Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Perkara Sayur


__ADS_3

"Tante Cantik, aku boleh minta bebek bakarnya lagi, nggak?!"


Sunny melirik piring saji di depannya. Di atas piring saji masih ada sepotong bebek bakar madu sisa Sunny tadi.


"Boleh, kok!"


"Tidak!"


Ghavi dan Handy menjawab secara bersamaan.


Sunny melihat kearah Ghavi yang mengangguk tanda diijinkan. Lalu, gadis cilik itu beralih menatap sang papa meminta persetujuan.


Namun, bukannya mendapat anggukan seperti Ghavi tadi, Handy justru memberikan tatapan tajam.


"Kenapa, Pa?" tanya Sunny lirih.


"Kamu sudah menghabiskan tiga potong. Papa tidak mau nanti kamu sakit perut," jawab Handy beralasan.


"Tapi Sunny masih lapar!" cicitnya.


"Tidak boleh!"


Om dan Tante Rudi saling pandang melihat suara ketus putra sulungnya.


"Biarkan saja, Han! Kamu dengar sendiri, kan, putrimu masih lapar?!"


Tante Rudi berusaha menengahi.


"Tapi dia sudah makan tiga potong, Bu! Bukan ukuran seusianya makan dengan porsi segitu banyak."


"Tapi, Papa, Sunny masih lapar!"


Sunny kembali menjawab, merasa ada dukungan dari neneknya.


"Itu karena kamu tidak makan nasi, Sunny!"


Harry yang sedari tadi diam memperhatikan pun ikut menimpali.


"Ekhm!"


Om Rudi berdehem setelah menelan suapan terakhirnya.


Diambilnya gelas minum diatas meja untuk melegakan tenggorokannya.


"Biarkan Sunny makan sampai kenyang! Toh, tidak setiap hari ini," ujarnya memutuskan.


"Tapi, Pak,"


Protes Handy terpotong oleh kalimat Ghavi.


"Ehm! Sunny, kamu boleh makan bebeknya lagi, kok! Tapi, dengan syarat kamu harus makan nasinya."


Ghavi menunjuk piring nasi di depan Sunny.


Handy melotot mendengar penuturan Ghavi.


"Tenang saja, Mas! Sunny akan baik-baik saja, kok!"


Ghavi berusaha tersenyum meski mendapat pelototan tajam dari yang punya anak.


'Kamu tidak tahu saja, kemarin putrimu bisa menghabiskan begitu banyak porsi makanan yang seharusnya untuk empat orang, dihabiskan hanya berdua dengan Pak Yoyon,' batinnya.


"Sini, Tante suapi!"


Ghavi mengambil piring nasi milik Sunny.


Gadis itu mulai menyuapi Sunny menggunakan tangannya dengan dengan sangat telaten.


Handy yang merasa kesal pun memilih diam dan memainkan ponselnya.


"Sudah, Tante! Aku sudah kenyang!"


Sunny menolak suapan yang diberikan Ghavi disuapan ke limanya.


"Katanya tadi masih lapar? Nih, semuanya buat Sunny!"


Harry sengaja meledek keponakannya itu dengan menyodorkan capcay brokoli dan wortel.


Harry tahu, Sunny tidak menyukai kedua sayuran tersebut, jadi sengaja menggodanya.

__ADS_1


"Eemm!"


Sunny langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya rapat-rapat.


"Kenapa? Kamu mau muntah?!"


Ghavi terlihat panik melihat Sunny yang menutupi mulutnya itu.


Sunny menggeleng, lalu melepaskan tangan dari mulutnya.


"Haha ...!"


Harry tertawa terbahak melihat reaksi Sunny barusan.


"Sunny tidak suka brokoli dan wortel, Vi!"


Tante Rudi menjelaskan kenapa tadi sang cucu langsung membungkam mulutnya.


"Oh!"


Ghavi manggut-manggut.


"Kenapa tidak suka brokoli dan wortel?!"


Ghavi menatap Harry dan orangtuanya ingin tahu.


Dia tidak mungkin bertanya pada Handy yang sedang bertanduk, takut kena seruduk.


"Sebenarnya, bukan cuma brokoli dan wortel saja. Hampir semua sayur dia tidak suka. Hanya bayam dan jagung saja dia suka," terang Tante Rudi.


"Kenapa Sunny tidak mau makan sayur?!"


Ghavi menatap Sunny.


Disendoknya brokoli dan wortel didepannya lalu menyodorkannya kedepan mulut Sunny yang langsung dibekap kembali menggunakan tangan kirinya. Sedang tangan kanan mendorong sendok agar menjauh dari mulutnya.


"Nggak enak!"


Sunny menggelengkan kepalanya tanda menolak.


"Padahal kedua sayur ini enak. Dan keduanya termasuk sayur kesukaan Tante, lho!"


"Heeemm, enaak!!"


Ghavi mengacungkan jempol kanannya.


"Wueekk!! Sayur rasanya begitu dibilang enak," cibir Sunny memeletkan lidahnya.


" Kamu belum coba, gimana tahu rasanya? Sayur itu bisa membuat kita sehat. Selain itu, sayur juga bisa membuat kulit kita halus dan cantik."


"Kayak Tante Cantik?!" tanya Sunny mulai penasaran.


"Iya! Nih, coba!"


Ghavi menyodorkan sendok berisi sayur pada Sunny.l


"Pokoknya nggak suka sayur!"


"Dikiiit, saja. Ayo, aaa ...!"


Ghavi menyuruh Sunny membuka mulutnya.


"Nggak mau!" tolak Sunny keukeuh.


"Ntar Tante bonusin bebek bakar buat Sunny bawa pulang," pancing Ghavi.


"Benar?! Tante nggak bohong, kan?!"


Rupanya Sunny mulai terpancing mendengar kata bebek bakar.


"Nggak! Bohong dosa, jadi kita nggak boleh bohong, ok?!"


"Tapi satu ini saja, ya," tawar Sunny.


"He-em!"


Ghavi mengangguk.


"Bayangkan jika kamu sedang makan bebek bakar madu kesukaan kamu," perintahnya.

__ADS_1


Sunny pun mulai mengunyah suapan brokoli dan wortel dimulutnya.


Matanya merem melek menikmati rasa sayur yang masih terasa asing baginya.


"Gimana rasanya, enak, kan?!"


"Masih enakan bebek bakar madu aslinya," komentar Sunny.


Walau begitu, ditelan juga suapan demi suapan sayur yang Ghavi berikan padanya hingga tak terasa habis sudah dipiring.


"Hahaha ...!"


Harry dan orangtuanya tertawa melihat Sunny yang terus memakan sayur dengan mata terpejam membayangkan makanan favoritnya hingga habis tak bersisa.


Tante Rudi pun terharu melihat cara Ghavi membujuk sang cucu agar mau memakan sayur.


Sementara itu, Handy yang diam-diam memperhatikan tingkah kedua gadis beda generasi disampingnya melalui ekor matanya itu menarik sedikit susut bibirnya membentuk senyuman, meski tidak kentara.


Dalam hatinya dia mengakui kepintaran Ghavi dalam membujuk dan merayu putrinya untuk memakan sayur.


Rasa cintanya pada Ghavi yang sempat beku selama beberapa tahun ini mulai kembali mencair dan menghangat.


"Wah, hebat, cucu Kakek! Sekarang sudah mau makan sayur, ya," pujinya sambil bertepuk tangan.


"Iya, terpaksa! Demi bebek bakar madu," gumam Sunny.


"Haha ...! Dasar, kamu!"


Ghavi mencubit hidung Sunny gemas.


"Mulai sekarang jangan melakukan sesuatu dengan terpaksa, karena melakukan sesuatu dengan terpaksa itu hasilnya tidak akan baik. Jadi, Sunny harus ikhlas!"


Harry memberi nasehat pada kepinakannya itu.


"Ya, Om!"


Sunny mengangguk.


"Tapi, janji Tante Cantik harus ditepati, lho!" tagihnya.


"Haha ...! Iya, iya!! Sebentar, ya, Tante ke belakang dulu meminta Om Fikar untuk menyiapkan."


Ghavi pun beranjak ke belakang untuk meminta pesanan yang tadi dia minta untuk Aslan, sekalian memenuhi janjinya pada Sunny, yaitu membungkuskan bebek bakar madu.


Aslan memang tidak jadi ikut makan malam bersama karena harus mengambil dokumen di tempat klien Handy yang tadi sempat menelponnya.


Mbak Nia ikut bersama Aslan sampai di terminal karena kebetulan Mbak Nia juga mendapat telpon dari adiknya jika bapaknya masuk rumah sakit.


Wanita awal empat puluh tahun itu niatnya akan pulang dulu kerumah untuk mengambil uang. Namun, Handy melarang.


Menurutnya, jika harus pulang dulu ke rumah nanti akan memakan waktu lama.


Handy pun berinisiatif mentransfer sejumlah uang untuk Mbak Nia gunakan sebagai biaya pengobatan ayah wanita itu.


Tante Rudi juga memberikan dua juta uang cash untuk naik bus dan pegangan selama perjalanan.


Akhirnya malam itu Ghavi pulang menggunakan mobil Fikar yang kebetulan akan lembur bersama para asisten kokinya, mengingat mobil Handy dibawa Aslan pergi.


Kebetulan besok pagi ada pesanan lima ratus box makanan sehingga Fikar dan yang lain akan lembur dan menginap di restaurant.


Pesanan datang dari pemuda aktivis sosial yang saling iuran yang rencananya akan membagikan makanan pada para pekerja jalanan dan anak-anak terlantar seperti tukang sapu jalan, tukang becak, tukang ojek dan pedagang asongan serta gelandangan dan pengemis.


Aksi tersebut sangat didukung oleh Ghavi selaku pemilik restaurant yang dipercaya untuk membuat makanan.


Gadis itu pun ikut menyumbangkan seratus box nasi sebagai bantuan tambahan.


"Siapa yang mau naik mobil bersamaku?!" tanya Ghavi sesampainya rombongan keluarga Handy berada diparkiran.


"Tante dan Om ikut sama Harry saja, ya."


Tante Rudi mengambil keputusan.


"Sunny ikut Nenek saja, ah!"


Sunny menghambur kearah neneknya.


"Baik! Kalau begitu Mas Handy yang bareng aku," putus Ghavi tanpa menanyakan persetujuan orangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2