Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
menjenguk eyang


__ADS_3

Ghavi bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap ke rumah sakit. Semalam dia sampai dirumah jam dua belas malam, sebab Aksan harus mengantar Harry dan Risa terlebih dulu.


"Bi, apa Risa sudah datang?" tanya Ghavi yang baru keluar dari kamar dengan jaket dan helm ditangannya.


"Sudah, Non! Itu didapur menyiapkan bekal makanan untuk Eyang," tunjuk Bi Narti kearah dapur.


"Hai!" Risa melambaikan tangan.


"Sudah baikan?!" tanyanya begitu Ghavi menyusulnya kedapur.


"Sudah!" jawab Ghavi mengangguk.


"Bikin sarapan apa, Bi?"


Ghavi berpaling menatap Bi Narti yang mengikutinya dari belakang.


"Nasi goreng ikan asin, Non! Mau saya ambilkan sekarang?" tawar Bi Narti.


"Iya! Kamu juga, ya," ajaknya pada Risa yang dijawab anggukan.


"Hehe ..., tahu saja aku belum sarapan," cengirnya.


Bi Narti menoyor putrinya gemas.


"Kebiasaan. Padahal, tadi pagi Ibu buatkan juga nasi goreng dirumah," omelnya.


"Haish, si Ibu. Gimana mau makan dirumah kalau nasi gorengnya saja selalu habis sama adik-adik," jawabnya lirih.


Bi Narti melotot menatap putrinya. Merasa malu pada cucu sang majikan yang mendengarkan obrolan mereka.


"Sudah, sudah," lerai Ghavi pada ibu dan anak tersebut.


"Mari makan semuanya sama-sama," ajak Ghavi pengertian.


Mereka bertiga pun duduk mengelilingi meja makan bundar itu dan dengan hikmat.


"Sudah." ujar Ghavi mengakhiri sarapannya.


"Kita berangkat ke rumah sakit sekarang?" tanya Risa sembari membereskan peralatan bekas makan mereka.


"Iya! Soalnya dari rumah sakit kita langsung ke kampus. Jadi, kita tidak perlu bolak-balik pulang kerumah."


Ghavi mengambil jaket dan helm yang tadi dia letakkan di meja ruang tengah.


"Bi, aku dan Risa berangkat dulu, ya," pamitnya.


"Ya. Hati-hati! Bibi menyusul nanti setelah beberes rumah."


Akhirnya Ghavi berangkat kerumah sakit dengan motor dengan Risa yang didepan.


Dua puluh lima menit kemudian keduanya sampai dirumah sakit.


Dicarinya ruang perawatan Eyang Sosro.


"Tok ...! Tok ...! Tok ...!"


Ghavi mengetuk pintu dan muncullah Pak Agung.

__ADS_1


"Silakan masuk, Non!"


Pak Agumg mempersilakan cucu majikannya masuk ruangan.


"Bagaimana keadaan eyang, apa sudah baikan?!"


" Dari semalam eyang tidak bisa tidur. Baru satu jam yang lalu beliau tertidur," jelasnya.


"Memangnya kenapa tidak bisa tidur?!"


"Oh, itu, Non. Dokter bilang tekanan darahnya tinggi lagi. Itu juga yang memicu eyang terpeleset dikamar mandi. Untung kakinya hanya terkilir, jadi dua tiga hari kedepan eyang bisa pulang," terang Pak Agung lagi.


"Maaf, ya, Pak Agung sudah kami repotkan terus." Ghavi meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Saya senang membantu orang sebaik eyang."


"Ya, sudah. Pak Agung boleh pulang dulu beristirahat. Sementara kami yang jaga. Nanti Ibu akan menyusul menggantikan Bapak, setelah pekerjaan dirumah selesai," ujar Risa.


"Iya, Pak, betul kata Risa. Sebaiknya Pak Agung istirahat dulu dirumah," sahut Ghavi membenarkan.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu, Non Ghavi, Risa!" pamitnya undur diri.


"Hati-hati dijalan, Pak!" ujar kedua gadis itu bersamaan.


Dua jam kemudian Eyang Sosro bangun dari tidurnya.


"Eyang sudah bangun?!" tanya Ghavi mendekati ranjang rawat eyangnya dan duduk dibangku samping ranjang.


" Kapan kamu sampai, Nduk? Bi Narti bilang kamu sakit disana?" tanya Eyang Sosro menyalami cucunya.


Ghavi pun mencium punggung tangan eyangnya penuh kasih.


" Risa bilang kau sampai dibawa kerumah sakit karena asthmamu kambuh?!"


" Eh, iya. Tapi Eyang tidak perlu khawatir. Mas Handy yang membawaku kerumah sakit," terang Ghavi tersenyum.


"Lain kali jangan teledor lagi, Nduk! Kau harus menjaga kesehatanmu agar jangan merepotkan orang lain," nasihat Eyang Sosro.


Ghavi mengangguk.


"Iya, Eyang. Maaf, tidak mendengarkan nasihatmu kemarin dulu."


"Hemm," Eyang Sosro tersenyum.


"Oh, ya Eyang lupa. Bagaimana setelah bertemu Handy, apa kau tetap akan melanjutkan acara perjodohan kalian?! Apa tanggapan Rudi mengenai hal ini?"


Ghavi pun menceritakan apa yang terjadi waktu dirumah Om Rudi.


Gadis itu menghela napas panjang.


"Keputusanku sudah bulat akan tetap menerima perjodohan itu, Eyang. Terlaksana tidaknya itu semua tergantung Mas Handy nantinya."


" Memangnya Handy menolak?!" tanya Eyang Sosro penasaran.


"Dia hanya menjawab 'jika itu yang terbaik,' itu saja, Eyang," jawab Ghavi lirih.


" Kamu yang sabar, ya. Mungkin ini berat untukmu. Tapi Eyang yakin, kamu bisa melewati semuanya dengan baik," hibur Eyang Sosro menepuk puncak kepala cucunya, keluarga satu-satunya yang dia miliki saat ini.

__ADS_1


"Terima kasih, Eyang!"


Dipeluknya tubuh renta yang terbaring diranjang.


"Vi, kita harus kekampus sekarang," ucap Risa masuk.


Gadis itu baru saja mengeprint tugas-tugas kampusnya ditempat rental tak jauh dari rumah sakit.


"Ibumu belum dat ...,"


"Maaf, saya terlambat! Tadi ada tamu jauh datang kerumah," ujar Bi Narti masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Tamu?!" tanya Eyang Sosro dan Ghavi saling pandang heran.


"Tamu siapa, Bi?" tanya Eyang Sosro penasaran.


"Ehm!"


Belum sempat Bi Narti menjawab, terdengar suara orang didepan pintu yang terbuka.


" Mas Handy?!" pekik Ghavi tertahan.


" Iya, Non! Tamu jauh yang Bibi maksud adalah dia," jawabnya menunjuk Handy yang terlihat datang bersama asistennya yang berdiri dibelakangnya dengan membawa parcel buah.


" Oh, Nduk, kenapa tamunya tidak dipersilakan masuk?!" Eyang Sosro berusaha memecah suasana canggung yang tercipta.


"Silakan masuk, Nak! Mau sampai kapan kalian berdiri terus disitu?!" perintahnya.


Handy masuk dan berjalan mendekati ranjang dan menyalami wanita tua yang kini duduk bersandar dikepala ranjang rumah sakit. Matanya melirik Ghavi yang masih termangu ditempatnya berdiri.


"Maaf, Eyang, baru bisa jenguk."


"Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkan. Jauh-jauh datang kemari hanya untuk menjenguk Eyang," balas Eyang Sosro maklum.


Handy hanya mengangguk tersenyum.


" Maaf, semalam tidak bisa mengantar pulang karena ada pekerjaan," ujarnya berdiri disamping Ghavi.


Handy memerintah asistennya untuk menaruh parcel dengan ekor matanya.


"Eh, tidak apa-apa," jawab Ghavi singkat.


"Mm, Vi, aku duluan, ya. Aku ada kelas satu jam lagi," bisik Risa ditelinga Ghavi.


"Tunggu aku sebentar lagi. Aku juga ada kelas sejam lagi. Tapi ..." jawab Ghavi ikut berbisik, namun masih didengar Handy.


" Kalau kau ada kelas, pergilah! Biar aku disini sebentar lagi. Aku juga harus terbang ke Jakarta siang nanti," tukas Handy pada dua gadis yang saling berbisik itu.


"Eh, tapi,"


"Tidak masalah kalau kau pergi. Toh, tujuanku kesini menjenguk eyang," lanjutnya lagi.


"Maaf, ya, tapi kami benar-benar harus kekampus sekarang," ujar Risa menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Hm!" jawab Handy menggumam.


"Eyang, kami pamit dulu, ya. Nanti sepulang kampus kami mampir lagi kemari," pamit Ghavi akhirnya.

__ADS_1


"Ya, pergilah!" Eyang Sosro memberi ijin.


Disalaminya eyangnya dan Bi Narti bergantian, lalu mengangguk pada kedua tamunya dan bergegas meninggalkan rumah sakit untuk segera pergi kekampus mengingat hari itu mereha ada ujian.


__ADS_2