
Hari ini Ghavi datang ke restaurant untuk meninjau keadaan disana secara langsung.
Berhubung Pak Rama sedang sakit, maka rapat terpaksa ditunda hingga Pak Rama sembuh dan kembali bekerja.
Untuk sementara Ghavi sendiri yang akan turun tangan menghandle semua urusan restaurant.
"Selamat siang, Nona!" sapa salah satu karyawan yang berpapasan dengannya didekat pintu khusus keluar masuk untuk karyawan.
"Siang, Mbak Sari!"
Ghavi tersenyum dan membalas salam dari karyawan senior direstaurantnya. Dia pun berhenti sebentar sekedar bertegur sapa.
"Mbak Sari gimana kabar keluarga, sehat?!" tanyanya ramah.
"Alhamdulillah, sehat, Non!" jawab si Mbak menyambut uluran tangan Ghavi.
"Syukurlah!"
"Lama sekali baru berkunjung, ya, Non!"
"Iya! Saya, kan cukup lama tinggal di Jogja untuk menemani Eyang, Mbak."
"Oh, ya, saya dengar juga katanya Nona Ghavi baru pulang menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ya," ujar Mbak Sari.
"Iya, betul! Tidak lama setelah meninggalnya Eyang Sosro, aku dapat undangan pertukaran pelajar di Perth, Australia. Akhirnya kuputuskan untuk menyelesaikan kuliahku disana dan baru satu bulan kembali ke Jakarta," terang Ghavi.
"Oh, begitu. Nona hebat, ya!" puji Mbak Sari.
"Ah, Mbak bisa saja."
Ghavi tersenyum simpul.
" Ya, sudah, Mbak! Aku mau keruangan Pak Rama dulu untuk menggantikannya sementara sampai dia sembuh," pamit Ghavi kemudian berlalu kearah yang berlawanan dengan Mbak Sari.
"Oh, iya, Non! Silahkan!"
Begitu sampai diruangan Pak Rama yang seharusnya menjadi ruangannya, Ghavi langsung menelpon seseorang.
Tidak berselang lama, suara pintu terketuk dari luar.
"Silahkan masuk!" perintahnya.
"Apa Nona memanggil saya?"
"Iya!"
Ghavi segera duduk kekursi kebesaran yang biasa diduduki Pak Rama.
"Hari ini sampai beberapa hari kedepan, aku yang akan menggantikan Pak Rama sementara. Jadi, pekerjaan apa yang harus aku selesaikan?!"
Ghavi menatap wanita awal empat puluhan tahun yang berprofesi sebagai sekretaris Pak Rama.
Sekretaris yang sudah dihubungi oleh Pak Rama sebelumnya pun segera keluar mengambil berkas.
"Ini, Nona! Ada dua berkas yang harus dipelajari dan ditanda tangani hari ini juga. Besok pagi kita meeting dengan suplier sayuran."
Diserahkannya berkas-berkas pada Ghavi yang langsung menerimanya.
"Ok! Terima kasih, Bu Dian! Ibu bisa kembali kemeja lagi," ujar Ghavi tersenyum.
"Baik, Nona! Permisi!"
__ADS_1
Sekretaris Dian pun keluar ruangan.
Namun, belum sempat menutup pintu, Ghavi membanggilnya.
"Bu Dian!"
"Iya, Nona, apa masih ada yang diperlukan?" tanyanya sopan, meski usianya lebih dewasa dari Ghavi.
"Tolong panggilkan koki yang bernama Zulfikar. Suruh menemuiku sekarang!"
" Baik!"
Lima menit kemudian, kembali pintu terdengar diketuk dari luar.
"Masuk!" perintah Ghavi dari dalam.
"Nona panggil saya?!"
"Iya! Silahkan duduk!
"Ada perlu apa Nona panggil saya?"
"Tidak ada! Aku hanya ingi bertemu denganmu saja."
Ghavi menyunggingkan senyum.
"Eh!"
Orang itu tertegun. Kalau tidak perlu sesuatu, kenapa dia dipanggil? Mengganggu pekerjaan saja.
"Kalau boleh saya tahu, Anda siapanya Pak Rama? Kenapa bukan Pak Rama yang memanggil saya?!"
Ghavi tertawa mendengar pertanyaan dari lawan bicaranya.
"Apa Mas Fikar tidak mengenalku?!"
"Eh! Ke-kenapa Nona bisa tahu namaku?! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?!"
Orang yang Ghavi panggil Fikar tampak kebingungan dan berpikir.
"Kau lupa dengan teman masa kecilmu dulu yang suka manjat pohon jambu milik Om Abas?!" pancing Ghavi.
Lama Fikar berpikir. Kemudian ekspresi wajahnya berubah. Matanya melotot kaget.
"Ghaviii ...!" pekiknya gembira begitu mengingat siapa gadis didepannya kini.
"Eh, oh, ma-maaf! Saya sudah bersikap lancang," ucapnya salah tingkah.
"Hahaha ...!"
Ghavi justru tertawa melihat orang itu yang terlihat gugup.
"Mas Fikar kenapa jadi gugup begitu?! Biasa saja, kali seperti sama siapa saja."
"Tapi, ...!"
"Tidak usah formal begitu, ah! Malah jadi kaku ngobrolnya," potong Ghavi.
"Mas Fikar tidak rindu, gitu sama teman kecilnya?!" goda Ghavi.
"Tentu saja aku rindu sekali! Ghaviii ...!!"
__ADS_1
Zulfikar menghambur memeluk tubuh mungil Ghavi, teman bermain waktu mereka kecil dulu. Hilang sudah rasa canggung yang sempat menderanya tadi.
Zulfikar merupakan putra tunggal dari Om Abas dan Tante Nilam. Mereka merupakan tetangga sebelah rumah almarhum Kakek Herman yang sekarang menjadi rumah Ghavi sebelum pindah ke Surabaya, kota asal Tante Nilam.
"Lama sekali kita tidak bertemu, ya," ujar Fikar begitu melepas pelukannya.
"Iya! Ada, kali tujuh tahun."
Ghavi mengingat-ingat.
"Lebih, malah! Sepuluh tahun, Vi. Waktu kami pindah, kamu, kan baru dua belas tahunan,"ralat Fikar.
"Mas Fikar sudah banyak berubah, ya. Tambah tinggi dan makin ganteng."
"Terima kasih pujiannya!"
Fikar membungkuk ala Korea memberi hormat.
"Kamu saja yang tetap mungil, Vi. Hanya saja kamu tambah cantik dan manis sekarang."
"Haha ...! Gula, kali manis."
Ghavi terbahak.
"Seriusan!"
Fikar mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Sudah dari sananya mungkin. Hihi ...!"
Ghavi terkikik.
"Kok, Mas Fikar bisa jadi koki disini, sih?! Aku kaget banget, tahu waktu tiga bulan lalu Pak Rama nyerahin CV kamu lewat email untuk di acc. Waktu itu, kan aku masih belum pulang makanya dikirim lewat email. Tadinya aku pangling lihat profil kamu. Tapi kayak yang kenal, tapi dimana?! Eh, pas aku lihat ke fotokopy KK, ternyata kamu Zulfikar yang aku kenal dulu."
"Makanya kamu langsung terima aku, kan?!" tebak Fikar.
"Tentu! Itu, kan kesempatan bagus biar kita bisa saling bertemu lagi. Haha ...!"
Ghavi terbahak. Begitupun Fikar.
Ghavi memang mendapat kiriman CV milik Zulfikar by email yang dikirimkan Pak Rama tiga bulan lalu.
Begitu melihat secara keseluruhan CV dan mengenali siapa orang yang melamar kerja direstaurantnya itu, Ghavi langsung menghubungi Pak Rama dan menyuruhnya untuk menerima Zulfikar sebagai koki baru pengganti koki lama yang pensiun karena faktor usia.
"By the way, thanks, ya, Vi! Berkat kamu aku bisa masuk kerja disini. Dan aku nggak nyangka banget, lho, ternyata bisa ketemu kamu lagi. Kupikir tadinya restaurant ini bukan punya kamu."
"Iya, sama-sama! Tadinya milik almarhum Kakek Herman. Kakek membangunnya tidak lama setelah kepindahan kalian ke Surabaya. Sejak kakek dan orangtuaku meninggal, sekarang tempat ini aku percayakan ke Pak Rama untuk mengelolanya. Sementara aku sendiri pindah ke Jogja menemani Eyang Sosro, orangtua angkat ibuku," terang Ghavi.
" Emmm, kayaknya aku harus balik ke dapur, deh! Kasihan yang lain nanti keteteran. Soalnya ini sudah masuk waktu makan siang," pamit Fikar.
"Ok! Lain kali kita sambung lagi ngobrolnya, ya."
Ghavi mengangguk mengijinkan.
Fikar pun kembali kedapur restaurant untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda akibat panggilan teman kecilnya dan keasyikan ngobrol.
Sekeluarnya Zulfikar dari ruangannya, Ghavi pun membaca berkas-berkas yang sudah diantar Sekretaris Dian tadi. Setelah itu dia membubuhi tanda tangan di bawah nama Pak Rama dengan memberi catatan kecil, "dikuasakan kepada : Ghavi Putri Umar".
Tidak terasa waktu makan siang pun tiba. Ghavi bangkit dari duduknya dan segera beranjak keluar menuju parkiran.
Rencananya gadis itu akan kembali menjenguk Pak Rama yang hari ini diijinkan pulang ke rumah.
__ADS_1