
Ghavi dan Liana akhirnya bisa menikmati nyamannya naik mobil sport peninggalan almarhum Kakek Herman. Sesekali mereka tertawa senang. Pak Yoyon yang mendengar dan menyaksikan tingkah mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
" Kita sudah sampai, Non!" Pak Yoyon menghentikan mobil diarea parkir khusus.
Restaurant turun temurun milik Kakek Herman, yang diturunkan pada Umar, ayah Ghavi, dan sekarang diturunkan pada Ghavi tersebut tampak selalu ramai. Apalagi dihari akhir pekan seperti ini.
Meski sebenarnya restaurant dibangun untuk kalangan menengah kebawah, tak jarang pula orang-orang kalangan atas makan disini.
Alasannya, tempat yang nyaman dan daftar menu yang disajikan khas masakan nusantara itu cukup enak dan pas dilidah mereka.
" Ayo turun!" Ghavi turun lebih dulu sebelum Pak Yoyon membukakannya pintu.
Salah satu kebiasaan cucu majikannya itu tidak mau terlalu banyak merepotkan orang lain. Sebisa mungkin akan melakukan segala sesuatunya sendiri.
Liana dan Pak Yoyon mengikuti Ghavi masuk restaurant melalui pintu khusus karyawan, sehingga tidak mengganggu kenyamanan pelanggan restaurant.
" Selamat pagi, Non Ghavina, Non Liana dan Pak Yoyon, silakan langsung masuk keruangan Pak Rama. Beliau sudah menunggu didalam," sapa salah satu karyawan yang ditugaskan untuk menyambut kedatangan Ghavi.
" Terima kasih!" Ghavi memberikan senyum ramahnya ketika disambut karyawan tadi.
Dia juga mengangguk dan tersenyum pada karyawan lain yang sedang sibuk menyiapkan menu masakan yang dipesan pelanggan.
" Silakan masuk!" orang itu menyilakan Ghavi dan rombongannya masuk keruangan Pak Rama, orang kepercayaan kakek Ghavi yang sekarang diberi wewenang untuk mengurusi jalannya restaurant.
" Selamat pagi dan selamat datang!" sambut Pak Rama begitu pintu terbuka dari luar.
Orang itupun beranjak dari meja kerjanya untuk menyambut pemilik restaurant yang baru.
" Lama tidak berkunjung sejak meninggalnya Pak Herman, Non Ghavi sehat?!" tanyanya saat menyalami Ghavi.
" Seperti yang Bapak lihat, alhamdulillah, saya sehat," jawab Ghavi menerima uluran tangan Pak Rama.
Secara bergantian, Pak Rama juga menyalami Pak Yoyon dan Liana.
" Silakan duduk!" Pak Rama mempersilakan tamunya duduk disofa tamu diruangan tersebut.
" Terima kasih!"
Ghavi duduk disebelah Pak Yoyon. Sementara Liana tetap berdiri dan pamit. Gadis itu sadar diri tidak ikut duduk karena ia tahu, akannada pembahasan tentang restaurant. Dan itu bukan urusannya.
" Em, Vi, aku keluar dulu, ya. Mau pesan makanan untuk kita bawa pulang nanti. Hehe ...!" cengirnya beralasan.
" Oh, ok! Pesan semua yang kamu mau. Pesan juga untuk orang rumah. Bilang saja atas perintahku," Ghavi mengangguk memberi perintah.
Berbeda dengan Pak Yoyon, dia memang diminta untuk mengetahui seluk beluk perkembangan restaurant untuk dilaporkan pada Ghavi tiap bulannya saat Ghavi berada di Jogja.
" Baik, Pak Rama ada apa memanggil saya kemari?!" tanya Ghavi mengawali pembicaraan setelah Liana keluar ruangan.
" Begini," Pak Rama pun menceritakan semua masalah dan kendala yang sedang dihadapi restaurantnya itu.
Cukup lama mereka berdiskusi. Sesekali Ghavi dan Pak Yoyon mengangguk mendengar penuturan dari Pak Rama. Sesekali juga keduanya urun rembug.
__ADS_1
" Baik, Pak Rama, untuk masalah ini saya akan diskusikan dulu dengan Pak Handy.
Mudah-mudahan beliau bisa membantu dan memecahkan solusinya. Untuk sementara kalian bisa belanja mengecer dulu tidak apa-apa, daripada restaurant tutup, sayang kita sudah cukup banyak pelanggan. Lebih baik pendapatan sedikit, daripada tidak ada sama sekali," putus Ghavi akhirnya.
Gadis itu tampak bijak mengambil sikap.
Semua itu atas arahan dan bimbingan kakeknya dulu, saat dia masih duduk dibangku menengah atas. Jadi, saat dia dilepas sendiri mengambil keputusan untuk restaurantnya seperti sekarang ini, dia bisa mengambil solusi terbaik.
" Baik, kalau begitu. Mohon secepatnya kasih saya keputusan. Sebab, akhir-akhir ini restaurant sedang banyak pengunjung. Jadi kita perlu banyak bahan makanan dari para suplier."
Pak Rama meminta kepastian.
" Baik! Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera kasih kabar begitu saya bertemu Pak Handy," pungkas Ghavi menyalami Wakil pimpinan restaurant.
" Oh, ya, Non! Bulan depan sudah masuk akhir tahun. Sebisa mungkin Non Ghavi datang untuk mengikuti rapat tahunan. Mungkin Non punya kritik atau saran yang membangun demi kemajuan restaurant ini," ujar Pak Rama mengingatkan.
"Ok!" Ghavi mengangguk.
" Kabari saja kapan waktunya. Saya akan usahakan untuk datang," tukas Ghavi sebelum meninggalkan ruangan Pak Rama.
" Baik! Akan saya hubungi jika sudah tiba waktunya. Selamat jalan, semoga sampai di Jogja dengan selamat."
" Terima kasih!"
Ghavi pun meninggalkan restaurant diikuti Pak Yoyon. Mereka langsung menuju mobil karena tadi Liana mengirim pesan jika gadis itu menunggu ditaman depan restaurant.
" Vi!" teriak Liana berlari kearah Ghavi yang baru keluar dari restaurant.
" Sudah! Apa kau juga sudah pesan makanannya?!" Ghavi bertanya.
" Sudah, dong, ini!"
Liana mengacungkan dua tas kantong berisi banyak makanan.
" Banyak sekali! Memang kau sanggup menghabiskannya?!"
" Kan, tadi katamu pesan yang banyak untuk orang rumah. Jadi, aku minta masing-masing menu dua porsi. Satu untuk oleh-oleh Bu Yoyon, satu untuk aku bawa pulang, hehe ...!"
" Dasar!"
Ghavi menggelengkan kepalanya.
" Ayo, kita pulang sekarang!" perintah Ghavi mengajak Liana masuk mobil.
Gadis itu cukup kerepotan berjalan dengan dua kantong besar berisi makanan.
Pak Yoyon yang melihatnya merasa kasihan dan mengambil alih kantong itu dan membawanya kebagasi mobil.
" Terima kasih, Pak Yoyon memang baik, deh!" rayu Liana tersenyum.
" Lagakmu!"
__ADS_1
Ghavi menoyor kepala temannya yang ditanggapinya dengan tertawa.
" Hahaha ...!"
***
Satu jam kemudian dua sekawan itu tampak berkeliling dari satu toko ke toko yang lain.
Mereka sedang mencari gaun pesta model Elsa, tokoh dalam Frozen, untuk Rindu.
Sesaat sebelum dia pulang kemarin, Rindu berbisik ingin memakai gaun Elsa untuk kenang-kenangan.
Entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang sebelum menepati janjinya pada anak itu yang seperti sedang meminta sesuatu untuk terakhir kalinya. Mengingat kehidupan Rindu yang kata dokter tinggal empat persen itu, Ghavi jadi sedih.
" Kamu kenapa, Vi, kok tiba-tiba lemas begitu, capek?!" tanya Liana yang melihat cara berjalan Ghavi yang sudah tidak sesemangat diawal mereka masuk mall dan berkeliling.
" Aku sedih. Aku tidak bisa memenuhi permintaan Rindu," gumamnya lirih.
Ghavi menghempaskan tubuhnya dibangku tunggu play ground tempat kemarin dia dan Handy mengajak Rindu bermain pasir.
Sudah hampir semua toko di mall dia masuki untuk mencari pesanan Rindu, tapi hampir habis toko dia kunjungi, tak ada safu pun yang sesuai keinginan gadis kecil itu.
" Kamu yang sabar. Jangan patah semangat. Kita masih bisa memdatangi beberapa toko lagi. Mudah-mudahan disana kita bisa mendapatkan apa yang kamu maksudkan," hibur Liana.
Dia tahu betul, Ghavi akan terus menyesali diri jika belum bisa memenuhi permintaan orang lain pada dirinya.
" Ayo kita mencari lagi. Lihat disana, sepertinya toko itu menjual pakaian anak-anak yang cukup lengkap. Siapa tahu disana ada gaun yang kau ingin beli," tunjuk Liana pada salah satu toko pakaian anak.
Ghavi pun menoleh arah yang ditunjuk Liana yang cukup dekat dengan tempatnya kini duduk. Tapi, fokusnya bukan pada toko yang ditunjuk Liana, melainkan pada sosok seseorang yang dikenalnya akhir-akhir ini.
Didekat toko pakaian anak, tepatnya ditoko pakaian dewasa disebelahnya, tampak sosok laki-laki yang sedang memilih gaun pesta. Disebelahnya tampak seorang perempuan dewasa seumuran dengan laki-laki itu sedang bergelayut manja dilengan kokoh laki-laki itu.
" Mas Handy?!" pekiknya tertahan oleh kedua tangan yang reflek menutup mulutnya.
Tak disangkanya, dia akan melihat Handy di mall. Padahal semalam pamitnya akan sibuk dengan pekerjaannya. Tapi kenyataannya barusan?! Ghavi merasa dibohongi.
Meski Ghavi menerima perjodohan itu tanpa cinta, namun gadis itu kecewa. Diawal saja sudah bisa berbohong, bagaimana selanjutnya nanti?! Untuk sesaat dia merasa dibodohi.
Entah karena mendengar Ghavi menyebut namanya, atau karena telepati, laki-laki itu menoleh kearah Ghavi.
Untuk sesaat mereka tertegun, terpaku dalam tatapan yang saling mengunci, sampai suara Liana mengagetkannya.
" Ada apa? Kau tadi memanggil siapa?!" tanya gadis itu penasaran karena dia mendengar Ghavi menggumamkan sebuah nama, tapi Liana kurang yakin.
" Eh, oh, tidak! Tidak apa-apa. Tiba-tiba saja aku ingin menemui Rindu sekarang. Kau mau menemaniku kepanti?!" jawab Ghavi tergagap.
Dia berusaha mengalihkan perhatian Liana pada sosok didepan sana yang mulai memanggil namanya.
Sebelum Liana menyadari hal itu, Ghavi menarik tangan Liana untuk segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan mall.
Liana yang bingung pun akhirnya hanya mampu mengikutinya dengan langkah diseret Ghavi tanpa bisa menoleh kearah yang dituju Ghavi tadi.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan mall dan langsung menuju panti sesuai keinginan Ghavi. Pak Yoyon hanya diam menuruti permintaan mendadak cucu majikannya itu.