Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Menjenguk ( 1 )


__ADS_3

Sesuai perkataannya kemarin, pagi ini Handy datang lagi menjenguk Ghavi. Rupanya kedatangannya bersamaan dengan Liana yang juga sudah janji akan datang pagi ini.


"Mas Handy, mau menjenguk Ghavi lagi?!" tanya Liana saat mereka bertemu diparkiran.


Liana datang bersama Lian dan Ane, sementara Handy selain datang dengan Aslan, dia juga datang bersama Harry.


"Ya!" jawab Handy singkat.


"Selamat pagi, Han!" sapa Lian.


"Pagi! Kalian mau menjenguk juga?" balas Handy memandang Lian dan istrinya.


"Iya, kami baru punya waktu untuk menjenguk Ghavi."


"Ayo!"


Lian pun berjalan beriringan bersama istrinya serta Handy yang berada dikursi roda didorong oleh asistennya.


Liana sengaja berjalan belakangan bersama Harry.


"Maaf, ya, semuanya! Aku sama Liana mau ke kantin dulu sebentar!" pamit Harry seraya menarik tangan Liana menuju kantin.


"Kalau begitu kami duluan, ya," ujar Ane.


Rombongan pun berpisah diujung koridor.


Lian dan Ane serta Handy dan Aslan menuju lift yang mengarah ke lantai dimana Ghavi dirawat, sementara Liana dan Harry berbelok kearah kantin.


Setelah mereka duduk di kantin, Harry langsung memberondong Liana dengan berbagai pertanyaan.


"Li, bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu sama kakak?"


"Sabar, dong, Mas! Pesan sarapan dulu kenapa, sih?!" protes Liana yang langsung memanggil waiter untuk memesan bubur.


"Tadi aku belum sempat sarapan, tahu, gara-gara si Bintang merengek mau ikut kemari. Aku tadi ngumpet-ngumpet waktu mau kesini sampai-sampai harus melewatkan sarapan takut Bintang tahu aku pergi. Bocah itu, kan sangat dekat sama Ghavi. Padahal mereka juga belum lama bertemu. Apa karena kedekatan mereka sudah terjalin lama meski hanya lewat VC, kali, ya," lanjutnya.


"Mungkin!"


Harry pun akhirnya ikut memesan teh hangat sebab tadi dirumah kakaknya sudah minum kopi.


"Terus, bagaimana kalian bisa ketemu kakakku? Ayo, ceritakan padaku!"


Akhirnya Liana pun mulai menceritakan awal mula perjumpaan antara dirinya dan Ghavi bisa bertemu dengan Handy.


Bermula dari pertemuan mereka dengan Sunny di sekolah. Bintang yang tidak sengaja menabrak Sunny, yang ternyata hari itu baru pindah ke sekolah tempat Bintang belajar.


Pertemuan kedua mereka terjadi kemarin di parkiran mall yang Liana datangi bersama Ghavi dan Bintang, hingga siangnya ternyata mereka bertiga dipertemukan kembali dengan Sunny saat ketiganya melakukan kunjungan ke Panti Asuhan Cahaya.


Disitulah awal mula pertemuan Ghavi dan Handy untuk pertama kali setelah sekian tahun berpisah dan tanpa kabar.


Dan di Panti Asuhan Cahaya itulah Liana dan Ghavi sama-sama terkejut saat mengetahui bahwa Sunny adalah putri dari Handy. Sebab, Liana sendiri juga baru pertama kali itu mengetahui jika Sunny adalah anak Handy dan Vika.


Dulu, Liana hanya mendengar kabar dari Harry tentang kecelakaan yang dialami Handy serta bayi perempuan yang diasuh oleh Harry dan orangtuanya selama Handy sakit dan menjalani pengobatan sebelum akhirnya dibawa hijrah ke Jakarta oleh Handy, tanpa Liana menjenguk Handy dan putrinya yang waktu itu menetap di Jogja.


Bahkan Ghavi sendiri sampai pingsan karena shock mendengar kenyataan itu hingga berujung masuk rumah sakit hingga sekarang.

__ADS_1


Semuanya Liana ceritakan sampai terakhir kemarin dia berpapasan dengan Handy yang ingin menjenguk Ghavi dirumah sakit saat dirinya hendak pulang.


"Pantas saja aku dan Ghavi merasa sangat familiar dengan Sunny. Ternyata bocah itu putri dari kakakmu."


Liana mengakhiri ceritanya.


"Hmm!!"


Harry menghela napas dalam.


"Kamu tahu, sejak keduanya dipertemukan kemarin seperti yang kau ceritakan barusan, semalam Mas Handy sampai mengurung diri dikamarnya. Bahkan dia melewatkan makan malam. Dia terus berada diruang kerjanya sampai pagi tadi keluar dengan raut wajah yang mengenaskan. Wajah pucat dan mata sembab serta rambut gondrongnya yang acak-acakan. Kupikir dia menangis semalaman menyesali kesalahannya dulu," terang Harry menyeruput habis tehnya.


"Kupikir dia sedang ada masalah dikantornya, sampai saat Sunny merengek ingin menemui Tante Cantik penolongnya yang masuk rumah sakit kemarin, baru aku tahu ternyata Tante Cantik adalah Ghavi. Jadi aku langsung tahu kenapa Handy mengurung diri dikamar semalaman.


#Flashback on


"Pa, mau tengok Tante Cantik," rengek Sunny disela sarapannya.


"Tidak!" jawab Handy tegas.


"Tapi, Pa,"


" Tidak, Sunny! Ayo habiskan segera sarapanmu! Biar hari ini Mbak Nia yang mengantarmu ke sekolah baru," perintah Handy tidak ada tawaran.


"Tapi ...!"


"Sunny!!"


Handy menatap tajam pada putrinya dengan sedikit membentak.


"Baik, Pa!" ucap Sunny lirih dengan wajah langsung menunduk.


"Memangnya Tante Cantik itu siapa? Kok, Om baru dengar kamu punya teman namanya Tante Cantik?"


"Tante Cantik itu, tantenya teman aku, Om, bukannya teman aku," ujar Sunny dengan pelan.


Bocah perempuan itu meski masih berumur tiga setengah tahun, tapi gaya bicaranya seperti anak lima tahun. Bicaranya pun jelas, tidak lagi cadel seperti anak-anak lain yang seusianya.


"Oh, Om kira itu teman kamu. Memang nama Tante Cantik itu siapa? Kenapa Sunny manggilnya Tante Cantik??"


"Karena dia cantik. Teman Sunny panggilnya Tante Obat Gosok, tapi Sunny suka panggil Tante Cantik."


"Tante Onmbat Gosok?!"


Harry terkejut mendengar penuturan keponakannya itu.


"Memangnya, teman kamu namanya siapa, Sayang?"


Harry merasa curiga. Jangan-jangan ...


"Bintang. Dia juga punya tante satu lagi, tapi Sunny lupa namanya."


"Oh! Ya, Robb! Kamu sama papa ketemu dimana sama Tante Cantik?"


"Kalau aku ketemu pertama kali di sekolah. Tapi Papa kemarin waktu di panti."

__ADS_1


"Oh, pantas Mas Handy terlihat kacau semalam. Rupanya itu masalahnya. Jadi, mereka benar-benar sudah bertemu?!" batin Harry.


"Om, Om mau kan antar Sunny tengok Tante Can ..."


"Sunny! Berangkat sekarang!!" perintah Handy dengan keras.


"Mbak Nia, antar Sunny ke sekolah! Tunggui saja sampai dia pulang. Jangan tinggalkan dia sendiri lagi! Aku tidak mau hal-hal buruk terjadi lagi padanya seperti kemarin."


"Baik, Pak!" ujar Mbak Nia yang baru datang dari dapur menyiapkan bekal untuk putri majikannya.


"Ayo, Sunny, berangkaaatt!!" ajaknya menirukan gaya seorang ojek disinetron disalah satu stasiun televisi.


Sunny sontak berdiri dari duduknya. Diambilnya tas Frozen kesukaannya. Gadis kecil itu buru-buru menyalami ayah dan Omnya lalu berjalan mengikuti Mbak Nia menuju ojeg online langganan Mbak Nia setiap mengantar sekolah.


"Mas, jangan terlalu keras pada Sunny, kasihan! Dia, kan cuma mau jenguk Tante Cantiknya," ujar Harry begitu Sunny dan Mbak Nia menghilang dari ruang makan.


"Emm, Mas, sebenarnya Tante Cantik yang Sunny maksud itu DIA, kan?!" tanya Harry pelan.


"Aku sudah selesai. Kalau jadi ikut ke kantorku, bergegaslah!"


Handy mengelap mulutnya dengan serbet tanda waktu makannya habis.


Didorongnya kursi roda yang didudukinya menggunakan kedua tangannya menuju teras depan tanpa menghiraukan pertanyaan sang adik.


"Cepat kalau jadi ikut!" ujar Handy karena melihat Harry masih duduk saja.


"Iya!"


# Flashback of


Akhirnya Liana menyelesaikan sarapannya dikantin rumah sakit ditemani Harry.


"Ah, kenyangnya!"


Liana mengelus perutnya yang sedikit membusung karena kenyang.


"Gimana tidak kenyang, orang sarapannya dobel begitu," ledek Harry.


Laki-laki itu sempat terheran-heran melihat cara makan Liana yang banyak itu. Masa sarapan saja bisa menghabiskan semangkuk bubur ayam sama lima tusuk sate telur puyuh yang masing-masing tusuknya berisi empat telur?!


"Ambil kerikil tanpa diayak. Kecil-kecil makannya banyak. Haha ...!"


Harry pun tertawa sendiri mendengar pantunnya yang terdengar maksa.


"Biari, wleee yang penting kenyang."


Liana menjulurkan lidahnya tidak peduli. Benar-benar tidak ada jaim-jaimnya itu cewek.


"Gratis lagi!" Harry menambahi.


"Hahaha ...!"


Keduanya pun tertawa bersama dengan gurauan pagi mereka.


"Sudah, yuk! Aku tidak sabar ingin menjenguk Ghavi juga."

__ADS_1


Harry pun beranjak meninggalkan kantin setelah membayar minumannya dan sarapan Liana.


Gadis itu pun mengikutinya dari belakang.


__ADS_2