Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Telpon tengah malam


__ADS_3

"Kami turut berduka cita, Vi. Semoga amal ibadah Eyang Sosro diterima disisiNya. Kamu yang tabah, ya," ujar Lian mewakili keluarganya.


"Maaf, mama dan papa tidak bisa hadir. Mereka titip salam untukmu," lanjutnya.


"Iya, tidak apa-apa! Terima kasih kalian sudah mau datang," ujar Ghavi duduk disebelah Liana dan Lian.


Gadis itu baru saja berganti pakaian. Sementara Harry sudah pamit lebih dulu untuk mengganti pakaian yang juga basah.


Yang tersisa dirumah itu tinggal Risa, Bi Marni, Kakak beradik Lian dan Liana serta Ghavi.


Aksan juga sudah pulang karena harus mengantar ibunya ke Solo untuk menghadiri acara keluarga disana.


"Kak Ane kenapa tidak ikut?" tanya Ghavi karena kedatangan tamunya kali ini hanya berdua saja.


"Kak Ane sedang tidak boleh melakukan perjalanan jauh. Dia, kan lagi hamil muda. Rentan kalau melakukan perjalanan jauh yang memakan waktu berjam-jam," jelas Liana.


"Oh, iya, lupa," tukas Ghavi.


Gadis itu sudah diberitahu Liana lewat pesan beberapa hari lalu saat keduanya melakukan chating.


"Oh, ya?! Wah, selamat, Kak Lian! sebentar lagi punya baby dan jadi ayah, dong," celetuk Risa yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi cangkir teh dan cemilan yang Liana bawa dari ibu kota.


"Mari, silahkan diminum tehnya," lanjut Risa ikut duduk diseberang Ghavi.


"Terima kasih!" balas Lian tersenyum.


"Berarti kamu bakal punya saingan, dong, Li. Kak Lian bakal lebih fokus sayang dan perhatian pada si baby nanti timbang sama kamu," ledek Ghavi sambil menoel pipi sahabatnya itu.


"Ish, apaan, sih, Vi. Lihat saja nanti. Kalau misal si baby udah launching dan bakal lebih disayang daripada aku, lihat saja. Aku nggak bakal mau disuruh jagain," ancam Liana manyun.


"Hahaha ...!" gelak Lian.


"Belum launching aja sudah diancam-ancam begitu, gimana nanti kalau sudah lahir beneran, ya?!!"


"Kita lihat saja nanti!" timpal Liana.


Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Kini jam didinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Sudah malam, Vi! Aku sama Ibu pamit pulang dulu, ya," pamit Risa unrud diri.


"Eh, kenapa tidak menginap saja disini? Masa kalian tega tinggalin aku sendiri dirumah?!" rajuk Ghavi mencegah kepulangan Risa.


"Kalau kami tidak pulang, nanti adik-adik dirumah sama siapa??"


"Mm ..., begini saja. Kamu jemput adik-adik suruh tidur disini juga, ya. Biar rumah tidak sepi," usul Ghavi.


"Kan, sudah ada Liana sama Kak Lian," kilah Risa lagi.


"Ya, masa kamu tega, sih, Ris. Ini, kan malam pertama kepergian Eyang. Pokoknya kamu jemput adik-adik kesini. Titik!" pungkas Ghavi.

__ADS_1


"Biii!!" teriak Ghavi pada Bi Mirna yang baru saja selesai beberes dibelakang.


"Yaa, Non! Ada apa?" tanyanya datang tergesa-gesa saat mendengar namanya dipanggil.


"Itu, Si Risa tadi pamit pulang, katanya sama Bi Mirna, ya?"


"Eh, iya, Non! Kenapa memangnya?!"


"Malam ini kalian tidak usah pulang. Biar adik-adik dijemput Risa saja suruh ikut tidur disini, ya," mohon Ghavi dengan kedua tangan mengatup.


"Tapi, Non,"


"Please, Bi! Masa Bibi tega sama aku, sih," rengeknya.


" Ya, sudah. Kami menginap disini malam ini. Risa, kamu jemput adik-adikmu, ya, Nduk!" perintah Bi Mirna pada putri sulungnya.


"Baiklah!"


Akhirnya Risa mengalah.


"Ok! Kak Lian kalau mau istirahat dikamar tamu, ya. Biar nanti Liana tidur dikamar aku bareng Risa juga. Sementara Bibi tidur dikamar belakang dengan adik-adik," ujar Ghavi memberi ultimatum.


"Kalau gitu Kakak ke kamar dulu, ya, capek mau istirahat," pamit Lian beranjak menuju kamar tamu.


"Iya! Selamat istirahat, Kak!" ucap Liana dan Ghavi bareng.


Lima belas menit kemudian Risa kembali bersama adik-adiknya yang terlihat sangat mengantuk.


Ketiga gadis itu pun akhirnya terlelap dengan pulas setelah bergantian mencuci muka.


Saat tengah malam, Ghavi terbangun karena dikejutkan oleh bunyi ponselnya yang berada diatas nakas samping ranjang.


"Hallo!" jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hallo! Vi, maaf mengganggu malam-malam. Barusan Harry mengirim pesan dan mengatakan kalau ... ," jeda sejenak.


"Maaf, aku tidak ada disampingmu disaat kamu butuh seseorang disamping kamu," lanjut suara dari seberang.


"Tidak apa-apa! Ada Mas Harry yang menemaniku," sahut Ghavi datar.


"Maaf!"


"Untuk?"


"Karena aku belum bisa datang. Aku sedang di Kalimantan sekarang,"


"Oh!"


"Vi, belum tidur?!"

__ADS_1


"Tadi sedang tidur, tapi tiba-tiba saja ponselnya bunyi dan ganggu," ucapnya jujur.


"Maaf!"


"Hm!"


"Ya, sudah, tidur saja lagi. Besok kalau sudah sampai aku langsung kerumah," perintahnya.


"Tidak juga tidak apa-apa. Aku tahu Bapak orang sibuk," ketus Ghavi.


"Bukan maksudku seperti itu, Vi. Tapi, aku benar-benar tid ...,"


"Hoam ...! Maaf, aku masih ngantuk mau tidur lagi," putus Ghavi sebelum suara diseberang menyelesaikan kalimatnya.


"Baiklah, selamat istirahat!"


Tuutt!


Panggilan terputus. Ghavi melempar asal ponselnya dan jatuh ke lantai hingga menimbulkan bunyi. Braakk!


"Vi, kamu kenapa? Siapa yang telpon barusan?!" tanya Risa heran.


Gadis itu terbangun karena mendengar suara benda jatuh yang ternyata ponsel Ghavi.


Saat hendak meletakkan ponsel ke meja nakas, dilihatnya Ghavi duduk dilantai yang beralaskan karpet. Bahunya turun naik dan suaranya sesenggukan karena menangis.


"Kamu nangis?!" tanya Risa seraya beranjak mendekati Ghavi dilantai bersandarkan ranjang.


"Bukan siapa-siapa!" jawabnya sambil menggeleng pelan.


"Kamu yakin tidak apa-apa?!" tanya Risa meyakinkan.


Tangis Ghavi pecah juga akhirnya. Dia pun meluapkannya dalam pelukan Risa.


"Dia, Ris, dia ... hiks," tangis Ghavi makin sesenggukan.


"Dia tidak datang ke pemakaman eyang karena, karena ... dia di Kalimantan, Ris. Huuuu ...."


"Sstt!! Sudahlah! Jangan berpikir macam-macam. Mungkin dia disana memang karena urusan pekerjaan. Jangan dipikirkan!" hibur Risa mengelus rambut sebahu Ghavi.


"Ta-tapi,"


"Sstt! Sudahlah, Vi! Masih sangat larut. Sebaiknya kita tidur saja lagi, ya. Kasihan Liana kalau dia sampai terbangun karena dengar suara tangis kamu. Dia, kan baru saja melakukan perjalanan jauh, pasti dia lelah."


Risa pun menuntun Ghavi keranjang agar kembali tidur. Gadis itu menurut saja setelah berhasil menyusut air mata dan menenangkan hatinya.


"Tidurlah! Kamu juga pasti lelah karena seharian ini menemui tamu-tamu. Apalagi tadi sore kamu juga lama berada dipemakaman sampai kehujanan. Aku tidak mau kamu jatuh sakit karenanya," perintah Risa.


Orang yang sudah dianggapnya keluarga itu pun menyelimuti tubuh Ghavi dan menyuruhnya tidur.

__ADS_1


Akhirnya keduanya kembali tertidaur dan baru bangun setelah jam enam pagi. Itu pun setelah dibangunkan Liana yang mengajaknya keluar kamar sebab Bi Mirna sudah memanggil mereka bertiga untuk segera turun ke ruang makan untuk sarapan.


__ADS_2