Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
bertemu dengan jagoan kecil


__ADS_3

"Sudah pagi, Non, ayo bangun!"


Bu Yoyon menggoncangkan tubuh Ghavi agar segera bangun. Namun rupanya gadis itu enggan untuk bangun. Terbukti, bukannya bangun dia justru mengeratkan selimutnya makin erat dan memposisikan tidurnya melingkar seperti kaki seribu jika disentuh.


"Sudah pagi, Non! Katamu semalam ingin menemui Non Lily untuk melepas kangen," lanjut Bu Yoyon manakala Ghavi makin meringkuk diranjang yang sudah lama dia tinggalkan.


"Hmmm. Lima menit lagi, Bu!" gumamnya dengan suara serak dan masih dengan mata terpejam.


"Ya, sudah. Ibu ke bawah dulu menyiapkan sarapan."


Bu Yoyon beranjak meninggalkan kamar Ghavi setelah tidak berhasil membangunkannya.


"Si Non mana, Bu? Katanya semalam minta diantar ketempat Non Liana," tanya Pak Yoyon yang sudah berada di ruang makan sambil menyesap kopi paginya.


"Tidak mau bangun, Pak! Malah tarik selimut makin kencang dia. Mungkin dia masih rindu dengan ranjangnya. Biarkan saja sebentar lagi," sahut Bu Yoyon.


"Ya, sudah kita sarapan dulu saja," lanjutnya sembari mengambilkan sepiring nasi goreng untuk suaminya itu.


Mereka berdua pun akhirnya sarapan tanpa adanya sang majikan muda.


Semenjak orang tua serta nenek dan kakeknya meninggal, Ghavi memang menyuruh kedua pasangan suami istri tersebut untuk selalu makan di ruang makan dengan alasan agar dia tidak selalu makan sendirian. Hal itu berlaku hingga saat ini.


Pasangan itu baru selesai sarapan saat suara gaduh terdengar dari arah depan rumah.


"Siapa itu yang datang, Pak, suaranya gaduh sekali?!"


Bu Yoyon bertanya sambil membereskan peralatan makan mereka.


"Tidak tahu, Bu! Coba Bapak lihat dulu ke depan."


Pak Yoyon pun bergegas menuju halaman depan untuk melihat siapa gerangan yang datang.


"Oooh, Non Lily, toh. Selamat pagi! Bapak kira siapa tadi. Suaranya terdengar samar dari dalam makanya Bapak ingin memastikan siapa yang datang," ujar Pak Yoyon begitu melihat tamu paginya.


" Mari masuk, Non! Itu siapa, Non, ganteng sekali anaknya?!"


Pak Yoyon menyuruh masuk Liana yang sedang sibuk membujuk seorang anak kecil yang masih tidak mau turun dari mobil.


"Eh, Pak Yoyon. Pagi juga, Pak! " sahut Liana.


"Ini keponakan, Pak. Anaknya Kak Lian dan Kak Ane. Kebetulan pagi ini mereka berangkat keluar kota untuk suatu keperluan. Jadi aku ajak saja dia kemari untuk bertemu tantenya. Tapi ini malah tidak mau turun, Pak. Malah minta ke mall. Mana ada mall yang buka pagi-pagi begini, hadeuhh!"


"Ayo, Sayang! Turun, yuk! Katanya mau ketemu sama Tante Ghavi," bujuk Liana pada bocah laki-laki kecil umur lima tahun itu.


"Nggak mau! Maunya main ke mall," rengek bocah itu mulai terlihat menangis.


Pak Yoyon yang melihat Liana mulai kewalahan pun berinisiatif membujuknya.


"Anak ganteng, siapa namanya?"


"Bintang, Kek!"


"Wah, nama yang bagus," puji Pak Yoyon sambil tersenyum menoel pipi tembemnya.

__ADS_1


"Ikut Kakek, yuk!" ajaknya berusaha meraih tangan bocah itu agar turun dari mobil.


"Kemana?"


Terlihat Bintang kecil itu mulai tenang dan penasaran dengan ajakan Pak Yoyon.


"Ke belakang rumah. Kakek punya sesuatu yang mau Kakek tunjukkan. Kamu pasti suka," rayu Pak Yoyon lagi.


"Apa itu, Kek?" tanya Bintang yang makin penasaran.


"Makanya sekarang turun dari mobil dan ikut Kakek ke belakang. Kita akan kasih makan kelinci. Ayo!"


"Kelinci??" tanya Bintang dengan mata berbinar.


"Iya, kelinci. Ada ikan juga. Nanti kita juga bisa mancing ikan buat lauk makan siang, ok?!"


"Wah, mancing ikan?!"


Bintang pun semakin tertarik mendengar penuturan Pak Yoyon.


"Iya! Makanya ayo turun!"


"Tapi gendong," rengek Bintang manja.


"Baik, sini Kakek gendong."


Pak Yoyon hendak menggendong Bintang, namun keburu dicegah Liana yang sedari tadi mendengarkan obrolan keduanya.


"Eh, jangan!" cegah Liana.


"Tapi,"


"Tidak ada tapi. Kalau Bintang memaksa minta gendong, memangnya tidak kasihan sama Kakek Yoyon?! Kakek, kan sudah tua. Nanti kalau harus gendong Bintang lalu pinggangnya keseleo bagaimana? Kan, Bintang juga yang rugi karena tidak jadi mancing ikannya sebab Kakek sakit."


Liana berusaha membujuk keponakannya agar tidak bersikap manja.


"Baiklah!"


Akhirnya Bintang turun dari mobil dan berjalan mendekati Pak Yoyon.


"Ayo, Kek! Kita ke belakang sekarang. Nanti aku boleh kasih makan kelinci, nggak?!" tanya bocah itu berjalan dengan digandeng Pak Yoyon.


"Eh, Bintang tidak mau ketemu Tante Ghavi dulu?!"


Liana mengikuti kedua orang beda generasi itu masuk ke dalam rumah.


"Nggak!! Nanti saja. Ayo, Kek, aku tidak sabar ingin melihat kelinci dan kasih makan dia," jawabnya mantap sambil terus merengek minta melihat kelinci pada Pak Yoyon.


"Ayo, lewat sini!"


Pak Yoyon mengajak Bintang pergi ke belakang melalui pintu dapur.


"Kalau begitu Tante Lily ketemu sama Tante Ghavi dulu, ya diatas," ujar Liana akhirnya.

__ADS_1


"Ok, Tante!"


Bintang mengacungkan jempol kanannya pada sang tante sementara tangan kirinya berada dalan gandengan si pemilik kelinci. Langkah bocah kecil itu terlihat tidak sabar bahkan berlari kecil hingga hilang dibalik pintu dapur yang menuju halaman belakang.


"Huft!!"


Liana menghembus napas lega karena pada akhirnya sang keponakan bisa dibujuk untuk turun dari mobil.


Entah apa jadinya jika Pak Yoyon tidak berhasil membujuk bocah itu.


Liana memang sengaja mengajaknya pergi ke rumah Ghavi pagi-pagi demi mengalihkan perhatian keponakannya dari mama dan papanya karena kedua keduanya harus pergi keluar kota dan terpaksa menitipkan Bintang padanya.


Liana pun berjalan menaiki tangga yang menuju lantai atas tempat dimana sahabatnya berada.


Dia sudah merasa rindu sekali padanya setelah lima tahun tidak bertemu. Hanya lewat sosial media saja komunikasi mereka terjalin selama lima tahun tersebut.


"Ghaviii!!" pekik Liana begitu berada dikamar dan mendapati gadis itu masih bergelung selimut.


"Woooi, bangun, Pemalas!"


Ditariknya selimut dari tubuh Ghavi dan melemparkannya ke lantai.


"Iya, iya! Huuuugghh."


Ghavi menggumam sambil merentangkan tangannya khas bangun tidur setelah membuka matanya dan mendapati Liana yang berteriak dikamarnya.


"Ngapain kamu pagi-pagi kesini?!" tanyanya heran.


Bukannya menjawab, Liana justru langsung menubruk tubuh mungil Ghavi dan mendekapnya erat.


"Huh! Manis sekali sambutanmu," gerutu Liana.


"Aku kangen, tahu?!"


"Owh!" sahut Ghavi yang memang belum seratus persen sadar dari tidurnya.


"G*la. Jadi, cuma owh doang, gitu sambutannya?!" sungut Liana sembari melepaskan pelukannya dengan sedikit kasar.


"Hehe ...!" cengir Ghavi.


"Lily sayang, kangeeen!!" pekik Ghavi sambil menubruk balik sahabatnya itu.


"Tadinya aku mau ketempat kamu, eh, malah kamu duluan yang datang," ujarnya.


"Iihh, lepas! Kamu bau belum mandi."


Liana pura-pura menutup hidungnya.


"Mandi, gih! Itu si Bintang nungguin kamu sambil lihat kelinci," perintah Liana.


"Jadi kamu kesini sama jagoan kecilku?! Kenapa tidak bilang dari tadi, sih?!" gerutu Ghavi.


Gadis itu langsung berlari menuruni tangga bermaksud menemui Bintang dihalaman belakang setelah Liana menceritakan kejadian tadi.

__ADS_1


"Bintang Keciiilll ..." teriaknya menggema diseluruh rumah.


Bu Yoyon sampai geleng-geleng kepala melihatnya dari tempat cuci yang bersebelahan dengan dapur.


__ADS_2