
Sesampainya Ghavi ditoilet, gadis itu langsung menumpahkan air matanya, mencurahkan semua kesedihan dihatinya.
Hatinya hancur. Entah kenapa, semua pengakuan yang didengarnya dari Handy waktu itu terasa hanya lelucon. Permintaan laki-laki itu agar dirinya mau menikah dengannya seperti sebuah sandiwara. Dan Ghavi sudah terjebak didalamnya.
Meskipun secara langsung dia belum menerima permintaan Handy, tapi nyatanya dirinya merasa senang saat Handy beberapa kali mengajaknya menikah. Hatinya berbunga-bunga dan ribuan kupu-kupu terbang saat mendengarnya.
Namun, apa yang dilihatnya hari ini membuatnya shock. Apakah ini arti dari kata-katanya yang menyatakan jika Handy akan sedikit sibuk, bahkan kemungkinan tidak bisa menghubunginya?!
Kata-katanya waktu dirumah sakit dulu ternyata terjawab sudah. Inilah jawaban dari pertanyaan Ghavi yang sempat muncul saat itu.
"Vi, kau kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi denganmu?!"
Tiba-tiba suara Liana mengagetkan Ghavi. Buru-buru gadis itu menyeka air matanya. Entah sejak kapan gadis itu menyusulnya sampai dia sendiri tidak menyadarinya saking asyiknya melamun.
"Kau menangis lagi, ada apa sebenarnya?" tanya Liana lagi.
"Oh, tidak apa-apa! Aku hanya kembali teringat Rindu. Tadi saat dipantai aku sempat terlintas bayangan Rindu," jawab Ghavi.
Ya. Memang saat dipantai tadi tiba-tiba saja dia terlintas wajah gadis kecil itu entah kenapa. Dan kenapa justru yang terlintas adalah saat wajah Rindu yang sedang menangis? Mungkinkah karena dia dan Handy sudah menjadi orang tua baginya, sehingga dia terlintas dipikirannya sewaktu mendapati Handy berada didalam pelukan wanita lain?!
Seolah itu isyarat jika arwah Rindu tidak rela karena orang yang sudah dianggapnya sebagai papa menghianati dirinya.
"Kau yakin?!"
Kembali suara Liana membuyarkan dirinya yang lagi-lagi melamun.
"I-iya!" jawab Ghavi terbata.
Segera dia mencuci mukanya agar Liana tidak semakin curiga padanya. Bukannya Ghavi tidak percaya pada Liana untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya yang menyebabkan dia jadi mengingat Rindu, hanya saja dia belum siap untuk cerita.
"Ah, apakah kalian sudah memesan makanan tambahan?"
Ghavi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ya! Aku kemari untuk itu. Yang lain sudah menunggumu," jawab Liana seolah tersadar.
" Aku disuruh menyusulmu karena kamu lama ke toilet," sambungnya.
"Maaf, membuat kalian menunggu," ujar Ghavi menyesal.
"Tidak apa-apa! Kamu tunggu sebentar disini, ya, aku mau pipis dulu," pintanya pada Ghavi.
Gadis itu segera masuk ke toilet yang ada diseberang ruang cuci tangan yang ada diruangan tersebut.
"Ghavi!" teriak Liana dari dalam toilet.
"Ya?!" jawab Ghavi ikut berteriak.
Ceklek!
Pintu toilet Liana terbuka sedikit. Kelapa gadis itu menyembul keluar. Tampak dia meringis.
"Aku kedatangan tamu bulananku," ujarnya.
"Lalu?"
"Hehe ...! Bisakah aku minta tolong padamu, tolong belikan aku pembalut ditoko depan. Sepertinya tadi ada minimarket di depan restaurant," jawabnya sambil meringis memohon.
"Please!!"
"Ok! Tunggu sebentar!"
__ADS_1
Ghavi pun segera keluar meninggalkan Liana sendiri di dalam toilet.
"Kau mau kemana buru-buru?" tanya Ane melihat Ghavi tergesa melewati meja mereka dan hendak keluar restaurant.
"Hehe ...! Beli roti tawar untuk Liana. Kalian makan saja dulu!" perintahnya saat melihat tatapan aneh dari teman-temannya yang lain.
"Roti tawar?!" tanya Aksan heran.
"Kenapa Liana pesan roti tawar? Lalu, mana dia?!" tanya Aksan terkejut.
Pasalnya dimeja sudah terhidang penuh makanan. Tinggal menunggu kedua gadis itu yang pergi ke toilet terlalu lama.
"Hahaha ...!"
Lian tergelak melihat ekspresi Aksan yang keheranan melihat makanan dimeja dan menatap punggung Ghavi yang sudah menjauh keluar dari restaurant menuju minimarket di seberangnya.
"Kenapa kau tertawa, Sayang?! Kau membuat Aksan makin heran," ucap Diane memukul lengan suaminya itu gemas.
"Maksud Ghavi tadi roti tawar itu adalah benda yang biasa perempuan pakai saat datang bulan, Aksan," terangnya melihat kebingungan dan keheranan Aksan.
"Kami biasa menyebutkan istilah itu saat berada ditempat umum. Apalagi saat di depan semua ini."
Ditunjuknya meja yang berisi penuh makanan tersebut.
"Owh!" jawab Aksan malu.
Dia benar-benar baru tahu istilah 'roti tawar' tersebut.
"Pertama kali aku mendengarnya, reaksiku juga sama sepertimu. Heemm ...," Ane tersenyum maklum.
"Sudahlah! Jangan dibahas lagi. Apalagi sekarang kita sedang didepan makanan," Lian menimpali.
"Maaf!" ucap Aksan.
Ghavi tampak kembali ke restaurant dan segera menemui Liana yang ditinggalkannya tadi. Sepuluh menit kemudian keduanya kembali ketempat duduk masing-masing.
"Maaf, semuanya! Gara-gara aku makan malam kita jadi terganggu."
Liana mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
"Tidak apa-apa!" ujar Aksan.
"Ya, sudah! Mari makan! Perutku sudah konser keroncongan dari tadi karena terlalu lama menunggu kalian," celetuk Lian.
"Serbuuu!!" perintah Liana seraya memasukkan sendok berisi cumi asam manis pedas kemulutnya.
"Nyam! Wah, ini enak sekali," gumamnya disela kunyahannya.
"Kau benar, Lili! Ini benar-benar lezat," timpal Ane sependapat dengan adik iparnya.
"Terima kasih sudah mengajak kami kesini, Vi," ujar Lian sambil mengacungkan jempol tanda dia sepakat dengan istri dan adiknya.
"Sama-sama. Habiskan semuanya!" suruh Ghavi.
Dia sendiri sedang asyik dengan udang bakar bumbu pedasnya.
Sementara Aksan tidak ikut komentar. Laki-laki itu sedang sibuk sendiri dengan piringnya yang penuh berisi kepiting saus merahnya. Wajahnya terlihat berkeringat karena makanannya super pedas.
" Aaahh, kenyangnya!" ucap Aksan memegangi perutnya sambil bersendawa.
"Ups, sorry! Hehe ...," ujarnya cengengesan.
__ADS_1
"Aku juga kenyang sekali. Ah, rasanya ingin makan disini setiap hari," timpal Liana.
"Kalau begitu kau harus tetap tinggal disini," sahut Ghavi.
"Oh, bolehkah Kakak dan Kakak Ipar?!" tanya Liana menoleh pada kakak dan kakak iparnya.
"Hmm, bolehlah! Daripada dirumah bikin ribut terus," jawab Lian santai.
"Iya! Kau suka menjahiliku. Kalau kau menetap disini, aku bisa puas bermesraan dengan kakakmu ini," sahut Diane tersenyum.
"Wah! Ini konspurasi. Kalau begitu aku tidak jadi tinggal disini. Mana boleh kalian terus bermesraan. Nanti yang ada kalian cepat punya anak dan aku juga yang repot," sergah Liana.
"Apa hubungannya kakakmu punya anak dan kau repot?!"
Ghavi ikut berkomentar.
"Yah, nanti aku disuruh-suruh menjaga anaknya lagi," jelasnya mengerucutkan bibir.
"Bukankah seharusnya kau senang jika punya keponakan?!" celetuk Aksan yang baru saja kembali dari toilet.
"Iya, sih, tapi ... nanti uang sakuku hilang karena sudah ada anak," jawab Liana tersipu malu.
"Huuuu... dasar!"
Lian mengacak-acak rambut adiknya dengan sayang.
"Justru nanti uang sakumu Kakak tambah," kata Ane.
"Wah, benarkah?!"
"Ya! Asal kau mau jadi baby sitter untuk ponakanmu nanti. Hahaha ...!"
Ane tergelak melihat raut masam adik iparnya itu.
Sementara Liana bersedekap merajuk.
"Sudah malam, kita pulang sekarang," putus Lian akhirnya.
Rombongan kecil itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Terima kasih untuk hari ini, adik manis!" ucap Lian mengacak anak rambut Ghavi.
"Terima kasih juga dariku, Vi! Gara-gara kado yang terlambat untuk kakakku, aku jadi ikut kebagian," ucap Liana sambil mengangkat paper bag miliknya.
"Iya! Aku senang kalian bisa datang berkunjung kemari. Sering-seringlah berkunjung. Nanti aku traktir makan sea food lagi," sahut Ghavi.
"Lain waktu akan kuajak Risa biar tambah ramai. Sayang sekali hari ini dia berhalangan," ujar Ghavi.
" Sampai ketemu lain waktu, Aksan! Terima kasih sudah mengantar kami hari ini," kata Lian menepuk bahu Aksan.
Ketiga kakak beradik itu turun didepan hotel tempat mereka menginap.
" Iya, sama-sama! Senang berkenalan dengan kalian. Benar kata Ghavi! Jika tambah Risa akan makin ramai," ujarnya tersenyum.
Akhirnya Ghavi dan Aksan sampai dikediaman Eyang Sosro. Ghavi baru muncul di depan pintu saat matanya menangkap sosok seseorang sedang duduk memunggunginya.
Deg!
Jantung Ghavi berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Bukan karena melihat Handy yang tengah duduk membelakanginya, melainkan sosok wanita yang terrekam dikamera ponselnya yang kini duduk diseberang Handy yang menghadap pintu keluar.
" Kau sudah pulang?!" tanya wanita itu membuat Handy berbalik kearah pandang si wanita.
__ADS_1
Dan, tatapan mata Ghavi dan Handy pun bertemu untuk sesaat lamanya.
" Kau baru pulang?!"