
Begitu sampai di rumah sakit terdekat, Eyang Sosro dibawa ke ruang IGD dan langsung ditangani oleh dokter dibantu perawat jaga yang sedang bertugas.
Ghavi dan Bi Mirna menunggu diluar IGD sementara Eyang Sosro harus mendapatkan pertolongan pertama didalam. Setelah sekitar setengah jam kemudian mereka baru diperbolehkan masuk untuk melihat kondisi pasien yang kini sudah dipasangi infusan.
"Maaf, siapa keluarga pasien Eyang Sosro?"
Seorang perawat keluar dari IGD dan memanggil.
"Kami, Sus!" jawab Ghavi cepat diikuti Bi Mirna.
"Bagaimana kondisinya, Sus?" tanya Ghavi tidak sabar.
"Hemm, silakan kalian ikut saya masuk dan bertanya langsung pada dokter jaga yang menanganinya," jawab perawat sambil tersenyum ramah.
Ghavi dan Bi Mirna pun masuk ruangan mengikuti perawat.
"Bagaimana kondisi Eyang Sosro, Dokter?" tanya Ghavi.
"Anda siapanya pasien?!" sang dokter balik bertanya.
"Saya cucunya, Dok!"
"Silakan Anda melakukan pendaftaran rawat inap dulu, setelah itu datanglah ke ruangan saya," pinta dokter saraya pergi ke ruangannya.
"Baik, Dok!" jawab Ghavi mengangguk.
"Bi, aku titip eyang sebentar, ya!" pamitnya pada Bi Mirna lalu berjalan mengikuti perawat ke ruang pendaftaran.
Setelah melakukan pendaftaran dan menyelesaikan administrasi sebagai uang muka, Ghavi pun mengikuti perawat masuk ke ruang dokter.
Sementara Aksan yang baru saja memarkirkan mobil masuk menemui Eyang Sosro yang sedang ditemani Bi Mirna. Ditangannya ada sekantong plastik berisi air mineral. Kebiasaannya setiap mengantar Eyang Sosro ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Eyang Sosro, Bu?" tanyanya pada Bi Mirna.
Jika Ghavi memanggil asisten rumah tangga eyangnya dengan sebutan bibi, lain halnya dengan Aksan. Dia memanggil ibu karena Risa yang menyuruhnya.
"Masih belum siuman. Ghavi sedang mendaftar dulu dan menemui dokter di ruangannya," jawab Bi Mirna melihat Aksan yang celingak-celinguk mencari keberadaan Ghavi.
"Oh! Oh, ya! Ini, Bu, minumlah biar Ibu sedikit tenang. Jangan panik! Eyang pasti akan baik-baik saja," hiburnya sembari menyodorkan sebotol air mineral manakala dilihatnya wajah Bi Mirna yang pucat.
__ADS_1
" Terima kasih, Nak!" sahut Bi Mirna mencoba tersenyum.
"Ibu hanya takut, kejadian tadi akan berakibat fatal pada kesehatan Eyang.
"Kita berdoa saja, Bu, semoga tidak ada masalah serius dengan kondisi Eyang."
"Ya, semoga."
Ghavi kembali dari ruang dokter dengan lunglai. Wajahnya pucat dan tubuhnya berkeringat dingin.
"Ada apa?"
Aksan bertanya dengan raut cemas.
"Eyang, Mas. Eyang, dia ... hiks," jawab Ghavi menangis.
Bi Mirna langsung memeluk cucu majikannya itu dengan erat. Ada rasa bersalah dihatinya karena ikut menyembunyikan sesuatu dari Ghavi selama ini.
"Maafkan Bibi, Non! Bibi yang salah tidak memberitahukan sejak awal."
"Jadi Bibi selama ini tahu?!"
Aksan yang belum tahu apa-apa itu pun bingung melihat Ghavi dan Bi Mirna yang saling berpelukan dan bertangis-tangisan.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Eyang?!" tanyanya penasaran.
"Eyang, Mas. Eyang, dia ... huhuhuuu ..." jawab Ghavi terbata.
Tangisnya pecah dipelukan Bi Mirna.
"Yang sabar, ya, Non! Maafkan Bibi karena selama ini menyembunyikan ini dari Non Ghavi. Itu semua permintaan Eyang Sosro supaya tidak membebanimu," hibur Bi Mirna.
"Sebenarnya ada apa ini, Bu?!" Aksan makin penasaran.
Belum sempat Bi Mirna menjawab, seorang perawat masuk.
"Maaf! Pasien harus segera dipindahkan keruang intensif."
"Baik, Sus! Silakan!"
__ADS_1
Aksan mengangguk mempersilakan.
Mereka pun mengikuti perawat membawa Eyang Sosro keruang perawatan.
Bi Mirna pun mengajak Ghavi untuk duduk disofa tunggu setelah perawat keluar ruangan.
Aksan pun mengikutinya. Dia masih penasaran dengan kondisi Eyang Sosro yang sebenarnya.
"Sebenarnya, Eyang Sosro mengalami pembengkakan jantung sudah sejak setahun yang lalu. Tapi, beliau menyuruh saya merahasiakan ini dari siapapun. Bahkan saat beberapa waktu lalu Eyang dirawat pun, dokter diminta untuk tetap merahasiakannya dari kalian, terutama Non Ghavi. Padahal, penyakitnya semakin parah. Hal itu disebabkan karena Eyang tidak ingin membebani Non Ghavi. Hanya saat bersama dengan Bibi saja dokter berterus terang dengan kondisi yang sebenarnya," terang Bi Mirna.
" Ohh!!" pekik Aksan kaget.
Bagaimana tidak?! Pasalnya, meskipun dia sering mengantar dan menunggui wanita renta itu, dia tidak tahu pasti apa yang terjadi. Yang dia tahu hanya penyakit hipertensi seperti ungkapan dokter selama ini.
"Jadi, saat dokter mengatakan Eyang terkena tekanan darah tinggi itu hanya alasan umum?!"
"Ya! Karena selain tekanan darah tinggi, justru penyakit utamanya adalah pembengkakan jantung."
"Apa tadi dokter sudah memberitahumu, Non? Maafkan Bibi, karena ikut menyembunyikan hal ini darimu,"ucapnya menggenggam tangan Ghavi yang berkeringat dingin.
"Iya, Bi! Tidak apa-apa!" jawab Ghavi lirih.
"Kamu yang sabar, ya, jangan terlalu sedih. Yakinlah Eyang pasti sembuh," hibur Aksan yang duduk diseberangnya.
"Terima kasih! Kalian selalu ada disaat-saat seperti ini. Maaf sudah merepotkan."
Ghavi menyusut air matanya yang menggenang dipelupuk matanya, terharu. Disaat seperti itu masih ada orang-orang yang mau peduli padanya.
Sementara orang yang dia harapkan hadir untuk menemani dan menghiburnya justru sedang sibuk sendiri dengan wanita yang mengaku mengandung calon anaknya.
Ah! Mengingat hal itu, kembali air matanya menggenang. Tidak pernah disangkanya, ternyata orang yang selama hampir enam bulan ini mulai mengisi hari-hari dan hatinya kini justru mampu menorehkan luka yang cukup membekas.
"Selamat malam!"
Sebuah suara memecah keheningan yang sempat tercipta. Ketiga orang yang tengah duduk terdiam diruang rawat Eyang Sosro itupun menoleh ke arah pintu darimana suara itu berasal.
"Kau?!!" pekik Ghavi kaget begitu melihat siapa orang yang datang.
***
__ADS_1