
Ghavi masih betah berdiri di samping gundukan tanah merah basah yang baru saja ditinggalkan para pelayat. Tangan kanannya menggenggam erat payung hitam yang diberikan oleh Pak Danar sesaat beliau meninggalkan makam.
" Mau sampai kapan kau akan terus menangisinya?!"
Handy yang berdiri dibelakang tak jauh dari tempatnya berdiri itu memecah keheningan.
" Biarkan Rindu pergi dengan tenang, jangan terus kau tangisi kepergiannya," lanjutnya.
Ya. Rindu baru saja dimakamkan. Kini hanya tinggal mereka berdua saja yang tersisa. Semua pengantar jenazah dan pelayat Rindu sudah kembali pulang.
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari gadis awal dua puluh tahun itu.
" Cuaca semakin gelap. Sepertinya hujan akan turun. Sebaiknya kita pulang," ujar Handy berusaha mengajak Ghavi untuk segera pulang.
" Kau pulanglah dulu! Aku masih ingin disini," jawab Ghavi membuka suara.
" Tapi,"
" Bukankah tadi kau sedang sibuk?! Sekarang, pergilah! Dia pasti sudah lama menunggumu," sindir Ghavi mengusir laki-laki yang masih setia menungguinya itu.
Hatinya kembali tercubit mengingat kejadian tadi siang saat di mall.
" Apa maksudmu? Dia siapa?!" tanya Handy bingung.
" Jangan berpura-pura! Bukankah kemarin kau bilang seharian ini akan sibuk dengan pekerjaan dan klienmu?! Kupikir, dia salah satu klienmu yang hsrus kau prioritaskan hari ini," jelas Ghavi menekankan kata dia.
Kali ini Handy terlonjak. Laki-laki itu baru teringat jika kemarin dia pamit pada gadis itu tidak bisa mengantarkannya berziarah ke makam orang tua dan kakek serta nenek gadis itu karena alasan pekerjaan.
Dan pasti gadis itu kecewa karena tiba-tiba melihatnya di mall bersama wanita sundel itu.
__ADS_1
" Soal tadi siang, aku bisa menjelaskannya padamu," desahnya.
Ghavi diam tak bergeming. Seakan ingin membiarkan laki-laki yang sudah dijodohkan dengannya itu mencari alasan.
" Tadi pagi aku memang menemui klienku di mall itu. Tapi aku tidak tahu jika klienku itu mengajak serta anak perempuannya. Dia bilang, dialah yang akan meneruskan kontrak bisnis yang sedang kami jalankan."
Handy menunggu reaksi Ghavi, tapi rupanya gadis itu masih menunggu kelanjutan ceritanya.
" Saat kami selesai meeting, anak klienku merengek pada ayahnya untuk menemaninya berbelanja. Berhubung dia sibuk, jadi orang itu memintaku mengantarkannya sebentar dan ... kau sudah tahu kelanjutannya," terang Handy.
" Sejak kapan kau beralih profesi menjadi baby sitter?!" tanya Ghavi sinis.
Tubuhnya berbalik menatap Handy yang kini berada dihadapannya.
" Eh, maksudnya?!" tanya Handy bingung.
" Ya. Sejak kapan kau beralih profesi dari seorang pengusaha berganti menjadi penjaga anak perempuan orang?!" tekan Ghavi masih dengan nada sinis.
" Sebenarnya aku sudah menolak, tapi orang itu mendesakku. Aku jadi merasa tidak enak untuk menolak. Aku terpaksa menerima ajakannya."
" Oh, ya?! Tapi sepertinya kau sangat menikmatinya kulihat," sahut Ghavi sedikit berapi-api.
" Hei, kenapa kau jadi marah?! Apa kau sedang cemburu padaku??"
Pertanyaan Handy mampu membuat Ghavi tersadar. Ya! Untuk apa dia marah? Apakah dia tidak terima melihat Handy berjalan dengan wanita lain? Apa itu artinya dia sudah mulai jatuh cinta pada Handy, sehingga dia merasa tertusuk hatinya melihat laki-laki itu dengan wanita lain?!
" Aku, aku hanya kecewa padamu. Kau membatalkan janjimu untuk pergi bersamaku mencari gaun permintaan Rindu. Aku maklum karena srmalam kau bilang sibuk dengan para klienmu. Tapi kenyataan yang kulihat tidak seperti itu. Maaf!" jawab Ghavi lirih.
Ghavi kembali memutar tubuhnya menghadap kearah pusara Rindu yang baru satu jam lalu dikuburkan.
__ADS_1
Hatinya sakit mendengar nada tinggi Handy barusan. Kekecewaannya bertambah.
Semalam dia sempat kecewa karena Handy menolak pergi berziarah ke makam keluarganya dan berbelanja gaun pesanan Rindu yang sudah mereka janjikan, tapi Ghavi berusaha maklum.
Untung saja ada Liana yang menginap dirumah. Jadi, sebelum mereka pergi ke mall siang itu, mereka menyempatkan diri sebentar berkunjung ke makam keluarganya di dua tempat yang berbeda.
Namun, rasa kecewanya bertambah setelah melihat Handy ternyata juga berada di mall yang sama. Bukan sedang meeting dengan klien seperti katanya, malainkan jalan dengan seorangbwanita yang bergelayut manja dilengannya seperti sepasang kekasih.
Kalaupun itu memang kekasihnya, apa salahnya dia jujur? Dan kenapa dia harus menerima perjodohan ini, bahkan melamarnya meski tidak dengan cara yang romantis seperti dinovel-novel?!
Tes! Satu bulir air matanya jatuh menetes dari pelupuk matanya yang sudah membengkak akibat lama menangis tadi.
Diusapnya air mata itu dan segera pergi meninggalkan makam Rindu setelah sebelumnya pamit.
" Rindu, Kakak, pamit pulang dulu. Jika ada kesempatan lain, Kakak akan berkunjung. Kau tenanglah disana. Kakak harap, suatu saat nanti kau bisa bertemu dengan orang tuamu dan hidup bahagia dialam sana."
Setelah berpamitan, Ghavi lantas bergegas meninggalkan makam, berusaha menghindar dan tidak mempedulikan teriakan Handy yang tertinggal jauh dibelakangnya sebab laki-laki itu juga pamit terlebih dahulu kearah makam.
" Vi, tunggu!!" teriaknya sambil berlari mengejar.
Handy hanya berdiri pasrah melihat gadis yang selama ini diam-diam disukainya itu pergi meninggalkannya sendiri dengan menyetop taksi yang kebetulan lewat.
Deru napasnya masih terasa sampai dirinya menjatuhkan tubuhnya dibelakang kemudi mobilnya.
Dilihatnya jam didalam mobil menunjukkan pukul lima tiga puluh menit.
Dengan kecepatan sedang, Handy melajukan mobilnya pulang ke rumah singgahnya yang ada dalam satu kawasan dengan kediaman Kakek Herman, hanya berbeda komplek.
Biarlah gadis itu menenangkan pikirannya dulu. Percuma menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi disaat emosi gadis itu sedang tinggi, karena yang ada ujung-ujungnya timbul pertengkaran.
__ADS_1
***