Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Cemburukah Dia?!


__ADS_3

Rombongan Ghavi tiba di restaurant tepat saat Handy dan Aslan juga baru sampai disana.


"Papaaa ...!"


Sunny merosot turun dari gendongan Ghavi begitu melihat keberadaan sang papa di halaman parkir restaurant, tak jauh dari mobil Harry diparkir.


"Jangan lari, Sayang!"


Tante Rudi memperingatkan.


Sunny tidak mengindahkan peringatan neneknya. Gadis kecil itu terus saja berlari menghampiri papanya yang sudah merentangkan tangan menyambutnya.


Handy mencium kedua pipi serta kening sang putri penuh rasa sayang. Sunny pun mencium balik sang papa, meniru seperti yang dilakukan Handy padanya.


"Papa, kita akan makan bersama di sini. Ini restaurantnya Tante Cantik, lho! Itu, yang kemarin Sunny diajak," celotehnya saat sudah berada dipangkuan Handy.


Sementara yang lain berjalan mendekati keduanya sambil tersenyum melihat interaksi ayah dan anak tersebut.


"Hemm, iya, Sayang! Papa sudah tahu, kok! Dulu, sebelum ada kamu, Papa juga sering makan disini."


Handy mencubit gemas pipi tembam putrinya.


"Aukh! Sakit, Papa!" pekik Sunny mengelus pipinya yang terkena cubitan.


"Haha ...! Maaf, Sayang!"


"Memangnya, dulu Papa teman dekatnya Tante Cantik, ya?"


Handy dan Ghavi pun saling pandang. Ada tatapan yang tak terbaca antara keduanya.


"Sunny kata siapa?"


Handy memutus pandangan dari Ghavi dan beralih menatap putrinya.


" Kata Kakek, ayahnya Tante Cantik itu teman dekatnya Kakek. Jadi, Papa dan Tante Cantik juga teman dekat, dong?!"


"Hemm, iya, Sayang! Papa dulu pernah jadi teman dekatnya Tante Cantik sebelum ...,"


Sebelum Handy menyelesaikan kalimatnya, Ghavi sudah memotong.


"Sebelum Tante belajar ke luar negeri."


"Berarti sekarang kalian berteman dekat lagi saja. Kan, sekarang Tante Cantik sudah ketemu lagi sama Papa Sunny. Rumahnya juga sebelahan, kan?!" ujar Sunny dengan polosnya.


"Eh!"


Ghavi sedikit terkejut dengan penuturan bocah kecil itu.


Ada rasa tidak nyaman sebenarnya saat Handy memandangnya intens.


Seandainya tatapan itu diberikannya empat tahun lalu, mungkin Ghavi akan merasa salah tingkah dan bahagia.


Tatapan penuh damba seorang laki-laki dewasa pada seorang perempuan dewasa.


Tatapan yang dulu pernah dia terima saat dekat dengan laki-laki itu.


Sayangnya, tatapan itu tidak berarti lagi baginya, sejak kejadian yang terjadi diantara mereka.


"Aduh!"


Harry mengaduh keras.


"Eh, Om Harry kenapa? Sakit perut?!"


Sunny melihat adik dari papanya itu tengah memegangi perutnya.


"Ah, iya! Om sudah lapar sekali sampai perut Om terasa perih," jawab Harry meringis.


Sebenarnya Harry hanya pura-pura mengaduh sakit perut untuk mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta.


"Sama, Om! Aku juga sudah lapar!"


Sunny ikut-ikutan memegang perut kecilnya.


"Kalau begitu, ayo kita segera masuk ke dalam. Kakek juga sudah lapar ini," sahut Om Rudi sambil mengelus perut sedikit buncitnya.

__ADS_1


"Iya! Nenek juga sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi semua makanan yang ada disini. Nenek juga sangat penasaran dengan ikan warna warni yang diceritakan Sunny kemarin lusa. Katanya, didalam restaurant ada aquarium tempat ikan warna warni, ya, Vi?!"


Tante Rudi ikut menyambung.


"Iya, Nenek! Ikannya warna-warni dan kecil-kecil. Banyaaakk sekali."


Sunny merentangkan tangannya untuk mengekspresikan kata banyak.


"Oh, iya, Tante! Ada beberapa ikan hias dipajang di dalam," jawab Ghavi mengangguk.


" Ayo semuanya, kita masuk sekarang! Aku lupa mempersilakan kalian masuk, ya," tukas Ghavi tersadar dari lamunan.


"Ayo!" jawab Sunny semangat.


"Om Aslan, ayo dorong aku sama Papa ya! Nanti Om boleh makan banyak kalau sudah sampai dorong kami ke dalam," perintahnya pada sang asisten papanya.


"Siap, Tuan Putri!"


Aslan pun segera mendorong masuk kursi roda majikannya ke dalam restaurant diikuti yang lainnya.


"Kau ini ada-ada saja!" cebik Harry pada keponakannya.


Aslan hanya tersenyum mendengar penuturan Sunny.


Sesampainya di dalam, Ghavi mengarahkan semuanya menuju privat room yang sudah dia minta disediakan oleh karyawannya.


"Mari, sebelah sini!"


Seorang karyawan yang disuruh Ghavi tadi sore menunjukkan ruangan mereka.


"Terima kasih, Mas!" ucap Ghavi mengangguk ramah padanya.


"Tolong, minta Mas Fikar segera menghidangkan makanannya, ya!" sambungnya.


"Baik, Boss!"


Karyawan itu mengangguk hormat.


"Ck, kau ini! Sudah kubilang jangan panggil aku begitu!" tegur Ghavi.


"Maaf, Mbak! Baiklah, saya akan minta Chef Fikar untuk menyiapkan hidangannya!"


"Mari semuanya, silakan duduk!"


Ghavi mempersilakan tamu undangannya yang masih berdiri untuk segera duduk dikursi yang sudah disediakan.


Om dan Tante Rudi serta Harry memilih duduk berderet dibagian kanan meja. Sementara itu, Sunny, Handy dan Aslan berada dideretan seberang yang lain. Ghavi sendiri akhirnya duduk di kepala meja karena hanya kursi itu yang tersisa.


Posisi itu menjadikan dia dan Handy duduk membentuk sudut sembilan puluh derajat dengan Sunny sebagai titik sudutnya, sebab, kursi Sunny digeser mendekat kearah Ghavi sehingga berada disudut meja.


Rupanya gadis itu tidak mau jauh dari Ghavi.


"Tante, nanti kita lihat dan kasih makan ikannya, ya?!"


"Iya, Cantik! Tapi, nanti setelah kita makan, ok?!" jawab Ghavi mengelus rambut kuncir kuda Sunny.


"Soalnya itu, makanan kita sudah datang," tunjuknya pada Zulfikar yang sedang mendorong trolli kearah meja mereka.


"Makanan dataaang!!"


Fikar menghentikan trolli didekat Ghavi dan Harry.


"Yeee ...!"


Sunny bersorak sambil tepuk tangan.


"Asyiik, makan-makan!"


"Hemm!!"


Semua yang hadir pun tersenyum melihat tingkah Sunny yang langsung memukul-mukul meja menggunakan tangan mungilnya.


"Silakan dicicipi hidangan dari restaurant kami! Semoga berkenan!" ucap Fikar setelah menaruh semua hidangan yang dibawanya di atas meja.


"Terima kasih!" ucap Tante Rudi diangguki yang lain.

__ADS_1


"Terima kasih, ya, Mas!"


Ghavi tersenyum hangat pada Fikar yang kini berdiri diantara Ghavi dan Harry.


"Oh, ya, semuanya! Kenalkan, ini Zulfikar, koki baru disini. Masakannya enak, lho!"


Ghavi mengenalkan Zulfikar pada yang lain.


"Terima kasih pujiannya, Boss!"


Fikar tertawa lebar karena mendapat pelototan dari bossnya itu.


"Ini bukan acara resmi, Mas! Jangan panggil aku seperti itu, aku nggak suka! Harus berapa kali aku bilang, sih?!"


"Haha ...! Maaf!"


"Oh, ini yang Zulfikar anaknya Rahma, itu, ya?!" celetuk Om Rudi yang sedari tadi mengamati wajah Fikar.


"Iya, Om! Ini Fikar yang kemarin aku ceritakan itu," sahut Ghavi.


Ditepuknya bahu Fikar dengan lembut.


"Iya, betul, Pak!" jawab Fikar.


"Kok, Bapak tahu nama ibu saya?!"


"Ah, wajahmu sangat mirip dengannya. Dulu ibumu teman kuliahku dan Umar, ayahnya Ghavi," tutur Om Rudi.


"Oh, ya, ya!"


Fikar mengangguk-angguk mengerti.


"Dimana sekarang orangtuamu tinggal?"


"Mereka menetap di Surabaya, Pak!"


"Ah, jangan panggil saya Pak! Panggil saja Om, seperti Ghavi memanggil saya.


"Baik, Pak! Eh, maksudku, Om!"


Fikar tersenyum kikuk.


"Emm, maaf, semuanya! Saya harus kembali bekerja. Silakan menikmati hidangan!"


"Telat nawarinnya! Sunny keburu lapar!" sahut Sunny.


Rupanya diam-diam gadis kecil itu mengambil dan memakan bebek bakar madu yang pernah dimakannya bersama Pak Yoyon tiga hari lalu saat mereka berkunjung.


"Ck, dasar bocah!" decak Harry geleng-geleng kepala.


"Hahaha ...!"


Semua yang ada diruangan itu tertawa keras, kecuali Handy. Laki-laki itu hanya melirik polah putrinya.


Ya, sedari tadi Handy sedang menatap Ghavi dan Fikar dengan pandangan yang sulit diartikan.


Apalagi, melihat kedekatan mereka berdua, membuat dadanya bergemuruh. Ada rasa yang ingin meledak saat melihat Ghavi menepuk pundak dan mengelus lengan Fikar.


Cemburukah dia?!


"Kalau begitu, saya permisi dulu, ya!" pamit Fikar membungkuk.


"Ya! Terima kasih!" ujar Om Rudi.


"Sekali lagi terima kasih, ya, Mas!"


Ghavi menatap Fikar lalu tersenyum sumringah.


"Sama-sama, Boss! Eh, maksudku, Vi!" ralatnya melihat Ghavi yang kembali melotot.


"Siip!"


Ghavi mengacungkan dua jempolnya.


'Kira-kira, sedekat apakah hubungan mereka sampai tidak ada batasan antara atasan dan bawahan?!'

__ADS_1


Handy menerka-nerka dalam hati.


Tanpa dia sadari, kedua tangannya mengepal diatas pangkuannya.


__ADS_2