Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Kalian orang yang berbeda


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga puluh malam.


Ghavi tengah membaringkan tubuhnya yang terasa lemah dikursi sofa ruang tengah. Sesekali terdengar suara mengaduh atau meringis.


" Sssh ..., aoww! Pelan-pelan, Bu, sakit!" rintihnya pada Bu Yoyon yang sedang memijit kakinya yang terasa kram karena terlalu lama berdiri saat dipemakaman sore tadi.


" Iya! Inu juga sudah dibuat bsepelan mungkin," jawab Bu Yoyon tersenyum.


"Seharusnya tadi Non Ghavi jangan langsung berendam, jadi tidak sampai begini."


" Adududuhhh ...!" ringis Ghavi lagi.


" Kakimu kenapa, Vi?!"


Suara Handy mengagetkan pembantu dan cucu majikan yang sedang pijatan itu.


" Kau, kenapa bisa masuk? Sedang apa kau ada disini?!" pekik Ghavi kaget.


Dia langsung bangkit dari rebahannya dan duduk disamping Bu Yoyon.


" Tadi Pak Yoyon yang membukakan pintu," jawab Handy santai.


" Silakan duduk, Den!"


Bu Yoyon menyuruhnya masuk dan duduk.


Tanpa diperintah dua kali , orang itu langsung menjatuhkan tubuhnya disofa seberang gadis itu berada.


" Aku hanya ingin melihat kondisimu setelah kejadian tadi sore," ujarnya.


" Aku juga ingin meluruskan hal yang belum selesai tadi."


" Tidak ada yang perlu dibahas dan diluruskan, jadi Bapak boleh pulang sekarang," sahut Ghavi ketus.


Dibiarkannya Bu Yoyon pergi kebelakang, meski acara memijitnya belum selesai.


Dia sendiri pun ikut bangkit hendak menuju kamarnya dilantai atas. Namun, sebelum hal itu terjadi, Handy sudah berjalan mendekatinya dan menghentakkan tubuh Ghavi agar kembali duduk.


" Duduklah!" perintahnya sedikit kasar.


" Aku harus tetap menjelaskannya padamu dengan atau tanpa persetujuan darimu. Aku tidak ingin kesalah pahaman terus terjadi diantara kita berdua, Vi," ujarnya melembut.


Digenggamnya tangan Ghavi untuk meyakinkan gadis itu.


" Aku sungguh-sungguh tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu. Bahkan kami baru bertemu sekali itu kemarin saat kau melihatnya."


Handy mencoba memberikan alibinya.


" Aku juga tidak tahu jika akan ada wanita itu dipertemuan kemarin. Sungguh! Jika kau tidak ingin aku berdekatan lagi dengannya, besok aku bisa membataljan kontrak kerja sama kami," imbuhnya.


" Tidak, jangan!" sergah Ghavi cepat.


" Kenapa? Kau tidak ingin aku berdekatan dengannya lagi, bukan?!"


" Tidak, bukan seperti itu! Aku, aku hanya sedikit kecewa padamu itu saja. Kupikir kau tidak bisa menemaniku berbelanja karena kau sibuk. Tapi, jujur, kejadian kemarin membuatku salah paham," ujar Ghavi lirih.


" Tidak seharusnya aku menuduhmu seperti itu. Bahkan, jika kenyataannya memang demikian pun, aku tidak berhak, bukan?!"


Ditatapnya mata Handy dengan perasaan sendu. Entah kenapa gadis itu merasa sedih. Mungkinkah dia sudah mulai nyaman berada disamping Handy?!


Apalagi, sejak kepergian mereka bersama Rindu tiga hari yang lalu Handy memperlakukannya dengan sangat baik dan lembut.


Padahal, selama ini laki-laki itu terlihat sedikit kaku, bahkan cenderung dingin padanya, meskipun dia masih mau menerima perjodohan itu.


" Vi, percayalah, aku tidak mungkin melakukan semua itu padamu. Sebab, "


Handy tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebagai gantinya, diremasnya jari-jari Ghavi dalam genggamannya.


" Aku menyukaimu. Aku ingin menikah denganmu sesuai permintaan almarhum Kakek Herman," ungkapnya jujur.


Ghavi melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dipandangnya Handy dengan tatapan menelisik.


Handy mengangguk dua kali ingin meyakinkan perasaannya pada gadis muda didepannya itu.

__ADS_1


" Ya! Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu dipanti dulu. Waktu itu aku baru pertama kali menjadi donatur disana," terangnya.


" Aku tidak yakin dengan perasaanku. Karena tidak mungkin aku suka dengan ABG yang baru duduk dikelas sembilan, bukan?! Tapi perasaan itu terus muncul setiap kali aku melihatmu."


" Tapi aku tidak pernah merasa melihat Bapak sebelumnya. Aku justru merasa baru pertama kali melihat saat pembacaan surat wasiat kakek waktu itu," sahut Ghavi bingung.


" Itu karena tiga tahun lalu aku belum seperti sekarang," jawab Handy cepat.


"Kau ingat pada laki-laki gondrong yang memakai jaket kulit yang pernah menolongmu saat kau hampir jatuh karena didorong oleh anak-anak panti?!" tanya Handy mengingatkan.


" Aku ingat! Waktu itu aku hampir terjerembab karena banyaknya anak-anak yang berebut memelukku. Untungnya ada laki-laki gondrong berjaket kulit yang menolongku. Jadi aku tidak sampai terjatuh," terang Ghavi sambil mengingat kejadian kurang lebih tiga tahun lalu.


" Tapi aku belum sempat berterima kasih padanya, dia sudah pergi duluan," cicitnya.


Tiba-tiba gadis itu tersadar sesuatu dan ...


" Tapi darimana Bapak mengetahui itu semua? Apa Bapak mengenalnya? Terus, apa hubungannya orang itu dengan Bapak?" cecar Ghavi penasaran.


Bagaimana Handy mengetahui hal itu?


" Karena orang itu adalah aku," aku Handy tersenyum.


" Ooohh!" Ghavi ber 'oh' panjang.


" Tunggu! Whatt?!!"


Ghavi terbelalak mendengar pengakuan laki-laki yang sejak tadi masih betah menggenggam tangannya.


" Bapak?!" disentaknya genggaman tangan Handy hingga terlepas.


Ditunjuknya Handy dengan tangan sedikit gemetar entah kenapa.


" Bapak orang aneh itu?!" tunjuknya.


Digelengkan kepalanya tanda tak percaya.


" Heh, orang aneh?!"


Handy mengernyitkan kening.


" Tapi aku tidak yakin itu adalah Bapak. Tidak! Kalian orang yang berbeda," tampiknya tidak percaya.


" Si Gondrong dulu meski tampilannya urakan, tapi dia ramah dan manis. Murah senyum pula. Tidak seperti Bapak."


Ghavi memperhatikan penampilan Handy dari rambut hingga sepatu.


" Tampilan rambut Bapak ok, berjas rapi, sepatu juga mengkilap. Tapi ...,"


Ghavi ragu melanjutkan kalimatnya.


" Tapi apa?!" tanya Handy penasaran.


" Bapak lebih sering terlihat judes daripada ramahnya. Senyumnya pun pelit," lanjutnya menahan napas melihat reaksi Handy yang tak terbaca.


" Kau bilang aku apa?!!" geramnya tertahan.


" Judes dan pelit senyum," ulang Ghavi dan bersiap lari menghindar dari tatapan tajam Handy.


Tapi, belum sempat gadis itu beringsut, lengannya kembali dicekal dan ditariknya dengan keras hingga Ghavi jatuh terduduk dipangkuan Handy.


" Coba kau ulangi lagi yang tadi," perintah Handy ditelinga Ghavi.


" Tidak!"


Ghavi menggeleng. Ada rasa tidak nyaman berada dipangkuan laki-laki dewasa itu. Juga ada sedikit rasa takut melihat ekspresi wajah Handy yang seperti kucing besar yang sedang mengawasi mangsa dan siap menerkam itu.


" Dasar bocil!" gerutunya beberapa detik kemudian.


Ekspresi wajah garangnya melembut seketika.


" Turun! Seenaknya saja duduk dipangkuanku."


Diangkatnya Ghavi dan didudukkannya disebelahnya. Diacak-acaknya rambut sebahu gadis itu gemas.

__ADS_1


" Eh!"


Ghavi terpaku menerima perlakuan Handy yang benar-benar diluar dugaan dan tak disangkanya itu.


Gadis itu tidak habis pikir dengan kelakuan Handy yang kadang cuek, kadang ramah, kadang juga terlihat hangat dan mudah bercanda. Tapi tak jarang pula bersikap angkuh dan dingin. Sikapnya berubah-ubah seolah dia mempunyai kepribadian ganda.


" Bapak yang main tarik, Bapak juga yang menggerutu," gumamnya lirih.


" Aku mendengarnya, Sayang," celetuk Handy tanpa melihat wajah Ghavi yang sedang merah padam menahan malu.


Tangannya sibuk mengetikkan sesuatu pada benda pipih yang baru saja diambilnya dari saku celana semi bahannya yang berbunyi tanda notifikasi pesan masuk.


" Hm!"


Handy menghela napas panjang. Pandangannya beralih dari ponsel kearah gadis kecilnya yang sedang menunduk.


" Vi, kita harus pulang besok pagi-pagi sekali," ujarnya berusaha tenang.


" Silakan Bapak pulang duluan! Aku masih mau sehari lagi disini," sahut Ghavi.


" Tapi kau juga harus pulang bersamaku," jawabnya tegas.


Sikapnya kembali berubah datar.


" Eh, kenapa?!" tanya Ghavi heran.


Sebenarnya gadis itu ingin sehari lagi di Jakarta. Dia belum puas bertemu dengan Liana untuk curhat.


" Barusan Harry mengabariku, Bapak terjatuh dikamar mandi dan masuk rumah sakit."


Ada rasa sendu dalam kalimatnya.


" Oh!" pekik Ghavi terkejut.


" Tapi Om Rudi tidak apa-apa, kan?"


" Pembuluh darah otaknya pecah. Bapak langsung terkena stroke. Harry bilang bapak ingin bertemu dengan kita. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, katanya."


" Oh!"


Ghavi membekap mulutnya yang lagi-lagi terpekik.


Firasat buruk Ghavi langsung muncul seketika begitu mendengar Om Rudi ingin berbicara sesuatu padanya dan Handy.


Gadis itu jadi teringat almarhum kakeknya yang memintanya menemuinya untuk membicarakan sesuatu sesaat setelah mengalami sesak napas hebat sebelum meninggal.


" Baiklah! Besok pagi aku ikut pulang," tukas Ghavi akhirnya.


" Ok! Minta Pak Yoyon mengantarmu ketempatku dulu besok pagi. Sekarang aku harus pulang dan segera menyelesaikan urusanku disini secepatnya," putus Handy sembari beranjak pergi dari rumah Ghavi.


" Hati-hati! Jangan ngebut!"


Ghavi yang mengikutinya sampai ke teras mengingatkan.


" Hm!" gumam Handy memasuki mobil dan segera melesat pergi setelah menghidupkan mesin mobil.


" Semoga firasat burukku tidak menjadi kenyataan," gumam Ghavi lirih.


Ghavi perlahan masuk rumah dan mengunci pintu.


" Lho, Den Handy mana, Non?!" tanya Bu Yoyon bingung.


Ditangannya berisi nampan minuman dan cemilan. Wanita itu tengak-tengok mencari keberadaan Handy tapi tetap tidak ditemukan.


" Sudah pulang, Bu!" jawab Ghavi lemas.


" Maaf! Ibu sedikit lama karena harus menggoreng pisang dan ubi ini dulu. Ibu kira dia akan lama disini," jelasnya.


" Tidak apa-apa, Bu! Pak Handy sedang buru-buru. Dia baru dapat kabar bapaknya masuk rumah sakit," jawab Ghavi.


Dia pun menceritakan keadaan Om Rudi pada Bu Yoyon. Gadis itu juga menceritakan tentang firasatnya dan memberitahu tentang kepulangannya besok pagi.


" Oh, begitu! Baiklah, Non Ghavi hati-hati, ya! Semoga saja firasat Non tidak benar," hibur Bu Yoyon menepuk pelan pundak majikan kecilnya penuh kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2