Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Mungkinkah DIA?!


__ADS_3

Sekembalinya dari Jakarta, Ghavi langsung meminta bantuan Aksan untuk mengantarkannya ke tempat Om Rudi yang sekarang tinggal di Dataran Tinggi Dieng, yang masuk ke wilayah Kabupaten Wonosobo.


" Kamu hati-hati ya, Nduk!" Eyang Sosro memberi pesan saat cucunya berpamitan.


" Iya, Eyang. Eyang tidak usah khawatir. Aku dan mas Aksan akan hati-hati sesuai pesan Eyang. Ada juga Risa yang menemaniku. Tadi pagi aku sudah ijinkan kekampus."


" Syukurlah kalau begitu."


Jam sepuluh pagi Ghavi, Risa dan Aksan berangkat. Mereka berangkat sedikit siang sebab tadi pagi-pagi hujan turun.


" Huh, dingin juga ya," celetuk Risa begitu mereka memasuki Kabupaten Wonosobo.


" Ini pertama kalinya seumur hidupku akan menginjakkan kaki ke DTD. Jangan lupa mampir ke telaga warna, ya. Aku ingin lihat, apa benar airnya seperti pelangi?" cicitnya.


" Kau belum pernah datang kesana? Ck, ck, ck ... ." Ghavi meledek.


" Memangnya kau sudah pernah kesana sebelum ini?!" Risa penasaran.


" Ya, tentu saja belum, lah!" balas Ghavi datar.


" Huuuu ..., kirain." Risa pun menyoraki. Dipukulnya lengan Ghavi kesal merasa dikerjai.


" Hehe ... " Ghavi nyengir mengelus lengannya yang dipukul Risa manggunakan botol air mineral.


" Jadi, kalian berdua belum pernah datang ke DTD?? Kasihan sekali," celetuk Aksan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar ocehan dua gadis dibelakangnya.


" Eeh, memangnya Mas Aksan pernah kesini??!" tanya Ghavi ikut penasaran.


" Ya, belum jugalah. Ini pertama kalinya. Hahaha ... " Aksan tersenyum puas bisa mengerjai mereka.


" Huuuu ..., dasar!" umpat dua gadis itu kompak.


" Hahaha ... "


Akhirnya mereka bertiga tertawa riang dengan gurauan mereka.


Tak terasa meraka pun akhirnya sampai juga di DTD setelah menempuh jarak kurang lebih 92km dengan waktu sekitar tiga setengah jam.


Ghavi turun dari mobil dan mulai menanyakan alamat yang dibawanya pada seorang petani sayur yang sepertinya baru pulang dari kebun.

__ADS_1


" Maaf, Bapak, mengganggu sebentar. Apa Bapak tahu alamat ini?" Ghavi menyodorkan secarik kertas pada si Bapak.


" Ngapunten, Mba'e saking pundi, nggih?" tanya si Bapak dengan bahasa kromo yang masih ngapak.


( Maaf, Mbaknya darimana, ya?)


Ngapak adalah bahasa daerah yang biasa digunakan untuk warga masyarakat Banyumas Raya, yang meliputi beberapa kabupaten yaitu Barlingmascakeb ( Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen).


Ghavi pun mengerutkan dahinya sebab tidak mengerti maksud ucapan bapak itu.


" Maaf, Bapak bicara apa, ya saya nggak ngerti," ucap Ghavi bingung.


" Maaf, apa Bapak tidak bisa bahasa Indonesia?" tanyanya.


" Nggih, saged!" jawab si Bapak lagi.


( Ya, bisa.)


" Oh, maksud saya, bisa. Tadi Mbaknya tanya alamat, kan? terus saya jawab, Mbaknya darimana, ya? Begitu," ujar si Bapak tersenyum.


" Maaf, Pak. Saya lahir dan besar diJakarta. Baru beberapa bulan pindah ke Jogja. Sebenarnya kalau bahasa Jawa yang halus saya sedikit paham. Tapi kalau bahasa Ngapak saya tidak mengerti," balas Ghavi tersenyum malu.


" Sebenarnya sama. Yang membedakan kalau Jogja -Solo dan sekitarnya itu menggunakan akhiran o. Misalnya saja kalau disini sega, disana sego. DiJogja loro disini lara. Artinya nggih sama, yaitu, sega dan sego sama artinya nasi. Loro dan lara artinya sakit. Seperti itu." terang si Bapak panjang seperti guru bahasa daerah yang sedang mengajar.


" Oh, ya, Pak. Jadi gimana, apa Bapak tahu alamat ini atau tidak?" tanya Ghavi kembali kealamat.


" Ya saya tahu. Lha wong beliau panutan warga disini. Siapa sih yang tidak kenal Pak Rudi Darmawan. Sudah pinter, suka berderma. Sesuai namanya."


tukas laki-laki paruh baya itu.


"Mari saya antarkan. Kalau berjalan dari sini palingan sepuluh menit."


" Tapi, saya bersama dua teman saya naik mobil, Pak," timpal Ghavi ragu antara jan dengan si Bapak atau ikut naik mobil.


" Oh, begini saja, Bapak ikut kami naik mobil saja bagaimana, setuju?!" tawar Ghavi.


"Tapi badan saya kotor, Mbak," elaknya.


"Tidak apa-apa, Pak. Mari!"

__ADS_1


Sementara Risa dan Aksan yang berada didalam mobil menunggu jenuh.


" Lama sekali, sih tuh bocah." rutuk Aksan.


" Tahu, tuh, ngobrolin apa sih," timpal Risa.


" Viii, sudah belum, buruan keburu petang, kita harus cari penginapan!" ingat Risa.


Akhirnya Ghavi berhasil membujuk si Bapak dan mengalah masuk mobil. Setelah mobil berjalan beberapa ratus meter dia pun menyuruh Aksan menghentikan mobil.


Ditunjuknya sebuah rumah yang halamannya cukup luas dan asri dipenuhi tanaman hias yang sedang viral disosial media itu.


Setelah Ghavi mengucapkan terima kasih, Bapak itu pun pamit pulang.


Ghavi melangkah perlahan masuk kehalaman diikuti Risa. Sementara Aksan memarkir mobil baru kemudian menyusul mereka berdua.


Diketuknya pintu hingga tiga kali. Pada hitungan keempat, akhirnya pintu terbuka dari dalam dan muncullah wanita setengah abad dengan baju daster selutut. Meski begitu, masih tampak sisa-sisa kecantikan diwajah yang polos tanpa make-up itu.


" Maaf, kalian siapa dan ada urusan apa, ya?" tanya wanita itu heran melihat tamu yang tak dikenalnya dan sepertinya bukan dari warga sekitar.


" Maaf, Tante, apa betul ini kediamannya Om Rudi?"


" Kalian siapa mencari suami saya?!"


Belum sempat Ghavi menjawab, seseorang datang dari belakang wanita itu.


" Siapa yang datang, Bu?" tanyanya pada wanita yang dipanggil ibu.


Matanya bersirobok dengan kedua gadis didepannya.


" Kau?!" Orang itu.


" Kau?!" Ghani.


" Bapak?!" Risa.


Mereka bertiga sama-sama terkejut. Ghavi dan Risa tidak menyangka jika rumah yang dia datangi adalah rumah pak Harry, dosen mereka.


Sementara Harry terkejut melihat gadis kecil mungil yang digodanya didalam bus waktu itu.

__ADS_1


" Jadi, kau putra Om Rudi?!" tanya Ghavi spontan tanpa embel-embel bapak. Apalagi mengingat pertemuan mereka yang kurang baik.


Entah kenapa, setelah mengetahui Harry putra Om Rudi, perasaan Ghavi mulai tidak tenang. Perasaan apakah ini? Mungkinkah DIA?!


__ADS_2