
"Kau?!!" pekik Ghavi kaget begitu melihat siapa orang yang datang.
"Maaf, apa aku mengganggu?!" tanya orang itu tersenyum.
"Oh, tidak! Masuklah!" perintah Ghavi
"Darimana Mas Harry tahu kalau kami disini?" lanjutnya.
Ya. Orang yang datang adalah Harry. Laki-laki itu pun masuk dan menyalami Aksan dan Bi Mirna. Setelah itu dia memeluk Ghavi untuk memberi dukungan.
"Kamu yang sabar, ya! Aku tahu kamu pasti kuat," ujarnya seraya melerai pelukan.
" Terima kasih!" ucap Ghavi lirih.
Harry pun membawa gadis itu duduk disofa panjang yang kosong. Dia ikut duduk disebelahnya.
"Tadi aku datang ke rumah karena ada sesuatu titipan ibu yang aku bawa dari Wonosobo. Saat tiba dirumah, aku melihat Mas Handy dan Vika yang sedang berdebat dengan Risa di depan pintu. Aku langsung ke sini begitu Risa mengatakan duduk persoalannya," terang Harry.
"Vi, maaf, ya! Gara-gara kakakku Eyang Sosro jadi harus seperti ini. Atas nama dia aku minta maaf!"
"Tidak! Kau tidak salah, Mas. Kau tidak perlu meminta maaf," ujar Ghavi menggeleng.
Kepalanya tertunduk menyembunyikan kesedihannya. Hatinya terasa sakit namun tidak tahu kenapa? Mungkinkah karena hatinya mulai tertambat pada laki-laki yang dijodohkan dengannya sehingga merasa sakit saat tambatan itu terlepas dengan kasar dan terpaksa?!
"Vi, bisakah kita bicara berdua sebentar?" tanya Harry.
Ghavi pun memandangi Bi Mirna dan Aksan yang dijawab dengan anggukan.
"Baiklah!"
Ghavi bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Harry menuju kantin rumah sakit.
"Kau mau pesan sesuatu?" tanya Harry saat mereka tiba di kantin.
Mereka duduk dibangku dekat jendela kantin yang bersebelahan dengan taman rumah sakit.
"Aku mau teh tawar panas saja," jawab Ghavi.
"Yang lain?!"
"Tidak ada!"
"Baiklah!"
Harry pun memesan teh tawar panas untuk Ghavi dan kopi untuk dirinya.
"Vi, sekali lagi aku minta maaf atas nama kakakku," ucap Harry memulai percakapan.
"Kau tidak salah, Mas! Kenapa harus meminta maaf?!"
"Tapi, Vi, aku ikut merasa bersalah karena hal ini,"ujar Harry.
"Kenapa?"
"Karena sejak awal aku juga tidak jujur tentang masa lalu Mas Handy dan Vika padamu. Kupikir, Mas Handy yang lebih berkewajiban untuk memberitahumu tentang masa lalunya. Aku tidak tahu kalau dia belum ..."
"Sudahlah, Mas! Tidak usah dibahas lagi. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu yang berlalu," Ghavi memotong kalimat Harry.
"Tidak, Vi! Meskipun itu hanya sebuah masa lalu, tapi jika dikemudian hari itu akan menjadi pemicu dimasa depan, maka sudah seharusnya hal itu diungkapkan."
__ADS_1
"Kita anggap saja seperti kita berkendara. Kita memang diwajibkan untuk menatap kedepan, tapi kita juga disuruh untuk sesekali memandang kebelakang melalui kaca spion. Kenapa? Karena bisa jadi kendaraan dibelakang menabrak kendaraan kita, entah dengan sengaja atau tidak. Dan jika hal itu sampai terjadi, maka kita harus berhenti memeriksanya, bukan?!"
"Dari situ kita akan tahu, seberapa parah tingkat masalahnya. Dan dari situlah kita akan memutuskan, mengabaikan masalah yang terjadi dan terus melaju atau berhenti untuk bertanggung jawab."
Ghavi hanya diam mendengarkan. Tangan mungilnya menggenggam gelas teh panasnya untuk mengusir hawa dingin yang mulai menyergap malam itu.
"Vi, aku juga baru tahu kalau ternyata Vika sudah kembali beberapa hari lalu. Kupikir dia masih di Kalimantan mengikuti suaminya. Ternyata dia sudah kembali sejak dua bulan lalu. Dan, tanpa sepengetahuan kita, ternyata diam-diam kakakku menemuinya, baik untuk urusan bisnis maupun pribadi. Aku tahu hal ini dari Pak Aswan."
"Aku juga baru tahu tadi sore saat di Parangtritis. Dan tidak kusangka juga Mas Handy membawanya ke rumah hingga eyang ... eyang ...,"
Ghavi tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu menangis sesenggukan memikirkan keadaan eyangnya.
Meskipun bukan eyang kandung, tapi hubungan keduanya sudah sangat dekat sejak dirinya memutuskan untuk tinggal di Jogja.
Ibu angkat dari sang ibu itulah satu-satunya keluarganya sekarang, semenjak orangtua dan nenek serta kakeknya meninggalkannya satu per satu.
"Ssstt, sudah jangan nangis!"
Harry yang tadinya duduk di depan Ghavi kini pindah disebelah gadis itu dan memeluk pundaknya untuk menenangkan.
"Kau tidak sendirian. Jika pun eyang harus pergi juga, masih ada aku, ada Bi Mirna, Risa dan Aksan. Kau masih punya Lian dan istrinya. Bahkan kau punya Liana yang katamu mau kau kenalkan padaku suatu hari nanti," hibur Harry.
Meskipun sebenarnya dari awal pertemuan mereka dulu ada benih-benih rasa suka dihati Harry, namun dengan berjalannya waktu rasa suka itu berganti dengan rasa sayang pada adiknya.
"Terima kasih, Mas! Kalian selalu ada untukku disaat-saat seperti ini. Aku tidak tahu lagi kemana harus bersandar seandainya eyang ... hiks ...," Ghavi tidak melanjutkan kalimatnya karena menangis.
"Ssstt!! Sudahlah! Kita kembali ke kamar eyang saja, ya," ajak Harry akhirnya.
"Tunggu!"
Ghavi mencekal lengan Harry yang hendak bangkit untuk membayar minuman.
Harry pun urung untuk pergi ke kasir. Didudukkannya kembali tubuhnya di samping gadis itu.
"Mmm ..., tolong ceritakan padaku dari awal tentang hubungan Mas Handy dengan Vika," ujar Ghavi lirih.
"Hmmfph ...!!"
Harry menghela napas panjang.
" Kau yakin tidak akan kecewa setelah mendengarnya?!" tanya Harry ragu.
"Kenapa?" Ghavi balik bertanya.
"Kau tidak ingin mendengar versi ceritanya langsung dari yang bersangkutan saja?"
"Maksudmu Mas Handy?!"
Harry mengangguk.
"Lalu, apa bedanya jika kamu yang bercerita?!"
"Yaahh, mungkin saja kamu akan mendengar secara detailnya."
Ghavi menggeleng pelan.
"Justru aku tidak yakin Mas Handy mau bercerita tentang hal ini," gumamnya lirih.
"Kenapa kamu merasa tidak yakin?!" pancing Harry.
__ADS_1
"Sudah jelas, bukan?! Dia tidak jujur padaku soal kehamilan Vika, seandainya wanita itu tidak mengatakannya tadi," ujar Ghavi.
" What??! Vika ha-miil?!" tanya Harry terperanjat.
"Jadi Mas Harry belum tahu?! Bukankah kau sudah tahu tentang mereka dari Pak Aswan seperti katamu tadi?!!"
Harry menggeleng.
"Pak Aswan tidak bercerita soal yang satu itu," ujarnya sedih.
"Vi!"
"Ya?!"
"Lalu, apa yang akan kau lakukan kedepannya?"
"Entahlah! Aku belum mau memikirkan soal itu sekarang. Yang aku mau eyang segera sembuh dan aku bisa fokus dengan kuliahku sekarang," ujar Ghavi pelan.
"Seandainya, ini seandainya, ya. Seandainya Mas Handy lebih memilih cinta pertamanya dan anak yang dikandungnya itu, langkah apa yang akan kamu lakukan?!" tanya Harry penuh keingintahuan.
"Hmmfh!!"
Ghavi menghela napas dalam.
"Jika itu benar-benar terjadi, maka aku akan melepasnya. Meskipun itu artinya kami harus melanggar janji, tapi itu lebih baik daripada aku harus hidup dengan penuh tekanan bathin. Akan kulepas dia bersama orang yang benar-benar dipilihnya."
"Apa kau sudah mulai mencintainya?!"
"Entahlah, Mas! Aku sendiri belum tahu pasti perasaanku. Meski dia pernah mengungkapkannya berkali-kali padaku untuk meyakinkan hatiku, tapi hingga saat ini aku masih ragu," jawab Ghavi menggeleng pelan.
"Yang aku rasakan, kenapa hati ini merasa senang saat dia mengungkapkan rasa sayangnya berulang-ulang, tapi juga merasakan sakit saat mengetahui dia membohongiku. Terlebih ini karena soal wanita lain," tambahnya lirih.
"Itu artinya kamu mulai mencintainya. Apa itu artinya kau akan melepasnya demi Vika?!" Harry penasaran.
"Jika itu jalan yang terbaik untuk kami semua, aku akan mundur teratur sebelum aku terjebak lebih dalam lagi dan tidak bisa keluar," jawab Ghavi mantap.
"Bagus! Aku suka sikap tegasmu ini. Jujur, aku pernah menyesal kenapa dulu harus kakakku yang dijodohkan denganmu dan bukan aku," ungkap Harry.
"Maksudmu?!"
"Hehe, tidak! Jujur, aku pernah menyukaimu. Tapi itu dulu, diawal-awal pertemuan kita. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa suka yang aku rasakan terhadapmu dari rasa suka seseorang terhadap lawan jenis berganti rasa sayang seorang kakak kepada adik perempuannya. Sungguh!!"
Harry mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V, manakala dilihatnya reaksi Ghavi yang melotot tak percaya.
"Baguslah, Mas! Karena akan sulit bagiku menghadapi kalian kakak beradik jika itu sampai benar-benar terjadi," timpal Ghavi lega.
"Hahaha ...!"
Harry terbahak mendengar ucapan gadis itu.
"Oh, ya, Mas, kau belum menceritakan tentang hubungan Mas Handy dan Vika. Ceritakan semuanya padaku, sejauh yang kau tahu," pinta Ghavi setelah Harry selesai dari gelak tawanya.
"Kau yakin ingin mendengarnya?!"
"Ya!"
"Ok!"
***
__ADS_1