Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Rekomendasi pertukaran mahasiswi


__ADS_3

Ghavi baru selesai menemui dekannya. Raut wajahnya tampak sumringah.


Dengan langkah mantap dan ceria, gadis itu berjalan menuju kantin kampus tempat Risa menunggunya.


"Sa!" panggil Ghavi menepuk pundak sahabatnya itu.


"Hei! Gimana tadi pertemuannya dengan Pak Dekan?"


" Ada apa, sih, Pak Dekan manggil kamu?"


"Kok, mukamu sumringah begitu, kenapa?!"


Risa langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.


Ghavi hanya tersenyum mengenang pertemuannya dengan sang dekan beberapa saat yang lalu.


"Ih, ditanya malah melamun," gerutu Risa sebal, merasa pertanyaannya dicuekin.


"Ghaviiii!!!" teriaknya ditelinga kiri Ghavi yang malah makin menampilkan senyum lebar.


Tanpa minta persetujuan dari Risa, Ghavi langsung menyeruput habis es cappucinonya yang tinggal setengah cup.


"Eh, eh, malah main seruput saja, nih bocah. Itu minumanku, woooiii," omel Risa merengut.


"Tenaaang, ntar aku ganti. Sekalian aku mau pesan makan, nih. Lapar!"


Ghavi memegangi perutnya.


"Mbak Kantin!" panggil Ghavi pada pemilik kantin langganannya.


"Mbak, aku mau pesan bakso acinya, dong. Sama minumnya teh tawar anget saja. Kamu mau pesan apa, Sa?"


Ghavi menoleh Risa.


"Bener, nih, kamu yang bakal bayar makanan aku?!" selidiknya.


"He-em!!"


Ghavi mengangguk yakin.


"Ok! Kalau begitu, aku mau pesan mie ayam bakso satu, gorengan dua, sama kerupuk acinya satu bungkus. Minumnya, emm, aku pesan es capuccino sama es teh manis, deh. Sudah itu saja," ujar Risa girang.

__ADS_1


"Busyeeett ... itu perut apa tong sampah?! Semua makanan masuk. Ck, ck, ck ... ."


Ghavi menggeleng takjub.


"Jadi nyesel, nih, mau bayarin?!"


"Bukan begitu, Sa! Cuma heran saja sama perut kamu. Semua makanan bisa masuk, tapi body masih saja cungkring begitu," timpal Ghavi.


"Hehe ...! Bisa saja, kamu," cengir Risa malu.


Tapi tak dipungkiri, Risa memang banyak makan, namun tubuhnya tetap saja kurus.


Berbeda dengan Ghavi. Jika dia makan berlebih sedikit saja, bobotnya akan bertambah naik. Makanya Ghavi terus menjaga pola makannya dengan ketat. Gadis itu takut gemuk, mengingat tubuhnya yang hanya mempunyai tinggi badan tidak lebih dari seratus lima puluh centimeter itu akan langsung terlihat bundar jika timbangannya naik meski hanya sedikit saja.


"Sekarang jelaskan ke aku, apa yang baru saja Pak Dekan beritahukan ke kamu?!" todong Risa sembari menunggu pesanan datang.


"Hehe ... ada yang lagi penasaran rupanya," ledek Ghavi.


"Viii ... ayo, dong, cerita! Bagaimana tadi pertemuannya?!"


"Aku seneeeng banget, tahu nggak, Sa. Aku dapat kesempatan untuk kuliah ke Ausie. Pihak kampus merekomendasikan aku untuk ikut pertukaran mahasiswi disana. Dan kalau aku mampu memenuhi syarat kedepannya, aku juga bisa langsung menyelesaikan S1-ku disana," jelas Ghavi bersemangat.


"Uhuk ...! Whaaatt??!"


"Seriusan, kamu?!" tanya Risa tak percaya.


"Iya! Aku juga nggak percaya pada awalnya. Kamu tahu sendiri, kan, aku ini sering bolos mata kuliah. Sering ijin nggak masuk. Aku sempat tanya itu ke Pak Dekan. Tapi beliau malah meyakinkan aku kalau aku mampu."


"Tapi akhirnya aku tahu alasan kenapa Pak Dekan mau memilihku," lanjutnya lirih.


Ada sedikit rasa kecewa dihati Ghavi.


"Apa?!" tanya Risa penasaran.


"Pak Harry," jawab Ghavi pelan.


"Maksudmu, Pak Harry yang merekomendasikan kamu untuk jadi mahasiswi pertukaran itu?!"


"Ya!"


"Dia meyakinkan Pak Dekan agar mau memenuhi keinginannya, dengan jaminan jabatannya sebagai dosen."

__ADS_1


Ghavi langsung hilang semangat begitu mengingat alasan dirinya direkomendasikan.


"Terus, kamu terima tawaran ini?!"


"Aku belum tahu. Aku harus tahu dulu apa alasan Mas Harry melakukan ini semua."


"Ya, sudah, nanti kamu tanyakan langsung sama Pak Harry, kenapa dia sampai melakukan hal itu. Siapa tahu ini justru jadi yang terbaik untukmu kedepannya," hibur Risa menepuk pundak cucu almarhumah majikan ibunya tersebut.


"Eh, kamu mau pulang dulu atau langsung dari sini ke Dieng, Vi?" tanya Risa mencoba mengalihkan pembicaraan.


Risa tidak ingin sahabatnya bersedih lagi. Paling tidak sampai dia tahu alasan khusus dari Harry kenapa melakukan semua itu pada Ghavi.


"Kayaknya langsung saja. Kalau mesti pulang dulu, takutnya kemalaman sampai sana," jawab Ghavi yang selesai makan lebih dulu.


"Kamu yakin mau pergi sendiri?!" tanya Risa kembali meyakinkan.


"Iya! Kamu tidak usah khawatir! Toh, aku sudah pernah naik bus sendiri dari Jakarta-Jogja dan aku baik-baik saja," balas Ghavi penuh keyakinan.


"Ya sudah kalau begitu. Kalau sampai ada sesuatu dujalan, kamu cepat kasih tahu aku atau Mas Aksan, ya."


"Ok!"


Ghavi menautkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.


Lima belas menit kemudian dua sahabat itu selesai makan. Kini keduanya sudah berada diterminal pemberangkatan.


"Hati-hati! Jangan lupa kabar-kabari."


Risa mengingatkan. Dia sengaja mengantar Ghavi sampai terminal, memastikan sahabatnya itu sampai masuk kedalam bus.


"Iya, bawel!" sungut Ghavi jengah karena sebentar-sebentar diingatkan.


"Emang!" sahut Risa cuek.


"Ya, sudah. Pulang sana! Ini sebentar lagi busnya mau berangkat," usir Ghavi karena Risa mengantarnya sampai ketempat duduk dalam bus.


"Iya, ini juga mau pulang. Besok jangan lupa oleh-oleh carica sama kripik jamurnya, yaaa," teriak Risa segera turun dari bus sebab bus sudah mulai berjalan lambat.


"Yaa!!" balas Ghavi ikut berteriak.


Saat Risa sudah berhasil turun, bus tersebut pun berjalan kencang hingga hilang dipintu keluar terminal.

__ADS_1


Gadis itu segera menghidupkan motor maticnya meninggalkan terminal, melaju kembali kekampus sebab masih ada satu kelas lagi yang harus dia hadiri.


__ADS_2