Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Calon


__ADS_3

Sore ini Ghavi berkunjung ke rumah Handy untuk menemui Om dan Tante Rudi disela-sela kesibukannya bekerja. Niatnya mau mengajak mereka makan malam di restaurant miliknya.


Ya. Sudah tiga hari ini Ghavi mulai aktif di restaurant pusat karena Pak Rama sudah pindah lagi ke restaurant cabang seperti semula.


Pak Rama memang sengaja ditarik ke pusat selama Ghavi belum siap. Dia juga harus menghandle restaurant cabang sekaligus, karena hanya dia yang dipercaya oleh Ghavi setelah kepergian keluarganya. Pak Rama juga merupakan pegawai paling senior yang mengetahui seluruh seluk-beluk restaurant.


Saat kemarin dulu Ghavi mengatakan kesiapannya untuk aktif di restaurant pusat, maka Pak Rama pun kembali keposisinya semula di restaurant cabang sebagai manager utama atau kepala cabang.


"Hallo, Sayang!"


Ghavi menyapa Sunny yang sedang asyik bermain boneka Frozen kesayangannya di teras rumah.


"Tante Cantik!!" sambutnya seraya bangkit dari duduk lesehannya.


Dipeluknya Ghavi dengan wajah yang sumringah.


"Kakek dan Nenek dimana? Kok, Sunny main sendirian?! Terus, Mbak Nia mana?"


Belum sempat Sunny menjawab, Mbak Nia muncul dari dalam rumah sambil membawa susu dalam gelas khusus kesukaan bocah kecil itu.


"Eh, ada Mbak Ghavi! Ini, Mbak, Sunny minta dibuatkan susu."


Deserahkannya susu pada Sunny yang langsung mengambil dan menyeruputnya hingga habis.


"Pelan-pelan, Sayang!" nasehat Mbak Nia.


Ghavi tersenyum melihat tingkah bocah menggemaskan itu.


"Om dan Tante kemana, Mbak, kok sepi?!"

__ADS_1


"Mereka sedang pergi menengok ke rumah lama, Mbak, diantar Mas Harry."


"Eh, Mas Harry sudah datang?!" tanya Ghavi kaget.


"Kapan?"


Pasalnya kemarin sore mereka masih ngobrol via aplikasi dan dia masih berada di Wonosobo.


"Baru tadi siang, kok, Mbak!"


"Owh!"


"Itu mereka pulang!" tunjuk Mbak Nia saat sebuah mobil memasuki halaman rumah baru Handy.


Om dan Tante Rudi turun dari mobil diikuti Harry.


"Ghavi! Sudah lama?!" sapa Tante Rudi begitu melihat gadis itu.


Padahal, baru saja Mbak Nia memberitahu kemana mereka pergi.


"Habis nengokin rumah lama. Kangen ingin ke sana."


"Kenapa tidak tinggal di sana saja lagi, Tante?! Kan, lumayan dekat, tuh sama rumah ini. Jadi, kalau Tante kangen sama Sunny bisa berkunjung sendiri."


"Ah, kalau Ommu, sih maunya begitu. Tapi Tante juga sayang ninggalin kampung halaman. Biarlah rumah lama untuk Harry saja kalau sudah menikah nanti."


"Kalau sudah ada calonnya, Vi!" sahut Om Rudi yang berdiri dibelakang istrinya.


"Sudah ada, kok, Om! Mas Harry saja yang belum kasih tahu ke kalian."

__ADS_1


"Masa, sih?!"


Om dan Tante Rudi saling pandang.


"Tanya saja sama orangnya, tuh dia datang!"


Ghavi menunjuk Harry yang turun dari mobil paling belakangan.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya pada melihatku?!" tanya Harry bingung.


"Benar kamu sudah punya calonnya?" tembak Tante Rudi.


"Calon apa, maksudnya gimana saja aku tidak tahu."


"Begini! Tadi, kan kita habis dari rumah lama, terus Ghavi bilang kenapa Bapak sama Ibu tidak tinggal lagi saja disana biar dekat dengan Sunny. Tapi, Ibumu bilang kalau rumah itu nantinya buat kamu tinggali saja kalau sudah ada calonnya. Nah, Ghavi bilang katanya kamu sudah ada calonnya. Benar?!" terang Om Rudi.


"Hahh?!!"


Mata Harry langsung melotot memandang kearah Ghavi.


"Maksud kamu apa bilang begitu?!"


"Yeee, jangan melotot begitu, dong! Aku, kan cuma jawab saja. Yang tahu benar Mas Harry sudah ada calonnya apa belum, kan cuma kamu yang tahu," ujar Ghavi membela diri.


"Kalau Mas Harry jujur, sih!" lanjutnya.


"Jadi, benar apa yang dikatakan Ghavi?!" tanya Tante Rudi penasaran.


"Eh, itu. Anu, aku ... ."

__ADS_1


Harry tergagap. Dia tidak tahu mau jawab apa?! Dipelototinya kembali Ghavi yang malah bersikap cuek.


__ADS_2