
"Papa, aku lapar!" cicit Sunny yang duduk di depan samping Aslan yang sedang menyetir.
Mereka baru saja pulang mengantar Bintang kerumahnya.
"Sunny mau makan apa?!"
Handy yang kini duduk berdua dibelakang bersama Ghavi pun bertanya.
Tadi, sewaktu mengantar Bintang, Sunny meminta duduk didepan. Akhirnya Handy mengalah duduk dibelakang bersama Ghavi dan Bintang.
"Sunny mau makan ayam ungkep bumbu Bali direstaurant biasa kita makan, Pa!" jawab Sunny cepat.
Kepala kecilnya menoleh kr belakang menanti persetujuan sang papa.
"As, kita mampir ke restaurant biasa!" perintah Handy pada asisten sekaligus supirnya.
"Yess! Terima kasih, Papa!" Sunny berteriak kegirangan.
Sudah cukup lama gadis cilik itu tidak makan diluar.
Mobil pun akhirnya berhenti di halaman parkir sebuah restaurant yang cabangnya ada di mall yang tadi mereka kunjungi.
"Aku mau ayamnya yang bagian paha, ya, Pa! Seperti biasa," ujar Sunny begitu memasuki restaurant.
"Iya!" sahut Handy.
"Wah, penuh sekali tempatnya. Kita akan duduk dimana?!"
Ghavi melihat kesegala penjuru restaurant. Dikarenakan ini bertepatan dengan jam makan siang, maka hampir semua tempat duduk sudah terisi.
"Di sebelah sana saja, Boss!" tunjuk Aslan pada privat room yang masih tersisa dua meja kosong.
"Ck! Harus berapa kali kubilang, jangan panggil Boss!" decak Handy.
"Coba kau tanyakan dulu pada pelayan, tempat itu sudah dibooking atau belum?!"
"Baik, Boss! Eh, maksudku, Pak!"
Aslan meralat panggilannya karena mendapat pelototan dari atasannya.
"Hmm, cepatlah!"
Handy memutar kursi rodanya menuju kearah toilet.
"Papa mau kemana?!" tanya Sunny masih dalam gandengan Ghavi.
"Papa mau ke toilet dulu sebentar," pamit Handy.
"Biar kuantar!"
Ghavi hendak mendorong kursi roda Handy, namun, laki-laki itu melarangnya.
"Tidak perlu! Hanya ke kamar kecil saja aku bisa sendiri," tolaknya.
"Tapi," sahut Ghavi terlihat khawatir.
"Sudah, Pak! Meja kedua tempat kita makan!"
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Aslan datang menunjuk meja ke dua dekat jendela.
"Kau ajak saja Sunny duduk di kursi yang Aslan pesan! Biarkan dia yang mengantarku ke toilet," perintahnya pada Ghavi.
Laki-laki itu lantas memberikan kode pada sang asisten yang langsung mengambil alih pegangan kursi roda.
"Baiklah! Ayo, Sayang kita tunggu Papa dan Om As di meja saja!"
Ghavi langsung kembali menuntun Sunny menuju meja observasi.
Lima belas menit kemudian, Handy dan Aslan kembali dari toilet.
"Papa lama, deh! Sunny sudah lapar sekali," keluh bocah kecil berkepang satu seperti tokoh kartun kesukaannya.
"Maaf, Sayang! Tadi harus antri dulu soalnya," kata Handy yang mengambil posisi disebelah Sunny yang lain.
Aslan sendiri duduk di kursi seberang Ghavi.
"Silakan mau pesan apa?!" tanya seorang pelayan yang datang mendekati meja mereka.
"Nasi dan ayam ungkep bumbu Balinya satu, tapi isi pahanya dua seperti biasa. Terus, aku pesan nasi dan sayur capcay sama ayam bakar. Untuk minumnya teh hangat tawar dua," ucap Handy pada pelayan.
"Kalian mau makan apa?!"
Ditatapnya Aslan dan Ghavi bergiliran.
"Saya samakan saja seperti pesanan Bapak!" ujar Aslan.
"Kamu?!" tunjuk Handy pada Ghavi yang sepertinya masih bingung memilih menu.
"Emm, aku pesan ... nasi sama bebek sambel ijo saja. Minumnya teh tawar hangat.
"Es jeruk, mungkin?!" lanjutnya.
"Enggak, deh! Tadi, kan sudah minum es waktu di mall," tolak Ghavi menggeleng.
"Baiklah! Sudah, Mas itu saja."
Ghavi mengembalikan buku menu pada pelayan.
Sementara menunggu pesanan, mereka pun asyik dengan dunianya masing-masing.
Ghavi asyik menonton video anak diponselnya bersama Sunny, Aslan membalas pesan dari beberapa klien, serta Handy yang fokus memandangi Ghavi dan putrinya yang sesekali terdengar tertawa karena video yang mereka tonton.
Ghavi terlihat seperti seorang ibu yang dengan telaten menanggapi celotehan dan pertanyaan putrinya yang selalu penasaran dengan hal-hal baru yang baru didapatnya.
Handy jadi teringat kejadian beberapa tahun silam saat dirinya dan Ghavi diminta untuk menjadi orangtua sehari bagi Rindu.
Saat itu, Ghavi begitu memerankan dirinya sebagai seorang ibu. Padahal, waktu itu usianya masih sangat muda, delapan belas tahun lebih.
Tapi, sikap keibuannya muncul dengan tulusnya saat menghadapi sifat manja dan kekanak-kanakkan Rindu waktu itu.
Pemandangan yang ada dihadapannya kini hampir mirip dengan yang dia saksikan dulu saat Rindu duduk dipangkuan Ghavi, hal yang sama dilakukan Sunny sekarang, untuk melihat tokoh kartun kesayangannya, FROZEN, yang menjadi tokoh kartun kesayangan Sunny juga sekarang.
Hanya bedanya mungkin dulu Rindu adalah sosok gadis kecil yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya sehingga Rindu meminta dirinya dan Ghavi untuk menjadi orangtua baginya meskipun hanya sehari.
Sementara Sunny, dia masih bisa merasakan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya, meskipun cuma dari papanya saja, dan para asistennya.
__ADS_1
Sudut hatinya sedikit menghangat melihat senyum dan tawa sang putri yang jarang sekali dia lihat selama ini.
Ada setitik penyesalan menelusup kehatinya yang hampa. Seandainya dulu dia tidak mengacuhkan keberadaan putrinya ...
"Silakan menikmati hidangan!"
Pelayan yang datang membawa pesanan langsung menghentikan lamunan Handy dan juga aktifitas orang yang ada dimeja tersebut.
Mereka pun akhirnya makan dengan lahap dan tenang.
Saking lahapnya, bahkan Sunny sampai nambah nasi milik Ghavi saat dia menyuapi gadis kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan itu.
"Masih mau tambah?!" tanya Ghavi pada suapan terakhir Sunny.
"Sudah kenyang, Tante!"
Sunny menepuk-nepuk perutnya yang begah akibat kekenyangan.
"Kamu mau tambah nasi?!"
Handy menatap Ghavi yang sedang menghabiskan bebek bakar sambal ijonya menggunakan tangannya.
Ghavi hanya menggeleng sebagai jawaban. Mulutnya sibuk mengunyah daging bebek yang terasa sangat empuk dimulutnya. Rasanya tidak jauh berbeda dengan masakan bebek yang ada di restaurantnya.
"Rasa bebeknya hampir mirip yang ada di restaurantku," gumamnya.
"Tante Cantik punya restaurant juga?!" tanya Sunny saat mendengar gumaman Ghavi.
"Iya! Tapi restaurant punya Tante sedikit lebih kecil dari tempat ini," terang Ghavi begitu menyelesaikan makannya.
"Wah, benarkah?!" tanya Sunny lagi seakan tidak percaya.
Ghavi mengangguk.
"Kapan-kapan boleh Sunny kesana?!"
"Boleh, dong! Emm, bagaimana kalau besok kita ke restaurant milik Tante?! Kebetulan besok Tante mau kesana. Tapi, ijin dulu pada Papa Sunny."
"Boleh, Pa?!"
Sunny dan Ghavi sama-sama menatap Handy menunggu jawaban.
"Hm, boleh!"
"Yeeeyy! Terima kasih, Papa!"
Sunny berteriak senang saat dilihatnya sang papa mengangguk membolehkan.
Ditubruknya tubuh sang papa sebagai tanda terima kasih.
"Asal tidak merepotkan dan mengganggu pekerjaan Tante Ghavi saja," pungkas Handy.
"Sunny sudah tidak mau mampir lagi, kan?!"celetuk Aslan yang sejak tadi menjadi pendengar.
"Soalnya Om As dan Pak Boss harus kembali ke kantor," lanjutnya.
"Sudah! Sunny mau pulang, ngantuk!"
__ADS_1
Sunny terlihat menguap.
Akhirnya Aslan mengantar kedua gadis beda usia itu pulang ke rumah, sebelum melanjutkan perjalanan kembali mengantar sang atasan ke kantornya dan bertemu dengan klien yang lain lagi.