
Ghavi hendak menunggui Bintang mandi.
Sementara Liana tadi pergi diantar Pak Yoyon ke minimarket untuk membeli pembalut wanita dan diaper untuk Bintang, jaga-jaga kalau-kalau nanti ngompol.
Anak itu masih suka ngompol sesekali kalau tidur malam apalagi jika siangnya aktif bermain.
"Sini, Tante saja yang mandiin."
Ghavi ikut masuk kekamar mandi tapi dilarang Bintang.
"Nooo, Tante! Bintang malu," tolak Bintang langsung.
Pipi bocah lima tahun tersebut merona karena malu. Segera ditutupinya area tubuhnya yang hanya menggunakan dalaman.
"Uluh, uluh, Bintang kecilnya Tante malu katanya."
Ghavi mengacak rambut bocah kecil itu gemas.
"Memang bisa mandi sendiri?!" tanya Ghavi memastikan.
Bintang mengangguk pasti lalu mendorong Ghavi keluar dari kamar mandi dan langsung menutup pintu.
"Tante, tolong siapin handuk sama baju aku saja. Sebentar lagi juga aku selesai."
"Ok!"
Ghavi beranjak mengambil baju dan handuk Bintang yang masih didalam tas ranselnya.
"Mau pakai baju yang mana?" teriak Ghavi dari balik pintu kamar mandi.
"Kaos yang gambar dino saja, Tante. Taruh ditempat tidur. Tante boleh tunggu diruang makan, nanti aku nyusul. "
" Ya, sudah kalau begitu Tante keluar dulu, ya," pamit Ghavi seraya keluar kamar.
Ghavi pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Sayup-sayup terdengar suara orang ngobrol.
" Si Bibi sedang ngobrol sama siapa, ya? Atau Lili sudah pulang?!" Ghavi bermonolog.
Ghavi bergegas ke dapur. Maksudnya ingin meminta pesanan yang dibelikan Liana untuknya.
Namun, bukan Liana yang dia lihat didapur, melainkan sosok wanita bertubuh gendut, ditambah kelihatan sedang hamil tua.
Gadis itu sempat pangling dengan sosok bumil didepannya andai saja Bi Mirna tidak memberitahunya.
" Non, Vivi, ini Risanya sudah datang. Tadi Bibi telpon dia supaya kerumah," ujarnya.
" Apaa? Jadi, ini Risa, Bi?!" tanya Ghavi seolah tidak percaya.
" Kamu pikir aku siapa? Mentang-mentang lama di luar negeri dan kenalannya bule, lupa sapa yang lokal," sahut bumil tadi dengan manyun.
" Ya, ampuuun ..., jadi kamu Risa?! Wajar saja tadi aku sempat pangling. Risa yang aku kenal dulu itu tubuhnya ceking, meski doyan makan. Tapi lihat dirimu sekarang, bongsor banget. Perasaan terakhir kita video call kamu juga belum segendut ini, deh."
Memang saat terakhir mereka melakukan video call dulu tubuh Risa tidak segemuk sekarang meski sudah terlihat berisi. Ghavi pikir itu karena sahabatnya itu sedang mengandung. Dia tidak pernah mengira Risa akan segemuk sekarang.
" Hahaha ...!"
Bi Mirna terbahak mendengar penuturan cucu almarhumah majikannya itu.
__ADS_1
" Non bisa saja. Sekarang juga masih doyan makan, kok. Malah makin parah makannya, Non. Apalagi, semenjak menikah dengan Nak Aksan dan hamil anak kembar, serta semua kemauannya selalu dituruti suaminya. Makin seperti gajah bengkak dia. Haha ...!"
" Ibu!" tegur Risa makin manyun.
" Haha ...!"
Ghavi ikut tertawa melihat Risa merajuk.
" Oh, pantas kamu jadi semakmur ini! Apa Bibi bilang tadi, anaknya kembar??" timpal Ghavi.
" Wah, sekali bikin dua. Coba kalau hamilnya tiga kali dan setiap kehamilan twins semua, bisa bikin grup voli nanti. Hihihi ...!" kikiknya.
" Tega amat," tukas Risa.
" Sini peluk! Si twins pasti kangen ingin bertemu sama Tante cantiknya, kan?!"
Ghavi memeluk tubuh bongsor Risa tapi terhalang perut besarnya.
" Ini perut besar banget, sih, memangnya sudah berapa bulan?"
" Delapan jalan, mau masuk sembilan bulan," jawab Risa sambil mengelus perut buncitnya.
" Oh! Sebentar lagi, dong, ya. Twins, sehat-sehat diperut ibumu, ya. Jangan nakal didalam."
Ghavi ikut mengelus-elus perut bumil didepannya. Diajaknya Risa duduk di ruang tengah.
" Tante Obat Gosok, Aunty kemana?"
Tiba- tiba suara Bintang sudah berada diruang tengah.
" Eh, Bintang kecilnya Tante sudah ganteng dan wangi. Aunty sedang keminimarket sebentar diantar Pak Yoyon," jawab Ghavi mendekati Bintang yang sudah rapi.
" Sini, Tante kenalin sama sahabatnya Tante. Nih, kenalin namanya Tante Risa. Risa, kenalin, ini Bintang, anaknya Kak Lian dan Kak Ane," terang Ghavi pada keduanya.
" Hallo, Bintang, salam kenal. Ternyata kamu ganteng juga seperti papamu, ya," salam Risa.
" Bintang, Tante. Memangnya Tante kenal papaku?!" tanya Bintang penasaran.
" Kenal, dong. Kan, dulu waktu papa dan mama serta kamu yang waktu itu masih diperut mamamu, kalian berkunjung kesini. Jadi kami sudah kenal," jelas Risa tersenyum.
Ya, waktu dulu Liana, Lian dan istri berkunjung ke Jogja yang pertama kali, Ane sedang hamil muda beberapa minggu. Hanya saja Ane baru mengetahui kehamilannya saat kembali ke ibu kota dan dibawa ke rumah sakit akibat pendarahan.
Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata Ane sedang mengandung tiga minggu. Dan itu berarti, saat baru datang di Jogja usia kandungannya baru dua minggu, ditambah satu minggu waktu berkunjung.
Bintang hanya mengangguk mendengar penjelasan Risa.
" Tante, dedeknya kapan keluar? Tadi aku dengar dedeknya kembar, ya?"
Bintang memperhatikan perut Risa yang sangat besar terlihat.
" Perutnya seperti mau meledak," katanya dengan wajah polos.
" Hehe ...!" Risa terkekeh mendengar penuturan polos bocah TK itu.
" Aku pulaaang!!" teriak Liana dari arah ruang tamu.
Risa, Liana dan Bintang yang sedang berada diruang tengah pun menoleh.
__ADS_1
" Aunty, kebiasaan teriak-teriaknya jangan dibawa kesini, dong. Malu, tahu," celetuk Bintang dengan wajah ditekuk.
Bintang sudah sangat hafal dengan kelakuan aunty-nya itu, yaitu suka teriak- teriak jika baru pulang kerumah.
" Tahu, tuh. Dikira ini hutan, kali," sahut Ghavi.
" Hehe ...! Maaf, iya habisnya sudah kebiasaan, sih kalau dirumah suka begitu," ujarnya nyengir.
" Makannya jangan dibiasakan."
" Hehe ..., iya, Sayang! Maaf!"
Liana yang baru saja meletakkan tas belanjaan diatas meja langsung mendekati keponakannya. Diciuminya kedua pipi Bintang dengan gemas.
" Iihh, Aunty, lepas! Harus berapa kali aku bilang, sih, jangan cium-cium aku. Aku nggak suka. Lagian aku, kan sudah besar," protesnya sambil menghapus bekas ciuman Liana.
" Halah, ngakunya sudah besar, tapi masih suka ngompol," timpal Liana meledek.
" Siapa yang ngompol, aku nggak ngompol lagi, Aunty," sungut Bintang.
" Tuh, buktinya kamu minta dibeliin diapers, takut ngompol."
Liana menunjuk diapers diantara belanjaan.
" Yaa, kan hanya jaga-jaga saja. Takutnya ..."
" Ngompooolll!!"
" Hahaha ...!"
Ghavi dan Risa terbahak mendengar perdebatan antara kepinakan dan aunty-nya.
Tak terasa jam makan malam sudah tiba. Bi Mirna menyuruh mereka untuk segera makan malam. Sayang, suami dan adik-adik Risa tidak ikut gabung.
Aksan sedang lembur, sementara Fajar dan Shifa sedang membantu tetangga sebelah rumah yang dulu karena ada hajatan.
Sehabia makan malam, ketiga sahabat itu kembali keruang tengah untuk melanjutkan acara ngobro mereka.
Bintang asyik sendiri dengan snack yang tadi dibeli Liana.
Pak Yoyon ngobrol dengan istrinya ditelpon sambil menemani Bi Mirna yang sedang membereskan dapur.
Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Risa dijemput Aksan yang baru saja pulang kerja. Aksan hanya dapat bertegur sapa sebentar dengan Ghavi dan Liana kemudian mengajak istrinya pulang kerumahnya sendiri.
Keduanya maklum sebab Aksan sudah letih bekerja dan bumilnya juga sudah terlihat payah dengan perut besarnya.
Akhirnya Ghavi dan Liana serta Bintang pun masuk ke kamar tamu untuk beristirahat.
Sementara kamar yang dulu ditempati Ghavi sekarang jadi kamar Shifa. Kamar utama tempat Eyang Sosro dulu, kini ditempati Fajar. Bi Mirna tetap memilih tidur dikamar belakang.
Karena ini malam pertama bagi Bintang tidur di Jogja yang merupakan tempat baru baginya, anak itu terlihat gelisah. Sesekali terbangun dari tidurnya dan bertanya dengan raut wajah bingung.
"Ini dimana, sih?! Kok, bukan dikamarnya Bintang?!"
"Ssstt ... ini dikamarnya Tente Ghavi yang di Jogja. Kan, kita sedang liburan disini. Bintang lupa, ya," bisik Ghavi ditelinga Bintang.
" Nah, sekarang kamu bobo lagi, ya. Besok kita mancing belut disawah bareng Om Fajar," bujuk Liana agar sang keponakan tidak menangis.
__ADS_1
Ghavi dan Liana membujuknya untuk kembali tidur.
Setelah diberi sedikit rayuan anak itu baru terlelap hingga pagi harinya.