Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
kalian?!


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu. Ghavi selalu menunggui eyangnya, bergantian dengan Bi Mirna terutama saat dia sedang ada jadwal kuliah. Sesekali Risa dan Aksan datang sekedar mengantar makanan atau pun baju ganti untuk Ghavi.


Ya. Sejak kepulangannya Ghavi tidak mau pulang ke rumah. Alasannya dia mau menunggui sang eyang. Akhirnya Risa dan ibunyalah yang mengalah bolak-balik kerumah mengambil semua keperluan Ghavi dan eyang.


Dan hari ini Eyang Sosro sudah diijinkan pulang. Dokter yang memeriksa eyang untuk kali terakhir masuk diikuti dua perawat. Yang satu membawa rekam medik, yang lain membawa alat pengukur tekanan darah dan alat pelepas infus.


"Selamat! Eyang Sosro sudah diperbolehkan pulang," ucap dokter yang memeriksa menyalami tangan eyang sembari tersenyum.


"Eyang tidak boleh terlalu berpikir yang berat-berat agar tekanan darahnya selalu normal," nasehat dokter.


"Terima kasih, Dok! Nasehat Dokter akan saya ingat," jawab Eyang Sosro menyambut uluran tangan dokter.


"Kalau begitu saya pamit dulu, ya, masih ada pasien yang harus saya periksa," pamitnya.


"Oh, ya! Jangan lupa tebus obatnya dulu di apotik untuk diminum dirumah. Jika obat habis kontrol lagi," imbuhnya.


"Ya! Sekali lagi terima kasih!"


Ghavi pun pamit pergi ke apotik untuk menebus obat, meninggalkan eyangnya bersama Bi Mirna yang sedang berbenah memberesi barang-barang yang harus dibawa pulang.


Dokter pergi diikuti satu perawat. Sedangkan perawat yang satunya lagi tetap tinggal melepas infus dan memplester bekas infusan agar tidak terjadi pendarahan setelah sebelumnya mengusap bekas tusukan infus dengan alkohol.


"Sudah! Eyang boleh pulang sekarang," ujar perawat membantu Eyang Sosro duduk dikursi roda dan mendorongnya keluar kamar rawat inap.


Bi Mirna mengikuti dibelakangnya dengan kedua tangan menenteng tas pakaian eyang dan kantong kanvas berisi barang-barang lain.


"Terima kasih, Suster!" ucap Ghavi yang baru saja embali dari apotik menebus obat.


"Sama-sama!" ucap perawat membiarkan Ghavi mengambil alih kursi roda dan mendorongnya hingga ke lobi.


Disana, Pak Agung sudah menunggunya disamping mobil. Tadi Ghavi sudah menelponnya saat masih diapotik.


Karena posisi Pak Agung sudah diparkiran rumah sakit, maka dengan cepat sudah siap didepan lobi.


"Pak, tolong bantu aku memapah Eyang!" pinta Ghavi memberi perintah.


"Baik, Non!"


Pak Agung pun berjalan cepat menghampiri dan membantu memapah Eyang Sosro. Bi Mirna sendiri langsung menuju mobil menyimpan barang-barang dibagasi dan langsung duduk didepan samping Pak Agung. Sementara Ghavi dan eyangnya duduk di jok belakang.


Mobil yang dikendarai Pak Agung memasuki pelataran rumah joglo khas rumah adat jawa itu tiga puluh menit kemudian.


Aksan yang baru saja tiba menjemput Risa dikampus langsung mendekati mobil dan membantu mengambilkan barang-barang dibagasi.


Bi Mirna masuk ke rumah lebih dulu menyiapkan tempat tidur Eyang Sosro yang sudah lima hari tidak ditempati.


Kembali Pak Agung membantu Ghavi memapah eyangnya masuk kekamar.


"Terima kasih, Pak Agung!" ucap Ghavi membungkuk.


"Sama-sama, Non! Kalau begitu saya permisi pulang, Non! Masih ada pekerjaan lain," pamit Pak Agung.

__ADS_1


Orang itu baru saja keluar dari kamar eyangnya, namun Ghavi memanggilnya.


"Eh, tunggu sebentar, Pak!"


Ghavi mengikutinya keluar dari kamar. Gadis itu pun mengambil dompet ditas slempangnya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ini untuk Bapak!"


Disodorkannya uang itu pada Pak Agung.


"Eh, tidak usah, Non! Tidak perlu begini," tolaknya.


"Tidak, Pak! Ini hak bapak karena sudah berjasa menjemput kami pulang. Lagipula sudah lama saya tidak memberinya ke Bapak. Anggap saja ini uang jajan anak-anak," ujar Ghavi bersikeras memberikan uang tersebut.


Pak Agung pun tak kuasa menolak. Diterimanya uang itu dengan terbungkuk-bungkuk.


"Terima kasih banyak, Non! Tapi ini terlalu banyak."


"Tidak apa-apa! Belikan jajan atau mainan untuk si kecil. Maaf belum sempat menjenguk putra bungsu Bapak!"


"Sekali lagi terima kasih, Non! Iya! Nanti saya belikan mainan untuk sikecil. Tidak apa-apa. Saya tahu Non Ghavi sedang sibuk," ucapnya maklum.


"Kalau begitu saya permisi, y, Non!"


"Ya!"


Sepeninggal Pak Agung, Ghavi kembali masuk kamar eyangnya dan mendapati wanita renta itu sudah berbaring.


"Eyang, aku ke kamarku dulu, ya. Jika perlu sesuatu Eyang panggil saja Bi Mirna di belakang. Aku mau mandi dulu, gerah," ujarnya.


Ghavi pun beranjak ke kamarnya sendiri di kamar sebelah. Direbahkannya tubuh dikasurnya yang empuk dan nyaman. Karena beberapa hari ini dia kurang tidur, tak lama setelahnya dia terlelap. Dia pun urung dari niat awalnya, yaitu mandi.


***


Ghavi terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik. Ternyata dering ponselnya yang berbunyi.


Dengan mata masih mengantuk, Ghavi pun bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan ponselnya.


"Hallo!" jawabnya setelah berhasil menemukan ponsel didalam tas slempangnya.


"Viiii ...!" teriak seseorang dari seberang ponselnya.


"Haiiisshh!"


Ghavi segera menjauhkan ponsel dari telinganya yang langsung pengang.


Ditatapnya layar touchscreennya untuk mengetahui siapa yang berani berteriak ditelinganya.


Liana, gumamnya.


" Vii!" panggilnya lagi begitu ponsel sudah ditelinga.

__ADS_1


"Ya! Apa kau sekarang tinggal di hutan?! Kenapa suaramu kencang sekali?!" dumal Ghavi.


"Hahaha ...!"


Liana malah terbahak. Suaranya terdengar lebih keras dan nyaring ditelinga Ghavi sampai gadis itu menggosok- gosok telinganya yang berdengung.


Akhirnya diputuskannya melakukan panggilan dengan loudspeaker dan meletakkan hpnya di meja nakas.


"Ada apa telpon?" tanyanya sedikit malas.


Rasa kantuk belum sepenuhnya hilang.


"Coba tebak, sekarang aku ada dimana?!"


Liana malah balik bertanya.


"Dihutan!" jawab Ghavi asal.


Direbahkannya kembali tubuhnya dan memejamkan mata.


"Aku ada di kota gudeg, Vi!" beritahu Liana.


"Hm, oh!" gumam Ghavi dengan mata terpejam.


Namun, sedetik kemudian dia tersadar dari tidurnya. Sontak gadis itu langsung terduduk mendengar kota gudeg. Bukankah itu artinya sekarang Liana ada di Jogja?!


"Kau, kau ada di Jogja?!" tanyanya masih tidak percaya.


"Sama siapa?!"


"Ada, deh! Biar jadi kejutan, ok?!"


Klik!


Liana langsung menutup telponnya segera.


"Haiissh, s*alan! Malah dimatikan," gerutunya pada diri sendiri.


Ghavi pun melemparkan ponselnya ke kasur dengan kesal.


Berhubung kantuknya sudah pergi entah kemana, maka diputuskannya untuk mandi saja.


Tiga puluh menit kemudian dia keluar dari kamar. Ghavi hendak pergi ke dapur, namun tiba-tiba bell berbunyi. Dilihatnya Bi Mirna muncul dari kamar eyangnya hendak membuka pintu.


"Biar aku saja, Bi!" cegahnya membuat langkah Bi Mirna terhenti.


Wanita paruh baya tersebut kembali masuk ke kamar sang eyang untuk menyeka tubuhnya.


Ghavi pun berbalik arah bergegas menuju ruang depan.


Ceklek!! Pintu terbuka dan ...

__ADS_1


"Surpriseee ...!!!" teriak seseorang di depan pintu begitu melihat kemunculan Ghavi.


" Kalian?!" ucapnya terkejut.


__ADS_2