Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Keceplosan


__ADS_3

"Kamu ngapain, sih pakai bilang begitu ke Bapak sama Ibu?"


Harry mendekati Ghavi yang kini duduk disofa ruang tamu rumah kakaknya. Dia pun ikut duduk disebelahnya.


Sementara itu, orangtua Harry dan Sunny yang ditemani Mbak Nia sedang berganti baju karena tadi mengutarakan niatnya untuk mengajak mereka makan malam di restaurant miliknya.


"Bilang apaan?!" balas Ghavi pura-pura tidak ingat.


Tuk!


Harry menjitak kening Ghavi hingga gadis itu menjerit.


"Aow!!"


Ghavi mengelus keningnya sambil meringis.


"Kok, dijitak, sih?! Sakit, tahu?!!"


"Maksud kamu apaan??"


Harry tidak peduli dengan pelototan Ghavi. Dia justru kembali bertanya pada gadis itu.


"Kenapa kamu bilang ke Bapak dan Ibu kalau aku sudah punya calon?!"


"Lah, memangnya belum, ya? Kupikir kamu sudah jadian sama ... ."


Ghavi tidak melanjutkan kalimatnya. Sebagai gantinya dia menatap lekat mata Harry mencari kebenaran.


Harry yang ditatap seperti itu pun merasa salah tingkah.


"Apaan, sih?! Segitunya melihat wajahku. Tampankah aku?!"


"Iih, GR sekali, sih jadi orang," dumal Ghavi seraya menampol lengan Harry.


"Aow! Kok, ditampol, sih?! Sakit, kan," rintihnya.


"Ck, dasar! Laki-laki, kok lembek."


"Heh, ini bukan masalah lembek atau tidak, tapi ini beneran sakit, tahu?! Tenaga kamu kuat sekali tadi," gerutu Harry berkacak pinggang.


"Iya, iya! Maaf!"


"Huh!"


"Maaf!"

__ADS_1


Harry diam.


"Dimaafkan, tidak?!"


Ghavi bersiap menampol kedua kalinya, tapi buru-buru Harry mencegahnya.


"Iya, iya, dimaafkan!"ujar Harry akhirnya.


"Hemm, terima kasih!"


Ghavi tersenyum melihat Harry yang masih sedikit cemberut.


"Mas, beneran, deh aku mau tanya. Kamu benar sudah jadian sama Lili?!" tanyanya serius.


"Eh!"


Harry terlonjak kaget.


"A-apa maksudmu?!" tanya Harry gagap.


"Sudah, jujur saja!" todong Ghavi.


"Darimana kamu tahu kalau kami sudah jadian?!"


"Jadi, benar kalian sudah jadian?!"


Padahal, tadi Ghavi hanya asal bertanya dan menebak saja. Gadis itu tidak tahu jika kebenarannya memang Harry dan Lili alias Liana benar-benar sudah ada hubungan spesial selain pertemanan.


"Kata siapa??" todong Harry.


" Kata kamu!"


"Aku?!"


Harry menunjuk dadanya sendiri.


"Iya! Barusan secara tidak langsung kamu sudah menjawab kalau kalian sudah jadian."


Ghavi tersenyum licik.


Harry pun merasa geregetan karena sudah keceplosan dengan jawabannya sendiri karena pertanyaan Ghavi yang menjebak dan dia baru menyadarinya.


"Kau ...!" geramnya.


"Jadi, kalian benar-benar sudah jadian? Kapan?! Jahat sekali kalian menyembunyikan hal penting seperti ini dariku," ujar Ghavi berapi-api.

__ADS_1


"Hustt!!! Jangan keras-keras, dong! Kalau Bapak sama Ibu dengar bagaimana?!"


Harry menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya sebagai perintah agar Ghavi memelankan suaranya.


"Memangnya kenapa kalau mereka sampai tahu?!" tanya Ghavi menurunkan nada bicaranya sesuai permintaan Harry.


"Aku belum siap memberitahu mereka. Yaa, kamu tahu, lah. Lili dan aku, kan beda keyakinan. Jadi ...,"


"Tante Cantik, aku sudah siap!"


Belum juga Harry melanjutkan kalimatnya, Sunny datang dari arah kamarnya sambil berlari-lari kecil.


Dibelakangnya ada Mbak Nia diikuti oleh Om dan Tante Rudi.


"Wah, Sunny cantik sekali, Sayang!"


Ghavi melihat Sunny yang sudah berganti baju terusan tanpa lengan motif batik khas Jogja yang diberi renda-renda dibagian ujungnya.


Rambutnya diikat kuncir kuda dan diberi jepit rambut warna putih gambar bunga mawar.


Sementara itu Om dan Tante Rudi tampak mengenakan atasan batik couple warna hijau daun yang dipadu-padankan dengan celana hitam.


"Ayo, Tante! Kita berangkat sekarang saja. Sunny sudah lapar!"


Sunny memegang perutnya seolah sudah kelaparan.


"Haha ...!"


Seluruh orang di ruangan itu tertawa melihat polah Sunny yang menggemaskan.


Ghavi pun mengajak keluarga Om Rudi untuk segera berangkat ke restaurant.


Ghavi jadi lupa akan jawaban Harry yang sempat terputus karena teriakan Sunny tadi. Padahal, tadi dia sudah sangat penasaran menunggu penjelasan Harry.


"Mau berangkat pakai mobil siapa?"


Ghavi yang sudah berada di teras rumah Handy berbalik menghadap Harry yang berjalan dibelakangnya.


"Pakai mobilku saja. Kita satu mobil semuanya. Pulangnya biar nanti ada yang ikut mobil Mas Handy. Dia sudah dikasih tahu, kan, kalau kita akan makan malam di restaurant punyamu?!"


"Sudah! Tadi aku menelpon Aslan. Dia bilang mereka akan langsung menuju lokasi sepulangnya dari kantor."


"Baiklah! Kita berangkat sekarang saja kalau begitu."


Harry pun melajukan mobilnya menuju lokasi dengan membawa lima penumpang.

__ADS_1


Om Rudi duduk di kursi depan samping Harry yang mengemudi. Sementara Tante Rudi, Mbak Nia dan Ghavi duduk berhimpit dikursi penumpang dengan Ghavi memangku Sunny.


__ADS_2