Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
sebuah keputusan.


__ADS_3

Ghavi keluar dari kamar tamu kediaman Darmawan diikuti Risa dibelakangnya. Gadis itu sudah merasa jauh lebih sehat setelah tidur selama dua jam seperti cerita Risa.


" Selamat sore, Om Rudi, Mas Harry, Mas Aksan," sapa Ghavi menyalami Om Rudi yang duduk berdampingan dengan Harry. Mereka tengah mengobrol dengan Aksan diruang tamu.


" Sore, juga, gadis mungil," balas Harry tersenyum.


Harry memang menyuruhnya memanggil nama jika sedang tidak mengajar dan jika diluar kampus. Laki-laki itu juga punya julukan khusus untuk Ghavi, yaitu gadis mungil. Alasannya, Ghavi bertubuh mungil untuk ukuran seusianya.


" Sore, Vi! Bagaimana keadaanmu, sudah jauh lebih baik?" tanya Om Rudi yang sudah mendengar tentang pingsannya Ghavi.


" Sudah, Om! Maaf, malah jadi merepotkan keluarga Om," ucap Ghavi seraya duduk diantara Risa dan Aksan.


" Tante dimana, Om, kok tidak kelihatan?!"


Ghavi tidak melihat Tante Rudi diruang tamu. Dia juga tidak melihat Handy disana.


" Tante sedang menyiapkan makan malam dibelakang. Kalau Handy mungkin sedang mandi."


" Om, sudah mendengar dari Aksan tentang maksud kedatangan kalian. Om juga sudah menerima dan membaca surat almarhum ayahmu," ujar Om Rudi sedikit serius.


" Sebenarnya Om sudah mengikhlaskan tanah itu pada ayahmu, sebagai bentuk balas budi kebaikan ayahmu pada Om dulu."


" Tapi ini juga sebagai permintaan terakhir ayah, Om, aku harus mengembalikan sertifikat tanah itu pada Om," balas Ghavi.


" Hmm, baiklah! Dengan rasa berat hati aku menerima kembali sertifikat tanah ini." Om Rudi mengambil sertifikat yang ada dimeja.


" Selama ini perkebunan Om yang mengelolanya dan hasilnya selalu disumbangkan pada panti asuhan kakekmu."


" Sekarang Panti Cahaya sudah berpindah kepemilikan atas nama putra Om, Pak Han," terang Ghavi tersenyum.


" Oh, ya?! Bagaimana bisa? Kenapa bocah itu tidak pernah cerita, ya," gumamnya.


" Untuk apa hal seperti itu saja diceritakan?!" tiba-tiba Handy muncul dari arah tangga, berjalan menuju ruang tamu dan duduk di kursi sofa single sebelah ayahnya, tepat didepan Ghavi.


Suaranya memang datar, namun, tatapan matanya menghujam Ghavi seakan berkata: kenapa kau menceritakan semuanya pada ayah?


" Maaf!" ucap Ghavi lirih seolah tahu arti dari tatapan mata itu.


"Lupakan!" desisnya pelan.


Dilihatnya dari ujung matanya jika gadis didepannya itu tengah menunduk. Ada sedikit rasa menyesal dihatinya.


" Lalu, mengenai perjodohan itu, apa kamu merasa keberatan, Vi?!"


Om Rudi ingin memastikan.


" Eh, perjodohan?!"


Harry, Risa dan Aksan saling terkejut. Hanya Handy saja yang bersikap biasa saja seolah tak peduli.


" Ya, aku dan Umar, dulu pernah sepakat akan menjodohkan Handy dan Ghavi begitu umurnya genap dua puluh tahun." terangnya.


" Hah?!" ketiga orang tadi kembali terkejut mendengar penuturan Om Rudi.

__ADS_1


" Dan sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Umar pergi lebih dulu," imbuhnya.


" Lalu, apa kau setuju dengan perjodohan ini, Vi?" tanya Harry penasaran.


Entah kenapa, sepertinya dia keberatan dengan perjodohan itu.


Semua orang yang ada diruang tamu pun beralih menatap Ghavi yang sedang menunduk, termasuk Tante Rudi yang kini sudah ikut bergabung diruang tamu.


" Vi, apa keputusanmu?!" Harry kembali bertanya.


" Jika kau merasa keberatan, perjodohan ini bisa kita batalkan. Aku selaku orang tua tidak mau bersikap egois pada kalian. Mungkin saja dulu pikiran kami yang begitu kolot." Om Rudi memberikan argumennya.


" Tidak, Om! Pemikiran Om dan ayah dulu mungkin sudah kalian pikirkan masak-masak sebelum diputuskan menjadi sebuah kesepakatan," jawab Ghavi akhirnya.


" Saya pribadi sudah memutuskan untuk menerima ini. Terlebih ini juga ditulis sebagai permintaan terakhir ayah didalam surat yang ditujukan untuk Om itu. Sebagai anak, aku juga berkewajiban menghormati dan mematuhi semua keputusan orang tua, apapun bentuknya."


Ghavi menatap Handy yang duduk didepannya yang kini juga tengah menatapnya. Entah apa yang dipikirkannya.


" Dan jawabanku adalah ... aku setuju dengan perjodohan ini. Tapi, keputusan ini tentunya juga berkaitan dengan Pak Han karena ada kaitannya dengan beliau. Semua keputusan aku serahkan padanya," putus Ghavi kembali menatap Handy.


Sementara Handy yang ditatap seperti itu merasa risih. Dia tidak mengira, gadis kecil yang dikiranya lugu dan polos itu ternyata bisa membuat sebuah keputusan besar.


Handy menegang dikursinya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa tatapan Ghavi terlalu sulit untuk diartikan.


Mungkinkah gadis itu berbuat demikian demi baktinya pada orang tuanya, atau ...


" Ah, aku sudah lapar. Kapan kita mulai makan malam?" celetuk Harry tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta.


Dia bangkit berdiri dan berjalan keruang makan. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal hatinya mendengar keputusan gadis mungil.


" Bagaimana, Han, apa kau setuju?!" Om Rudi kembali bersuara.


" Terserah bagaimana baiknya saja," putusnya bangkit berdiri mengikuti langkah adiknya, pergi keruang makan.


" Aku juga lapar," desisnya.


" Ya sudah, kita makan malam saja dulu. Ngobrolnya dilanjut nanti saja," ujar Tante Rudi menghalau kecanggungan yang terjadi.


" Mari," ajaknya pada Ghavi dan yang lain.


Akhirnya mereka semua pergi makan malam.


Aksan dan Risa langsung mengambil makanan tanpa disuruh dua kali. Mereka terlihat kelaparan. Sebab, waktu dalam perjalanan mereka tidak beristirahat untuk makan.


Mereka berpikir jika mereka tiba di DTD tepat waktu, maka sorenya mereka bisa langsung pulang. Nyatanya mereka urung untuk pulang karena insiden pingsannya Ghavi. Dan saat mereka berpamitan setelah makan malam, Om Rudi melarangnya.


Ditambah lagi hujan turun dengan lebatnya sehingga membuat mereka terpaksa menginap.


***


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ghavi yang tidur dikamar tamu bersama Risa terbangun dari tidurnya karena merasa sesak napas akibat athsmanya kambuh akibat cuaca dingin.


Cuaca dingin adalah salah satu alergen yang dapat membuat penyakit keturunannya itu kambuh.

__ADS_1


Ghafi memberanikan diri pergi kedapur untuk mengambil air panas guna menghangatkan dadanya berharap mengurangi rasa sesak didadanya.


Gadis itu sudah mengabaikan obatnya karena merasa penyakitnya sudah jarang muncul.


"Sedang apa kau malam-malam didapur?" sebuah suara mengagetkannya yang sedang menuang air panas dari termos.


Karena kaget, air panas itu mengenai gelas yang sedang dituanginya.


" Aukh!!" pekiknya.


Dikibas-kibaskannya tangannya yang terkena panas.


" Kau tidak apa-apa? Sini aku lihat!" Tangannya dipegang sipemilik suara yang tanpa Ghavi berbalik pun tahu siapa orang itu.


Dibawanya tangannya dibawah kran air. Dihidupkannya air supaya mengaliri tangan Ghavi agar tidak melepuh.


" Sshhh!" Ghavi mendesis sakit. Selain menahan sakit ditangannya, dia juga menahan sesak didadanya yang terasa kian menghimpit.


" Kau kenapa, kau merasa sesak napas?!" tanya Handy terlihat panik meski cahaya redup didapur menyamarkannya.


" Ak-aku, aku pu-nya aths-ma ..., " jawabnya terbata. Napasnya kian tersengal.


" Minumlah!" Handy menyorongkan gelas berisi air panas yang diambil gadis itu tadi sebelum dirinya mengagetkannya, tentunya setelah mencampurnya dengan sedikit air dingin agar tidak terlalu panas.


" Aku antar kau kedokter," ujar Handy seraya meletakkan gelas.


Ghavi yang sudah merasa tidak tahan dengan rasa sesak yang dialaminya pun mengangguk pasrah.


Handy pun memapah Ghavi sampai keruang tengah. Dia lantas berlari kekamarnya dilantai dua untuk mengambil kunci mobil setelah menyambar dompet dan ponselnya lebih dulu.


Handy pun segera menghidupkan mobilnya dan melesat kencang menuju tempat praktek dokter terdekat.


Namun, begitu sampai disana ternyata dokter sedang dinas luar. Handy pun mencari klinik terdekat.


Dilihatnya sekilas keadaan Ghavi yang semakin lemah.


" Bertahanlah!" gumamnya lirih.


Dia berusaha tetap tenang agar fokus membawa mobil.


Setengah jam kemudian mereka sampai diklinik.


Handy langsung turun dan membopong tubuh Ghavi yang mulai terkulai lemas kehabisan oksigen.


" Tolong!!" teriaknya pada suster jaga begitu masuk UGD.


Tampak dua suster laki-laki yang sedang terkantuk itu tersentak dan bergegas mendekati Handy yang sedang meletakkan Ghavi diranjang pasien.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Ghavi mulai sadar kembali setelah selang oksigen terpasang dihidungnya.


Napasnya pun mulai teratur meski kadang tersengal. Matanya terpejam menahan kantuk yang kembali mendera.


Tepat pukul tiga pagi Ghavi lelap tertidur dan napasnya pun sudah terlihat normal walau selang oksigen masih terpasang kalau-kalau dia kambuh lagi.

__ADS_1


Handy yang sedari tadi duduk menungguinya pun ikut terlelap dikursi samping ranjang tempat Ghavi berbaring. Kepalanya dia letakkan diranjang dengan kedua lengannya dia gunakan sebagai bantalan.


__ADS_2