
"Maaf, Eyang, kami baru datang. Kami telat dapat kabar kemarin, jadi kami baru sampai di Jogja saat maghrib," ucap Liana disamping pusara Eyang Sosro yang masih sangat basah itu.
Pagi ini, Liana dan Lian meminta Risa untuk mengantar mereka kemakam Eyang Sosro. Mereka berdua tidak tega meminta pada Ghavi, karena tahu bahwa gadis itu masih berkabung dan masih ada juga tetangga yang datang melayat dikarenakan kemarin mereka tidak sempat datang saat pemakaman.
"Iya, Eyang! Eyang tidak perlu khawatir akan cucu kesayanganmu itu, sebab, ada kami yang akan terus berusaha ada untuknya. Ada juga Risa, Bi Mirna dan anak-anaknya yang lain serta Aksan," sambung Lian.
"Aku juga sangat merasa yakin, keluarga Om Rudi dan anak-anaknya pasti juga sama," lanjutnya.
"Meski kami jauh diibu kota, tapi kami akan sering berkunjung menemui Ghavi, Eyang. Jadi, Eyang tidak perlu takut akan Ghavi. Lagipula, Ghavi anak yang kuat. Dia pasti bisa menjalani kehidupan baik kedepannya," timpal Liana.
Gadis itu bangun dari jongkoknya setelah mengusap papan nama dipusara tersebut.
"Kami pamit, Eyang! Lain kali kami kesini lagi. Semoga amal ibadah Eyang Sosro diterima Tuhan. Aamiin!!" pamit Liana.
"Aamiin!" sahut Lian.
Risa yang sedari tadi sengaja menjauh untuk memberikan waktu pada kedua kakak beradik itu kini berjalan mendekat.
"Sudah?!" tanyanya menatap keduanya.
Lian dan liana pun mengangguk.
"Sekarang kita mau kemana?!"
"Kita pulang saja. Kasihan Ghavi sendiri dirumah. Ibu kamu pasti sibuk didapur untuk persiapan pengajian nanti sore, ya, kan?!" jawab Liana.
"Iya juga, sii," sahut Risa mengiyakan.
"Ya, sudah kalau begitu, ayo!"
Mereka bertiga pun akhirnya berjalan beriringan meninggalkan makam.
Sementara itu dikediaman Eyang Sosro, Ghavi sedang berusaha menguatkan diri agar jangan sampai menangis. Ditegakkannya tubuhnya agar terlihat tetap tegar.
Didepan pintu utama yang terbuat dari kayu jati itu tampak berdiri orang yang semalam menelponnya.
Yang membuat hatinya makin sakit karena ketidakhadiran orang itu sebab sedang berada di Kalimantan menemui wanitanya, kini disebelahnya juga tampak wanita itu bersamanya.
Dan yang paling menyakitkan adalah, karena wanita itu tengah bergelayut manja pada lengan kekar orang itu.
"M-mas, eh, maksudku ... Pak Handy?!" ucapnya terkejut.
"Kenapa datang?!" tanyanya refleks.
"Jadi, kami tidak boleh datang, begitu?!" ujar wanita itu sinis.
"Harusnya kamu senang karena aku dan Handy datang melayat, ya, kan ,Sayang?!" lanjutnya manja pada orang yang ternyata adalah Handy.
"Ehm!" Handy berdehem.
"Kau tidak menyuruh tamumu masuk?!" tanyanya tanpa menanggapi perkataan Vika.
__ADS_1
"Oh, eh, si-silakan masuk! Maaf!!" jawab Ghavi bsedikit terbata.
Gadis itu benar-benar kaget atas kedatangan Handy dan Vika.
Memang, sih, laki-laki itu tidak berjanji akan datang dengan siapa, tapi setidaknya dia datang sendiri tanpa harus mengajak Vika, demi menjaga perasaannya. Terlebih dalam situasi berkabung seperti saat ini.
"Silakan duduk!" perintah Ghavi bpada kedua tamunya.
"Terima kasih!" ujar Handy sambil menjatuhkan tubuhnya.
Sengaja memilih kursi single yang berada diujung meja agar Vika tidak ikut duduk disebelahnya.
Walau bagaimanapun dia harus menjaga perasaan Ghavi saat ini sebelum dia memberitahukan tentang kebenaran hubungannya dengan Vika.
Vika terlihat cemberut karena Handy lebih memilih kursi single tersebut. Akhirnya, wanita yang perutnya sudah terlihat sedikit buncit karena dressnya yang sedikit ketat itu memilih duduk disofa panjang, bersebelahan dengan Ghavi, tapi ada sedikit jarak diantara keduanya karena mereka berdua masing-masing duduk diujung, menempel pada tangan-tangan sofa.
"Ehm!" Handy berdehem sebelum memulai berbicara.
"Aku turut berduka atas meninggalnya Eyang Sosro. Aku benar-benar minta maaf! Waktu dapat kabar Eyang Sosro masuk rumah sakit, aku baru tiba di Kalimantan."
Jeda sejenak.
Ghavi pun sepertinya enggan langsung menanggapi perkataan Handy. Gadis itu sengaja diam untuk mendengarkan alasan apa yang akan dilontarkan laki-laki di seberangnya itu.
"Harry juga baru memberitahuku tentang kabar meninggalnya Eyang Sosro saat sudah hampir tengah malam. Dan kami langsung mengambil penerbangan jam enam tadi pagi dan langsung menuju kesini," jelasnya.
Oh! Pantas saja semalam laki-laki itu menelponnya saat tengah malam, pikir Ghavi dalam hati.
Deg!
Handy merasa tersindir dengan kalimat Ghavi barusan. Apalagi, gadis itu menggunakan bahasa yang cukup baku.
"Kau benar! Gegara Handy ngotot ingin berbela sungkawa denganmu, kami jadi membatalkan acara penting yang sudah jauh-jauh hari kami rencanakan," sambar Vika cepat.
Wanita itu terlihat marah karena rencana yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari itu harus batal karena Handy memaksa kembali ke Jogjakarta.
"Maaf!!" cicit Ghavi lirih.
Hatinya terasa nyeri saat Vika mengatakan hal itu. Seolah dirinya pembuat masalah disini karena gagalnya acara mereka.
Padahal, kalau boleh jujur justru seharusnyalah dia yang marah sebab dirinya yang dibohongi.
Ya! Ghavi merasa dibohongi dengan hubungan Handy dengan Vika. Kenapa Handy harus menjalin hubungan dengan Vika disaat dirinya sudah berjanji pada Om Rudi saat dirumah sakit dua bulan lalu?!
Saat itu Om Rudi tengah sakit dirumah sakit di Wonosobo dan menginginkan kedatangan Handy dan Ghavi. Padahal, waktu itu keduanya sedang ada acara di Jakarta.
Keduanya akhirnya pulang meski acaranya terpaksa dipercepat demi permintaan bapak Handy itu.
*Fl*ash back on
"Handy, berjanjilah pada Bapak, Nak! Berjanjilah kau akan selalu berada disamping Ghavi dan menjaganya," ujar Om Rudi.
__ADS_1
"Selama ini Bapak tidak pernah menuntut kamu hal yang berat. Tapi kali ini, tolong penuhi permintaan Bapakmu ini demi janji Bapak pada Umar, sahabat Bapak, ayah Ghavi. Bapak mohon ..." lanjutnya sambil menahan air matanya yang hendak keluar.
"Dulu, waktu Bapakmu ini ditinggal Ibumu dan masih hidup susah, Umarlah yang membantu Bapak menjagamu disaat Bapak kerja. Bahkan waktu kuliah pun dia sering membantu biaya kuliah Bapak," ceritanya sambil mengenang masa-masa dulu saat masih susah.
"Sampai-sampai kami berdua saling berjanji menjodohkan kalian untuk saling menjaga."
"Jadi Bapak mohon, Nak, jaga dia dengan segenap jiwa ragamu, apapun yang terjadi nanti sebagai balas budi Bapak pada Umar," pinta Om Rudi memohon.
"Baik, Pak! Aku janji!" jawab Handy tegas.
Digenggamnya tangan Ghavi dan Om Rudi bersamaan.
Flash back off
"Ah, tidak, kok, Vi! Ini bukan salah kamu. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf. Aku memang sengaja pulang cepat karena masih ada pekerjaan lain yang mendesak. Sekalian mampir kesini dulu sebelum ke pekerjaan lain, sergah Handy.
Dipelototinya Vika agar wanita itu tidak bersikap macam-macam. Vika pun sedikit menciut mendapati pelototan itu.
"Eh, ada tamu."
Bi Mirna yang keluar dari dapur hendak menyuruh Ghavi sarapan pun terkejut dengan kehadiran Handy dan Vika hingga memecah suasana canggung yang sempat tercipta.
"Kok, Non Ghavi tidak menyuruh Bibi membuat minum, sih. Kan, kasihan tamunya dianggurin."
"Eh, maaf. Lupa!"
Ghavi tertunduk malu. Dia baru sadar kalau tamunya tidak disuguhi minum.
" Sebentar, ya, Pak Handy, Bu Vika. Bibi buatkan minum dulu."
"Tidak usah, Bi! Kami tidak lama, kok. Ini juga mau pamit," sergah Handy cepat.
Bi Mirna yang hendak masuk kedalam lagi pun urung.
Akhirnya wanita paruh baya tersebut berdiri dibelakang Ghavi duduk.
"Maaf, Vi! Kami tidak bisa lama-lama. Masih ada hal yang harus aku kerjakan. Kami pamit dulu, ya! Sekali lagi turut berduka cita! Maaf juga belum bisa ziarah ke makam Eyang Sosro," pamit Handy seraya bangkit dari duduk diikuti Vika.
Wanita itu langsung menggamit lengan Handy sengaja memanasi Ghavi. Namun, Ghavi seolah cuek saja.
"Iya, tidak apa-apa. Maaf, karena kedatangan kalian kurang disambut baik. Saya sampai lupa tidak menawari minum," ujar Ghavi tersenyum, menutupi rasa perih dihatinya.
"Terima kasih sudah repot-repot datang," lanjutnya berjalan mengikuti tamu tak diundangnya sampai didepan pintu.
Begitu tamunya masuk mobil dan meninggalkan halaman, Ghavi buru-buru menutup pintu hingga bunyi bedebum. Bi Mirna saja sampai kaget mendengarnya.
Dilihatnya Ghavi bersandar dipintu itu dan memegang karena menahan sesak didada yang ditahannya sejak tadi. Gadis itu pun segera berlari masuk kekamarnya sambil mengusap pipinya yang basah.
Bi Mirna yang melihatnya jadi merasa iba.
"Semoga kamu diberi kekuatan, Non! Dan semoga kebahagiaan segera menghampirimu," lirih Bi Mirna sambil berjalan kembali kebelakang.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun urung dengan niatnya yang akan menyuruh cucu majikannya itu untuk sarapan sebab tadi pagi gadis itu belum ingin.