Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Kabar Buruk


__ADS_3

"Kok, lama sekali, Vi? Terus, itu kenapa baju kamu basah?!"


Risa yang sedang menunggui baby Aris dan Risan di ruang keluarga melihat Ghavi masuk dengan pakaian sedikit basah.


"Iya, Sa! Tadi aku sudah mau langsung pulang, tapi Sunny minta dimandikan dulu. Aku coba bujuk supaya dia mandi sama pengasuhnya saja, tapi bocah itu malah menangis. Terpaksa, deh aku mandikan dia dulu dan baru pulang sekarang."


Ghavi menjatuhkan tubuhnya di sofa single dekat Risa duduk menunggui bayi kembarnya.


"Mandi, gih! Baju sudah basah gitu, nanti masuk angin, lho!"


Risa menyuruh Ghavi untuk langsung mandi.


"Iya, sebentar! Lima menit lagi!" jawab Ghavi sambil tangannya terus memainkan ponsel.


"Tunggu apalagi?! Sudah sore, juga."


"Iya, iya, bawel banget nih emak-emak!" sungut Ghavi sambil beranjak menuju lantai atas.


"Yee, dibilangin malah sewot. Untungnya disini tidak ada Ibu. Kalau ada, sudah dijewer kamu sama dia."


"Tidak ada Ibu, tapi ada anaknya. Sama saja!"


"Hei, hei!!" tegur Aksan yang baru keluar dari kamar tamu.


Rupanya dia habis mandi.


"Kalian ini kalau dekat selalu ribut dan adu mulut terus. Giliran jauh saja merengek-rengek minta ketemu!"


"Risa, tuh, Mas!" dengus Ghavi.


"Kamu juga, wlee ...!"


Risa tidak mau kalah.


"Sudah, sudah!! Kalian sama saja! Vi, mandi sekarang, sudah sore!"


"Iya, Kakakku yang bawel seperti bininya," jawab Ghavi lantas berlari dianak tangga menuju lantai atas setelah mendapat pelototan dari Aksan.


Sedari kecil dulu, Ghavi memang sudah menganggap Aksan sebagai kakaknya.


Dua puluh menit Ghavi berada di kamar mandi. Gadis itu keluar menggunakan bathrobe dan kepala dililit handuk kecil.


Saat dia akan berganti pakaian, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ghavi pun segera melihat si penelpon.


"Pak Danar?! Ada apa gerangan beliau menelpon sore-sore begini?!" monolognya.

__ADS_1


Ghavi pun segera mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo!"


"Hallo, Non! Ini Pak Danar!" terdengar suara dari seberang.


"Iya, Pak, ada apa? Apa ada hal penting?!"


"Begini, saya mau mengabarkan berita buruk!"


"Berita buruk?! Maksud Bapak apa, yang jelas, dong bicaranya?!"


Ghavi jadi penasaran ada berita buruk apa di Panti.


"Be-begini, Non! Dapur mengalami kebakaran akibat ledakan dari tabung kompor gas. Dan ..."


"Apa??! tabung gas meledak??!! Terus, bagaimana dengan anak-anak, apa ada yang terluka??" tanya Ghavi panik.


"Anak-anak baik-baik saja! Hanya saja tukang masak mengalami luka yang cukup serius. Wajah dan tangannya terbakar. Sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Saya terpaksa tetap tinggal menunggu petugas damkar datang memadamkan api dan menjaga anak-anak!" terang Pak Danar.


" Tadi saya menghubungi Pak Handy, tapi ponselnya tidak aktif. Tolong beritahu hal ini padanya!"


"Baiklah!"


Ghavi pun bergegas memakai baju sekenanya saat panggilan berakhir.


Dia menuruni tangga dengan melompati dua anak tangga sekaligus.


" Mau kemana, Vi? Kenapa buru-buru sekali?!"


Aksan yang melihat Ghavi berlari buru-buru pun menegur.


" Itu, Mas, dapur Panti kebakaran!" jawabnya masih terus berlari keluar rumah.


" Eh, mau kemana?" tanya Aksan setengah berteriak karena Ghavi sudah menghilang dibalik pintu keluar.


" Mas Handy!" jawab Ghavi yang juga ikut berteriak.


Ghavi sampai di depan rumah Handy dengan napas ngos-ngosan.


Gadis itu baru sadar jika ternyata rambutnya masih terbungkus handuk kecil yang menjuntai akibat dibawa berlari.


" Mas Handy!" teriaknya sambil mengetuk pintu dengan tidak sabar.


" Mas Han ..."

__ADS_1


Sebelum menyelesaikan panggilan yang entah sudah keberapa kalinya, pintu terbuka dari dalam.


Ceklek!


Handy terkejut melihat penampilan Ghavi yang semrawut.


Kaos oblong kedodoran dengan celana katun selutut serta handuk kecil tersampir dipundak kirinya. Jangan lupakan rambut basahnya yang sangat awut-awutan bak sarang burung ditinggal penghuninya.


" Ada apa? Kenapa panik begitu? Ada sesuatu yang terjadi?!" tanya Handy berusaha tenang.


Padahal, dia yakin ada sesuatu telah terjadi yang akan disampaikan oleh Ghavi, sampai- sampai gadis itu tidak mengindahkan penampilannya.


"Itu, Mas! Itunya ... kebakaran!" ujar Ghavi panik.


" Apa? Itunya siapa yang kebakaran?!" sahut Handy dengan menahan senyumnya.


" Itu, Mas! Maksudku, Panti. Iya, Pantinya kebakaran!"


Akhirnya Ghavi dapat menyampaikan kabar dengan benar.


" Apa??!"


Kali ini Handy yang terlihat panik.


" Kamu tahu dari siapa?"


" Barusan Pak Danar menelpon, katanya dapur Panti kebakaran akibat letusan tabung dari kompor gas. Anak-anak selamat. Tapi,"


"Tapi apa?"


" Tukang masak terkena ledakan, Mas! Tangan dan wajahnya terbakar! Sekarang sedang dibawa ke rumah sakit."


" Kalau begitu aku akan menelpon Aslan untuk segera mengantarku kesana," putus Handy akhirnya.


" Aku ikut, ya!"


Handy mengernyitkan dahi menatap gadis didepannya.


"Dengan penampilan seperti ini?!" tanyanya ragu.


Diamatinya Ghavi dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Oh, ya ampuun!!" pekik Ghavi terkejut dengan penampilannya sendiri.


Handy hanya tersenyum melihat kelucuan gadis di depannya kini.

__ADS_1


***


__ADS_2