
Ghavi terdiam terpaku mendengar pernyataan Handy yang cukup tiba-tiba itu. Sampai-sampai dirinya pun tidak sadar, tangannya berada dalam genggaman laki-laki yangbduduk dikursi roda itu.
"Vi!" panggil Handy mengeratkan genggaman.
Ghavi yang langsung tersadar oleh panggilan itu buru-buru menarik tangannya.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?! Aku panggilkan dokter, ya."
Handy bertanya dengan cemas saat gadis itu menarik tangannya secara tiba tiba dan meringis.
"Ti-tidak usah! Aku, aku baik-baik saja!" ujarnya gugup.
Perasaan Ghavi tidak karuan rasanya. Entah kenapa, rasa sakit, marah dan kecewa yang sudah dia rasakan selama empat tahun terakhir ini hilang begitu saja saat mendapati kenyataan hidup yang dialami Handy.
Bahkan, semua rasa tadi berubah menjadi rasa sedih dan kasihan begitu bertemu Handy untuk pertama kalinya setelah empat tahun berlalu tanpa jejak dan kabar, kini didapatinya laki-laki itu yang terlihat cukup mengenaskan.
Bukan hanya karena hidupnya yang sekarang tergantung pada kursi roda, juga penampilannya sekarang tampak sangat tidak terawat.
Rambutnya dibiarkan kembali gondrong seperti dulu pertama kali Ghavi melihatnya di Panti Asuhan yang saat itu penampilan Handy masih seperti preman dan penuh berewok.
Hanya bedanya, jika dulu dia mengenakan kaos onblong berbalut jaket kulit butut dan celana jeans robek-robek dilutut, sekarang pakaian yang dikenakan laki-laki itu adalah setelan jas dengan kemeja mahal yang membalut tubuhnya.
Dan meskipun gondrong sebatas leher, rambutnya kini lebih tertata rapi dengan ikat rambut karetnya.
"Tapi wajahmu pucat, Vi!"
Lagi-lagi Handy membuyarkan lamunan Ghavi.
"Aku tidak apa-apa!"
Jujur, Ghavi ingin sekali pergi ke kamar kecil. Namun, gadis itu tidak berani pamit pada Handy. Bukannya dia tidak bisa berjalan sendiri ke kamar mandi, melainkan dia tidak berani berjalan kekamar mandi hanya dengan mengenakan baju pasien bagian atasnya saja sementara celananya sudah dia lepaskan tadi karena basah ketumpahan jus alpukat sisa tadi yang belum dia habiskan.
Ya, sepeninggalnya Liana, Ghavi bermaksud menghabiskan jus alpukatnya. Namun naas, cup yang dia pegang tetiba jatuh ke pangkuannya sebelum diseruputnya. Alhasil, celana pasien yang dikenakan pun basah dan lengket.
Dan karena merasa risih, maka Ghavi memutuskan melepas celana itu dan membalut tubuh bagian bawahnya menggunakan selimut. Tepat dia selesai membungkus tubuhnya tadi Handy masuk keruangannya.
"Sebenarnya kau kenapa? Kenapa wajahmu begitu pucat, dan kau juga beberapa kali meringis seperti menahan sesuatu."
__ADS_1
Handy jadi sedikit cemas melihatnya.
"Se-sebenarnya, aku ..."
Ghavi ragu mengatakannya. Tapi kandung kemihnya terasa sangat penuh sekarang. Dia merasa sudah tidak bisa menahan hajat ingin buang air kecil lebih lama lagi.
"Sebenarnya aku ingin ..."
Ceklak!
Pintu terbuka dari luar dan muncullah Bu Yoyon.
"Non Ghavi kenapa bisa masuk rumah sakit, sih?!" tanya wanita itu begitu cemas sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Handy disana.
"Bu! Untunglah Ibu datang tepat waktu."
Ghavi merasa sedikit lega setelah melihat kedatangan Bu Yoyon.
"Ada apa?"
Ghavi meminta Bu Yoyon mendekat kearahnya lalu berbisik.
Bu Yoyon pun langsung melihat kearah Handy dengan raut wajah sedikit terkejut. Tapi tiba-tiba saja wanita itu nyeletuk.
"Owalaaahh ... begitu, toh! Haha ...!"
Bu Yoyon tertawa keras membuat Handy terheran.
"Aduh, maaf, lho, ya Mas Handy! Ibu sampai tidak menyadari keberadaanmu disini saking cemasnya tadi."
Bu Yoyon pun menangkupkan tepapak tangannya dan membungkuk kearah Handy yang hanya berada diseberangnya, terhalang ranjang pasien Ghavi terbaring.
"Tidak apa-apa, Bu! Tapi, itu kenapa wajah Ghavi semakin pucat, ya?! Aku tanya tadi jawabnya tidak apa-apa terus, tapi wajahnya makin pucat," ujar Handy menunjuk Ghavi yang terlihat menggigit bibir bawahnya.
"Waduh!! Ibu sampai lupa!"
Bu Yoyon menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
"Emm, maaf, ya Mas Handy. Bisa berbalik menghadap tembok sebentar?"
"Kenapa, Bu?"
Bu Yoyon langsung membisikkan sesuatu ketelinga Handy. Laki-laki itu tampak terkejut.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!" ujarnya menatap Ghavi yang langsung memalingkan muka.
Handy pun segera membalikkan kursi rodanya dengan bantuan Bu Yoyon.
Sekitar lima belas menit menghadap Dinding sambil memainkan ponsel, Handy pun disuruh berbalik kearah semula menghadap ranjang.
"Maaf, ya, Mas!"
Kali ini Ghavi membuka suaranya dengan bernafas lega setelah hajatnya terbuang.
"Iya, tidak apa-apa! Kenapa kamu harus malu mengatakannya tadi?! Kamu, kan jadi menahan sakit karena ingin buang air."
Handy bertanya dengan sedikit memarahi.
"Untuk tidak sampai ngompol tadi. Hehe ...," celetuk Bu Yoyon terkekeh.
"Ibu!"
Muka Ghavi langsung berubah merah menahan malu.
"Hemmm ...!" Handy hanya tersenyum menanggapi.
"Ekhm!! Vi, aku pamit dulu, ya! Itu si Aslan sudah jemput. Besok aku kesini lagi," pamitnya kemudian.
"I-iya, terima kasih!" balas Ghavi tergagap karena lagi-lagi Handy mengenggam tangan kanannya.
"Aku pamit, Bu!" ujar laki-laki itu pada Bu Yoyon yang membalas mengangguk.
"Hati-hati, ya, Mas!"
Handy didorong oleh Bu Yoyon hingga keluar pintu dan disambut oleh Aslan, sang sopir yang kini merangkap menjadi asistennya setelah kematian Aswan.
__ADS_1