
"Kau baru pulang?!"
Handy bangkit dari duduknya begitu melihat orang yang ditungguinya kini berdiri di depan pintu.
Laki-laki itu berjalan kearah Ghavi. Dirinya bermaksud memeluk Ghavi, namun sebelum dia berhasil melakukannya, gadis itu sudah mundur ke belakang.
"Kenapa?" tanya Handy.
Laki-laki itu heran melihat sikap Ghavi yang terlihat jelas berusaha ingin menghindarinya.
Pandangan mata mereka pun saling bertemu dan mengunci. Dari masing-masing tatapan mata keduanya seakan ingin saling bicara satu sama lain.
"Kenapa kau hanya berdiri saja di pintu, Nduk?! Ayo masuk!"
Suara Eyang Sosro yang baru keluar dari ruang tengah menggunakan kursi roda yang didorong oleh Bi Mirna pun membuyarkan keduanya.
"Eh, i-iya, Eyang!" jawab Ghavi sedikit tergagap.
"Kamu baru pulang? Mana Aksan dan teman-temanmu?!"
Eyang Sosro melihat ke belakang cucunya, tapi tidak ada siapa pun disana selain cucunya sendiri.
"Oh, mereka sudah pulang ke hotel, Eyang! Besok pagi mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Sedang Mas Aksan tengah menyimpan mobil ke garasi. Oh, ini dia orangnya!" jawab Ghavi begitu Aksan muncul di belakangnya.
"Ooo!" sahut Eyang Sosro membentuk huruf O panjang.
"Selamat malam, Eyang!" sapa Aksan tersenyum.
Senyumnya perlahan pudar saat mendapati Handy yang duduk di sofa yang membelakanginya. Tampak didepannya duduk seorang wanita.
Aksan pun segera berjalan mendekati Handy untuk menyapanya. Sementara Ghavi mengekor dibelakangnya.
"Oh, ada Mas Handy rupanya, kamu apa kabar? Sudah lama tidak berkunjung," sapanya menyalami Handy.
Aksan lantas menjatuhkan tubuhnya disamping Handy. Tatapan matanya beralih kedepan, kearah wanita yang tengah duduk diseberang kursinya dan Handy.
"Apa dia temanmu?!" Aksan menunjuk wanita itu lalu menoleh kearah Handy.
"Aku baik. Iya! Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk," jeda sejenak.
"Ehm! Oh, dia Vika, patner kerjaku. Kebetulan tadi kami baru saja meninjau lokasi proyek di sekitaran Parangtritis. Pulangnya langsung kesini," jelas Handy pada Aksan.
Tapi pandangan matanya menatap Ghavi yang kini berdiri disebelah Aksan. Seolah-olah jawabannya tadi sengaja dia tujukan padanya.
Ghavi justru melengos saat Handy menatapnya. Hatinya masih terasa sakit atas apa yang sudah disaksikannya tadi petang.
__ADS_1
"Kenalkan! Aku Vika, patner kerja Handy sekaligus teman dekat Handy waktu kuliah dulu. Dan sekarang, kami sedang ketaraf hubungan yang lebih serius," jawab Vika tanpa mengulurkan tangan pada Aksan yang siap menyambutnya.
" Maksudnya dengan hubungan yang lebih serius itu apa?!" Aksan penasaran.
Aksan cukup terkejut mendengar penuturan Vika. Begitu juga dengan Ghavi dan yang lainnya.
"Yah, kami baru saja jadian tadi. Ya, kan, Sayang?!" jawab Vika menatap Handy seakan sengaja mengatakan hal itu didepan semua orang.
"Ehm!" Handy berdehem.
"Apaaa? Jadian?! Sa-sayang?!!" Ghavi terkejut.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya pada Handy.
Handy pun tampak terkejut sendiri mendengar pernyataan Vika barusan. Apalagi, gadis yang disukainya itu kini meminta penjelasan.
"Ahh, itu ...," jawabnya terbata.
Handy bingung, dia harus menjawab apa dan bagaimana?
Semua yang hadir disana juga terkejut, terutama Eyang Sosro.
"Bukankah tadi kau kenalkan pada Eyang bahwa dia itu rekan bisnismu?! Apa maksudnya dengan kata-katanya tadi?!!" Eyang Sosro shock mendengar jawaban wanita yang sejak awal kedatangannya tadi sudah membuat orang tua itu ilfil.
Laki-laki itu tidak mengira sama sekali jika Vika berani lancang mengatakan hal yang diluar kendalinya.
"Jawab dengan jujur, Handy! Jelaskan pada kami semua disini!" bentak Eyang Sosro keras.
Napas orang tua itu mulai terdengar tidak teratur.
"Emm, itu, itu ..."
Belum sempat Handy menjawab, Vika sudah menyambarnya lebih dulu. Bahkan kali ini jawabannya membuat kesalahan fatal bagi Handy.
"Itu benar! Kami baru saja jadian. Minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan. Bahkan, sekarang aku tengah mengandung anaknya," terang Vika dengan bangganya sambil mengelus pelan perut ratanya.
"Appaaa?!"
Semua yang hadir benar-benar shock kali ini, terlebih Eyang Sosro dan cucunya, Ghavi.
"Be-benarkah itu?" tanya Ghavi pada Handy meminta kebenarannya.
"Eh, itu ... Benar! Aku akan menikahinya minggu depan. Tapi, aku bisa jelaskan kejadiannya, Vi!" aku Handy pelan.
Hilang sudah ketegasan dan kewibawaan yang dimilikinya selama ini. Hanya karena kesalahan bodohnya, dia tidak berdaya didepan Ghavi dan juga yang lain. Wajahnya tertunduk dalam.
__ADS_1
"Maafkan aku, Vi!" cicitnya lirih.
" Kau, benar-benar keterlaluan, Handy! Teganya kau permainkan cucuku. Kau, beraninya kau ... pada ... cucuku," hardik Eyang Sosro.
Wanita renta itu jatuh pingsan setelah menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya jatuh merosot dari kursi roda ke lantai didepan Ghavi.
"Eyaaaangg!!" pekik Ghavi ketakutan.
Semua orang terkejut melihatnya, terutama Handy. Dia begitu merasa bersalah telah jujur dengan semuanya. Dia terpaksa melakukannya karena Eyang Sosro mendesaknya.
Seandainya saja Vika tidak sembrono didepan Eyang Sosro tadi, mungkin hal itu bisa dicegah. Tangannya mengepal kencang menahan marah. Marah pada Vika, juga marah pada dirinya sendiri yang kini tidak berdaya dihadapan Ghavi.
"Pergi kalian dari sini!" usir Ghavi pada Handy dan Vika.
"Gara-gara kalian, Eyangku jadi begini," ujarnya berderai air mata.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada beliau, aku akan menuntut balas, terutama padamu," ancamnya menunjuk Handy yang tengah diam terpaku.
"Mas Aksan, segera siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang," perintahnya pada Aksan yang berusaha menopang tubuh Eyang Sosro.
Ghavi mengambil alih tubuh eyangnya membiarkan Aksan menyiapkan mobil.
Sekembalinya dari menyiapkan mobil, entah mendapat keberanian darimana, didekatinya Handy yang sekarang sudah berdiri di dekat kaki Ghavi. Satu pukulan melayang ke wajah tampan Handy hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Aakhh!!" pekik Vika kencang.
Sementara Handy hanya diam. Dia tidak bermaksud membalas perlakuan Aksan padanya. Dia memang pantas mendapatkannya.
Dibiarkannya Aksan membopong Eyang Sosro kemobil, dan Bi Mirna menuntun Ghavi yang juga kini terkulai lemah.
"Sebaiknya kalian pergi sekarang! Bibi tidak ingin kehadiran kalian disini memperburuk keadaan," ujar Bi Mirna saat melintas di depan Handy.
Perempuan akhir empat puluh tahunan itu juga entah punya keberanian darimana bisa berkata seperti itu.
"Aku mengeri, Bi!" jawab Handy mengangguk.
"Sampaikan salam maafku pada semuanya," cicitnya lirih.
"Jika semuanya sudah lebih tenang, aku akan mengunjungi mereka dan menjelaskan semuanya agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut."
"Baik!" Bi Mirna mengangguk.
Handy pun beranjak meninggalkan kediaman Eyang Sosro dengan perasaan campur aduk. Sementara Vika, wanita itu berjalan mengikuti langkah lunglai Handy.
Senyum licik terukir disudut bibirnya yang merah merona karena lipstick yang digunakannya seperti pewarna bibir yang biasa digunakan para j*l*ng di klub-klub malam.
__ADS_1