Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Drama Pagi Hari


__ADS_3

Tepat pukul tujuh pagi Ghavi menjemput Liana dirumahnya.


Namun, begitu dia sampai disana, dilihatnya drama pagi sedang berlangsung.


Bagaimana tidak, Liana yang sebenarnya sudah siap setengah jam yang lalu itu terpaksa harus membujuk keponakannya yang sedang menangis.


Bocah kecil itu terus menangis dan merengek-rengek ingin ikut aunty-nya, sementara sang mama tidak mengijinkan.


"Liana, kan sudah bilang semalam. Kalau Bintang tidak diijinkan ikut, dia harus diumpetin dulu sampai aku pergi, Mah. Salah siapa yang punya anak justru asyik berolahraga pagi-pagi buta. Sudah tahu anaknya penginnya nemplok terus ke aunty-nya," gerutu Liana pada sang mamah karena sang mamah memintanya membatalkan ikut ke Jogja.


Diliriknya kakak dan kakak iparnya yang tampak salah tingkah.


"Hust, Lili!" tegur sang mamah.


Tak urung sang mamah pun tersenyum juga sebab melihat leher sang menantu tampak merah habis 'kerokan'.


"Pokoknya Bintang mau ikut Aunty, titik! Kalau nggak dibolehin Bintang bakal mogok makan lagi," ancamnya.


Mendengar kata mogok makan, Ane pun gelagapan.


"Eh, jangaaan!!" teriaknya.


"Kalau Bintang mogok makan, terus sakit lagi seperti dulu bagaimana?"


Ane terus berusaha membujuk putranya.


"Kalau gitu ijinin Bintang ikut Aunty, dong," sungutnya memanyunkan bibir.


"Bintang, kapan-kapan saja, ya Bintang perginya sama Mama sama Papa. Sama adik juga. Tapi nanti tunggu adiknya besar dulu baru boleh melakukan perjalanan jauh."


Ghavi berusaha membujuk dan menenangkan Bintang. Dia jadi merasa tidak enak pada keluarga Liana.


"Nggak mau! Pokoknya ikut!!" teriak Bintang.


" Ya, sudah, Bintang boleh ikut Aunty ke Jogja. Tapi ingat, kamu harus janji bakal nurut sama Aunty Lili dan Tante Ghavi," putus Lian.


Ayah dua anak itu merasa kasihan melihat anak pertamanya itu terus saja menangis merengek pada aunty-nya.


"Tapi, Sayang ak ... "


Belum sempat Ane memprotes, sang papah memotong.


"Biarkan saja Bintang ikut aunty-nya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada cucu Opa, biar nanti Opa yang tanggung jawab. Memangnya kamu tidak kasihan melihatnya terus menangis sampai sesenggukan begitu?!"


"Tapi, Pah,"


Ane memprotes lagi.


"Lili, Ghavi, Papah percayakan Bintang pada kalian. Baru kali ini Papah berkeras hati mendukung cucuku yang ganteng ini," ujarnya sembari mengelus pucuk kepala cucunya yang masih sesenggukan, tanpa mempedulikan protes dari sang menantu.


"Yes!! Ok, Papahku yang baik hati."


Liana memeluk papahnya senang.


" Iya, Pah! Ghavi janji akan jaga Bintang baik-baik," Ghavi menimpali.


"Maaf, Kak Ane, kami bawa Bintang bersama kami ke Jogja."


Ane hanya melengos lalu berlalu pergi menuju kamar tanpa membalas Ghavi. Memburu Bul-Bul, putrinya yang rupanya menangis saatbangun dari tidurnya tidak melihat orang tuanya.


Akhirnya Ghavi dan Liana memngajak Bintang ikut bersama mereka.


Liana pun segera kekamar Bintang mengambil perlengkapan bocah itu selama pergi.


"Yess! Akhirnya misi kita berhasil, Sayang. Akting kamu hebat, Boy!"

__ADS_1


Liana bertos ria dengan keponakannya saat mereka sudah berada dalam perjalanan.


"Siapa dulu, dong, Bintaaang. Hihihi ...!" kikiknya disela sesenggukannya.


"Maksud kalian misi apa? Dan ... akting?!" tanya Ghavi bingung.


"Hahaha ...!"


Liana tergelak sambil mengangkat tubuh Bintang dan membawanya kepangkuannya.


"Jadi begini ..."


Liana pun menceritakan percakapannya dengan keponakannya semalam.


#Flashback on


Tok


Tok


Tok


Liana mengetok pintu kamar keponakannya.


" Sayang, ini Aunty! Boleh masuk, nggak?!"


Liana yang mempunyai misi itu sengaja menemui Bintang saat anggota keluarganya sedang makan malam.


Bintang yang sedang merajuk tidak ikut bergabung untuk makan malam. Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Liana.


"Biar Lili saja yang mengantar makan malam ke kamar Bintang."


Liana mencegah kakak iparnya yang hendak membawa makan malam untuk anaknya dikamar.


Diambilnya nampan dari tangan Ane.


"Masuk, Aunty, tidak dikunci!"


Terdengar jawaban dari dalam kamar.


"Sayang, ini makan malam dulu, ya," bujuk Liana saat sudah didalam.


"Bintang nggak mau, Aunty," jawabnya lesu.


"Bintang dengerin Aunty. Bintang mau ikut Aunty, kan?!"


"Mau, mau, mau!!!"


Dengan antusias Bintang mengangguk.


"Kalau mau ikut Aunty, Bintang harus dengerin apa yang mau Aunty sampaikan."


Liana mulai menjalankan misi.


"Begini, besok pagi-pagi sekali Aunty akan bersiap. Nah, kamu harus merajuk terus sama orang rumah. Jika perlu ancam mereka biar mau ijinin Bintang ikut sama Aunty, ok?! Pokoknya kalau perlu kamu mesti nangis yang kencang biar mereka kasihan dan pada akhirnya ngijinin Bintang."


"Ok, Aunty. Pokoknya besok Bintang harus ikut," jawabnya setuju.


" Kalau begitu sekarang kamu makan dulu, ya. Sementara itu Aunty siapin keperluan kamu dalam tas ini."


Liana menunjukkan tas sekolah Bintang diatas meja belajar.


"Siip!! Aunty memang terbaik. Hehe ...!" kekeh Bintang disela makannya.


"Jelas, dong, siapa dulu ... Aunty Lili."

__ADS_1


Liana membusungkan dadanya bangga.


"Sekarang kamu tidur, ya, biar besok tidak kesiangan untuk menjalankan misi kita."


Bintang pun menurut setelah kembali ber tos. Bocah kecil itu tidak sabar menunggu esok pagi. Buru-buru dipejamkan matanya demi keberhasilan misinya.


#Flashback off


"Dasar aunty tidak ada akhlak. Hahaha ...!"


Ghavi tertawa mendengar cerita Liana. Begitu juga dengan Pak Yoyon yang sedari tadi fokus menyetir sambil mendengarkan obrolan mereka.


"Kasihan sekali Den Bintang," komentarnya.


" Iya, betul kata Pak Yoyon! Anak sampai sembab sesenggukan begitu, kok dibilang akting. Ck ...!"


Ghavi berdecak sambil menggelengkan kepala ikut menanggapi komentar Pak Yoyon.


" Hehe ...! Itu namanya totalitas dalam berakting, tahu. Ya, kan, Sayang."


Liana terkekeh sembari memeluk Bintang dipangkuannya.


Bocah itu hanya mengangguk mengiyakan. Benar-benar sudah tercuci otaknya itu bocah.


Akhirnya, setelah delapan jam perjalanan, rombongan Ghavi sampai juga dirumah peninggalan Eyang Sosro yang sekarang dihuni oleh keluarga Bi Mirna.


Perjalanan mereka sedikit terlambat dari perkiraan perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh dengan waktu enam setengah jam itu. Pak Yoyon memelankan kecepatan laju mobil karena Bintang ingin menikmati pemandangan selama dalam perjalanan.


Bintang juga sering meminta berhenti ditempat-tempat yang menarik menurutnya, untuk sekedar melakukan selfie. Bocah itu juga meminta aunty-nya mengirimkan hasil cepretannya pada orang rumah tanda perjalanannya baik-baik saja dan menyenangkan.


"Bibiii ...!" teriak Ghavi begitu turun dari mobil.


Dilihatnya Bi Mirna sedang menyapu halaman rumah yang masih terlihat sama setelah empat tahun berlalu dia tinggalkan.


"Non Ghaviii ...!" pekik Bi Mirna langsung melempar sapu lidi.


Wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh menyambut cucu almarhumah mantan majikannya.


"Bibi sehat?" tanya Liana yang ikut turun dari mobil, berdiri dibelakang Ghavi.


"Alhamdulillah, sehat. Eh, Non Lili. Lama tidak ketemu makin terlihat cantik saja," godanya sambil menyalami Liana.


"Bibi bisa saja."


Liana tersenyum.


"Sayang, ini Bibi Mirna. Kasih salam sama Bibi," perintahnya pada Bintang.


"Eh, ini siapa, Non?! Ganteng sekali," tanya Bi Mirna menyambut uluran tangan bocah lima tahun tersebut.


"Saya Bintang, Bibi. Terima kasih!"


Bintang pun tersipu malu mendengar pujian dari wanita paruh baya didepannya.


"Mari, mari, silakan masuk!" ajak Bi Mirna pada Ghavi dan yang lain.


"Pak Yoyon apa kabar? Istri sehat, kan?!" sapanya begitu Pak Yoyon selesai menurunkan koper majikannya dan membawanya ke teras.


"Seperti yang Bibi lihat, saya sehat. Istri juga sehat, alhamdulillah," jawabnya tersenyum


"Syukurlah!"


Bi Mirna mengikuti rombongan dari ibu kota itu setelah mengambil sapu lidi yang digunakan unruk menyapu halaman tadi.


Wanita setengah abad itu bergegas ke dapur untuk menghidangkan minuman dan cemilan untuk tamu jauhnya, sementara tamunya beristirahat di ruang tamu.

__ADS_1


Bintang yang kelelahan karena baru pertama kali melakukan perjalanan jauh itu langsung tepar di sofa panjang dengan berbantalkan paha Ghavi yang juga terlihat lelah.


Sementara itu Liana langsung menghubungi orang rumah memberitahukan jika mereka sudah sampai tujuan dengan selamat.


__ADS_2