
"Tidak kusangka, ternyata kamu bisa berkata keras juga, ya, Vi!" komentar Aksan yang kini duduk diruang keluarga.
Semuanya pun berkumpul diruang keluarga sehabis makan siang. Kecuali Bu Yoyon, Mbak Nia, Pak Agung dan Pak Yoyon yang kini gantian makan siang setelah menunggu Pak Agung bangun tidur.
"Iya! Aku saja sampai kaget dengar kamu ngomong kencang begitu tadi," sahut Risa.
Ibu muda itu duduk dikarpet bulu tempat si kembar dibaringkan. Kedua bayi itu sedang dikelilingi Bintang dan Sunny yang mengajaknya bercanda dengan bermain ci luk ba sehingga baby Aris dan baby Risan tertawa-tawa.
"Hehe ...! Kalian tidak tahu saja. Sekarang Ghavi itu bak pawang bagi dua bocil itu."
Liana ikut menanggapi.
"Habisnya mereka berdua ini selalu ribut setiap kali bertemu. Aku jadi pusing kalau semuanya minta perhatian," keluh Ghavi.
Dielusnya rambut Bintang dan Sunny bergantian, dua bocah yang duduk dikarpet didepannya.
"Mungkin karena selama ini kamu suka anak kecil, jadi mereka semua nyaman sama kamu," ujar Aksan.
Risa mengangguk mengiyakan.
"Eh, tapi tadi kamu bilang bakal menikahkan mereka berdua saat besar nanti?!" tanya Risa.
"Punya hak apa kamu sama dua bocah itu sampai mau menjodohkan mereka berdua?!"
"Tentu dia punya hak paten sama mereka berdua, apalagi, kalau Ghavi sampai mau nikah sama bapaknya Sunny, ya, nggak?!"
Liana menaik turunkan alisnya menggoda Ghavi.
Bugh!
Sebuah bantal sofa mendarat tepat dimuka Liana karena lemparan dari Ghavi yang duduk diseberangnya.
"Ngaco saja kalau nyablak!" sungutnya.
"Haha ...!"
Liana tertawa ngakak.
"Memangnya kenapa?! Toh, dia sudah jadi single daddy sekarang. Lebih tepatnya, hot daddy. Begitu kira-kira istilahnya jaman sekarang."
"Diam kamu!" hardik Ghavi dengan mata melotot.
"Duh, lagi mode galak, tuh, Li! Don't touch her!" ledek Risa.
"Kayak kamu, tuh, Yang kalau lagi ngambek!" celetuk Aksan.
"Maaasss!!" geram Risa.
Kini bukan hanya Ghavi saja yang sedang dalam mode galak. Risa pun juga.
"Hahaha ...!!"
Liana yang melihatnya pun tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air matanya.
"Diamm!!"
Liana sontak menghentikan tawanya melihat ketiga orang di depannya melotot kearahnya.
"Ok, ok, aku diam!" cicit Liana.
Setelah Liana terdiam, kini ketiga orang itu yangtertawa melihat ekspresi wajah liana yang kecut.
"Hahaha ...!"
"Diam!!" teriak Bintang.
"Gara-gara kalian orang dewasa yang ribut semua, lihat, baby twin jadi nangis!"
"Ups!"
Semua orang langsung terdiam.
"Maaf, Sayang! Berisik, ya! Itu, sih gara-gara Ibu kamu, tuh yang lagi dalam mode galak!"
Aksan mengambil baby Risan yang tengah menangis.
__ADS_1
"Kamu, tuh, ya, Mas!"
Risa mencubit paha Aksan yang sedang mengangkat baby Risan.
"Aww!! Sakit, Sayang! Kalau baby jatuh gimana?!"
"Eh, maaf!"
Risa lupa jika suaminya sedang mengangkat salah satu bayinya.
"Sini, biar baby Aris sama aku saja!"
Ghavi mengambil Aris yang kini dalam pangkuan Risa.
"Kamu susui Risan saja dulu! Kasihan, tuh dia nangis kejer. Selain kaget, lapar juga kali dia," lanjut Ghavi.
Risa pun memberikan Aris pada Ghavi, lalu mengambil alih Risan yang ada pada gendongan Aksan.
Bayi itu terus saja menangis meski sudah diayun-ayun ayahnya.
Ghavi mengajak Aris ke depan rumah, meletakkannya di stroller yang sudah diturunkan Pak Agung dari mobilnya.
"Kita mau kemana, Tante?"
Bintang mengikuti Ghavi yang mulai melangkah mendorong stroller baby Aris menuju gazebo dipojokan rumah.
Disana udaranya terasa sejuk. Ghavi suka duduk santai disana saat cuacana terik seperti sekarang ini.
Gazebo yang dibuat di bawah pohon rambutan besar itu sangat teduh. Disekeliling gazebo ditanami tanaman hias, menambah tempat tersebut semakin asri.
"Nah, kita duduk disini saja, ya! Disini udaranya sejuk. Anginnya sepoi-sepoi."
Ghavi menggelar karpet yang terlipat disudut gazebo kemudian mengangkat baby Aris dari stroller dan membaringkannya dikarpet.
Bintang dan Sunny pun mengikuti Ghavi masuk ke dalam gazebo yang sengaja dibuat dari papan tebal seperti panggung, sehingga harus menaiki sekitar empat anak tangga terlebih dahulu saat masuk kesana. Gazebo berukuran dua setengah meter persegi itu dikelilingi dengan pagar rendah dari kayu jati.
"Hemm, sejuknya!"
Bintang merentangkan kedua tangannya menikmati semilirnya angin siang hari itu yang cukup terik, namun sejuk disekitar gazebo.
"Sama! Aku juga! Sudah beberapa kali kesini tapi baru tahu kalau ternyata ini tempat untuk bersantai. Aku kira ini tempat tinggal Pak Hansip ronda."
"Haha ...!"
Ghavi tertawa mendengar penuturan Bintang.
"Pos rondanya itu ada diujung jalan masuk komplek," terang Ghavi.
Ghavi membaringkan tubuhnya disamping baby Aris yang mulai merem melek karena semilir angin sepoi-sepoi.
Bintang pun mengikuti tindakan Ghavi dengan membaringkan diri di sisi yang lain bayi laki-laki yang mulai lelap tersebut.
Tinggal Sunny yang masih duduk dipojokkan gazebo memperhatikan Bintang yang sedang ditepuk-tepuk pahanya agar ikut tidur bersama baby Aris.
Ada rasa iri dihati gadis kecil itu. Sudut matanya menggenang. Bahkan, suara isak tangis mulai terdengar ditelinga Ghavi yang juga mulai mengantuk.
"Eh, Sunny!"
Ghavi langsung bangkit dari rebahannya begitu mendengar tangisan Sunny.
Hampir saja dia melupakan kehadiran bocah perempuan itu.
Karena sedari tadi gadis kecil itu sedang asyik bermain game diponselnya, jadi Ghavi kurang fokus padanya.
"Kenapa nangis?!" Diusapnya air mata yang jatuh membasahi pipi mulus Sunny yang putih.
"Aku juga mau disayang kaya Bintang. Aku mau tidur dipuk-puk sama Tante Cantik! Huwaaa ...!"
Tangis Sunny pecah setelah mengutarakan isi hatinya.
Ghavi pun langsung memeluk tubuh mungil itu erat. Trenyuh rasanya mendengar keinginan gadis berkepang dua itu.
"Sstt!! Maafin Tante, ya! Tante pikir Sunny masih mau main game diponsel Tante, jadi Tante tidak ngajakin kamu bobo."
Ghavi mengelus puncak kepala Sunny lembut.
__ADS_1
"Tante pilih kasih! Tante elus-elus dede bayi sama Bintang, tapi sama Sunny enggak! Huhuhuuu ...!!"
Deg!
Darimana Sunny punya pikiran seperti itu?!
Sedangkan dirinya tidak pernah membedakan antara Sunny dan Bintang.
"Maaf!! Tante sungguh tidak ada maksud buat pilih kasih antara kamu dan Bintang. Kalian sama-sama kesayangannya Tante, kok!" ujar Ghavi tercekat.
Satu bulir air mata lolos dipipinya.
"Kamu jangan berpikir begitu lagi, ya?!"
Sunny melepaskan pelukan Ghavi.
"Tante janji bakal sayang sama Sunny?!"
"Iya!"
"Janji?!"
"I-iya, Tante janji!"
Sunny menghambur kembali kepelukan Ghavi.
"Sudah, jangan nangis! Sekarang kamu tidur juga, ya?! Lihat! Bintang dan dedek bayinya sudah lelap. Sini, Tante puk-puk kamu sama seperti Bintang."
Ghavi menyuruh Sunny untuk berbaring disisi baby Aris yang lain dan dipuk-puknya paha gadis cilik itu hingga tertidur.
Sementara Ghavi sendiri tidak ngantuk lagi. Gadis itu kini menjaga ketiga anak yang sedang terlelap dibuai semilirnya angin sambil bermain sosmed.
Difotonya ketiga bocah yang tengah lelap itu dan diunggahnya di story aplikasi hijau tempat orang-orang melakukan chating.
Dibawah foto diberi caption:
"Punya bocil tiga, harus benar-benar membagi kasih sayang yang sama rata agar tidak timbul iri dari salah satunya😙😙😙. Terutama yang cewek, dia lebih sensitif😥. Berat sebelah sedikit saja dikira pilih kasihðŸ˜ðŸ˜."
Send!
Ghavi mengirim storynya.
Tak sampai lima menit, tiga komentar muncul di ponselnya.
My Sister Risa:
"Ya, memang harus begitu, harus adil! Thanks, udah bikin keponakanmu bobo ganteng😉."
Tempat Penampungan Sampahku(Lili):
"😂😂😂 emang enak diprotes pilih kasih?! Jangan sampai lebih sayang anak orang daripada anak gadis sendiri😋😋."
Orang Dari Masa Lalu:
"MAAF! Selalu merepotkanmu! Sunny memang tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang mama, jadi dia minta perhatian lebih dari kamu."
Huh!!
Ghavi menghela napas panjang saat membaca komentar dari papanya Sunny, yaitu orang dari masa lalunya.
Ternyata bukan hanya anaknya, papanya juga perasa. BAPER (BAwa PERasaan), itu istilah anak jaman sekarang.
Ghavi meletakkan ponselnya di samping dia duduk.
__ADS_1
Dengan bersandar pada pagar gazebo, dia pun akhirnya ikut tertidur juga dibuai angin sepoi.