Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Undangan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Itu artinya, Ghavi benar-benar seorang diri sekarang. Tanpa keluarga dan sanak saudara, dirinya kini hidup sebatang kara.


Beruntung, masih ada orang-orang terdekatnya yang tetap mau peduli padanya. Kecuali mungkin satu, yaitu dia.


"Kamu yakin akan menemuinya?!" tanya Risa memastikan.


Pagi ini mereka sedang sarapan bersama dikediaman Eyang Sosro.


Semenjak beliau meninggal seminggu yang lalu, Ghavi memang meminta keluarga Bi Marni untuk pindah.


Selain untuk menemani Ghavi, hal ini juga sebagai perwujudan permintaan terakhir Eyang Sosro sebelum meninggal.


Dan semalam, pengacara almarhumah datang untuk membacakan surat wasiat yang berisi bahwa:




Keluarga Sumarni berhak menempati rumah kediaman Eyang Sosro, sebagai wujud balas jasanya pada beliau. Akan tetapi Ghavi tetap boleh ikut menempati rumah tersebut selama diperlukan.




Pak Agung berhak memiliki mobil keluarga Eyang Sosro sebagai balas jasa pengabdiannya.



__ADS_1


Harta tidak bergerak lainnya yang menjadi sisa peninggalan Eyang Sosro, yaitu berupa sejumlah perhiasan, sawah seluas satu hektar, dan sebuah peternakan sapi yang berisi tujuh puluh tiga ekor sapi menjadi hak milik Ghavina Putri Umar, selaku cucu tunggalnya.




Penunjukkan wasiat tersebut tidak dapat diganggu gugat. Dan empat puluh hari setelah kematian almarhumah, apa-apa yang sudah ditujukan kepada si penerima, berhak membalikkan nama kepemilikan hak penerimaan tersebut.


"Ya!" jawab Ghavi mantap.


"Kamu tidak apa-apa sendirian? Atau, mau aku temani?!" tanya Risa lagi.


"Tidak! Aku sendiri saja. Tenang saja, aku tidak akan kenapa-kenapa, kok."


Ghavi berusaha meyakinkan Risa yang terlihat khawatir akan dirinya.


Ya. Hari ini Ghavi berniat datang ke Dieng memenuhi undangan Om Rudi dan keluarganya setelah mendapat telpon semalam, tak lama berselang sejak kepulangan pengacara Eyang Sosro yang sudah membacakan isi surat wasiat tentang pembagian harta almarhumah.


Terbukti dari kalimat yang disampaikannya semalam.


Flashback on


"Assalamualaikum, Vi! Ini Om Rudi pakai handphonenya Harry."


Terdengar suara berat dari seberang begitu gadis itu menggeser tombol warna hijau diponselnya.


" Oh, iya, Om! Waalaikumsalam! Maaf, ada apa, ya, Om, telpon malam-malam?"


" Om yang minta maaf karena sudah ganggu waktu istirahat kamu malam-malam."

__ADS_1


" Tidak apa-apa, kok. Ada apa, ya, Om?" tanya Ghavi lagi.


" Begini, Om mau memberitahukan kalau besok malam akan ada acara syukurannya Handy."


Jeda sejenak. Terdengar helaan napas berat diujung telpon.


" Kami sekeluarga sangat berharap kamu mau hadir memenuhi undangan ini besok. Selain itu, ada sesuatu yang ingin Om sampaikan ke kamu, Nduk!"


" Baiklah! Besok Ghavi usahakan untuk datang. Tapi mungkin sampai disitu agak sorean. Soalnya besok pagi saya harus ke kampus dulu, Om, ada surat panggilan dari Pak Dekan."


" Baiklah! Kalau begitu sampai ketemu besok. Hati-hati dijalan, ya, Nduk! Maaf, si Harry tidak bisa jemput kamu soalnya sedang bantu-bantu Om diperkebunan. Kebetulan sekali dia sedang tidak ada jadwal mengajar, jadi pekerjaan Om sedikit terbantu."


" Iya, Om, tidak apa-apa!"


"Ya, sudah, ya, assalamualaikum!!"


"Waalaikumsalam!!"


Flashback off


"Kalau kamu butuh teman diperjalanan, aku siap temani kamu. Biar nanti aku minta Mas Aksan mengantar kita seperti waktu itu," ujar Risa sembari membereskan piring.


Gadis itu baru saja selesai sarapan, semetara Ghavi selesai sepuluh menit lebih awal, dengan alasan tidak nafsu makan.


"Tidak perlu! Aku hargai niat baik kamu, Sa. Tapi beneran, deh, tidak apa-apa, kok aku pergi sendiri naik bus. Lagi sudah lama aku tidak naik bus saat perjalanan jauh. Rasanya kangen sama pedagang asongan yang nawarin dagangannya disetiap pemberhentian. Belum lagi para pengamen manusia jadi-jadian yang bikin perut kaku," jawab Ghavi.


Dia lantas tersenyum-senyum terbayang saat perjalanan naik bus dari Jakarta ke Jogjakarta waktu itu.


"Yuk, ah berangkat! Nanti kesiangan lagi. Kamu, kan harus menghadap Pak Dekan jam delapan pagi ini," ajak Risa meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Ghavi tersadar dari lamunannya dan mengikuti langkah Risa yang sudah lebih dulu keluar rumah.


***


__ADS_2