
"Handy dan Vika pacaran sejak mereka masih kuliah dulu," Harry mulai bercerita.
"Mereka tampak baik-baik saja dengan hubungan mereka yang selalu tampak mesra. Sampai suatu saat di semester akhir, Vika memutuskan Mas Handy dengan tiba-tiba. Vika bercerita padanya kalau dirinya telah dijodohkan dengan laki-laki pilihan orangtuanya."
"Sebulan setelah kabar perjodohannya, Vika menghilang dari kampus. Rupanya diam-diam dia pindah ke Kalimantan mengikuti suami perjodohannya itu."
"Mas Handy yang saat itu merasa terpukul, mulai terlihat nakal dengan mabuk-mabukan dan tidak lagi peduli dengan penampilan. Rambut gondrong, celana robek dilutut, dan gitar yang selalu nangkring dipundak menjadi ikon tersendiri baginya. Sampai-sampai bapak menjulukinya preman."
"Namun begitu, ada sisi baik yang dia lakukan yaitu suka menyumbang ke panti asuhan dari hasil ngamen."
Harry berhenti sejenak. Dia menyeruput habis kopi dihadapannya.
"Lambat laun dia mulai bisa merubah penampilan dan sifat buruknya itu semenjak dia bertemu dengan kakekmu dipanti asuhan Cahaya milik beliau. Tapi perubahan itu juga sedikit membuat bapak dan ibu khawatir, sebab Mas Handy berubah dari laki-laki urakan dan cerewet, berubah menjadi pribadi yang dingin dan angkuh meski dengan penampilannya yang sekarang dia jauh disegani dan dihargai dibanding dulu," ujar Harry mengakhiri ceritanya.
"Hanya sejauh itu yang aku tahu, Vi. Intinya Kakakku dan Vika putus karena Vika dijodohkan, itu saja yang aku tahu."
"Hmmmpfh!!"
Ghavi menghela napas berat.
"Ya, sudah. Kita balik ke kamar eyang, yuk! Sudah lama kita pergi, takutnya yang lain mencari kita," Harry mengajak Ghavi kembali ke ruang perawatan Eyang Sosro setelah membayar minuman mereka.
"Terima kasih, ya, Mas! Kamu sudah mau bercerita soal masa lalu Mas Handy. Sekarang aku bisa mengambil keputusan seandainya mereka harus kembali bersatu."
Ghavi berjalan beriringan dengan Harry yang merangkulkan lengannya dipundak gadis itu.
"Iya, sama-sama! Apapun keputusanmu, akan aku dukung. Jangan khawatir untuk kedepannya, karena aku dan yang lain akan selalu ada untukmu," hibur Harry.
__ADS_1
Ghavi dan Harry sampai diruangan Eyang Sosro tepat disaat Aksan keluar kamar.
"Kebetulan kau kembali, Vi. Eyang sudah sadar dan sedang mencarimu," ujar Aksan sedikit terburu.
"Benarkah?!"
Ghavi langsung berlari masuk begitu mendengar jika eyangnya sudah sadar.
"Eyang!!" panggilnya menubruk tubuh Eyang Sosro yang sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit.
"Aku senang Eyang sudah bangun. Jangan begini lagi, Eyang. Jangan buat semuanya khawatir."
Ghavi menangis sambil memeluk erat eyangnya.
"Ghavi, cucuku, jangan menangis!"
"Berjanjilah pada Eyang, Nduk!" ujarnya menggenggam jemari lentik cucu kesayangannya.
"Jika Eyang pergi nanti, biarkan Bi Mirna dan keluarganya tetap tinggal di rumah utama. Mereka yang akan menggantikanku menjagamu," lanjutnya.
"Apapun yang Eyang minta, aku akan berusaha memenuhinya. Asalkan Eyang jangan tinggalkan aku. Huhuuu...," jawab Ghavi tergugu.
Tangisnya pecah lagi.
"Tidak, Nduk! Semua manusia hidup pasti akan kembali menghadap penciptanya. Cepat atau lambat pasti akan terjadi. Dan ...," ujar Eyang Sosro mulai tersengal.
"Eyang rasa, umurku ini tidak akan lama lagi. Berjanjilah! Apapun yang terjadi nanti, tetap pertahankan hubungan baik dengan keluarga Rudi, terlepas kau dan Handy bersatu atau tidak. Jangan pernah mengambil keputusan jika belum tahu pasti kebenarannya."
__ADS_1
Sampai disini Eyang Sosro terdiam cukup lama. Matanya mulai terpejam.
"Eyang! Eyang tidak apa-apa, kan?! Eyang baik-baik saja, kan?!" tanya Ghavi mulai panik.
Sebab, dirasakannya genggaman tangan eyangnya mulai mengendur.
"Tidak apa-apa! Eyang hanya lelah. Biarkan Eyang tidur dengan tenang," pintanya masih tetap dengan mata terpejam.
Suaranya pun terdengar lirih. Lima menit kemudian, suara monitor dimeja samping ranjang berbunyi nyaring menandakan berhentinya detak jantung Eyang Sosro.
Buru-buru Aksan memencet tombol darurat di atas ranjang untuk memberitahu dokter.
Tak berselang lama, seorang dokter dan dua perawat masuk dengan tergopoh-gopoh.
Sekitar sepuluh menit sang dokter bersama perawat memeriksa kondisi Eyang Sosro.
Kepalanya menggeleng pelan setelah menyampirkan stetoskop dipundaknya tatkala Harry bertanya dengan sorot matanya tentang keadaan pasien.
Ghavi yang mengerti arti dari gelengan sang dokter pun berteriak histeris.
"Eyaaaaang!! Bangun, Yang! Jangan tinggalkan aku. Aku ... aku ...," teriakan Ghavi terhenti seiring tubuhnya merosot ke lantai dekat ranjang rawat eyangnya.
Ghavi pun pingsan begitu mengetahui eyangnya sudah meninggal.
Harry yang berada didekatnya berusaha meraih tubuh gadis itu namun karena tidak siap, justru Harry ikut terjatuh akibat kurang siap menumpu tubuh Ghavi.
"Ghavi!!"
__ADS_1
"Harry!!" pekik Aksan dan Bi Mirna bersamaan.