
Ghavi baru terbangun saat jam didinding ruang perawatan Om Rudi sudah menunjukkan pukul tiga sore. Rupanya gadis itu tertidur selama kurang lebih dua jam.
"Kau sudah bangun?" suara Handy menyadarkannya kembali kealam nyata.
"Eh, iya," jawabnya gugup.
"Maaf, tidurku terlalu lama," imbuhnya.
"Tidak apa-apa!"
Handy yang baru keluar dari kamar mandi itu terlihat segar dengan rambut acak-acakan yang menambah tingkat ketampanannya.
"Mandilah! Setelah itu kita cari makan. Kita tadi melewatkan makan siang kita. Aku lapar," perintahnya sambil mengingatkan makan siang mereka yang terlewat.
"Oh, baiklah! Tapi ..."
" Kenapa?"
"Kalau kita pergi, nanti siapa yang jaga Om Rudi?!"
"Harry sedang dalam perjalanan kemari. Dia yang akan menjaga Bapak."
"Oh!"
Ghavi pun pergi ke kamar mandi setelah mengambil baju ganti ditas ranselnya.
Lima belas menit kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi dengan balutan dress bunga-bunga warna pink tanpa lengan sedikit diatas lutut. Rambut sebahunya tampak basah habis keramas.
"Eh, Mas Harry kapan sampai?!" tanya Ghavi sedikit terkejut karena baru menyadari ada Harry disana.
Laki-laki itu duduk dikursi samping Om Rudi, sehingga tidak langsung terlihat olehnya karena letak kamar mandi yang membelakangi ranjang.
Sementara Handy duduk disofa bed tempatnya tadi tidur. Tangannya sibuk menekan layar ponsel pintarnya.
"Baru saja. Kau baru mandi?" tanyanya sekedar basa-basi.
"Iya!" jawab Ghavi mengangguk.
Gadis itu melangkah mendekati Handy dan duduk disampingnya.
Tangannya meraih tas ransel dan mengambil tempat make-up untuk berdandan dan merapikan rambut.
Bau harum shampo menguar masuk kehidung Handy yang duduk didekatnya itu langsung menoleh.
Dilihatnya Ghavi sedang menyisir rambutnya yang setengah basah.
"Sudah?!" tanyanya tak sabar.
Dimasukannya ponsel kesaku celananya dan beranjak mendekati Harry.
"Eh, iya. Sebentar!"
Ghavi buru-buru menyisir rambutnya dan segera menyimpan sisir ditempatnya semula.
Diapun berdiri menyusul Handy setelah menyambar telpon.
"Kau mau pesan apa, biar nanti dibawakan sekalian."
Handy bertanya pada Harry.
"Martabak cokelat kacang sama kopi pahit saja kalau ada," jawabnya sambil memberikan kunci mobil pada kakaknya.
"Ok!" sahut Handy singkat.
Ghavi dan Handy keluar dari ruangan itu meninggalkan keterpakuan Harry yang terus menatap punggung Ghavi hingga menghilang dari pandangan.
Seandainya aku yang mendapatkanmu, betapa beruntungnya aku.
"Ah! Mikir apa, sih aku ini," gumamnya lirih.
"Sadar, Har, dia jodoh kakakmu. Hilangkan perasaan sukamu padanya sebelum semuanya terlambat," lanjutnya bermonolog.
"Kau kenapa?"
Harry pun tergagap mendengar pertanyaan bapaknya yang tiba-tiba itu.
"Eh, Bapak, sudah bangun?!" tanyanya sedikit gugup.
"Sejak kapanf Bapak bangun?!" tanyanya takut bapaknya mendengar gumamannya barusan.
"Baru saja! Mana kakakmu?!" tanyanya sedikit cadel akibat stroke yang sedang dideritanya.
"Baru saja keluar, Pak! Mengajak Ghavi makan. Kata Mas Handy dari siang belum makan," terangnya lega karena bapaknya tidak curiga.
"Bapak mau pesan apa, biar nanti aku sampaikan ke Mas Han," tawar Harry.
Bapaknya hanya menggeleng pelan.
" Bapak mau minum saja," jawabnya seraya melirik gelas diatas nakas disamping ranjang.
"Oh, baik!"
__ADS_1
Harry segera meraih gelas dan memunumkannya pada bapaknya menggunakan sedotan.
Sementara itu, Ghavi dan Handy tengah berdebat dimobil tempat yang akan mereka kunjungi untuk makan.
"Pokoknya aku mau nyobain mie khas daerah sini. Kemarin dulu waktu aku kesini bareng Risa dan Mas Aksan tidak sempat mencicipinya," keukeh Ghavi.
Ghavi pun bercerita jika kemarin dulu Harry mengakljak Risa dan Aksan makan makanan khas Wonosobo itu sekembalinya dari jalan-jalan. Waktu itu Ghavi tidak ikut karena sakit dan baru saja pingsan.
"Kata Mas Harry mienya itu lai dengan mie yang ada dikota-kota lain karena mie disini memakai bumbu kacang," jelas Ghavi semangat.
"Tapi aku mau makan nasi sekarang," Handy tidak mau kalah.
Nadanya bicaranya terdengar cukup tinggi.
"Pokoknya aku mau makan itu. Aku penasaran dengan mie kuah dengan potongan kubis dan saus kacangnya itu."
Ghavi sudah googling tentang beberapa makanan khas daerah Wonosobo yang salah satunya adalah mie ongklok, yaitu mie yang dimasak ditaruh dikeranjang bambu yang disebut ongklok.
Biasanya mie ongklok dilengkapi dengan sate kambing dan tempe kemul, yaitu tempe yang diselimuti tepung. Atau dikenal dengan tempe mendoan jika didaerah Banyumas.
" Tapi aku tidak terlalu suka mie," protes Handy.
"Terserah!"
Ghavi mengerucutkan bibirnya. Disedekapkannya kedua tangannya didada.
Lama mereka terdiam di mobil di pinggir jalan. Suara klakson mengagetkan keduanya.
"Hey, kalau berhenti jangan sembarangan, dong. Kita mau lewat, nih," gerutu pengguna jalan lain dibelakang mobil mereka.
"Majukan mobilnya! Kami mau belok ini," teriak yang lain.
"Eh, ma-maaf! Tadi mobilnya sempat mati," ujar Handy gugup.
Buru-buru dia menghidupkan kembali mobilnya dan perlahan maju.
Rupanya tadi Handy tidak sadar berhenti tepat dipertigaan saat berdebat soal menu makan malam.
Samar-samar masih mereka dengar umpatan pemilik mobil dibelakangnya yang kesal sebab perjalanannya terganggu.
"Mobil keren, kok mogok."
"Hihihi ...!!"
Ghavi terkikik mendengarnya.
"Senang sekali kamu kelihatannya," gerutu Handy kesal.
"Mau aku turunkan disini sekarang," ancamnya.
"Aku bisa pesan taksi online dari ponsel ini."
Diangkat dan digoyangkannya ponselnya.
"Memangnya kamu bawa uang?!"
"Eh!"
Ghavi baru sadar ternyata dia lupa mengambil dompet karena buru-buru tadi.
"Eee, aku lupa bawa dompet," cicitnya lirih.
Digigitnya bibir bawahnya karena panik.
"Tidak punya duit saja sok-sokan mau pergi sendiri. Mau kamu bayar pakai apa kamu nanti?!" cibir Handy.
"Gampang itu! Tinggal sopir taksinya aku kasih senyum manis aja biar dia luluh dan ..."
Ciiittt!!!
"Appa??!!" teriak Handy kaget.
Dia pun mengerem mendadak mendengar pernyataan Ghavi barusan.
Mukanya merah padam. Dipegangnya kedua tangan Ghavi kuat, lalu menggeram.
"Kau mau menyerahkan tubuhmu demi menggantinya dengan uang?!" geramnya marah.
Dicengkeramnya lengan gadis itu hingga meringis kesakitan.
"Tidak ada yang boleh menyentuhmu. Tidak sopir taksi online, tidak Harry, tidak ada orang lain kecuali AKU!" ancamnya.
"Sss-sakit!" cicit Ghavi.
Handy baru sadar telah memiting tubuh Ghavi dengan kedua tangannya.
"Eh, maaf!" ucapnya sambil melepaskan pitingan.
"Makanya lain kali ngomong yang bener," ujarnya melembut.
Dilajukannya kembali mobil yang sudah kali kedua itu berhenti mendadak dan diteriaki bunyi klakson dari mobil lain dibelakangnya.
__ADS_1
"Lagian kamu, tuh aneh, deh, Mas. Maksud aku tuh disenyumin yang manis, biar sopirnya luluh terus mau nganterin sampai rumah. Baru, deh dikasih uangnya yang diambil dari rumah."
Ghavi melanjutkan kalimatnya.
"Ngapain bawa-bawa nama orang lain. Bawa-bawa nama Mas Hari segala. Apa hubungannya, coba," gerutunya kesal.
"Eee, i-iya, maaf! Tidak ada hubungannya, kok!" jawab Handy gugup.
Raut wajahnya sedikit berubah sendu mengingat kejadian tadi sebelum mereka keluar rumah sakit.
Ya! Handy kembali ke kamar bapaknya bermaksud menanyakan apakah bapaknya butuh sesuatu atau tidak biar sekalian dia beli mumpung mau keluar cari makan.
Belum sempat Handy masuk, langkahnya terhenti. Dia tertegun sejenak di depan pintu yang sedikit terbuka itu.
Samar-samar dia mendengar suara Harry.
"Ah! Mikir apa, sih aku ini," gumamnya lirih.
"Sadar Har, dia jodoh kakakmu. Hilangkan perasaan sukamu padanya sebelum semuanya terlambat," lanjutnya bermonolog.
Handy sampai mundur dua langkah mendengarnya.
Diapun kembali melangkah menemui Ghavi yang sedang menunggu dibawah tanpa bermaksud masuk lagi.
Pikirannya berkecamuk. Rupanya diam-diam adiknya juga menyukai Ghavi. Hal yang wajar sebenarnya karena rutinitasnya dikampus sangat memungkinkan untuk keduanya saling bertemu dan saling menyukai.
Entah kenapa, menyadari hal itu hatinya berkedut sakit. Mungkinkah?!
Ah, tidak!
Handy menggeleng-gelengkan kepalanya membuang segala kemungkinan yang terjadi dipikirannya.
"Mas Handy kenapa?" tanya Ghavi.
Gadis itu merasa aneh karena dilihatnya tangan Handy mencengkeram kuat setir mobil.
" Ah! Tidak, tidak kenapa-kenapa," jawab Handy gugup.
Pertanyaan Ghavi membuyarkan lamunannya.
"Mas Handy sakit?!"
"Tidak! Kenapa bertanya seperti itu?!"
"Tidak! Hanya saja aku melihatmu mencengkeram kemudi kencang sekali seperti sedang menahan sesuatu," ujar Ghavi menggeleng.
"Eh! Itu, aku memang sedang berpikir, kita mau cari makan dimana?! Dari tadi terus saja muter-muter," sahutnya berusaha menutupi kegugupannya.
"Benarkah?! Tapi kelihatannya kau sedang menahan kekesalan."
"I-itu karena aku kesal saja. Gara-gara berdebat denganmu, aku jadi dimarahi orang dan mengatai mobilku tukang mogok. Ah! Sudahlah. Sudah setengah jam kita debat muter-muter cari makan. Terserah kamu sajalah mau makan apa. Perutku sudah sangat lapar," tukasnya kesal.
Handy memutuskan memarkir mobilnya dipelataran warung makan mie ongklok yang cukup terkenal di kota itu.
"Katamu tidak suka mie ongklok, kenapa berhenti disini?!" tanya Ghavi heran.
"Jangan banyak protes, ayo turun!" ketus Handy turun dari mobil sedikit membanting pintu.
Ghavi terkejut melihat kelakuan Handy yang dirasanya sedikit aneh sejak keluar dari rumah sakit. Segala sesuatunya disangkut pautkan dengan Harry.
Kenapa dia? Ghavi sendiri pusing memikirkannya. Huft! Bodo amatlah. Yang penting kali ini keinginannya makan makanan khas kota itu terwujud.
Dengan langkah lebar, Ghavi menyusul Handy yang sudah duduk di bangku dekat jendela warung makan. Dia tidak sabar ingin segera mencicipinya.
"Bu, mie ongkloknya satu, satenya dua porsi, dan tempe kemulnya satu porsi."
Handy mulai memesan saat Ghavi sampai.
"Oh, ya! Minta nasi putihnya satu piring, ya, kasih sedikit bawang goreng," tambahnya.
Ghavi membelalak mendengar Handy memesan nasi putih. Bukankah disini jual mie ongklok, kenapa minta nasi?!
Belum sempat dia bersuara, pemilik warung datang bersama seorang karyawan membawa pesanan.
"Kok, cepat sekali?!" tanya Handy heran.
"Biasanya suka ngantri panjang."
"Hemm!" Pemilik warung tersenyum.
"Kebetulan ini pesanan orang yang dicancel, Pak. Jadi cepat. Silakan, dinikmati. Baru saja angkat itu, lho, Pak, Dek!" Pemilik warung mempersilakan keduanya menikmati pesanan.
"Kalau tahu disini ada nasinya, ngapain tadi musti ngajak debat dulu, aneh!" gerutu Ghavi kesal.
"Tahu begini, kan tadi tidak harus berdebat dan diumpat orang."
"Cerewet, ayo makan!" perintah Handy langsung menyuapkan nasi putih dan sate kemulutnya dengan nikmat.
Ghavi pun urung protes lagi begitu lidahnya menyentuh kuah mie.
"Wow! Eeemmm, yummy!" pekiknya kegirangan.
__ADS_1
Akhirnya tercapai sudah dia makan mie ongklok yang super duper lezat seperti cerita Risa dulu. Sekarang dia sudah tidak penasaran lagi.
Gadis itu berencana memasukkan makanan itu dalam list makanan yang wajib dinikmati jika kembali berkunjung kembali ke kota itu suatu hari nanti.