobat namun ditolak oleh Ghavi yang meyakinkannya bahwa dirinya baik-baik saja.
Akhirnya Risa memutuskan untuk tidur. Namun, tanpa sepengetahuan Risa, Ghavi merasakan dadanya bertambah sesak dan memutuskan pergi kedapur untuk mengambil air panas. Dan disanalah Ghavi akhirnya ditolong Handy keklinik.
" Dimana kakakmu?" tanya Om Rudi pada Harry yang berada dikamar tamu.
Dia baru saja menenangkan Risa yang tengah terisak kehilangan cucu majikan ibunya yang juga sahabatnya itu.
Om Rudi melongokkan kepalanya melihat Risa yang menangis dipelukan Aksan yang terus berusaha menenangkannya bersama Harry tadi.
" Tidak tahu, Yah! Dari tadi tidak kelihatan. Masi tidur barangkali?!" ujar Harry
" Tidak ada. Tadi ibu baru saja dari kamarnya," sahut Tante Rudi yang baru muncul dibelakang suaminya.
" Jangan-jangan, Ghavi dibawa kabur sama Mas Handy ...," celetuk Risa membuat yang lain terpana.
" Haahh?!"
" Yang benar saja kamu, Sa. Jangan asal bicara," ujar Aksan merasa tidak enak hati dengan Om Rudi dan yang lainnya.
" Ak-aku tidak asal bicara. Buk-buktinya mereka tidak ada disaat yang bersamaan," balas Risa sedikit tergagap.
Tergagap karena menangis, juga karena ada rasa sedikit takut.
" Kamu sudah mencoba menghubunginya?!" timpal Tante Rudi memandang kearah Harry.
" Nomornya tidak aktif, Bu," jawab Harry menggeleng.
" Ya, sudah! Kita tenang dan tunggu dulu sebentar. Jika dalam waktu satu jam tidak ada kabar, kita cari lagi," tukas Om Rudi memberi keputusan.
Sementara itu, diklinik, Ghavi baru terbangun dari tidurnya.
" Aku dimana?" gumamnya sambil memicingkan mata. Diamatinya ruangan yang teramat asing baginya.
" Kau sudah bangun?" Handy yang baru keluar dari kamar mandi mendapati Ghavi sudah bangun terduduk diranjang klinik.
" Sudah jauh lebih baik?!"
Didekatinya Ghavi dan ditempelkannya punggung telapak tangannya dikening gadis itu.
" Sudah tidak demam. Apa masih terasa sesak napasnya?" tanyanya lagi.
Ghavi hanya menggeleng tanpa menjawab apapun
" Kenapa aku ada disini?" Tangannya yang diinfus diangkatnya.
__ADS_1
" Kau lupa, semalam kau sesak napas. Dokter bilang kau punya riwayat asthma. Apa itu benar?"
Ghavi mengangguk. Dia ingat, semalam dia sesak napas dan niatnya pergi kedapur mengambil air panas justru ketahuan Handy. Diapun menurut begitu saja saat Handy membawanya kedokter.
" Iya. Waktu SMP aku pernah mengalami sesak napas hebat. Dokter mendiagnosaku asthma. Dan sejak kejadian itu aku mulai sering terkena serangan asthma," terang Ghavi menunduk.
" Kalau sudah tahu punya asthma, kenapa tidak sedia obat?!"
"Em, sebenarnya sudah setahun terakhir ini asthmaku tidak kambuh lagi. Jadi kupikir ...,"
" Meskipun begitu, seharusnya kau selalu siap sedia untuk jaga-jaga seperti tadi malam," potong Handy cepat.
" Kalau bukan kamu sendiri yang menjaga, siapa lagi," lanjutnya.
" Maaf!"
" Kenapa mesti minta maaf?!"
" Eh, itu ... maaf karena semalam sudah menyusahkanmu," ujar Ghavi tergagap.
" Lupakan!"
" Selamat pagi!" Seorang perawat masuk ruang perawatan Ghav dengan membawa alat pengukur tekanan darah.
Semalam gadis itu mengalami tekanan darah rendah dan demam pengaruh asthma akutnya sehingga terpaksa diinfus.
Ghavi mengangguk.
" Hm, tekanan darahnya sudah 120/70. Sudah normal. Masih pusing atau demam?!" tanyanya lagi.
" Tidak, Sus, saya merasa baikan sekarang," jawab Ghavi sedikit lemah.
" Baiklah. Sekarang dibawa sarapan dulu biar tenaganya lekas pulih. Setelah itu minum obat. Setengah jam lagi jadwal dokter datang memeriksa," perintah perawat sesaat sebelum keluar dari ruang UGD.
" Kau dengar, kau harus sarapan supaya lekas pulih dan cepat pulang." Handy menyodorkan roti abon yang dibelinya dikantin klinik. Ghavi langsung mengambilnya.
"Pasti orang rumah sudah kalang kabut mencarimu. Sayang sekali ponselku habis baterai," keluhnya.
Setengah jam kemudian dokter datang memeriksa kondisi Ghavi. Dokter menyarankan untuk tetap sedia obat pereda sesak berbentuk spray, karena itu lebih cepat melegakan dan efektif.
Ghavipun diijinkan pulang setelah mendapat perawatan semalaman di UGD.
Setelah menunggu Handy mengurus administrasi, akhirnya Ghavi diperbolehkan pulang pukul sepuluh tiga puluh.
" Lain kali jangan teledor lagi. Ingat kata dokter tadi. Tetap sedia obat untuk jaga-jaga. Hindari alergen," nasehat Handy saat mobil mulai berjalan kearah jalan pulang.
" Iya, maaf!" ucap Ghavi merasa bersalah sudah lalai pada kesehatannya sendiri yang ikut menyusahkan orang lain.
__ADS_1
" Bagaimana dengan tanganmu, tadi lupa diperiksa sekalian."
Handy melirik punggung tangan kiri Ghavi yang semalam terciprat air panas.
" Ah, ini tidak apa-apa. Besok juga pasti sembuh," jawab Ghavi menggosok punggung tangan kirinya yang sudah memerah sekarang.
" Syukurlah."
Handy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati indahnya pemandangan Dataran Tinggi Dieng yang cukup terkenal di Jawa Tengah.
Dikiri kanan jalan tampak terasering-terasering kebun sayur milik maysarakat yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani sayur.
Daerah yang berhawa cukup dingin dan sejuk itu mempunyai komoditas sayuran yang melimpah.
Hasil panennya mereka jual keluar kota kabupaten disekitarnya. Bahkan ada yang mereka kirim ke ibu kota dan kota-kota besar lainnya dipulau jawa.
" Apa kau dingin?"
Handy melihat Ghavi mengelus kedua lengannya sendiri seperti kedinginan.
" Sedikit Ini baru pertama kalinya aku datang kesini. Mungkin karena selama ini tinggal dikota yang udaranya cukup panas, jadi mungkin saja tubuhku sedang beradaptasi dengan udara disini yang dingin," jelas gadis itu sambil terus menggosok lengannya.
" Pakailah! Ini mungki bisa membantu sedikit menghangatkanmu."
Handy memberikan jaket merah maroonnya yang tersampir disandaran kursi kemudi.
" Terima kasih." Ghavi pun menerima jaket itu dan langsung memakainya.
Kini tubuhnya merasa jauh lebih hangat dan nyaman didalam balutan jaket Handy.
Aroma maskulin langsung tercium tajam dihidung Ghavi yang memang sedikit sensitif terhadap bau-baun yang menyengat.
"Jam berapa sekarang?" Ghavi menoleh pada Handy yang fokus menyetir.
" Sudah jam sebelas siang. Kenapa? Kau sudah lapar?! Maaf tadi hanya sempat memberimu roti sobek untuk sarapan," jawab Handy melirik jam dipergelangan tangannya.
" Seharusnya kami sudah pulang satu jam yang lalu. Aku hanya tidak ingin membuat Eyang khawatir," terang Ghavi.
" Oh, begitu. Sesampainya dirumah kau bisa menghubungi eyangmu nanti. Sebaiknya kau menginaplah semalam lagi hingga kondisimu benar-benar pulih."
" Aku harus kuliah besok. Seharusnya hari ini juga aku ada mata kuliah. Jika besok tidak masuk lagi tanpa keterangan pasti aku bakal kena tegur."
" Nanti akan kuminta Harry untuk mengurusnya," tukas Handy meyakinkan.
Mereka baru sampai dirumah satu jam kemudian karena Handy memaksa mampir ke rumah makan P*dang untuk makan siang terlebih dahulu.
***
__ADS_1