
"Assalamualaikum!!" sapa Ghavi saat menginjakkan kakinya dikediaman Om Rudi.
"Waalaikumsalam!!"
Seorang wanita lima puluh lima tahun keluar dari dalam rumah.
"Eh, Ghavi, ayo masuk!"
Wanita yang ternyata Tante Rudi itu langsung memeluk tubuh Ghavi penuh rindu.
"Tante sangat merindukanmu. Tante pikir kamu tidak mau datang kemari. Maafkan Handy yang sudah sangat mengecewakanmu, Sayang," berondong Tante Rudi sambil menangis.
Wanita itu tidak pernah menyangka jika anak pertamanya itu sudah membuat keluarganya malu.
Ya. Tante Rudi sangat malu pada gadis yang saat ini berada dalam pelukannya.
Gara-gara kekhilafan anaknya, gadis itu yang jadi korban.
"Sudahlah, Tante! Semuanya sudah terjadi. Mau diapakan lagi?! Mungkin kami memang tidak ditakdirkan berjodoh," balas Ghavi sembari mengurai pelukan Tante Rudi.
Sebenarnya Ghavi sendiri merasa sakit hati dengan perlakuan Handy padanya yang seakan mempermainkan.
Berkali-kali laki-laki itu menyatakan cintanya namun semuanya hanya dusta belaka.
"Dimana Om Rudi, Tante? Beliau sehat, kan?! Maaf aku baru datang. Tadi pagi harus ke kampus dulu," Ghavi berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Alhamdulillah, Om sehat. Sedang agak sibuk sekarang. Harry juga terpaksa libur ngajar karena disuruh bantu bapaknya diperkebunan. Sebentar lagi pasti mereka pulang," jawab Tante Rudi.
"Oh, ayo masuk! Tante sampai lupa tidak menyuruhmu masuk kerumah."
Dirangkulnya pundak Ghavi dan diajaknya masuk kedalam.
"Emm, acaranya kapan Tante?"
"Masih nanti malam. Tante sangat berterima kasih padamu. Dengan berbesar hati sudah mau datang kemari. Padahal dia ..."
"Sudahlah, Tante. Jangan dibahas lagi. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," potong Ghavi.
"Hiks ...! Kamu gadis yang baik, Vi. Tidak seharusnya Handy menyakitimu dengan cara seperti ini."
Tante Rudi kembali terisak mengingat kejadian yang sudah ditorehkan anak sulungnya itu.
"Emm, Tan, boleh nggak kalau aku nyusul Mas Harry ke perkebunan?! Sekalian mau minta dia ngantar aku ke objek wisata. Kemarin dulu, kan cuma aku sendiri yang tidak jalan-jalan kesana gegara aku sakit."
__ADS_1
Ghavi teringat beberapa bulan lalu saat dirinya dan Risa serta Aksan bertandang kerumah Om Rudi untuk pertama kalinya, hanya dia yang tidak ikut jalan-jalan sebab dirinya dilarikan kerumah sakit karena athsmanya kambuh.
"Oh, ya, sudah. Ayo! Tante juga kebetulan harus menyusul Om-mu. Dan mumpung waktunya belum terlalu sore."
Tante Rudi berjalan masuk kamar dan keluar lagi sudah memakai jaket wol yang terlihat hangat.
" Pakai jaketmu! Udaranya sebentar lagi dingin."
"Ya, Tante!"
"Ayo!"
Keduanya pun pergi menuju perkebunan setelah sebelumnya Tante Rudi memberikan arahan pada para pekerja yang diperintahnya untuk persiapan acara syukuran nanti malam.
"Mas Handy dan Mbak Vika kapan sampainya?!"
Ghavi berjalan bersisian dengan Tante Rudi yang sengaja menggamit tangannya.
"Handy bilang lepas maghrib baru bisa sampai. Ada pekerjaan yang harus diurus dulu diJogja. Paling sekarang mereka dalam perjalanan kemari sekarang."
"Oh!"
"Oh, ya! Kok, kamu datang sendiri, tidak sama teman-temanmu seperti waktu itu?! "
"Harusnya kamu ajak mereka juga."
"Maaf, Tante! Mereka sedang sibuk masing-masing. Kapan-kapan lagi main kesini ramai-ramai lagi. Sahabatku yang dari Jakarta juga ingin main kemari. Tapi memang waktunya belum sempat."
Sekitar lima belas menit perjalanan, keduanya sampai diperkebunan sayur milik keluarga Om Rudi.
"Waahh!! Indah sekali pemandangan disini, Tante!" teriak Ghavi.
Tante Rudi hanya tersenyum melihat tingkah Ghavi.
Sementara Ghavi terus berlari memasuki ladang sayur didepannya mengikuti jalan setapak yang ada.
Dipandanginya hamparan kebun sayur yang beraneka ragam itu penuh kekaguman.
"Itu belum seberapa. Coba kamu datang lagi kemari pas musim siap panen," celetuk seseorang dari belakang.
Ghavi yang tengah asyik menikmati pemandangan dan sejuknya udara sore itu pun lantas berbalik pada asal suara.
"Mas Harry!!" pekiknya girang.
__ADS_1
Kedua tangan yang tadinya direntangkan saat menghirup udara itu refleks memeluk tubuh Harry yang berada tepat dibelakangnya.
"Ehm!!"
Harry berdehem karena merasa tak nyaman diperlakukan seperti itu oleh calon kakak ipar kecilnya sendiri, yang mungkin juga akan gagal karena tragedi kakaknya, apalagi didepan kedua ibu bapaknya.
"Ups! Sorry!" ujar Ghavi salah tingkah.
Gadis itu segera melepaskan pelukannya pada Harry yang dia sendiri baru menyadarinya.
" Eh, Om! Apa kabar?!"
Disalaminya Om Rudi yang ternyata berdiri dibelakang Harry. Sementara Tante Rudi hanya mesam-mesem melihat kelucuan gadis remaja itu.
"Baik! Kamu sendiri gimana, baik juga, kan?!" balas Om Rudi membelai pucuk kepala Ghavi dengan sayang.
"Kenapa baru sampai? Katanya tiba agak siangan, Om pikir sebelum dzuhur kamu sudah sampai rumah," lanjutnya.
"Maaf, Om! Tadinya niatnya begitu. Tapi ada panggilan dari pihak kampus. Jadi, ya, telat, deh sampainya."
"Memangnya ada apa sampai kamu dipanggil pihak kampus?!"
"Eee, itu, Om. Apa, ada tawaran buat jadi pertukaran mahasiswa ke Ausie."
Ghavi melirik kearah Harry. Niat awal ingin menemui Harry pertama kali adalah ingin menanyakan kebenaran berita yang dia dapat.
"Oh, ya?! Wah!! Kebetulan kalau begitu. Harry juga dapat tawaran untuk menyelesaikan magisternya ke Ausie juga. Dan ... kalau tidak salah berangkatnya dua bulan lagi. Iya, kan, Dek?!"
Tante Rudi bercerita dengan antusias sambil memandangi putra keduanya dengan bangga.
"Apaa??!!"
***
Maaf, man-teman, sudah buat kalian kecewa. Authornya lg benar2 gak enak body. Sudah hampir sebulan ini bolak-balik beli permen pahit dan bed rest. Ternyata didiagnosa asam lambung tinggi dan gejala types. tekanan darah rendah juga.
Boro-boro buat mikir dan nulis, buat masak demi suami dan anak-anak aja jadi terpaksa, coz kalau dibuat banyak gerak mesti langsung panastis lagi.
So, maaf jika untuk kedepannya slooooww respon. Tapi man-teman jangan unfav cerita aku, ya, biar sewaktu-waktu aku up, kaliam masih bisa ngikutin.
Doakan saja semoga Authornya cepet sembuh seperti sediakala lagi.
Makasih untuk waktu kalian selama ini buat baca karya-karya receh Author.
__ADS_1