Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Andai Saja


__ADS_3

Tidak terasa, dua jam sudah Ghavi tertidur di gazebo bersama tiga anak-anak yang dijaganya.


Gadis itu baru tahu saat dia sadar, ternyata ada Liana yang juga ikut tertidur disamping Bintang.


Entah sejak kapan Liana menyusul mereka, Ghavi sendiri tidak menyadarinya.


"Vi, Sudah sore! Sudah waktunya baby Aris mandi," teriak Risa dari arah bawah tangga gazebo.


" Tapi baby Aris masih tidur, Sa!" jawab Ghavi dari atas gazebo.


Namun, jawaban Ghavi justru membuat Liana terbangun.


"Eugh! Jam berapa sekarang, Vi?"


Liana segera duduk dan merentangkan kedua tangannya.


"Jam lima belas tiga puluh!"


Ghavi melihat jam diponselnya.


"Wah, ternyata sudah sore, ya!"


"Iya, sudah waktunya anak-anak mandi, tapi mereka masih nyenyak tertidur."


"Pasti karena tempat ini nyaman menurut mereka. Apalagi, tanpa AC pun tempat ini sudah sejuk."


"Buruan, Vi! Mana baby Arisnya?!"


Risa kini ikut naik ke gazebo untuk mengambil bayinya.


"Wah, masih lelap rupanya!"


Risa bergumam sendiri menyaksikan putra pertamanya masih tertidur.


"Kan, tadi sudah kubilang, baby Aris masih tidur. Kamu ngeyel dibilangin!" seru Ghavi.


"Hehe ...!"


Risa hanya nyengir kuda.


"Bangunin aja, Sa! Toh, sudah lama ini tidurnya. Pasti tidak akan rewel," timpal Liana.


"Aku juga harus membangunkan Bintang untuk pulang. Sudah sore, takutnya yang punya bocah nyariin."


Liana pun membangunkan Bintang dengan menggoncang-goncangkan tubuh bocah itu.


"Bangun, Sayang! Sudah sore, kita harus pulang!"


Bintang pun terbangun dengan raut wajah bingung.


"Ini dimana, Aunty?!"


"Heh, kamu lupa, ya! Kamu ini ada dirumah Tante Ghavi. Sekarang kamu ada digazebo."


"Oh, aku lupa!"


Bintang akhirnya bangun dari tidurnya.


Biasanya bocah laki-laki itu jarang tidur siang. Tapi, karena mungkin suasananya sejuk, dia jadi tertidur, apalagi setelah dipuk-puk oleh Ghavi tadi.


"Kita pulang sekarang, Aunty?!" tanyanya.


Liana mengangguk.


"Iya! Mama kamu sudah menyuruh kita pulang."


Liana memperlihatkan pesan chat yang baru saja masuk dari Kak Ane.


"Baiklah! Tapi kapan-kapan kita kesini lagi, ya! Aku mau tidur disini lagi."


"Iya! Sekarang pamit dulu sama Tante Ghavi dan Tante Risa!"


Liana menunjuk Ghavi dan Risa.


"Tante, aku pulang dulu, ya! Kapan-kapan kesini lagi, boleh?!"


"Hemm, boleh, Sayang! Sekarang kamu pulang dulu, ya! Kasihan Mama Ane sudah nungguin kamu."


Ghavi mengusap rambut Bintang sambil tersenyum.


"Bintang hati-hati, ya! Jangan nakal!"


Risa ikut mengacak anak rambut Bintang, saat anak itu berpamitan padanya.


"Kita pulang dulu, ya!" pamit Liana setelah bercipika-cipiki dengan Ghavi dan Risa.


"Iya, hati-hati!" ucap keduanya.


"Eh, mobil kamu, kan masih dibengkel, Li! Kamu pulang diantar sama Pak Yoyon saja, ya," tawar Ghavi.


"Tidak usah! Barusan aku sudah pesan taksi online. Sekarang taksi itu sudah didepan katanya."

__ADS_1


"Oh, ya, sudah! Hati-hati!"


Akhirnya Liana dan Bintang pun pulang setelah Liana mengambil tasnye terlebih dulu didalam rumah, bersamaan dengan Risa yang juga menggendong baby Aris untuk mandi.


Kini tinggal Ghavi yang masih menunggui Sunny yang masih terlelap.


Karena rumah Sunny bersebelahan dengan rumahnya, jadi Ghavi sengaja menungguinya sampai anak itu bangun dengan sendirinya.


Mbak Mia yang tadi kata Risa pamit pulang duluan untuk memasak pun belum datang lagi.


"Tante Cantik!" panggil Sunny yang saat ini sudah duduk di samping Ghavi yang sedang membalas email dari teman-teman kuliahnya saat masih di Ausie.


"Eh, kamu sudah bangun, Sayang?! Maaf, Tante nggak ngeh kamu bangun! Tante sedang membalas email!"


Entah sudah berapa lama gadis cilik itu terbangun.


" Iya! Tante, yang lain kemana?"


Sunny tidak melihat siapapun lagi disana selain Tante Cantiknya.


"Bintang dan Aunty Liana sudah pulang! Baby Aris sedang mandi didalam. Sunny mau mandi juga?! Ini sudah sore, sudah waktunya kamu mandi," ujar Ghavi.


"Mbak Mia kemana?"


"Mbak Nia pulang duluan, mau masak buat papa kamu. Kamu mau pulang sekarang, atau nunggu dijemput Mbak Nia?!" tawar Ghavi.


"Pulang sekarang, tapi diantar Tante Cantik, ya!" rengeknya.


"Baiklah! Ayo!"


Ghavi pun mengajak Sunny turun dari gazebo dan menggandengnya pulang kerumahnya.


"Eh, Non, sudah pulang?! Padahal Mbak baru saja mau menjemput."


Mbak Nia yang baru saja membuka pintu rumah majikannya itu terkejut karena mendapati anak majikannya sudah berada dihadapannya bersama Ghavi.


"Mbak Nia kelamaan, sih," sungut Sunny manyun.


"Iya, maaf! Mbak, kan musti masak dulu buat papanya Non Sunny," jelasnya.


"Sunny, karena Mbak Nia sudah selesai masaknya, Tante pulang dulu, ya!" pamit Ghavi pada Sunny.


"Jangan, Tante!" cegah Sunny cepat.


"Eh, kenapa??"


"Tante Cantik disini saja dulu! Sunny mau mandi, tapi maunya mandi sama Tante Cantik."


"Tapi aku maunya mandi sama Tante Cantik! Pokoknya kalau nggak sama Tante, aku nggak mau mandi!" rengek Sunny hampir menangis.


"Ok, ok! Mandi sama Tante, ayo!"


Ghavi pun akhirnya menuruti permintaan Sunny untuk memandikan gadis kecil itu.


"Mbak Nia, tolong siapin baju ganti dan handuk Sunny, ya.!"


Ghavi mengikuti bocah perempuan empat tahun kurang itu masuk ke kamar mandi yang ada dikamarnya.


"Ini handuknya, Mbak!"


Mbak Nia menyerahkan handuk gambar FROZEN pada Ghavi setelah Sunny selesai mandi.


"Terima kasih!"


Ghavi menerima handuk lalu membelitkannya ketubuh Sunny yang mulai kedinginan.


Jam dinding dikamar itu sudah menujukkan angka lima. Biasanya anak itu mandi pukul empat sore. Tapi, berhubung tadi Sunny tidur sangat nyenyak, jadi bocah itu baru terbangun pukul setengah lima dan mandi pukul lima sore.


"Dingin, ya?!"


Ghavi menggendong tubuh Sunny dan meletakkannya di ranjang.


"Iya, Tante, dingin!" jawab Sunny dengan bibir bergetar.


"Lain kali, kalau mandinya kesorean, lebih baik mandi pakai air hangat saja, ok?!"


"Ok, Tante!"


Pasalnya tadi Sunny ngeyel minta mandi dengan air dingin. Alasannya, dia tidak suka mandi air hangat kalau sore hari. Dia hanya mau mandi air hangat jika pagi hari saja. Gerah, katanya.


"Sini diolesin minyak telon biar nggak masuk angin!"


Ghavi pun membalurkan minyak telon pada perut Sunny sambil sesekali menggelitikinya hingga bocah itu menggeliat kegelian.


"Ampun, Tante! Aku geli, ahh ... geli!"


Bocah itu terus menggeliat sampai terjatuh telentang dikasur sehingga memudahkan Ghavi untuk terus menggelitiknya.


"Haha ...! Sudah, Tante! Aku geli!" teriaknya.


"Haha ...!"

__ADS_1


Ghavi ikut tertawa lebar.


"Ya, sudah! Sini, Tante pakaikan bajunya dulu biar tidak masuk angin."


Sunny kembali bangun untuk memakai baju kaos motif bintang dan bulan kecil-kecil.


"Nah, sudah wangi sekarang! Eummuachh!!"


Ghavi mencium pipi kanan Sunny yang sudah diberi bedak.


"Sekarang Tante sudah boleh pulang, kan?! Tante juga mau mandi, nih biar wangi kayak Sunny. Tante masih bau ecemm!"


Ghavi mencium ketiaknya sendiri dan membuat ekspresi seperti sedang menahan napas dengan mengangkat hidungnya.


"Hmm, boleh! Tapi kapan-kapan aku mau dimandikan sama Tante Cantik lagi, ya!"


"Ok!"


Ghavi menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O.


"Baiklah, Tante pamit dulu. Daagh ...!"


Ghavi berbalik menuju pintu kamar Sunny yang terbuka.


Deg!


Langkah kakinya terhenti saat matanya melihat seseorang tengah duduk di kursi roda menghalangi pintu.


"Mas Handy?!"lirihnya.


"Papaaa!!" teriak Sunny yang juga melihat papanya sudah berada didepan pintu kamarnya.


Entah sejak kapan laki-laki itu sudah berada disana, Ghavi tidak tahu.


"Sunny!" panggil Handy menyambut pelukan putri kecilnya.


"Sudah mandi?!" tanyanya mengangkat tubuh putrinya dan mendudukkan dipangkuannya.


"Iya, Pa! Tadi aku dimandikan sama Tante Cantik, lho!" ceritanya senang.


"Oh, ya?! Tapi, kenapa sore sekali mandinya?!"


Handy pura-pura bertanya.


Padahal, laki-laki itu sudah tahu alasan kenapa sang anak mandi terlalu sore.


Ya. Handy tahu jika Sunny tidur ditempat Ghavi dan baru bangun saat sudah sore.


Handy tahu akan hal itu karena Ghavi membuat story lagi saat Sunny baru bangun tidur dengan rambut yang acak-acakan. Dan story tersebut diunggah sekitar jam enam belas empat puluh menit.


"Soalnya tadi Sunny tidur digazebo yang ada dirumahnya Tante Cantik, Pa! Tempatnya bagus, Pa! Sejuk!"


"Oh, pantas baru mandi!"


"Iya!"


Handy beralih pada Ghavi yang berdiri didepannya.


"Terima kasih! Kamu sudah repot-repot memandikan Sunny. Maaf, jadi merepotkan kamu, Vi!" ujarnya.


"Ah, iya! Tidak apa-apa!" jawab Ghavi sedikit gugup.


"Kalau begitu, aku pamit pulang, ya!"


Ghavi memberi kode agar Handy menyingkir dari depan pintu yang menghalangi jalannya dengan kursi rodanya.


"Ah, ya! Sekali lagi terima kasih!"


"Sama-sama!"


"Terima kasih, Tante Cantik!"


"Iya, Sayang! Sama-sama!"


Handy menatap punggung Ghavi yang perlahan menjauh dan menghilang dibalik pintu rumah.


Ada rasa bahagia yang menjalari hatinya saat melihat caranya Ghavi memperlakukan putrinya saat memakaikan baju tadi.


Sebenarnya Handy sudah lama berada didepan kamar Sunny melihat interaksi Sunny dan Ghavi yang seperti anak dan ibu.


Ibu?! Ah!


Handy tersenyum kecut saat hatinya menyebut nama tersebut.


Mungkinkah Sunny akan mendapat kasih sayang dari seorang ibu?!


Dan, mungkinkah Ghavi mau menjadi ibu sambung bagi Sunny, meskipun dia terlihat menyayangi putrinya?!


Andai saja dikehidupan yang lalu dia tidak mengecewakan dan menyakiti hati gadis itu, mungkin saja saat ini dia sudah menjadi bagian dari hidupnya dan menjadi satu keluarga.


***

__ADS_1


__ADS_2