
Semalaman Handy tidak bisa tidur akibat alerginya. Bentol-bentol disekujur tubuhnya semakin parah.
Pagi pun akhirnya datang.
Mbak Nia yang sedang membuat sarapan pagi di dapur dikagetkan dengan suara serak Handy.
"Mbak Nia!"
Mbak Nia terkejut saat melihat tubuh Handy yang semakin parah. Matanya sampai bengkak seperti orang baru kena pukul.
"Bapak tidak apa-apa?"
Pertanyaan bodoh memang. Sudah tahu majikannya tidak baik-baik saja, tapi malah bertanya seperti itu.
"Pergi cari obat alergiku, cepat!" perintah Handy dengan susah payah.
Bahkan bibirnya pun ikut bengkak seperti habis kejedot pintu.
"Tapi, beli dimana subuh-subuh begini?!" gumam Mbak Nia tapi masih didengar Handy.
"Terserah kamu, lah! Ke rumah sakit jika perlu. IGD, kan buka 24 jam. Cepat pergi! Jangan pulang sebelum membawa obat untukku!" ancamnya seraya balik ke kamarnya lagi.
Susah payah Handy menjalankan kursi rodanya saking kakunya tubuhnya. Bahkan, sekedar untuk menekan tombol otomatis pada kursi roda agar jalan sendiri pun susah.
Sementara Mbak Nia tengah dilema, antara pergi membeli obat atau menuju kamar Sunny. Kiranya bocah itu terbangun dari tidurnya. Entah apa yang membuatnya terbangun subuh-subuh begini. Biasanya dia baru akan bangun pukul enam pagi. Itu pun harus dibangunkan dulu.
"Mbak Niaa! Huhu ...!" jeritnya kencang.
"Ya, Non! Ada apa?! Tumben sudah bangun?!"
Mbak Nia pun akhirnya memilih menemui Sunny terlebih dahulu.
"Sunny mimpi buruk, ya?!" tebak Mbak Nia.
"Aku mimpi Mama pergi jauh dan nggak pulang lagi, Mbak!" cerita Sunny.
"Sunny, mimpi itu kembangnya tidur. Jangan menangis, Sayang! Mama Sunny pasti baik-baik saja disana," hibur Mbak Nia.
Di peluk dan dibelainya Sunny hingga tenang.
Ya, Sunny memang sudah tahu siapa mama kandungnya. Dia terpaksa diberitahu karena beberapa waktu lalu Vika memohon pada Handy agar membolehkannya bertemu Sunny.
Meski dengan berat hati, akhirnya Handy mengijinkan mereka saling bertemu. Sebab, walau bagaimana pun, mereka terikat darah, mama dan anak.
"Emm, Sunny, Sayang! Mbak Nia harus pergi beli obat untuk papa Sunny. Alergi papa kamu makin parah. Tapi, Mbak tidak mungkin membawamu pergi pagi-pagi begini. Sunny Mbak titipkan ke Tante Ghavi saja, ya, mau?!"
"Papa sakit lagi? Bukankah kemarin sore sudah minum obat?!" tanya Sunny bingung.
Pasalnya sepulang dari rumah Ghavi, papanya sudah minum obat anti alergi.
"Iya! Mungkin karena semalam udaranya sangat dingin dan juga papa kamu belum sempat istirahat, makanya alerginya kambuh lagi," terang Mbak Nia.
Memang, selepas mandi dan meminum obat, Handy langsung mengurung diri di ruang kerjanya setelah salah satu pegawai kepercayaannya mengantar berkas.
Seharusnya laki-laki itu langsung beristirahat dan menghangatkan diri dibalik selimut untuk mencegah alerginya semakin parah. Namun, Handy mengabaikan hal itu, seolah pekerjaannya jauh lebih penting dari dirinya sendiri.
"Baiklah!" jawab Sunny menurut.
"Tapi, Sunny nggak mau Papa sendirian di rumah. Takut Papa butuh sesuatu. Tante Cantiknya saja yang suruh datang kesini, ya!" pintanya.
"Emm, baiklah! Mbak coba telpon dulu, ya."
Mbak Nia pun bergegas mengambil ponselnya lalu mendial nomor Ghavi.
***
Ghavi yang masih nyenyak dibalik bed covernya terpaksa bangun karena suara ponsel yang mengusiknya.
"Emmgh!!" Ghavi melenguh khas bangun tidur.
"Siapa, sih pagi buta begini telpon, mengganggu saja!" dumalnya sesaat melirik jam dinding dikamarnya.
"Baru juga jam setengah lima pagi," gerutunya lagi.
Diambilnya ponsel untuk melihat siapa yang menelpon.
"Mbak Nia?!" monolognya.
Kening Ghavi berkerut heran. Ada apa wanita itu telpon pagi-pagi?!
"Hallo!" Ghavi mengangkat panggilan.
"Ada apa, Mbak Nia pagi-pagi telpon? Ada hal penting apa?!"
"..."
Terdengar jawaban dari seberang.
"Memangnya Mbak Nia mau kemana pagi-pagi begini?!"
"..."
"Apa?!"
Ghavi langsung terduduk dari tidurannya.
"Mbak Nia serius?!" tanyanya seakan tidak percaya akan kabar yang diterimanya.
"..."
"Ok! Sepuluh menit lagi aku sampai, Mbak!"
Bip!
Ghavi langsung berlari ke kamar mandi setelah memutus sambungan telpon.
Gadis itu dengan cepat menggosok gigi dan mencuci muka. Lima menit kemudian dia keluar kamar mandi sambil menyambar kardigan untuk menutupi setelan baju tidurnya.
Tidak lupa dia mengambil obat anti alergi didalam laci nakas. Kebetulan dia menyimpannya karena kadang-kadang dia juga mengalami alergi seperti Handy.
"Kenapa Mbak Nia tidak menelponku semalam?! Jika Mbak menelponku semalam, semua ini bisa dicegah. Paling tidak, alerginya tidak akan separah ini."
Dilihatnya Handy yang sedang sibuk menggaruk bentol-bentol disekujur tubuhnya yang terasa sangat gatal.
"Eh, jangan digaruk terlalu keras, nanti lecet dan luka!" cegahnya.
"Pelan-pelan saja!"
Saat ini Ghavi sudah berada di rumah Handy, tepatnya berada di dalam kamar laki-laki itu.
Ghavi seakan menyalahkan Mbak Nia yang tidak menelponnya tadi malam.
"Maaf, semalam hujannya begitu deras, aku tidak bisa keluar beli obat. Mbak juga tidak kepikiran sampai kesitu."
__ADS_1
Mbak Nia meminta maaf.
"Ya, sudah! Tolong Mbak Nia ambilkan air putih hangat, ya."
"Baik!"
Lima menit kemudian wanita itu masuk membawa air putih pesanan Ghavi.
"Terima kasih!"
"Sama-sama! Emm, Mbak ke dapur lagi kalau begitu. Mau lanjut bikin sarapan," pamitnya.
"Iya!"
Ghavi mengangguk.
Seperginya Mbak Nia dari kamar itu, Ghavi pun mendekati ranjang dimana Handy duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ini, minum dulu air hangatnya! Biar badan Mas Handy lebih hangat."
Ghavi membantu Handy minum karena seluruh tubuh Handy berasa kaku.
"Ini obatnya!"
Handy menurut seperti anak kecil.
Setelah minum air hangat setengah gelas, dia meminum obat dan menghabiskan sisa air dalam gelas.
Laki-laki itu terus diam mengingat bibirnya bengkak dan kaku sampai-sampai untuk bicara saja terasa sulit.
"Jika dalam satu jam bengkaknya tidak berkurang, kita ke rumah sakit saja, ya!" bujuk Ghavi.
Handy hanya mampu mengangguk patuh.
"Sekarang rebahan lagi! Pakai selimutnya yang benar agar kamu tidak kedinginan! Semoga saja bisa mengurangi bentol-bentolnya."
Dibantunya Handy berbaring lagi disebelah Sunny. Ditariknya selimut sampai leher Handy dan Sunny.
Bocah itu masuk kamar papanya begitu Mbak Nia bilang mau pergi keluar membeli obat. Karena masih mengantuk, anak itu kembali lelap diranjang sang papa.
Sedang Mbak Nia sendiri tidak jadi pergi karena diberitahu jika Ghavi mempunyai stok obat yang sedang Handy butuhkan.
Ghavi duduk disofa yang ada dikamar Handy dengan maksud menungguinya. Dia pun segera mengambil ponsel yang ada disaku baju tidurnya untuk menghubungi rumah, memberitahukan keberadaannya karena tadi saat dia keluar rumah, semua penghuni masih lelap. Mungkin Bu Yoyon sudah bangun, tapi sibuk dibelakang sehingga tidak menyadari kepergiannya.
Setengah jam kemudian, Handy tampak tertidur. Entah karena hangatnya selimut atau mungkin obat yang sedang reaksi. Yang jelas, laki-laki itu sudah tidak menggaruk-garuk tubuhnya lagi seperti tadi.
Karena tidak bisa tidur lagi, akhirnya Ghavi memutuskan keluar dari kamar Handy untuk menemui Mbak Nia di dapur.
"Masak apa, Mbak?"
Suaranya mengagetkan wanita akhir empat puluhan tersebut.
"Eh, Mbak Ghavi! Sampai kaget aku!" ujarnya.
"Ini, lagi bikin nasi goreng seafood permintaan Non Sunny! Mbak Ghavi tidak tidur lagi?!"
"Ah, sudah tidak ngantuk lagi, Mbak!" jawab Ghavi tersenyum.
"Eh, apa tadi, nasi goreng seafood?!" ulangnya.
Mbak Nia pun mengangguk.
"Iya! Ini menu favoritnya Sunny, Mbak!"
"Tapi, nanti Mas Handy jangan dikasih sarapan itu, ya! Soalnya lagi alergi parah begitu, takutnya malah nambah-nambahi bengkak.
"Tapi, biasanya tidak apa-apa, kok ikut makan ini."
Mbak Nia memberitahu.
"Ya, itu biasanya. Untuk saat ini jangan dulu, untuk jaga-jaga saja!"
"Baiklah!"
Mbak Nia menurut.
"Tapi, nanti dibuatkan sarapan apa?" tanyanya bingung.
"Biar aku buatkan bubur lembek saja dikasih toping bawang goreng atau abon kalau ada. Nasinya kasih garam sedikit biar ada sedikit rasa."
"Baik, Mbak!"
Mbak Nia pun mulai menyiapkan segala sesuatu yang diminta Ghavi.
Bukannya dia tidak bisa membuatnya, tapi dia hanya ingin membiarkan Ghavi yang sudah beritikad baik ingin membuatkan sarapan untuk majikannya. Siapa tahu dengan begitu, hubungan kedua orang itu kedepannya menjadi semakin baik.
"Mbak ada stok bumbu rempah, tidak?! Aku butuh kunyit dan jahe," tanya Ghavi yang baru selesai membuat bubur.
"Ada! Memangnya mau bikin apa?!" tanya Mbak Nia heran.
"Aku mau bikin air rebusan kunyit dan jahe, ditambah perasan jeruk lemon sedikit. Gunanya, sebagai anti inflamasi untuk mengurangi gatal karena alergi. Aku sering dibuatkan itu sama Ibu jika kebetulan alergiku kambuh. Dan hasilnya lumayan bagus."
"Ohh!"
Mbak Nia manggut-manggut.
"Lain kali bisa dicoba jika kehabisan stok obat seperti semalam."
"Ya, coba saja!"
Pukul enam tiga puluh semua sarapan sudah siap. Tinggal membangunkan ayah dan anak yang masih tertidur.
"Sunny, ayo bangun, Sayang! Hari ini kamu sekolah, kan?!"
Ghavi membangunkan Sunny, sementara Mbak Nia sedang mandi bersiap mengantar ke sekolah.
"Tante Cantik!" teriaknya kegirangan.
"Tante kapan datang? Semalam, Papa alerginya kambuh. Tadi pagi-pagi sekali aku pindah kesini karena katanya, Mbak Nia mau beli obat. Niatnya mau temanin Papa, tapi malah ketiduran," ujarnya tersipu malu.
Handy yang kebetulan sudah bangun ikut tersenyum mendengar penuturan putrinya.
"Wah, payah! Untungnya Tante datang tepat waktu. Jadi, Papa ada yang jagain," ucapnya.
Kini Handy sudah bisa bicara lagi. Bengkak disekujur tubuhnya sudah banyak berkurang, meskipun belum semuanya menghilang. Paling tidak, setelah minum obat yang Ghavi bawa subuh tadi, rasa gatal ditubuhnya sudah tidak ada lagi. Rasa kakunya pun mulai berangsur lemas seperti sedia kala.
"Maaf, Papa!" ucap Sunny sambil mencium sang papa.
"Berterima kasihlah pada Tante Ghavi!" suruhnya.
"Iya, Pa!"
Sunny mengangguk.
__ADS_1
"Tante Cantik, terima kasih, ya sudah jagain Papanya aku!"
"Sama-sama, Sayang!"
Ghavi mencubit hidung mancung Sunny dengan gemas.
"Sekarang, Sunny pergi mandi sama Mbak Nia, ya! Setelah itu sarapan. Tadi Mbak Nia sudah bikin nasi goreng seafood kesukaan kamu, lho!"
"Oh, ya?! Wah! Aku mau mandi sekarang kalau begitu."
Sunny langsung berlari keluar kamar papanya sambil berteriak memanggil pengasuhnya.
"Mbak Niaaa! Aku mau mandiii!!"
Sekeluarnya Sunny, Ghavi pun ikut keluar untuk pergi ke dapur. Lima menit kemudian dia sudah kembali dengan membawa nampan berisi bubur dan air rebusan kunyit dan jahe, juga segelas air putih hangat.
"Makanlah! Aku sudah buatkan bubur dengan toping bawang goreng dan abon untu Mas Handy sarapan."
"Kok, beda menu sama sarapannya Sunny?!" Handy memprotes.
"Untuk jaga-jaga biar alerginya tidak bertambah, sementara jangan makan seafood dulu."
"Curang!"
"Siapa yang curang?!"
"Kamu! Masa Sunny sarapan nasi goreng seafood, aku cuma dibikinkan bubur saja," protesnya lagi.
Ghavi mendelik.
"Demi kebaikan kamu, juga. Boleh, aku ambilkan! Tapi, kalau alerginya makin parah jangan salahin orang," dumalnya.
"Iya, iya, aku makan bubur saja. Buatan kamu, kan?! Pasti enak!"
Akhirnya Handy menurut.
"Habiskan!" perintah Ghavi.
"Sudah, ah, kenyang!"
"Habiskan! Tanggung amat! Tinggal dua suap ini."
"Baik, Nyonya!"
Handy akhirnya menghabiskan buburnya dibawah pelototan Ghavi karena tadi sudah memanggilnya dengan sebutan nyonya.
"Bagus! Sekarang minum ini!"
Ghavi menyodorkan gelas ramuan.
"Apa lagi ini?! Tidak mau!" tolaknya.
"Harus minum, biar cepat sembuh!"
"Tapi,"
"Minum!"
"Baiklah!"
Handy kembali pasrah.
Sebenarnya dia tidak suka dengan ramuan yang diberikan Ghavi. Tapi, kapan lagi dia dilayani oleh gadis tambatan hatinya?!
" Nah, begitu! Pintar!!" puji Ghavi tanpa bermaksud meledek.
"Berhubung Mas Handy sudah sarapan, aku pamit pulang, ya! Hari ini aku harus ke restaurant, ada suplier yang harus aku temui," pamitnya.
"Hm!" gumam Handy.
Ghavi pun hendak keluar kamar. Tapi, langkahnya terhenti saat sweaternya ditarik oleh laki-laki itu.
"Ada apa?! Masih butuh sesuatu?! Minum obatnya nanti sekitar jam sembilan. Dikasih jeda dulu minimal dua jam antara ramuan dan obat."
"Terima kasih sudah merawatku!"
"Sama-sama! Tapi, sejujurnya aku terpaksa melakukan ini.
"Kamu tidak ikhlas?!"
"Sedikit!"
"Kenapa?"
"Karena kamu, waktu tidurku berkurang tadi pagi."
"Maaf!"
"Dimaafkan!"
"Maaf!"
Sekali lagi Handy meminta maaf.
"Iyaa, aku maafkan! Sudah, dong, lepas sweaterku! Aku harus pulang sekarang!"
"Nanti kesini lagi?!"
"Kenapa memang?!"
"Biar ada yang merawat."
"Kan ada Mbak Nia."
"Aku mau kamu!"
Tatapan keduanya terkunci untuk beberapa detik.
"Emm, aku usahakan!"
Akhirnya Ghavi mengalah demi sewaternya bisa lepas dari cengkraman tangan Handy.
"Aku pulang!"
"Aku tunggu!"
"Hm!"
Handy memandang kepergian Ghavi dari kamarnya.
Ada rasa senang dan nyaman disudut hatinya yang sudah lama hampa.
Seandainya saja ...
__ADS_1
***