Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
" Bisakah kita memulainya lagi dari awal?!"


__ADS_3

Ghavi melenguh sembari memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Enghh!! Ssshh!!"


Dipijitnya pelipisnya berharap pusing dikepalanya segera hilang.


"Vi! Kamu sudah sadar?" tanya Liana yang baru saja masuk.


"Aku dimana?!"


Ghavi mengamati ruangan yang terlihat bercat putih. Dia juga baru menyadari jika ternyata tangan kirinya terpasang selang infus sebab tadi memijit pelipis menggunakan tangan kanan.


"Kamu di rumah sakit, Vi! Tadi kamu pingsan waktu di panti. Sudah satu jam tidak sadar-sadar juga, akhirnya kamu dibawa kesini."


Liana meletakkan tas plastik yang dibawanya dan mengambil satu cup jus jambu alpukat dan menyodorkannya pada Ghavi setelah menancapkan sedotan.


"Kata dokter, kamu anemia makanya gampang pusing. Jadi, dokter nyaranin kamu untuk mengkonsumsi makanan yang berzat besi tinggi, serta buah yang banyak mengandung vitamin C dan E. Ini, aku belikan kamu jus alpukat!"


"Tolong bantu aku duduk, Li! Kepalaku sangat pusing," pinta Ghavi berusaha bangun.


"Ngapain bangun?! Tinggal ranjangnya saja yang dinaikkan. Maksa amat."


Bukannya menyambut uluran tangan sahabatnya, Liana justru membungkuk dan memutar ranjang agar menjadi setenhah duduk.


"Hehe ...!"


Ghavi terkekeh.


Gadis itu tidak terpikir jika ranjangnya bisa dinaik turunkan sesuai keinginan pasien.


"Oh, ya, Bintang mana?"


Ghavi baru teringat soal bocah menggemaskan yang selalu bikin kangen itu.


"Aku tinggal di Panti! Tadi dia tertidur saat nungguin kamu. Jadi, pas kamu aku bawa kesini dia akuntitipin ke Pak Dinar dan anak-anak. Nanti kalau dia bangun langsung diantar kemari."


"Oh!"


Ghavi hanya ber "oh" saja tidak lagi banyak bertanya.


"Kenapa tidak dihabiskan?"


Liana melihat Ghavi meletakkan cup jus alpukatnya di meja samping ranjang.


"Kenyang!"


"Vi!" panggil Liana sesaat setelah melihat ponsel.


"Ya?!"


"Bintang sedang diantar kemari! Tapi anak itu tidak diijinkan masuk oleh petugas rumah sakit. Katanya untuk menghindari tertular penyakit. Apa aku boleh pergi?! Aku harus mengantarkan bocah itu pulang. Lagipula tubuhku juga sudah lengket ingin segera mandi," ujar Liana.


"Oh, kalau begitu kamu pulang saja! Lagipula kasihan Bintang pasti capek setelah seharian puas bermain."


Ghavi menyuruh Liana pulang.


"Tapi, sementara kamu sendiri dulu tidak apa-apa, kan?! Tadi aku sudah menghubungi Bu Yoyon dan memintanya kesini."

__ADS_1


Sebenarnya Liana ingin sekali menunggui sang sahabat sampai Bu Yoyon datang. Tapi apa daya, dia juga tidak mungkin membiarkan Bintang terlalu lama menunggunya di parkiran bersama orang panti.


"Maaf, ya!"


Liana menggenggam tangan Ghavi sebagai permintaan maaf.


"Tidak apa-apa! Toh, aku bisa memanggil suster jika aku membutuhkan sesuatu."


Ghavi membalas genggaman Liana sambil menampilkan senyum lebarnya.


"Ya, sudah, aku pulang dulu, ya! Besok pagi sebelum berangkat kerja aku kesini lagi."


Liana pun memeluk Ghavi sebelum meninggalkan ruangan Ghavi dirawat.


Liana baru saja menutup pintu kembali saat dilihatnya dua orang laki-laki tampak menuju kearahnya.


" K-Kau di sini?!" tanya Liana sedikit terkejut melihat kedatangan orang itu.


"Ya! Tadi aku juga yang membawa serta Bintang kemari. Anak itu ada dimobilku sekarang bersama putriku dan pengasuhnya," ujarnya datar.


"Oh! Terima kasih kalau begitu!"


Liana membungkukkan badannya tanda terima kasih.


Liana tidak tahu kalau orang yang sudah mengantar Bintang ke rumah sakit adalah dia.


Tadi saat dirinya menelpon kepanti untuk memberitahukan keadaan Ghavi, Pak Dinar mengatakan bahwa orang panti yang akan mengantarkan keponakannya.


"Aslan, antar putriku pulang! Antar juga Nona Liana dan keponakannya," perintahnya pada sang asisten yang menangguk hormat.


"Baik, Pak!"


"Aslan!"


Orang itu memanggil asistennya dengan tegas, tanpa mempedulikan penolakan dari Liana.


"Segera, Pak!" jawab Aslan membungkuk.


"Mari, Nona!" ajaknya menyuruh Liana berjalan mengikutinya.


"Ba-baiklah! Terima kasih banyak!"


Liana kembali membungkuk.


"Berterima kasihlah pada Aslan, karena dia yang akan mengantar kalian pulang. Orang cacat sepertiku tidak bisa mengendarai mobil," balas orang itu sedikit ketus.


"Eh!"


Liana terkejut mendengar ucapannya.


"Maaf, Mas, aku tidak bermaksud untuk ..."


"Mari, Nona! Kita harus pulang sekarang!"


Aslan mencoba menetralkan suasana hati bossnya yang sedang tidak baik.


"Baiklah!"

__ADS_1


Liana pun berlalu mengikuti Aslan yang berjalan cepat didepannya.


Dihatinya, terbersit rasa tidak enak pada orang tadi. Gadis itu benar-benar tidak bermaksud menyindirnya. Dia tulus meminta maaf karena sudah mengijinkan sang asisten untuk mengantarnya pulang.


Sepeninggalnya Liana dan Aslan, laki-laki itu pun segera melanjutkan tujuannya. Saat sudah sampai didepan sebuah ruang rawat, didorongnya pintu dengan pelan. Laki-laki itu mencoba tidak mengganggu istirahat si pasien.


Namun, begitu pintu sudah terbuka lebar, matanya justru bersirobok dengan mata si pasien yang kebetulan mengarah kearah pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


Tatapan keduanya pun terkunci. Cukup lama keduanya saling tatap dengan pikiran dan perasaan masing-masing.


"Kau sudah terlihat jauh lebih baik."


Orang itu mencoba mencairkan suasana beku yang sempat tercipta diantara keduanya. Berusaha memutuskan pandangan dari tatapan mata sendu didepannya.


Dia mendekat kearah ranjang pasien yang ternyata seorang gadis.


"Ss-seperti yang Anda lihat, Pak!" jawab si gadis dengan gugup.


Laki-laki itu tersenyum sinis.


"Apa karena sudah terlalu lama tidak bertemu kau jadi lupa namaku?! Atau ... karena keadaanku sekarang yang membuatmu melupakanku??"


Laki-laki itu menatap tajam manik mata orang yang sedang duduk terbaring didepannya.


"Memangnya Anda siapa?!" tanya si gadis.


Dia sudah kepalang basah berpura-pura, maka dia memutuskan untuk terus berpura-pura.


" Haha ...!"


Si laki-laki tertawa sumbang.


"Jadi kau benar-benar tidak tahu siapa aku?!" tanyanya memicing.


"Baiklah! Akan aku perkenalkan siapa diriku ini. Aku harap, setelah aku memperkenalkan diri, kau akan dapat mengingatku kembali," lanju laki-laki itu kemudian berdehem.


"Ekhm!! Perkenalkan! Namaku Handy Darmawan, putra dari Rudi Darmawan. Aku pernah dijodohkan dengan seorang putri tunggal dari sahabat bapakku yang bernama Umar Wicaksono. Nama gadis itu adalah Ghavina Putri Umar. Namun, karena sebuah kesalahan bodoh yang kulakukan, aku terpaksa mencampakkannya dan justru menikah dengan wanita licik. Dan karena keegoisanku jugalah dia justru pergi meninggalkanku dengan rasa sakit hati setelah aku memintanya untuk bersabar menungguku bercerai dengan istriku saat anak kami sudah lahir. Tentu saja dia harus meninggalkan laki-laki brengsek sepertiku. Bahkan, demi menghilangkan rasa sakit hatinya itu, dia sampai menutup mata dan telinganya mengenai kehidupanku."


Ya. Laki-laki itu adalah Handy Darmawan. Dan orang yang kini sedang berbaring sebagai pasien itu adalah Ghavi.


Handy berhenti sejenak untuk meredam sesak didadanya yang terasa menghimpit.


Dia juga melihat dari sudut matanya kalau Ghavi juga tengah merasakan hal yang sama. Bahkan, dilihatnya gadis itu meneteskan air mata. Menangis.


"Aku ingin sekali menebus kesalahanku dimasa lalu. Tapi, melihat kondisiku yang seperti sekarang ini, aku tidak yakin dia mau kembali lagi padaku. Jangankan mau kembali, mengingatku saja tidak lagi."


Laki-laki itu pun terisak. Jebol sudah air mata yang mati-matian ia tahan kala mengingat betapa b*engs*knya dia dulu. Dia yang meminta gadis itu untuk menjadi miliknya, namun dia juga yang mencampakkannya.


"Maaf!" cicit sang Ghavi disela isak tangisnya.


"Tidak, tidak! Kau tidak bersalah, jadi kau tidak perlu meminta maaf," sergah Handy cepat.


"Justru yang salah disini adalah aku. Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu."


Handy semakin mendekat kearah ranjang. Dengan sedikit keberanian, digengamnya jemari tangan Ghavi yang bebas dari infus.


"Vi, aku tahu sudah terlalu banyak hal yang kulakukan yang sangat mengecewakanmu bahkan menyakitimu. Aku sadar, kesalahanku tidak lagi termaafkan. Tapi, ijinkan aku meminta maaf padamu. Kumohon, maafkan semua kesalahanku! Ampuni aku! Dan jika boleh, ijinkan aku menebus semuanya. Bisakah kita memulainya lagi dari awal?!"

__ADS_1


## Sudah dulu, ah!


Aku, kok jadi ikutan mewek nulis part ini, ya?! Serasa ikut hadir menyaksikan keduanya.


__ADS_2