Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Tidurlah dengan tenang dan bahagia


__ADS_3

Sesampainya dipanti, Ghavi disambut raut khawatir para pengurus panti.


" Ada apa ini, Bu, apa yang terjadi?" tanya Ghavi bingung melihat orang-orang tampak sedih.


Bahkan anak-anak yang biasanya ceria menyambutnya pun hanya diam ditempatnya masing-masing tanpa ada minat menyambutnya seperti biasanya.


" Bu Nita, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian terlihat sedih begitu?!"


Ghavi meluhat semuanya dengan wajah bingung.


" Itu, Non, Rindu ...," Bu Nita tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.


" Rindu kenapa, Bu, apa yang terjadi dengannya?"


Mendengar nama Rindu, perasaan Ghavi jadi tidak menentu. Ada rasa khawatir juga dalam dirinya mengingat kondisi kesehatan anak itu yang sudah semakin menurun.


" Semalam Rindu drop dan dibawa ke rumah sakit. Sekarang dia berada di ICU. Pak Wisnu dan Pak Danar sedang menungguinya," jelas Bu Nita sambil menangis.


" Oh!" Ghavi terpekik kaget.


Tubuhnya lemas seketika. Tapi sebelum luruh kelantai, Liana sudah menyangganya dari belakang. Gadis yang sejak tadi diam saja itu kini bersuara.


" Ghavi!" pekiknya menangkap tubuh lemah Ghavi yang pingsan begitu mendengar kabar Rindu.


" Tolong bantu aku membaringkannya," perintah Liana pada Bu Nita.


Ghavi pun dibaringkan disofa ruang tamu biasanya donatur dan orang-orang datang berkunjung.


Lima belas menit kemudian gadis itu tersadar setelah hidungnya dibaui minyak gosok.


" Aku kanapa?!" tanyanya linglung.


Dipegangnya kepalanya yang sedikit berat dan pusing. Perlahan Ghavi duduk dari baringnya.


" Kau baru saja pingsan," ujar Liana yang duduk disatu sofa yang sama.


Ghavi pun teringat kembali penuturan Bu Nita jika Rindu sedang drop dan dirawat di ICU.


" Bagaimana keadaannya sekarang?!"


Ghavi berpaling menatap Bu Nita yang duduk diseberangnya. Tampak ruangan sudah sepi. Anak-anak sudah dibubarkan untuk kegoliatan bersih-bersih siang hari itu.


" Baru saja tadi Pak Wisnu telpon, Rindu kembali drop. Jika dia tidak segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang, nyawanya bisa terancam."


Bu Nita menahan napas berat saat menyelesaikan kalimatnya.


" Oh!"


Lagi-lagi Ghavi terpekik mendengar kabar tentang keadaan Rindu.


Air matanya mengalir begitu deras dipipinya.


" Kamu yang sabar, ya, semua akan baik-baik saja," Liana menggenggam tangannya memberikan dukungan.


" Aku mau menyusul ke rumah sakit," ceketuk Ghavi.


" Tapi, kamu masih lemas dan pucat," ujar Liana.


" Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing, nanti juga sembuh sendiri," keukeuh Ghavi.


" Baiklah, ayo! Aku akan menemanimu kerumah sakit," putus Liana akhirnya.


" Tidak! Aku sendiri saja. Bukankah siang ini kau harus pulang?!" tolak Ghavi.


" Itu bisa setelah dari rumah sakit," elak Liana.


" Terserah kamu saja. Kalau begitu, ayo!"


Ghavi pun bangkit dari sofa dan segera pamit pada Bu Nita.


" Hati-hati! Maaf, Ibu tidak bisa meninggalkan anak-anak sendirian," ujar Bu Nita.


" Tidak apa-apa, Bu. Kami permisi," pamit Ghavi meninggalkan panti.


***


Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Ghavi terlihat diam.


Pikirannya melayang-layang saat kejadian kemarin.


Ya. Baru kemarin dia dan Handy diminta menjadi orang tua sehari bagi Rindu, menemani gadis itu untuk pergi jalan-jalan ke mall dan makan bersama.


Ah, hati Ghavi mencelos mengingat Handy. Baru kemarin juga laki-laki itu meminta dirinya untuk menganggap Rindu sebagai anak mereka, sekalian latihan sebelum mengurus anak kandung mereka, katanya.


Bahkan, melamarnya dimobil sepulangnya mengantar Rindu, meminta dirinya untuk segera menikah dengan laki-laki itu.


Tapi, laki-laki itu rupanya lupa dengan semua itu. Dengan gampangnya dia berucap dan menghempaskan harapannya.

__ADS_1


Melihatnya jalan berdua dengan seorang wanita bergelayut manja dilengannya, hati Ghavi merasa tertusuk. Kenapa? Mungkinkah dia sudah mulai menaruh hati padanya?! Bukankah mereka baru kenal dekat satu bulan terakhir ini, mungkinkah rasa cinta bisa tumbuh secepat itu?!


" Vi, kau kenapa?"


Liana membuyarkan lamunannya.


" Eh, oh, tidak! Aku hanya sedang memikirkan Rindu," jawab Ghavi tergagap.


" Kau masih mau mencari gaun pesanan gadis kecil itu? Siapa tahu itu akan mengurangi rasa sedihmu karena sudah memenuhi keinginannya," ujar Liana mengingatkan.


" Oh, iya! Berhanti di toko depan, Pak!" perintah Ghavi saat melihat toko boneka tak jauh beberapa meter didepan mobil yang dikendarai Pak Yoyon.


" Baik, Non!"


Pak yoyon memarkirkan mobilnya dibahu jalan dan membiarkan Ghavi dan Liana masuk ke toko boneka. Dia sendiri menunggu dimobil.


" Kau mau cari apa kesini, bukankah Rindu meminta gaun?" tanya Liana heran.


" Sudah, diamlah! Nanti kau juga tahu. Ayo!"


Ghavi menarik lengan Liana. Sedikit menyeretnya memasuki toko boneka yang sudah didatanginya beberapa hari lalu saat bersama Handy.


" Permisi! Mbak, kemarin dulu aku datang kemari membeli boneka Elsa sebesar ini, disini," tunjuknya pada boneka frozen sebesar anak kecil yang dipajang dietalase dekat pemilik toko.


" Kemarin kau bilang ada gaun untuk ganti boneka Elsa, apa masih ada?!" tanyanya semangat.


Ya. Ghavi baru ingat jika beberapa hari lalu dia pernah membeli boneka Elsa untuk Rindu bersama Handy saat hendak berkunjung kepanti.


Waktu itu pemilik toko bilang ada gaun untuk mengganti bonekanya, tapi waktu itu Ghavi menolak. Sekarang dia ingat dan bermaksud membelinya untuk Rindu.


Meskipun untuk Rindu sendiri belum dapat, paling tidak dia bisa mengurangi sedikit rasa bersalahnya akan janjinya kemarin.


Karena entah kenapa, hati kecilnya mengatakan Rindu akan pergi jauh. Mungkinkah?!


Ghavi menitikkan air matanya mendengar si pemilik toko masih mempunyai stok gaun pengganti untuk boneka Elsanya. Dia sendiri tidak tahu kenapa air matanya menitik.


Apakah dia menangis bahagia karena gaunnyang dimaksudnya masih ada, ataukah menangis sedih karena hati kecilnya merasa sesuatu akan terjadi pada Rindu?! Ah!


" Terima kasih!"


Ghavi langsung melesat meninggalkan toko boneka sesaat setelah melakukan pembayaran.


Liana yang sejak tadi diam mengikuti hanya mampu menghela napas


" Huh!"


Ghavi sudah tidak sabar untuk segera bertemu Rindu. Dia tidak ingin terlambat datang menemuinya sebelum sesuatu terjadi dengannya seperti firasat dalam dirinya.


" Pak, Rindu dimana, dia baik-baik saja, kan?! Apa boleh aku menemuinya? Lihatlah! Aku membawa gaun Elsa pesanannya," cecar Ghavi menunjuk paperbag yang dibawanya.


Napasnya ngos-ngosan akibat berlari kencang seolah takut kehilangan moment.


Liana dan Pak Yoyon yang mengikutinya pun sama. Napas mereka terengah mengejar Ghavi. Entah makan apa anak itu. Dia bisa berlari kencang meski tubuhnya kecil mungil.


" Dia ada didalam, Pak Wisnu giliran menjaganya dan membantu doa. Rindu, Rindu semakin lemah," terang Pak Danar lirih.


Air mata menggenang dipelupuk matanya.


" Bisakah aku masuk?!" tanya Ghavi cemas begitu mendengar Rindu lemah.


" Silakan, tapi hanya Non Ghavi yang boleh masuk," ijinnya.


Liana dan Pak Yoyon mengangguk maklum. Mereka tahu jika ICU tidak boleh sembarang orang bisa masuk. Mereka yang masuk harus bergantian dan diwajibkan memakai pakaian khusus.


Ghavi mendekati ranjang Rindu setelah memakai jubah khusus dari rumah sakit.


" Kemarilah!"


Pak Wisnu mengajak Ghavi mendekat saat melihat gadis itu memasuki ruangan.


" Rindu, kakak datang!" sapa Ghavi lirih.


" Ma-ma, Mama datang?!" ucap Rindu terbata sesaat dia membuka matanya mendengar suara Ghavi.


" Eh, iya, Sayang. Kakak, em, Mama sudah datang. Maaf, Mama baru kesini. Mama baru mencari gaun pengganti untuk Elsa. Maaf, ya, karena belum mendapatkan gaun yang untuk Rindu," ujar Ghavi sesak


Dilihatnya Rindu dengan miris. Alat-alat dan beberapa selang terpasang ditubuh kurus Rindu yang kian melemah.


Gadis itu mengangguk. Matanya mencari-cari seseorang yang belum dilihatnya.


" Ma, Papa mana?!" pertanyaan Rindu lolos saat tidak dilihatnya Handy diruangan itu.


" Em, Papa, dia, " jawab Ghavi tergagap.


Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia sendiri orang itu ada dimana sekarang. Setelah dilihatnya di mall tadi, Ghavi tidak menghiraukan panggilan telpon maupun pesannya.


" Papa disini, Sayang!"

__ADS_1


Suara seorang laki-laki terdengar memasuki ruangan. Langkahnya terburu-buru sambil mengenakan jubah khusus.


" Papa, kau sudah datang," cicit Rindu lirih.


Raut wajahnya berubah cerah seketika melihat orang yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya itu datang menjenguknya.


" Iya, Sayang!" jawabnya mendekati ranjangdan berdiri disamping Ghavi.


" Maaf!" kata itu melesat dari bibirnya entah untuk apa dan siapa.


Ghavi hanya terdiam dan bungkam. Hatinya masih sedikit kesal dan sakit mengingat kejadian tadi siang.


" Rindu senang kalian datang," ucapnya tersenyum, lebih tepatnya meringis.


Mungkin menahan sakit yang dideritanya.


" Iya, kami sudah datang. Jadi, Rindu harus sembuh, ya," hibur Ghavi memaksakan diri tersenyum, meski dadanya sesak.


"Ma, boleh Rindu pakai gaun Elsanya?!" ujarnya memohon.


" Eh, tapi," Ghavi ragu.


" Boleh, ya," rajuknya.


Ghavi menatap perawat dan Pak Wisnu yang berdiri di meja pengawasan. Sang perawat pun mengangguk pelan.


Pak Wisnu sebenarnya hendak keluar ruangan begitu Handy masuk, namun perawat mencegahnya menggeleng.


Laki-laki itu pun tanggap dan memutuskan berdiri disamping dua perawat diruangan tersebut.


" Baiklah! Tapi Rindu tidak bisa memakainya dengan sempurna karena terhalang alat-alat ini. Tapi meski begitu, kamu tetap terlihat cantik, kok," ujar Ghavi membuka paperbag dan mengambil gaun Elsa.


Gadis itu menempelkannya didada Rindu dengan hati-hati takut merusak alat-alat yang memenuhi wajah dan tangan serta dada Rindu.


" Bisakah kita berfoto bertiga?!" pinta Rindu dengan sedikit tersengal.


" Baiklah! Sesuai permintaan anak Papa, kita akan berfoto. Pak Wisnu, boleh minta tolong fotokan kami sebentar?" kali ini Handy yang bersuara.


Pak Wisnu pun maju dan mengambil gambar ketinganya dengan ponselnya.


" Sudah!"


Pak Wisnu menyerahkan hasil jepretannya pada Handy yang langsung memperlihatkannya pada Rindu.


Rindu tampak puas dengan mengangguk melihat foto itu.


" Tolong cetak dan pajang diruang tamu panti, ya," pinta Rindu lagi.


" Iya, Nak! Nanti Bapak cetak dan pajang sesuai kemauan Rindu," ujar Pak Wisnu menimpali.


" Terima kasih. Sekarang aku bisa istirahat dengan tenang," ujar Rindu tersenyum.


Namun, senyum Rindu justru meruntuhkan pertahanan Ghavi. Air mata yang sudah berusaha keras ditahannya kini jebol.


Ghavi terguguk dipelukan Handy tanpa sadar. Dia sendiri tidak tahu kapan Handy memeluknya berusaha menenangkannya.


" Ssstt, jangan menangis. Kasihan Rindu," bisiknya ditelinga Ghavi hingga napasnya terhembus hangat.


Tangannya mengelus rambut sepundaknya dan bahunya bergantian.


" Ma, Pa!" panggil Rindu pelan.


" Terima kasih sudah mau menjadi orang tua bagiku. Aku bahagia, akhirnya aku bisa merasakan hangatnya pelukan ayah dan ibu, kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan selama ini," ujarnya menggenggam tangan Ghavi dan Handy.


" Sekarang aku bisa pergi dengan tenang dan bahagia," lanjutnya diantara sengalannya.


" Rindu!!" bentak Ghavi reflek.


" Jangan berkata seperti itu, Sayang! Tidak ada yang akan pergi kemanapun. Rindu pasti sembuh," Ghavi memelankan dan melembutkan suaranya sembari terguguk.


" Iya, Nak! Jangan berkata seperti itu, lihatlah, Mama jadi sedih mendengarnya," hibur Handy dengan tangan kiri memeluk Ghavi, tangan kanan menggenggam jemari kurus Rindu.


" Aku lelah, Ma, Pa! Bolehkah aku tidur sekarang?!"


" Tidak!" pekik Ghavi.


Dia merasa sesuatu akan terjadi pda Rindu jika gadis kecil itu tidur.


" Jangan tidur! Temani Mama ngobrol, ok?!" bujuk Ghavi ketika dilihatnya Rindu mulai memejamkan matanya.


Napasnya kini mulai tenang, bahkan cenderung melemah.


" Ma, Pa, apapun yang terjadi nanti, bertahanlah demi Rindu," pintanya sebelum benar-benar memejamkan matanya untuk selamanya.


" Rinduuuu!!" teriak Ghavi saat melihat mata gadis kecil itu benar-benar terpejam dan monitor di meja samping ranjang berbunyi dengan berisik dan memperlihatkan satu garis lurus yang menandakan Rindu baru saja pergi.


" Ya! Tidurlah dengan tenang dan bahagia," ujar Handy lirih menirukan kalimat terakhir Rindu yang menandakan perpisahannya dengan anak angkat mereka.

__ADS_1


Meskipun cuma satu hari kebersamaan mereka, namun Handy merasakan dadanya begitu sesak. Satu bulir air mata lolos dipipinya. Segera dihapusnya dan dikerjapkan matanya agar tidak lagi menetes.


__ADS_2