Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Berrebut Perhatian


__ADS_3

Tepat jam makan siang Ghavi pulang kerumah bersama Liana dan Bintang.


Liana atau yang suka dipanggil Lili itu akhirnya minta dijemput oleh Ghavi karena mobilnya mogok dijalan dan terpaksa dibawa ke bengkel langganannya setelah sebelumnya menunggu montir datang menderek mobilnya.


"Tante Risa, Om Aksan!!" teriak Bintang begitu masuk ruang tamu Ghavi dan melihat sepasang suami istri yang sedang bercanda dengan bayi kembar mereka.


Sekitar jam sebelas tadi mereka bangun dari tidur. Itupun karena suara tangis salah satu bayi yang terbangun akibat diapernya penuh.


"Siang, Tampan! Kamu apa kabar?"


Risa dan Aksan menyambut uluran tangan bocah laki-laki lima tahun tersebut.


"Baik, Tante!"


"Kamu gimana kabar, Li?"


Risa dan Lili pun bercipika-cipiki seperti biasa saat bertemu.


"Baik! Sorry, ya dulu tidak sempat nungguin kamu lahiran."


Liana meminta maaf karena dulu sehari sebelum baby twin launching, dia dan Bintang harus segera balik ke ibu kota karena kedatangan eyangnya Bintang.


"Iya, tidak apa-apa! Toh, sekarang sudah ketemu ini," jawab Risa maklum.


"Selamat, ya, Mas Aksan sudah jadi ayah buat si baby. Kembar lagi. Pasti senang, kan?!"


Liana beralih menyalami Aksan untuk memberikan selamat.


"Iya, Li, makasih! Senang, sih, tapi capek ngurusinnya. Nangis satu, yang lain ikutan. Padahal, dulu waktu produksi mereka tidak merasa capek."


Aksan melirik sang istri yang ternyata sedang menatapnya tajam.


"Haha ...! Mas Aksan bisa saja. Hati-hati, Mas! Kalau ayam, nih kalau baru punya anak suka galak. suka patokin yang lain jika dekat-dekat. Hihihi ...!" bisik Liana pada Aksan sambil terkikik geli melihat pelototan Risa pada sang suami.


"Iya, kamu benar, Li!" balas Aksan sambil berbisik.


"Mas!"


Teguran Risa membuat Liana makin terkikik.


"Ini baby twin?!" tanya Bintang menyelamatkan Aksan yang hampir tegang gegara pelototan istrinya itu.


Bintang mengamati kedua bayi kembar yang sedang berbaring di sofa.


"Sangat mirip! Cara membedakannya gimana, Om?!"


"Ini baby Aris, yang ada tahi lalat di dekat alis. Dan ini baby Risan yang ada tahi lalat dekat bibir."


Aksan menunjuk tanda yang membedakan kedua bayi-bayinya.


"Terus, mana kakak, mana adik?"


Bintang masih tampak penasaran dengan bayi-bayi lucu dihadapannya.


Ini si kakak, namanya Aris. Dan ini Risan, si dedek."


Kali ini Risa yang menjawab pertanyaan bocah laki-laki itu.


"Oh!"


Bintang tampak puas mendengar penjelasan dari orangtua si bayi.


Kepalanya mengangguk-angguk mengerti.


" Aunty nggak mau gendong?!"


Bintang beralih menatap Liana yang berdiri di sampingnya ikut mengamati si twin.


"Eh!"

__ADS_1


Liana menoleh kearah Bintang, lalu menoleh kearah Risa.


"Memangnya boleh, Sa?"


Risa mengangguk.


"Boleh! Nih, baby Aris kamu gendong."


Risa mengangkat Aris dari baringnya.


"Kamu duduk sini, biar aku bantu pangkukan."


"Tapi aku takut dia jatuh," kilah Liana.


"Kan, ada aku yang bantu pegangin," ujar Risa meyakinkan.


Belum sampai Risa menyerahkan bayinya kepangkuan Liana, Ghavi muncul dari arah dalam rumah.


"Guys, makanan sudah siap! Ayo, kita makan siang dulu! Baby twin biar Bu Yoyon yang jagain dulu sebentar," ujarnya mengajak tamu-tamunya makan siang.


Rupanya tadi Ghavi langsung menuju ke belakang begitu sampai dirumah. Gadis itu membantu Bu Yoyon menyiapkan makan siang.


Tidak lupa dia menaruh bebek bakar madu dan bebek bakar sambal ijo pesanan Risa, yang dibawanya dari restaurant.


"Ayo semuanya! Bintang sudah tidak sabar makan bebek bakar madunya."


Bintang yang paling semangat.


Apalagi, bocah itu tahu tadi Tante Obat Gosoknya membawa lauk kesukaannya.


"Enak saja! Itu tadi pesanan Tante Risa, tahu?!" sambar Risa tidak mau kalah.


"Tenang saja, Tante! Tante GPU sudah bawa banyak untuk kita," sahut Bintang sambil memeluk pinggang Ghavi.


"Tante GPU?! Kok, kayak napa obat gosok, ya?!" celetuk Aksan.


"Iya, emang. GPU itu, Ghavi Putri Umar. Disingkat GPU. Makanya aku suka manggil Tante Ghavi itu dengan Tante Obat Gosok, Om! Soalnya namanya mirip obat gosok, sih!" terang Bintang.


"Sudah, sudah! Ayo makan sekarang! Biar baby ARISAN sama ibu dulu."


Bu Yoyon yang baru datang dari arah dapur pun segera menghentikan candaan mereka.


"Baby ARISAN?!" tanya Bintang heran.


"Iya, Sayang! Baby ARISAN itu, baby Aris dan baby Risan. disingkat jadi baby ARISAN!" terang Liana yang kebetulan sudah tahu lebih dulu dari Ghavi.


"Yang bikin nama panggilan siapa, kok lucu, sih?!"


Bintang penasaran.


"Tante Obat Gosok, dong!"


Ghavi menepuk dadanya sendiri.


"Oh! Tante hebat! Baby ARISAN itu hasil arisan dari Om Aksan dan Tante Risa, kan?!"


"Hust!!"


Risa langsung melotot kearah Bintang yang hanya nyengir melihatnya.


"Hahaha ...!"


Yang lain hanya tertawa mendengar ocehan bocah pintar itu.


Akhirnya mereka pun menuju meja makan yang sudah terhidang berbagai macam hidangan, termasuk sayur bening daun katuk dan jagung pesanan Risa yang memang sedang menyusui agar produksi ASInya terpenuhi untuk kedua anaknya yang belum mengenal MPASI.


"Siang, Nenek! Tantenya ada?"


Samar-samar terdengar suara anak perempuan di ruang tamu.

__ADS_1


"Siang juga, Cantik! Ada, kok! Itu sedang makan di dalam. Kebetulan sedang ada Bintang dan saudaranya dari Jogjakarta," jawab Bu Yoyon.


"Oh, kalau gitu Sunny pulang saja!"


Sunny yang baru saja datang diantar Mbak Mia pun pamit.


Ghavi yang tahu itu suara Sunny, lantas bangun dan hendak menemui gadis kecil tetangganya tersebut.


"Lho, kenapa pulang?! Kan, sunny baru datang," tegur Ghavi yang baru muncul dari arah ruang makan.


"Nggak apa-apa, Tante! Sunny pulang saja!"


"Eh, jangan!" tahan Ghavi cepat.


"Ada Bintang didalam. Kebetulan mau makan siang bareng. Yuk, ikut makan sekalian!" ajaknya sambil menggandeng tangan mungil Sunny.


"Tapi ...,"


"Sudah, ayo!"


Ghavi memaksa Sunny untuk bergabung.


"Mbak Nia sekalian, ayo!"


"Biar Mbak Nia nanti saja bareng Ibu, Vi!" pinta Bu Yoyon.


"Sekalian menunggu Pak Agung bangun tidur. Kasihan dia baru pulang dari bandara dan baru istirahat setengah jam yang lalu. Bapak juga katanya sedang dalam perjalanan pulang dari restaurant," lanjutnya.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Ayo, Sayang!"


Ghavi pun mengajak Sunny untuk ikut bergabung dengan yang lain yang sudah mulai makan siang.


Acara makan siang bersama itu makin seru dan ramai setelah kemunculan Sunny.


Bagaimana tidak, Bintang dan Sunny saling berebut perhatian dari Ghavi.


Kedua bocah itu saling berebut perhatian dari Ghavi yang tengah men-suwir-suwir daging bebek agar terpisah dari tulang, supaya kedua bocah itu makan dengan mudah tanpa takut tersedak tulang saat memakannya.


"Aku dulu!" teriak Bintang.


"Aku dulu!" pekik Sunny tidak mau kalah.


Kedua anak yang selalu ribut setiap kali bertemu itu pun saling merengek minta diperhatikan lebih dulu.


"Seperti anak yang berrebut perhatian ibunya saja," celetuk Risa menggelengkan kepalanya heran.


"Itu baru mereka berdua ramainya sudah seperti itu. Apalagi nanti, jika baby twin sudah besar. Nanti anak-anak kita yang bakal mencuri perhatian Tantenya," komentar Aksan.


"Tidak boleh!" teriak kedua bocah itu serentak.


"Ini Tante Obat Gosoknya aku!" seru Bintang.


"Ini Tante Cantik aku, tahu!"


Sunny tidakmau kalah.


Ghavi yang lama-lama kesal karena kedua tangannya ditarik-tarik oleh kedua anak itu dari sisi kanan dan kirinya itu pun berteriak.


"Diam! Lama-lama Tante nikahkan kalian berdua nanti kalau sudah besar," sungutnya emosi.


"Sekarang, makan!"


Ghavi membagi dua daging bebek yang sudah disuwirnya ke piring Bintang dan Sunny.


Semua yang hadir dimeja makan pun terdiam mendengar nada suara Ghavi.


Mereka tidak menyangka, Ghavi yang terkenal lemah lembut kini bisa juga bersikap keras.


"Ya, Tante!" jawab kedua bocah itu kompak meski saling melirik tajam.

__ADS_1


Mereka tidak tahu saja jika ternyata kedepannya mungkin mereka berjodoh. Siapa tahu, kan?!


***


__ADS_2