Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Belut


__ADS_3

Sore ini Bintang sangat senang. Fajar akhirnya mengabulkan permintaan Liana dan Bintang yang ingin ditemani memancing belut di sawah milik Ghavi yang diwarisi dari eyangnya.


" Horeee ... aku dapat lagi!" teriak Liana senang.


Ini sudah kali ketiganya dia berhasil menangkap belut dengan mata pancingnya.


"Jar, nih tolong lepasin belutnya dari kail," serunya pada Fajar yang berada beberapa meter didepannya.


"Lepasin saja sendiri."


Fajar terus saja berjalan, kadang berjongkok mencari lubang belut yang akan dia pancing.


"Nggak bisaaa ...!!" teriak Liana karena Fajar semakin jauh meninggalkan pematang tempatnya dan Liana mancing.


"Ck ...! Merepotkan saja Kakak, nih. Kalau nggak bisa ngapain maksa orang buat temenin mancing?!" gerutu Fajar.


Tak urung juga dia kembali lagi mendekati Liana yang kesusahan melepas belut dari mata pancingnya karena licin.


"Nih, gini aja nggak bisa. Huh ...!"


"Hehe ...! Makasih adik Kakak yang comel," kekeh Liana.


Fajar pun kembali melangkah. Kali ini dia berjalan mendekati Bintang dan Ghavi yang tengah asyik berjongkok. Tampak dari kejauhan tadi Ghavi beberapa kali berhasil menangkap belut.


"Gimana, dapat banyak, nggak belutnya?"


"Dapat, dooong! Kita, kan budak pandai," sahut Ghavi menirukan bahasa film animasi anak botak dari negeri jiran.


Dengan bangga diangkatnya ember yang sudah berisi belut.


"Mana, aku mau lihat, dong," celetuk Liana dari balik punggung Fajar.

__ADS_1


Karena pematang yang sempit, maka mereka berdiri berurutan seperti orang antri.


"Jangaaan ...!" teriak Bintang yang berada disamping Ghavi.


"Eh, kenapa, Sayang?!" tanya Ghavi bingung tiba-tiba saja Bintang merebut ember ditangannya.


"Nanti Aunty minta lagi. Kan, susah nangkapnya, " sahut Bintang.


Dipeluknya ember belut dengan posesif.


"Haha ...! Ya, nggak, lah. Kan, Aunty mancing sendiri."


Ghavi tergelak mendengar alasan Bintang.


"Tapi, kan cuma sedikit. Nggak seperti punya kita yang dapat banyak. Pokoknya nanti pas digoreng, Aunty nggak boleh ambil banyak-banyak, lho!" ujar Bintang mengancam.


"Nggak apa-apa! Aunty bisa minta sama Om Fajar, wleee ...!" balas Liana menjulurkan lidah.


Gadis itu tidak mau kalah dengan keponakannya.


Bintang mengintip hasil tangkapan Fajar diember yang dibawanya dan membandingkannya dengan isi ember milik Ghavi yang tengah didekapnya.


"Haha ...!"


Fajar tergelak mendengar penuturan anak TK itu.


"Om Fajar memang selalu kalah kalau soal mancing belut sama Tante Ghavi. Soalnya dia sudah mahir dari kecil. Dulu gurunya itu langsung dari Eyang Kakung," sahut Fajar.


Sejak kecil Ghavi selalu diajak eyang kakungnya ke sawah saat Ghavi berlibur ke Jogja. Eyang kakungnya selalu mengajarinya bertani, bahkan memancing belut di sawah seperti sekarang. Dia selalu dapat banyak.


Suatu ketika Fajar bertanya apa kiatnya kenapa hasil pancingannya banyak? Eyang kakung dan Ghavi selalu menjawab rahasia katanya.

__ADS_1


"Idiiihh ...! Hasil punya orang saja bangga," cibir Liana tidak mau kalah.


"Biarin! Tante Cantik, kan baik. Boleh, ya nanti Bintang minta bagian?"


Bintang beralih memandang Ghavi dengan puppy eyes-nya.


Pasalnya Bintang hanya membantu Ghavi membawakan ember sebab dia masih kecil dan belum bisa memancing.


"Hm, boleh, Sayang! Semuanya boleh buat kamu."


Ghavi mengangguk, mengelus puncak kepala Bintang dengan gemas.


"Tuh, boleh! Memangnya Aunty, pelit," sambungnya.


"Tetap saja bukan tangkapan sendiri. Wleee ...!" Liana kembali memeletkan lidah.


"Sudah, sudah! Jangan berdebat. Sudah sore, ayo pulang!"


Fajar menengahi.


Akhirnya mereka pulang ke rumah setelah sebelumnya membersihkan kaki dan tangan mereka di parit kecil. Meski hanya parit kecil tapi airnya jernih dan bersih sebab mengalir langsung dari bukit tak jauh dari sawah Ghavi tersebut.


Kepuasan tercetak diwajah masing-masing. Rasa penat dan lelah setelah aktifitas mereka hilang sudah terhibur lewat acara mancing tadi.


Khususnya Bintang, anak yang baru pertama kali berkunjung ke kampung halaman Ghavi itu begitu antusias menceritakan kegiatannya mulai dari pagi yang ikut Bi Mirna ke pasar tradisional, membantu Fajar membersihkan halaman belakang, memetik buah mangga di samping rumah hingga kegiatan tadi sore saat mancing belut disawah kepada orang tuanya melalui video call.


Bocah itu meminta pada Ghavi jika liburan panjang tiba, dia ingin Ghavi memintakan ijin pada orang tuanya berlibur ke Jogja kembali.


Bocah itu belum sempat pergi jalan-jalan ke tempat wisata karena keterbatasan waktu yang libur cuma dua hari. Terlebih lagi dia harus pulang untuk kembali bersekolah.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Liana dan Bintang terpaksa pulang bertiga dengan Pak Yoyon ke ibu kota lebih dulu.

__ADS_1


Ghavi terpaksa mengundur kepulangannya karena Risa mengalami kontraksi hebat akibat terpeleset di kamar mandi yang mengharuskan bumil itu menjalani operasi caesar demi keselamatan baby twins-nya.


***


__ADS_2