
" Jika memang itu sudah menjadi keputusan ayah dan kakekmu, maka laksanakanlah, Nduk! Apalagi itu merupakan permintaan terakhir mereka yang diamanahkan padamu."
Eyang Sosro menyerahkan amplop itu kembali pada Ghavi.
Dielusnya punggung cucunya penuh kasih sayang.
Memang cukup berat beban yang diamanahkan pada cucunya itu mengingat usianya juga masih sangat muda. Diusia yang belum ada dua puluh tahun itu Ghavi sudah dibebani dengan bermacam hal.
Selain memantau pergerakan restaurant dan kontrakan, gadis berkulit sawo matang itu juga harus mengurusi panti asuhan yang selama ini dikelola dibawah naungan sang kakek. Sekarang dialah yang harus bertanggung jawab atas kelancaran panti.
Belum lagi masalah perjodohannya dengan anak dari sahabat baik ayahnya yang dia sendiripun belum tahu seperti apa orangnya karena belum pernah bertemu sekalipun.
" Baik, Eyang. Aku akan berusaha menerimanya dengan ikhlas."
Didekapnya eyangnya lama. Hanya tinggal beliaulah satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini.
" Aku akan menemui mereka, Eyang."
Eyang Sosro mengangguk paham dengan maksed perkataan cucunya. Ditepuknya punggung tangan cucunya memberi dukungan.
"Tapi sebelum itu, aku ingin mengunjungi makam ibu, ayah dan juga kakek," lanjutnya.
" Baiklah, Nduk. Apapun keputusanmu, Eyang akan selalu dukung. Selama itu masih dijalur kebaikan tentunya."
" Terima kasih, Eyang!"
Ghavi kembali memeluk eyangnya. Hatinya lega setelah mengungkapkan masalnya pada eyang. Sekarang dia merasa yakin dengan keputusannya.
Dua hari kemudian, Ghavi kembali ke Jakarta mengunjungi makam orang tua dan kakeknya.
Selain itu, dia juga diminta datang kerestaurant yang sedang mengalami sedikit masalah.
" Ayah, Ibu, aku datang. Bagaimana kabar kalian? Aku harap kalian baik-baik saja."
Ghavi mengelus batu nisan ayah dan ibunya bergantian. Dicabutnya rumput yang mulai tumbuh disela batu kerikil yang disebar diatas pusara.
" Ayah, Ghavi sudah menyampaikan amanah ayah dan kakek pada eyang. Eyang mendukung apapun keputusanku. Dan aku sudah putuskan akan memenuhi semua permintaan kalian," ucapnya bermonolog.
" Ayah bisa pergi dengan tenang sekarang. Sepulangnya dari sini, aku akan menemui Om Rudi."
Untuk kedua kalinya Ghavi mengusap batu nisan didepannya.
Setelah berdoa, Ghavi pun pulang sebab dirinya sudah ditunggu pihak pengelola restaurant dan pengacara kakeknya.
Sementara waktu kunjungan ke makam kakeknya dia tunda sampai hari berikutnya.
Begitu sampai dirumah kediaman Umar, Bu Yoyon langsung memberitahukan bahwa tamunya sudah datang. Ghavi pun lantas menemui tamunya yang sudah cukup lama menunggu diruang kerja almarhum kakeknya.
" Maaf, saya datang terlambat," ucapnya menyalami tamunya saru per satu.
" Tidak apa-apa. Saya akan sabar menunggu," sahut pengacara kakek tersenyum.
" Tapi sepertinya Pak Rama sedikit sibuk. Terbukti dari caranya duduk yang gelisah. Haha ... ," sambung sang pengacara tertawa.
" Baiklah. Ijinkan saya berbicara dengan Pak Rama dulu kalau begitu?!" Ghavi menoleh pada pengacara yang langsung mengangguk setuju.
Cukup lama juga Ghavi tampak serius bicara dengan orang kepercayaan kakek. Sesekali Ghavi tampak mengernyitkan dahinya mendengar semua penuturan wakil pimpinan restaurant tersebut.
" Hmm, baik. Jika seperti itu kejadiannya. Saya minta tolong Pak Rama untuk menghandle sementara waktu. Besok pagi saya akan datang berkunjung," Ghavi memutuskan perbincangan.
Pak Rama pun mengangguk. Tak lama kemudian pamit melanjutkan pekerjaannya.
Kini tinggal Ghavi dan pengacara kakeknya.
" Ada hal penting apa, Bapak sampai memunta pulang kemari?" tanya Ghavi penasaran.
Sehari sebelum keberangkatan ke Jakarta, pengacara kakek menelponnya dan meminta waktu untuk bertemu dengannya.
" Begini, saya bermaksud menyampaikan surat wasiat peninggalan Pak Herman. Beliau berpesan untuk segera membacakan surat wasiat yang beliau tulis, tepat seratus hari setelah kematiannya. Berhubung dalam kurun waktu itu kau sedang sibuk-sibuknya dikampus, jadi saya menundanya sebentar. Sekarang sudah saatnya saya harus membacakan poin apa saja yang sudah ditulis beliau didalam sini."
__ADS_1
Pengacara Lukman mengangkat amplop coklat bersegel.
" Saya sudah menghubungi siapa-siapa saja orang yang berhak mendengarnya. Sebentar lagi mereka datang," ungkapnya.
Tak lama kemudian datang lima orang yang dimaksud. Tiga diantaranya Ghavi mengenalnya meski hanya sepintas. Itupun waktu Ghavi pergi menemani kakeknya ke panti dan mengenalkan mereka sebagai pengurus panti. Mereka adalah Pak Danar, Pak Wisnu dan Bu Nita, satu-satunya wanita yang hadir.
Sementara dua yang lain Ghavi belum pernah mengenalnya.
" Silakan duduk, Bapak-bapak!"
Ghavi mempersilakan tamunya duduk disofa, sementara dia sendiri dan pengacara duduk di kursi kerja kakeknya.
" Terima kasih!" ucap salah satu dari dua orang yang belum Ghavi kenal, sementara yang lain mengangguk tersenyum.
" Baik, tak perlu banyak basa-basi. Kita langsung saja ke inti masalahnya," ujar seorang lagi dari yang Ghavi belum kenal.
Jika ditelisik dari tampilannya, orang itu adalah yang paling muda diantara lima orang yang lain. Penampilannya yang sangat rapi dengan setelan jas hitam yang dikenakannya, sepertinya dia orang yang cukup penting. Kacamata minusnya membingkai sorot matanya yang tajam dan menusuk. Beruntung dia mempunyai wajah tampan yang menutupi mata elangnya.
" Ehm!!" Pengacara memecah keheningan setelah beberapa menit suara hening dengan pikiran masing-masing.
" Sebelumnya, perkenalkan! Beliau adalah Pak Han, orang yang selalu menjadi donatur tetap diPanti Asuhan CAHAYA." Pengacara Lukman menunjuk pria ber jas hitam yang tadi meminta mempercepat dibacakan surat wasiat.
" Dan yang disebelahnya adalah asistennya."
Tunjuknya pada orang yang mengucap terima kasih.
Untuk yang lain saya yakin kalian sudah saling kenal. Hanya mereka berdua inilah yang mungkin Ghavi belum mengenalnya.
" Baik. Saya tidak akan bertele-tele lagi. Seperti yang kalian lihat, Pak Herman membuat surat wasiat. Surat itu ada didalam amplop ini yang jelas-jelas tersegel. Dan itu artinya, setelah penulisan ini dokumen rahasia ini terkunci dan baru akan dibuka sebentar lagi," terang Pengacara Lukman memulai membuka percakapan.
Pengacara Lukman meminta bantuan asisten Pak Han untuk membuka segel. Begitu segel dibuka, tampaklah beberapa lembar berkas tersimpan didalamnya.
" Mari kita dengar isi surat wasiat Pak Herman bersama-sama," ujar beliau menghirup napas sebelum akhirnya membacakan surat.
" Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Herman Wicaksono bermaksud:
Memberikan sebagian harta saya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak kepada Ghavi Putri Umar, putri dari Umar Wicaksono dan Diana, yang tak lain adalah cucu perempuan saya satu-satunya.
Sebuah tanah beserta bangunan rumah tinggal seluas 547m2 yang berada dijalan xxx no. z,
Sebuah restaurant seluas 1324m2 yang berada dijalan M,
Sebuah mobil sport, dan harta bergerak lainnya,
Sebidang tanah yang diatasnya dibangun kontrakan tujuh pintu."
Sampai disini Pengacara Lukman berhenti.
Pandangannya jatuh pada Ghavi.
" Ghavi, saya boleh minta tolong?"
" Jika saya bisa ... " Ghavi tersenyum lalu mengangguk.
" Kalau begitu, tolong panggilkan Pak ayoyon sekarang juga. Ajak beliau kesini sekarang."
" Eh, Pak Yoyon?!" tanya Ghavi bingung. Tapi gadis itu tetap melaksanakan perintah Pak Lukman meski dikepalanya dipenuhi pertanyaan.
Untuk apa Pak Yoyon dilibatkan?!
Lima menit kemudian Ghavi kembali membawa Pak Yoyon yang tampak ketakutan.
Ghavi menyuruhnya duduk dikursi yang tadi didudukinya dan memilih berdiri disamping Pak Yoyon.
" Tidak usah takut. Tidak apa-apa," bisiknya seolah tahu apa yang dipikirkan laki-laki paruh baya itu.
Pembacaan surat wasiat pu dilanjutkan.
" Kita lanjutkan!" Laki-laki berjas hitam itu menyela.
__ADS_1
" Lebih cepat lebih baik karena bagi saya time is money. Semakin kita menyia-nyiakan waktu, semakin saya rugi."
Ghavi melotot mendengar ucapan Pak Han yang terdengar sombong. Sedang yang lain hanya bersikap datar karena sudah terbiasa.
" Disini ditulis keterangan, bahwa:
Bangunan kontrakan seluas tersebut diatas, harus Ghavi serahkan pada Pak Yoyon, sebagai tanda terima kasih karena sudah mengabdi pada keluarga Herman selama kurang lebih dua puluh lima tahun," lanjut Pak Lukman.
" Apaa??" pekik Pak Yoyon terkejut. Orang itu menggelengkan kepala tanda menolak.
" Tidak ... ." Belum selesai melanjutkan kalimatnya, Ghavi menyuruhnya dia. Pak Yoyon pun menciut dengan muka tertunduk.
" Untuk yang lain, sesuai wasiat seperti yang sudah kalian semua ketahui bahwa panti asuhan CAHAYA akan tetap dikelola oleh pengurus lama. Hanya bedanya kepemilikan yang dulunya atas nama Herman Wicaksono beralih tangan kepada Pak Han, sesuai surat yang sudah saya bagikan tempo hari. Sampai disini ada pertanyaan??"
" Kapan saya harus menyerahkan sertifikat kontrakan pada Pak Yoyon??" Ghavi membuka suara.
"Apa kau setuju?" tanya Pak Lukman menatap serius wajah cucu temannya itu.
" Kenapa tidak, Pak Yoyon dan istrinya adalah orang yang berjasa pada keluarga Herman. Tanpa bantuan beliau kami tidak akan seperti sekarang ini. Jika saya boleh usul, saya juga ingin memberikan mobil yang selama ini beliau bawa setiap mengatar kemanapun saya pergi. Itu merupakan mobil saya hadiah dari orang tua saya setahun lalu.,"
" Tidak perlu, Non. Saya tidak pantas mendapatkan semua ini. Selama saya dipercaya bekerja disini sudah leih dari cukup," timpal Pak Yoyon menolak.
" Tidak, Pak. Bapak berhak mendapatkan semua itu. Bapak tidak usah khawatir, meski saya kehilangan mobil saya, saya sudah mendapatkan mobil sport milik kakek yang jauh lebih bagus dan mahal," ujarnya tertawa...
Akhirnya setelah dibujuk, Pak Yoyon pun mau menerima sertifikat rumah dan surat mobil milik Ghavi disaksikan seluruh yang hadir disana.
" Terima kasih, Non!" ucapnya memeluk tubuh mungil Ghavi penuh haru. Tak terasa mengucur deras air matanya.
Setelah semua penandatanganan berkas selesai, Ghavi pun meminta waktu pada Pak Han.
" Emm, maaf, Pak Han. Bisa minta waktunya sebentar?" tanyanya ragu. Sebenarnya gadis itu malas melakukannya, tapi ini demi amanah kakek.
"Ok, sepuluh menit!" jawabnya singkat.
Semua orang akhirnya keluar dari ruang kerja kakek menuju ruang makan untuk makan bersama karena Bu Yoyon sudah menyiapkannya, kecuali dua orang yang masih tinggal.
" Katakan!" perintah Pak Han tanpa basa-basi.
Ghavi mendegus kesal. Diapun duduk di sofa seberang Pak Han.
"Mmm, sebelumnya saya minta maaf!"
Ghavi memulai percakapan.
" Sebenarnya saya juga mendapat wasiat tidak tertulis dari kakek saya yang intinya saya harus tetap mengurus anak-anak. Tapi jujur, entah bagaimana caranya kenapa hak milik panti bisa jatuh ketangan Anda padahal, setahu saya panti itu dulu atas nama kakek saya."
" Lalu masalahnya??" Pak Han nenaikkan alisnya.
" Masalahnya adalah, kakek memindah tangankan hak kepemilikan pada orang lain tanpa pemberitahuan apapun pada saya. Yang jadi masalah adalah, apa saya masih bisa ikut terjun langsung mengurus panti sesuai amanah terakhir kakek saya?"
" Maksudnya, apa saya masih boleh dilibatkan untuk kegiatan panti, mengingat panti sudah menjadi hak anda?!"
***
Langit tampak mulai gelap pertanda hujan akan turun. Namun, itu semua tak membuat goyah tubuh seorang gadis berkerudung hitam yang tengah jongkok disamping pusara di sebuah pemakaman umum dikotanya. Gadis itu masih tampak khusuk memanjatkan doa-doa untuk ahli kubur. Sesekali tampak bahunya turun naik mengikuti irama tangisnya.
" Kakek, Ghavi pamit pulang dulu. Ghavi janji, Kek, Ghavi akan berusaha ikhlas menerima ini semua sesuai keinginan Kakek," pamitnya pada pusara disampingnya itu.
Ditaburkannya bunga disepanjang pusara lalu diusapnya papan nama untukbterakhir kalinya, sebelum akhirnya beranjak perlahan meninggalkan makam.
Awan hitam yang berubah menjadi titik-titik embun itu berjatuhan mulai menjadi guyuran hujan. Gadis berkerudung hitam yang menyebut dirinya Ghavi tersebut mulai mempetcepat langkahnya seolah berkejaran dengan hujan yang semakin deras.
Kerudungnya melambai ditiup angin seakan ingin mengucap selamat tinggal pada pusara yang dikunjunginya barusan.
" Ini payungnya, Non!"
Seorang laki-laki setengah baya yang sejak tadi berdiri dijalan masuk pemakaman segera menyodorkan payung hitam pada si gadisyang langsung menyambutnya.
Laki-laki tersebut hanya mengangguk menanggapi cucu majikannya. Merekapun melanjutkan perjalanan pulang kerumah setelah sebelumnya mengambil mobil diparkiran pemakaman.
__ADS_1
***