Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
hubungan yang rumit


__ADS_3

Ghavi mengekor Handy dengan jarak lumayan cukup jauh. Gadis itu sedikit susah berjalan karena baru saja menghabiskan dua porsi mie ongklok dan beberapa tusuk sate kambing. What?? Dua porsi?! Kok, bisa?!!


#Flashback on


"Kau yakin mampu menghabiskan dua porsi mie itu?!" tanya Handy tak percaya.


Ghavi baru saja menghabiskan satu porsi, sekarang didepannya sudah ada satu porsi lagi pesanan tambahan.


"Hihihi ...! Habisnya aku kelaparan. Tadi pagi aku tidak sarapan banyak. Hanya satu tangkup roti dan segelas susu. Ditambah tadi siang tidak sempat makan karena ketiduran," jawab Ghavi terkikik.


"Aku bukannya melarangmu makan banyak. Tapi mie yang kau pesan sekarang tingkat kepedasannya cukup tinggi. Aku tidak mau kau sakit perut. Itu saja! Kalau kau sanggup memakannya, silakan."


Sebenarnya Handy sedikit khawatir, sebab Ghavi memesan mie dengan tingkat kepedasan level lima. Sedangkan per level itu sendiri cabainya ada lima. jika dikalikan sampai level lima, berarti ada dua puluh lima cabai rawit setan dalam satu porsi mie.


Membayangkannya saja Handy bergidig. Apalagi dia bukan tipe orang yang suka makan makanan pedas.


"Kenapa cuma diaduk-aduk?! Ayo, cepat habiskan!"


Handy melihat Ghavi mulai menyerah dengan cara mengaduk-aduk mie yang tinggal setengah itu tanpa menyuapkannya.


"Hehe ...! I'm give-up! Perutku sudah tidak kuat lagi menampungnya."


Ghavi akhirnya menyerah dan meletakkan sendoknya.


Diusapnya perutnya yang kekenyangan dan mulai tidak nyaman.


Bibirnya merah membara dan sedikit bengkak akibat kepedasan.


"Hemm, bibirmu lucu," ucap Handy menunjuk bibir mungil yang kini bengkak seperti habis disosor bebek.


"Eh, masa?!"


Ghavi lantas mengambil ponselnya dan melihatnya melalui kamera depan.


"Aaaaa ...!" teriaknya.


"Apa betul ini bibirku? Kenapa jadi begini?!" ujarnya pelan karena semua pengunjung menoleh kearahnya, bahkan ada yang terkikik melihatnya.


"Itu akibat dari rasa panas yang ditimbulkan dari cabai. Makanya kalau diingatkan itu jangan ngeyel."


Handy lantas memanggil pramusaji yang kebetulan lewat.


"Maaf, Mas! Bisa minta air hangatnya satu gelas?! Ok!" ujarnya.


"Ini, Pak air hangatnya!"


"Ya, terima kasih!"


Pramusaji itu mengangguk dan berlalu.


"Ini, minumlah! Air hangat bisa mengurangi rasa pedas dimulut. Biar bibir jontormu kempis lagi."


Disodorkannya gelas pada Ghavi yang langsung menyambarnya. Diteguknya air hangat itu hingga tandas.


"Bagaimana bibirmu, apa masih bengkak?!" tanya Handy saat mereka sedang dimobil dan kembali ke rumah sakit setelah mampir membeli martabak dan kopi pesanan Harry.


Ghavi menggeleng, masih menutupi bibirnya dengan tisyu yang diambilnya di warung makan tadi.


"Tidak perlu ditutupi! Bibirmu semakin terlihat seksi," ledek Handy tersenyum.


Ghavi memukul lengan kiri Handy dengan kesal.

__ADS_1


"Hahaha ...!"


Handy tertawa.


"Lagian kamu dibilangin ngeyel. Apa perutmu sakit?!"


Handy bertanya karena beberapa kali Ghavi terlihat meringis dan memegangi perutnya dengan tangan yang tidak menutupi mulutnya.


"Iya!" jawab Ghavi akhirnya.


"Lain kali kalau diingatkan itu jangan membantah. Perut masing-masing orang itu berbeda. Jadi jangan samakan perutmu dengan perut Risa yang sudah kebal pedas," nasehat Handy.


"Maaf!"


Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Ghavi.


#Flashback off


"Apa masih sakit?!"


Handy berhenti di depan kamar rawat inap bapaknya menunggu Ghavi yang jauh tertinggal dibelakangnya.


"Iya! Ssshhh, perih!" jawab Ghavi sambil meringis.


Langkah kakinya begitu pelan.


"Duduklah disini!"


Handy mendudukkan gadis itu di bangku tunggu di lorong rumah sakit. Setelah itu dia pergi ke ruang perawat dan menceritakan kondisi Ghavi. Dan perawat memberinya dua butir obat.


"Ini, minumlah! Semoga bisa meredakan sakit perutmu."


Handy menyodorkan obat dan air mineral yang dibelinya bersama kopi dan martabak.


"Lain kali jangan diulang lagi," ujarnya seraya duduk disamping gadis itu dan membelai rambut sebahunya yang lurus.


Entah kenapa, Handy jadi kembali kesifat aslinya dulu jika menghadapi gadis yang dijodohkan dengannya itu. Penuh perhatian dan kehangatan. Hilang sudah sikap dingin dan arogan yang ditampilkannya selama tiga tahun terakhir.


" Mau masuk sekarang?!"


Handy menatap Ghavi yang terlihat pucat dan mulai berkeringat dingin.


Ghavi hanya mengangguk mengikuti langkah Handy didepannya. Bibirnya sudah tidak bengkak lagi, tapi kini perutnya yang bermasalah.


"Sebaiknya kamu rebahan saja dulu biar lebih enakan," perintahnya menyuruh Ghavi rebahan disofa bed.


"Kau bangunlah! Biarkan Ghavi rebahan," Handy menyuruh Harry yang sedang bermain ponsel sambil rebahan itu bangun.


"Memangnya kau kenapa, Vi?! Wajahmu pucat," tanya Harry sembari bangun dari sofa dan membiarkan Ghavi mengambil tempatnya.


"Tidak apa-apa! Hanya telat makan dan tadi aku memesan makanan yang pedas untuknya. Maagnya jadi kambuh," jelas Handy sebelum Ghavi menjawab.


"Oh! Lain kali hati-hati. Kau, kan tahu sendiri punya maag. Apa sekarang masih sakit?! Dulu dikampus juga kau pernah pingsan. Untung saja kebetulan aku ada disana waktu itu," cecar Harry yang berdiri disamping sofa tempat Ghavi berbaring.


Tangan Handy sedikit mengepal disakunya. Entah mengapa dadanya bergemuruh melihat sikap dan perhatian adiknya pada Ghavi, terlebih tatapan matanya seakan menampilkan kekhawatiran.


"A-aku tidak apa-apa, kok! Tadi Mas Handy juga sudah memintakanku obat pada perawat jaga. Sebentar lagi pasti sembuh," ujar Ghavi melirik tak enak pada Handy.


Ghavi tahu jika sikap dan perhatian Harry padanya berlebihan. Tapi dia juga merasa tidak enak karena Harry merupakan adik Handy.


"Mas, boleh aku pinjam jaketmu? Kakiku terasa dingin," ujarnya pada Handy yang tengah terpaku diujung sofa.

__ADS_1


Diulurkannya tangannya meminta Handy melepas jaketnya. Ghavi berusaha mencari perhatian Handy sebab laki-laki sudah tahu Harry menyukainya.


Tadi waktu makan Handy mengatakan semua yang didengarnya saat kembali ke kamar. Itulah kenapa dia uring-uringan setiap Ghavi menyebut nama Harry. Handy juga mengutarakan ketidaksukaannya jika Ghavi terlalu dekat dengan adiknya.


"Mas!" panggil Ghavi saat Handy masih saja tertegun ditempatnya berdiri.


"Eh, iya!"


Handy segera melepas jaketnya dan menutupkannya dikaki Ghavi yang memang cukup dingin. Sementara sweater Ghavi yang tersampir disofa diambilnya untuk menutupi lengannya yang terbuka.


"Istirahatlah!"


Handy mengusap puncak kepala Ghavi dengan lembut. Ghavi tersenyum mengangguk.


"Terima kasih! Mas Handy tetap disini, ya," ucap Ghavi menyuruhnya duduk disofa dan menjadikan pahanya sebagai bantalan.


"Atau mau istirahat dirumah saja?!" Handy menawari.


Ghavi menggeleng.


"Tidak! Aku mau disini saja sama kamu. Kamu bilang Om Rudi ada yang ingin dibicarakan dengan kita, kan?! Tadi siang aku ketiduran jadi belum sempat ngobrol. Sekarang Omnya sedang tidur. Nanti kalau Om sudah bangun, Mas Handy bangunkan aku."


Ghavi sendiri belum tahu perasaan apa yang dirasakannya pada Handy. Namun, dia seringkali berdebar saat Handy memperlakukannya lembut. Dia juga merasa tercubit hatinya saat dulu Handy ketahuan jalan dengan wanita lain di mall yang diakuinya sebagai putri rekan bisnisnya.


Dia juga belum tahu pasti perasaan Handy padanya meski orang itu sudah menerima perjodohan dengannya dan seringkali mengajaknya menikah.


Yang dia tahu, perlakuan Handy kian hangat dan melembut sejak mereka diminta menjadi orang tua sehari bagi Rindu, dan dia merasa nyaman berada dekat dengannya walau sesekali Handy masih bersikap dingin dan arogan.


"Kalau begitu aku pulang saja dulu. Biar besok pagi saja aku gantian jaga bapak," ujar Harry membiarkan pasangan perjodohan itu menunggui bapaknya.


Hatinya panas menyaksikan kemesraan keduanya. Sejak kapan kakaknya bersikap manis dan perhatian pada Ghavi?! Setahunya diawal perjodohan kakaknya seperti enggan menerimanya. Tapi sekarang?!


Sepertinya Harry benar-benar harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada gadis yang pertama kali ditemuinya di bus yang juga mahasiswanya, tapi kini menjadi calon kakak iparnya.


Harry melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan berkecamuk.


"Pesananmu?!"


Handy menunjuk martabak cokelat kacang dan kopi pahit yang sudah mulai dingin pesanan Harry.


"Buat kalian saja kalau-kalau nanti malam lapar lagi. Aku beli sendiri saja sekalian buat ibu," sahut Harry sambil menutup pintu.


"Terima kasih!"


Sempat Harry dengar Ghavi berterima kasih padanya sebelum pintu benar-benar tertutup.


Dihembuskannya napasnya kasar melihat bagaimana tadi manjanya Ghavi yang tidur dipangkuan Handy dan perhatian Handy yang mengusap-usap puncak kepala Ghavi dengan lembut membuat dadanya sakit.


Dengan langkah gontai Harry meninggalkan rumah sakit.


***


Ghavi memejamkan mata memikirkan hungungannya yang rumit itu.


Harry yang diam-diam menyukainya, Handy yang dijodohkan dengannya yang juga kakak Harry, serta perasaannya pada Handy yang belum jelas perasaan apakah itu karena hatinya pun belum yakin dengan perjodohan itu sendiri.


Ghavi hanya berusaha menerima dan menjalani hubungan itu seperti air mengalir, berusaha memenuhi permintaan terakhir orang tuanya.


Entah karena perut kenyang, pengaruh dari obat yang telah diminumnya atau merasakan usapan tangan lembut dikepalanya membuat rasa kantuk Ghavi datang.


Tidak sampai sepuluh menit, Ghavi tertidur dipangkuan Handy. Lagi-lagi dia melewatkan obrolan dengan Om Rudi karena setelah tadi dia ketiduran, kini keduanya tertidur dengan rasa sakit yang berbeda.

__ADS_1


Handy yang masih terjaga sendiri harus menjaga dua orang beda generasi yang sama-sama tertidur dengan menahan rasa sakit yang mereka derita saat itu.


#Maaf, baru bisa up lagi. Dan itu juga hanya sedikit. Semoga tidak mengecewakan.


__ADS_2